Namaku masih memenuhi layar grup kelas ketika petugas meminta semua peserta mematikan ponsel. Ada yang menyuruhku mengembalikan kartu Arga. Ada yang menulis bahwa orang pintar ternyata bisa sepicik itu.
Kumatikan ponsel dengan tangan dingin.
Saat soal pertama muncul di monitor, huruf-hurufnya seperti bergerak. Aku membaca paragraf yang sama tiga kali tanpa memahami isinya.
Lalu aku teringat Ibu yang bangun sebelum subuh untuk menyiapkan sarapan.
“Kerjakan yang ada di depanmu dulu, Alya.”
Aku meletakkan kedua kaki di lantai, menarik napas, lalu mulai menghitung.
Dua jam kemudian, aku keluar dengan kepala pening. Aku tidak tahu apakah jawabanku cukup baik. Namun, setidaknya aku menyelesaikan semuanya.
Ibu menungguku di dekat gerbang sambil membawa air mineral.
“Bagaimana?”
Aku hendak menjawab ketika melihat Arga berjalan cepat dari arah parkiran. Keisya mengikutinya, wajahnya pucat.
“Puas kamu?” katanya.
Ibu langsung berdiri di sampingku.
“Bicara yang baik, Arga.”
“Aku hampir tidak boleh masuk ruang ujian, Tante.”
“Hampir?” tanyaku.
Arga terdiam sesaat.

Ternyata petugas membantunya mengakses akun pendaftaran. Dia mencetak ulang kartu di tempat fotokopi dekat lokasi, lalu kembali sebelum batas masuk. Dia tetap mengikuti ujian, tetapi merasa tidak bisa berkonsentrasi.
“Kalau kamu bilang semalam, semuanya tidak akan begini.”
Aku memandangnya.
“Kalau Keisya tidak mengambil kartumu, semuanya juga tidak akan begini.”
Keisya mulai menangis.
“Aku sudah minta maaf. Aku cuma ingin membuat kenangan sebelum kita berpisah kuliah.”
“Kamu juga mengambil kartuku. Kenangan apa yang mau kamu buat denganku?”
Dia tidak menjawab.
Ibu memegang bahuku dan mengajakku pulang. Sebelum masuk mobil, kukirim satu pesan kepada wali kelas.
Bu, saya meminta pertemuan resmi. Tolong simpan rekaman kamera koridor lengkap sebelum terhapus. Saya ingin orang tua kami hadir.
Malam itu, tangkapan layar tuduhan Keisya kusimpan satu per satu. Aku menuliskan apa yang kulihat, jam perkiraannya, dan nama tiga teman yang bersamanya.
Aku juga menulis bagian yang paling tidak ingin kuakui.
Aku melihat kartu Arga diambil, tetapi memilih tidak memperingatkannya.
Ibu membaca catatanku tanpa menyela.
“Aku salah, Bu?”
“Kamu seharusnya bisa memberitahunya,” jawab Ibu. “Tapi itu berbeda dengan mengambil kartunya. Jangan mengaku melakukan sesuatu hanya karena kamu menyesali hal lain.”
Pertemuan berlangsung dua hari kemudian di ruang wakil kepala sekolah. Arga datang bersama ayahnya. Keisya duduk diapit kedua orang tuanya. Tiga temannya juga dipanggil.
Keisya langsung menyodorkan kartu pesertaku yang kusut dan robek.
“Ini bukti saya tidak menyembunyikan apa-apa.”
Wakil kepala sekolah menatapnya.
“Justru kita perlu menjelaskan kenapa dokumen Alya ada padamu.”
Tidak ada yang tertawa.
Rekaman koridor diputar. Terlihat aku berhenti di depan pintu, berdiri beberapa saat, kemudian berjalan menuju ruang tata usaha. Petugas mengonfirmasi bahwa aku meminta bantuan mencetak ulang dokumen.
Setelah aku pergi, kamera memperlihatkan Keisya dan dua temannya keluar membawa tas. Seorang gadis masih tertinggal di kelas.
Nisa.
Dia duduk di ujung meja dengan jemari saling meremas.
“Nisa,” panggil wali kelas lembut. “Apa yang kamu lakukan setelah yang lain keluar?”
Nisa mulai menangis.
“Aku mengembalikan kartu Arga.”
Arga menegakkan tubuh.
“Ke mana?”
“Ke tasmu. Kantong depan yang kecil. Kartunya masih lembap, jadi kumasukkan ke plastik bening dulu.”
Ruangan hening.
Arga meraih tas yang dibawanya. Dia membuka kantong besar, lalu kantong di bawahnya.
“Yang ada gantungan kunci merah,” bisik Nisa.
Ritsleting itu dibuka.
Di dalamnya ada plastik bening berisi kartu peserta dengan noda kecokelatan di sudutnya.
Arga menatap kartu itu lama sekali.
Aku menunggu rasa puas datang. Ternyata yang kurasakan hanya lelah.
“Kenapa kamu tidak bilang?” tanyanya kepada Nisa.
“Aku kirim pesan malam itu. Kamu belum baca. Paginya aku sudah masuk sesi ujian lebih awal.”
Nisa menunjukkan percakapan mereka. Pesannya terkirim pukul tujuh lewat empat belas menit malam, saat Arga sedang di kafe.
Arga membuka ponsel. Pesan itu masih ada di antara percakapan yang belum dibacanya.
Ayahnya mengusap wajah.
“Jadi kamu menyalahkan Alya sebelum memeriksa tas dan pesanmu sendiri?”
Arga menunduk.
Namun wali kelas belum selesai.
“Keisya, dari mana kamu mendapat potongan rekaman koridor?”
Salah seorang temannya mengangkat tangan. Dia meminta foto layar monitor kepada petugas keamanan dengan alasan ingin mencari barang tertinggal. Keisya kemudian memotong gambar itu.
“Saya panik,” kata Keisya. “Saya takut Arga marah.”
“Kamu tahu foto itu tidak menunjukkan Alya masuk kelas,” ujar wali kelas.
Keisya mengangguk sambil menangis.
Ibunya meminta agar persoalan diselesaikan tanpa diperbesar. Ibu, yang sejak tadi diam, meletakkan tangkapan layar di meja.
“Nama anak saya disebarkan di grup. Pemulihannya juga harus dilakukan di sana.”
Sekolah meminta Keisya mencabut tuduhan secara tertulis, menjelaskan tindakannya, dan mengikuti pembinaan. Teman-temannya memberikan keterangan masing-masing. Wali kelas mengirim klarifikasi agar kabar yang telanjur menyebar tidak dibiarkan menggantung.
Sebelum pertemuan ditutup, aku meminta bicara.
“Aku memang bisa memperingatkan Arga. Aku memilih tidak menghubunginya karena marah dan lelah. Untuk itu, aku minta maaf.”
Arga mengangkat wajah.
“Tapi aku tidak mengambil kartumu. Dan aku tidak mau lagi menjadi orang pertama yang kamu salahkan setiap kali sesuatu berjalan buruk.”
Dia mengangguk pelan.
Di luar ruangan, Arga mengejarku.
“Aku pikir kamu cemburu.”
“Aku tahu.”
“Aku sengaja bikin kamu kesal supaya kamu mengaku.”
Aku memandang sahabat yang pernah menungguku pulang sekolah saat hujan, yang dulu membagi bekalnya ketika uang sakuku hilang. Aku merindukan anak itu. Tetapi aku tidak bisa terus berpura-pura dia masih sama.
“Aku tidak sedang menyembunyikan perasaan, Ga. Kamu hanya tidak percaya ketika aku mengatakan kita berteman.”
Dia menunduk.
“Apa kita masih bisa berteman?”
“Aku butuh jarak.”
Beberapa minggu kemudian, pengumuman seleksi keluar. Aku diterima di jurusan yang kuinginkan di Yogyakarta.
Arga mengirim ucapan selamat. Kali ini tanpa sindiran, tanpa pertanyaan yang menuntut jawaban. Aku membalas terima kasih.
Saat menyiapkan keberangkatan, aku menemukan kartu ujian baruku di dalam map. Ibu hendak memasukkannya ke tumpukan kertas bekas, tetapi aku menahannya.
“Simpan?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Di belakang kartu itu, kutulis tanggal ujian dengan huruf kecil.
Hari ketika aku tetap masuk ruangan, meskipun semua orang menyuruhku kembali untuk membereskan kekacauan mereka.
