Satya berhenti melangkah ketika mendengar suara tangisan dari dalam rumah Bu Rini.
Awalnya, ia berniat langsung melanjutkan perjalanan. Namun, suara perempuan yang sedang menangis itu terdengar begitu pilu hingga membuatnya ragu.
“Bu, sudah. Jangan menangis terus,” terdengar suara Pak Hendra, suami Bu Rini.
“Tapi aku malu, Pak! Aku benar-benar malu!”
Satya mengerutkan kening.
Malu?
Bukankah tadi Pak Hendra mengatakan istrinya sedang marah kepada Alya?
Mengapa sekarang justru terdengar menangis?
Belum sempat Satya memikirkan hal tersebut, pintu rumah kembali terbuka.

Pak Hendra muncul dengan wajah tidak enak hati.
“Nak Satya, kamu belum jauh, kan?”
Satya menoleh.
“Belum, Pak. Ada apa?”
Pak Hendra menghela napas panjang.
“Istri saya ingin bicara sebentar.”
Satya terlihat bingung, tetapi akhirnya kembali menghampiri rumah tersebut.
Di ruang tamu, Bu Rini duduk sambil mengusap air mata menggunakan ujung kerudungnya.
Begitu melihat Satya, perempuan itu langsung berdiri.
“Satya, maafkan Bude, ya, Nak.”
Satya semakin bingung.
“Lho, maaf kenapa, Bude?”
Bu Rini menunduk.
“Bude tadi nggak datang ke tahlilan bapakmu. Padahal almarhum orang baik.”
Satya tersenyum tipis.
“Nggak apa-apa, Bude. Saya mengerti.”
Perempuan itu menggeleng.
“Kamu belum tahu semuanya.”
Pak Hendra segera mempersilakan Satya duduk.
Bu Rini menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
Tadi siang, ketika abang sayur langganan mereka datang, Alya memang membeli hampir seluruh dagangannya.
Saat itu, beberapa ibu sedang menunggu giliran berbelanja.
Bu Rini sempat menegur Alya.
“Al, kalau kamu beli semuanya, kami mau masak apa?”
Menurut Bu Rini, Alya menjawab dengan tenang.
“Maaf, Bude. Hari ini saya benar-benar membutuhkan semua bahan ini.”
Jawaban tersebut membuat ibu-ibu lain merasa kesal.
Terlebih ketika Alya tidak menjelaskan alasannya.
Mereka menganggap menantu Bu Sulastri itu sengaja memamerkan uang dengan memborong seluruh dagangan.
Namun, bukan hanya itu yang membuat mereka marah.
“Alya juga bilang sesuatu yang membuat kami tersinggung,” lanjut Bu Rini.
Satya menatapnya.
“Memangnya Alya bilang apa?”
Bu Rini mengusap wajah.
“Dia bilang, kalau selama ini kami merasa dekat dengan almarhum bapakmu, seharusnya kami juga tahu bagaimana keadaan keluarganya sekarang.”
Satya terdiam.
Kalimat itu memang terdengar sedikit menyindir.
Namun, ia yakin Alya tidak akan mengatakannya tanpa alasan.
“Terus, Bude jawab apa?”
Bu Rini menunduk.
“Bude bilang, urusan dapur keluarga kalian bukan tanggung jawab tetangga.”
Satya menghela napas.
Bu Rini melanjutkan dengan suara bergetar.
“Setelah itu Alya cuma diam. Dia membayar semua belanjaannya, lalu pulang.”
“Jadi karena kejadian itu, Bude dan ibu-ibu lain nggak datang ke tahlilan?”
Bu Rini mengangguk.
“Bude memang kesal. Tapi sekarang Bude menyesal.”
Satya memperhatikan wajah perempuan itu.
“Kenapa baru sekarang menyesal?”
Bu Rini menunjuk bungkusan makanan yang tadi diberikan Satya.
“Karena waktu Bude membukanya, Bude menemukan sesuatu.”
Ia mengambil sebuah kertas kecil dari meja.
Satya langsung mengenali tulisan tangan istrinya.
Di sana tertulis pesan singkat.
Terima kasih sudah menjadi bagian dari kehidupan Bapak selama ini. Mohon doakan beliau. Semoga makanan sederhana ini membawa keberkahan untuk keluarga Bapak dan Ibu.
Di bagian bawah terdapat nama Alya dan keluarga.
Satya tersenyum sedih.
Bu Rini kembali menangis.
“Setelah Bude baca ini, Bude baru sadar. Alya nggak pernah berniat menghina kami.”
Satya terdiam.
Namun, sebelum ia menjawab, Bu Rini mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin terkejut.
“Tadi sore, abang sayur itu datang lagi ke rumah Bude.”
“Lalu?”
“Dia bilang Alya sebenarnya nggak membeli seluruh dagangannya untuk acara tahlilan saja.”
Satya mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Bu Rini menarik napas panjang.
“Sebagian bahan makanan itu dibelikan untuk keluarga-keluarga yang selama ini sering dibantu almarhum bapakmu.”
Satya langsung menegakkan tubuh.
“Apa?”
Pak Hendra ikut berbicara.
“Ternyata sebelum meninggal, bapakmu punya kebiasaan membelikan sayuran untuk beberapa janda lanjut usia dan warga yang sedang kesulitan.”
Satya terdiam cukup lama.
Ia memang tahu ayahnya suka membantu orang.
Namun, ia tidak pernah mengetahui kebiasaan tersebut.
“Abang sayur itu biasanya mengantarkan pesanan Bapak setiap hari Kamis,” lanjut Pak Hendra.
“Tadi Alya bertanya siapa saja yang biasa menerima bantuan itu.”
Satya menatap mereka bergantian.
“Jadi Alya membeli bahan makanan untuk dibagikan?”
Bu Rini mengangguk.
“Iya. Dan waktu kami protes karena nggak kebagian sayur, Alya sebenarnya sedang terburu-buru menyiapkan pembagian itu.”
Air mata Satya mulai menggenang.
Sekarang ia memahami mengapa istrinya pulang membawa begitu banyak belanjaan.
Bukan sekadar menyiapkan hidangan tahlilan.
Melainkan meneruskan kebiasaan baik almarhum ayahnya.
Setelah berpamitan, Satya melanjutkan pembagian makanan.
Namun, ketika tiba di rumah ketiga, ia kembali menemukan sesuatu yang membuatnya terharu.
Seorang nenek bernama Mak Ijah langsung menangis begitu melihatnya.
“Ya Allah, Nak Satya…”
Satya menyerahkan sebungkus makanan.
“Ini sedikit makanan dari rumah, Mak.”
Mak Ijah menerimanya dengan kedua tangan gemetar.
“Terima kasih, Nak.”
Satya tersenyum.
“Mohon doakan Bapak, ya, Mak.”
Nenek itu mengangguk sambil menangis.
“Setiap hari Mak mendoakan beliau.”
Satya terdiam.
“Mak kenal dekat dengan Bapak?”
Mak Ijah mengusap air matanya.
“Bapakmu itu orang yang menyelamatkan Mak waktu sakit.”
Satya langsung duduk di kursi kecil dekat pintu.
“Maksud Mak?”
“Beberapa bulan lalu, Mak jatuh di kamar mandi. Nggak ada siapa-siapa di rumah. Kebetulan bapakmu sedang mengantar makanan.”
Mak Ijah menarik napas.
“Beliau yang membawa Mak ke puskesmas. Bahkan membayar obat karena Mak nggak punya uang.”
Satya menunduk.
Ia tidak pernah mendengar cerita tersebut dari ayahnya.
“Kenapa Bapak nggak pernah cerita, ya, Mak?”
Nenek itu tersenyum sedih.
“Beliau bilang nggak perlu diceritakan. Katanya, kalau menolong orang, nggak harus semua orang tahu.”
Air mata Satya akhirnya jatuh.
Mak Ijah lalu melanjutkan.
“Tadi siang, istrimu datang membawa sayuran dan lauk. Dia bilang mulai sekarang, kalau Mak membutuhkan sesuatu, jangan sungkan menghubungi keluargamu.”
Satya langsung menutup wajah.
Alya…
Perempuan itu ternyata sedang berusaha menjaga amanah ayahnya tanpa pernah membicarakannya kepada siapa pun.
Namun, ketika Satya hendak pulang, Mak Ijah menahan tangannya.
“Nak, ada sesuatu yang perlu kamu tahu.”
Satya menoleh.
“Apa, Mak?”
“Tadi sore beberapa ibu datang ke rumah Mak. Mereka bilang nggak mau menghadiri tahlilan karena sedang marah kepada Alya.”
Satya mengangguk.
“Saya sudah dengar.”
Mak Ijah menghela napas.
“Mak sebenarnya mau menjelaskan, tapi mereka sudah telanjur pergi.”
Satya tersenyum pahit.
“Nggak apa-apa, Mak. Mungkin hanya salah paham.”
Mak Ijah menggeleng.
“Bukan cuma salah paham, Nak. Ada seseorang yang sengaja membuat cerita itu semakin buruk.”
Satya terdiam.
“Siapa?”
“Bu Ningsih.”
Nama tersebut membuat Satya mengerutkan kening.
Bu Ningsih adalah salah seorang tetangga yang selama ini dikenal sangat aktif dalam kegiatan pengajian.
“Kenapa Bu Ningsih?”
Mak Ijah menunduk.
“Dia bilang Alya sengaja membeli seluruh dagangan abang sayur supaya bisa mempermalukan ibu-ibu lain. Dia juga mengatakan keluarga kalian sekarang merasa lebih tinggi karena Satya sudah punya pekerjaan bagus.”
Satya mengepalkan tangan.
“Alya nggak pernah mengatakan begitu.”
“Mak tahu.”
Nenek itu kemudian menatapnya dengan serius.
“Tapi ada alasan kenapa Bu Ningsih begitu marah kepada keluargamu.”
Satya menahan napas.
“Alasan apa?”
Mak Ijah tampak ragu.
“Beberapa hari sebelum bapakmu meninggal, beliau pernah bertengkar dengan suami Bu Ningsih.”
Satya langsung terkejut.
“Bapak bertengkar?”
“Iya. Mak mendengar sendiri dari teras.”
“Masalah apa?”
Mak Ijah menggeleng.
“Mak nggak tahu semuanya. Tapi Mak sempat mendengar bapakmu meminta Pak Narto mengembalikan uang milik warga.”
Satya membeku.
Pak Narto adalah suami Bu Ningsih.
Selama ini ia dipercaya menjadi bendahara kegiatan sosial musala.
“Uang apa, Mak?”
“Katanya uang bantuan untuk warga yang membutuhkan.”
Satya merasa dadanya berdebar.
Ia teringat bahwa beberapa minggu sebelum meninggal, ayahnya sempat mengatakan ingin memeriksa kembali laporan keuangan kegiatan sosial kampung.
Saat itu Satya tidak terlalu memikirkannya.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Setelah berterima kasih kepada Mak Ijah, Satya segera pulang.
Sesampainya di rumah, ia menemukan Alya sedang mencuci piring bersama Dewi.
Bu Sulastri sudah beristirahat di kamar.
“Alya,” panggil Satya.
Istrinya menoleh.
“Lho, Mas sudah pulang?”
Satya mengangguk.
Kemudian ia mendekat dan memeluk Alya erat-erat.
Perempuan itu terlihat terkejut.
“Mas, kenapa?”
Satya tidak langsung menjawab.
Ia hanya memeluk istrinya semakin erat.
“Terima kasih, Sayang.”
Alya mengerutkan kening.
“Terima kasih untuk apa?”
“Karena kamu sudah meneruskan kebiasaan baik Bapak.”
Alya terdiam.
Beberapa saat kemudian, matanya mulai berkaca-kaca.
“Mas sudah tahu?”
Satya mengangguk.
“Kenapa kamu nggak cerita?”
Alya tersenyum sedih.
“Aku nggak ingin membuat Ibu semakin bersedih.”
Ia kemudian menjelaskan bahwa sehari sebelum meninggal, Pak Sulasman, ayah Satya, sempat menitipkan sebuah buku kecil kepadanya.
Buku tersebut berisi nama-nama warga yang rutin dibantunya.
Ada lansia yang hidup sendirian.
Anak yatim yang membutuhkan perlengkapan sekolah.
Serta beberapa keluarga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
“Bapak bilang kalau suatu hari dia nggak bisa lagi mengantarkan bantuan, aku diminta melanjutkannya semampuku.”
Satya menangis.
“Kenapa Bapak nggak menitipkannya kepadaku?”
Alya mengusap air mata.
“Karena Bapak tahu Mas sedang sibuk bekerja. Bapak nggak mau menambah bebanmu.”
Dewi yang mendengar percakapan itu ikut menangis.
“Jadi Mbak memborong sayuran tadi buat mereka?”
Alya mengangguk.
“Iya. Aku memang membeli banyak, tapi aku sudah minta maaf kepada ibu-ibu yang nggak kebagian.”
Satya kemudian teringat cerita Bu Rini.
“Lalu kenapa kamu mengatakan mereka seharusnya tahu keadaan keluarga kita?”
Alya menunduk.
“Karena waktu itu Bu Ningsih bilang keluarga kita cuma ingin mencari perhatian lewat acara tahlilan besar-besaran.”
Satya langsung terdiam.
Alya melanjutkan dengan suara bergetar.
“Aku sebenarnya sudah mencoba diam, Mas. Tapi ketika beliau mengatakan Bapak hanya tukang ojek yang suka berpura-pura dermawan, aku nggak tahan.”
Air matanya jatuh.
“Aku bilang kalau mereka benar-benar mengenal Bapak, seharusnya mereka tahu Bapak nggak pernah membantu orang untuk dipuji.”
Satya mengepalkan tangan.
Sekarang ia mulai memahami mengapa Bu Ningsih memutarbalikkan ucapan istrinya.
Namun, ada satu hal yang masih mengganggu pikirannya.
“Al, buku titipan Bapak masih ada?”
Alya mengangguk.
“Ada. Kusimpan di lemari.”
Ia segera mengambil buku kecil bersampul cokelat.
Satya membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat catatan sederhana mengenai bantuan yang diberikan ayahnya.
Namun, pada halaman terakhir, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam.
Sebuah catatan bertanggal tiga hari sebelum Pak Sulasman meninggal.
Pak Narto belum mengembalikan dana bantuan sebesar tiga puluh dua juta rupiah. Jika tidak diselesaikan, masalah ini harus disampaikan kepada pengurus musala.
Satya merasa jantungnya berdegup semakin cepat.
Ia kemudian membuka halaman berikutnya.
Di sana terdapat salinan bukti transfer dan tanda terima.
Nama Pak Narto tercantum sebagai penerima uang.
Alya menatap suaminya.
“Mas, ada apa?”
Satya menunjukkan catatan tersebut.
Alya langsung terkejut.
“Ya Allah…”
Dewi ikut mendekat.
“Mas, jangan-jangan ini alasan Bu Ningsih begitu marah kepada keluarga kita?”
Satya menghela napas panjang.
“Mungkin. Tapi kita nggak boleh langsung menuduh.”
Malam itu, Satya memutuskan menyimpan seluruh dokumen dan menghubungi ketua pengurus musala untuk meminta penjelasan.
Keesokan paginya, beberapa pengurus datang ke rumah.
Mereka memeriksa catatan Pak Sulasman dengan saksama.
Ternyata benar, ada dana bantuan yang belum dipertanggungjawabkan.
Namun, ketua pengurus menjelaskan bahwa mereka masih harus memeriksa seluruh transaksi sebelum mengambil kesimpulan.
Berita mengenai pemeriksaan tersebut perlahan menyebar.
Menjelang siang, Bu Ningsih datang ke rumah bersama suaminya.
Wajah perempuan itu terlihat tegang.
“Alya, kamu puas sekarang?” tanyanya begitu memasuki ruang tamu.
Alya terkejut.
“Maksud Bude?”
“Gara-gara keluargamu, suami saya sekarang dituduh mengambil uang musala!”
Satya segera berdiri.
“Bude, kami nggak menuduh siapa pun. Kami hanya menyerahkan catatan Bapak kepada pengurus.”
Pak Narto menunduk.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
Kemudian, tanpa diduga, lelaki itu mulai menangis.
“Ningsih, sudah cukup.”
Bu Ningsih langsung menoleh.
“Pak?”
Pak Narto mengusap wajah.
“Aku memang belum mengembalikan uang itu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Ningsih membeku.
“Mas…”
Pak Narto kemudian menjelaskan bahwa beberapa bulan sebelumnya ia menggunakan sebagian dana tersebut untuk membayar biaya pengobatan adiknya tanpa meminta persetujuan pengurus.
Ia berniat mengganti uang itu secara bertahap, tetapi usahanya mengalami kerugian.
Ketika Pak Sulasman mengetahui hal tersebut, ia meminta Pak Narto segera membuat laporan dan mengembalikan dana sesuai kesepakatan.
“Almarhum sebenarnya mau membantu mencarikan jalan keluar,” ujar Pak Narto sambil menangis.
“Tapi saya malu. Saya justru marah dan menuduh beliau mencampuri urusan keluarga.”
Satya menunduk.
Pak Narto melanjutkan.
“Sehari sebelum meninggal, Bapakmu datang menemui saya. Beliau bilang kesalahan harus diperbaiki, bukan disembunyikan.”
Air mata lelaki itu mengalir semakin deras.
“Dan saya belum sempat meminta maaf.”
Bu Ningsih langsung menangis.
Ia menatap Alya dengan wajah penuh penyesalan.
“Al, maafkan Bude.”
Alya terdiam.
“Bude yang menyebarkan cerita buruk tentangmu. Bude takut orang-orang tahu masalah suami Bude.”
Alya mengusap air mata.
“Saya memaafkan Bude. Tapi saya berharap kita nggak lagi menyebarkan cerita sebelum tahu kebenarannya.”
Bu Ningsih mengangguk sambil menangis.
Sore harinya, para tetangga mulai berdatangan ke rumah Bu Sulastri.
Ada yang membawa beras.
Ada yang membawa buah.
Ada pula yang datang hanya untuk meminta maaf dan mendoakan almarhum.
Bu Sulastri menangis ketika melihat ruang tamunya kembali ramai.
Namun, kejutan terbesar terjadi ketika Pak Hendra datang membawa sebuah amplop.
“Nak Satya, ini ada titipan dari almarhum Bapakmu.”
Satya terkejut.
“Titipan apa, Pak?”
Pak Hendra menyerahkan amplop tersebut.
“Beliau menitipkannya seminggu sebelum meninggal. Katanya baru boleh diberikan kalau keluarga sudah berkumpul setelah tahlilan.”
Dengan tangan gemetar, Satya membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat sebuah surat.
Tulisan tangan ayahnya.
Satya mulai membacanya dengan suara bergetar.
Anak-anakku, kalau suatu hari Bapak sudah tidak ada, jangan pernah mengukur kasih sayang orang lain dari banyaknya orang yang datang ke rumah. Kadang orang yang paling tulus justru membantu tanpa terlihat.
Air mata Satya langsung jatuh.
Ia melanjutkan membaca.
Bapak tidak meninggalkan banyak harta. Tetapi Bapak berharap kalian menjaga satu hal yang selama ini Bapak usahakan, yaitu jangan membiarkan orang lain merasa sendirian ketika sedang kesulitan.
Bu Sulastri menutup wajah sambil menangis.
Namun, pada bagian terakhir surat, terdapat sebuah kalimat yang membuat Alya terdiam.
Untuk Alya, menantuku tersayang, terima kasih karena sudah memperlakukan Bapak seperti ayah kandungmu sendiri. Bapak tahu kamu diam-diam menggunakan tabunganmu untuk membayar biaya pengobatan Bapak. Bapak juga tahu kamu menjual gelang peninggalan ibumu agar Bapak bisa menjalani pemeriksaan terakhir.
Satya langsung menoleh kepada istrinya.
“Alya…”
Perempuan itu menunduk sambil menangis.
Selama ini Satya tidak pernah tahu bahwa istrinya telah menjual satu-satunya perhiasan peninggalan almarhum ibunya.
Satya menggenggam tangan Alya.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Alya tersenyum di tengah tangisnya.
“Karena waktu itu yang penting Bapak bisa berobat, Mas.”
Bu Sulastri langsung memeluk menantunya.
“Nduk, Ibu nggak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa.”
Alya menggeleng.
“Nggak perlu dibalas, Bu. Bapak dan Ibu sudah menganggap saya seperti anak sendiri.”
Malam itu, rumah kembali dipenuhi lantunan doa.
Para tetangga duduk berdampingan tanpa memedulikan perbedaan pekerjaan maupun keadaan ekonomi.
Namun, ketika acara selesai dan semua orang pulang, Satya menemukan satu amplop kecil lagi terselip di bagian belakang buku catatan ayahnya.
Di bagian depan tertulis nama Alya.
Satya menyerahkannya kepada istrinya.
Alya membuka amplop tersebut perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah kuitansi penitipan barang dari toko emas dan catatan singkat.
Alya, Bapak tahu gelang itu peninggalan ibumu. Bapak diam-diam menyisihkan uang hasil menarik ojek untuk menebusnya kembali. Gelangnya sudah Bapak titipkan kepada Pak Hendra. Ambillah kalau suatu hari kamu membaca surat ini.
Alya langsung menangis tersedu-sedu.
Satya memeluknya erat.
Dan ketika Pak Hendra datang keesokan paginya membawa sebuah kotak kecil berisi gelang emas tersebut, Alya tidak mampu berkata-kata.
Di dalam kotak itu terdapat satu pesan terakhir dari almarhum ayah mertuanya.
Terima kasih sudah menjadi anak perempuan yang tidak pernah Bapak miliki sebelumnya. Kalau suatu hari Bapak tidak ada, jangan merasa kehilangan seorang mertua. Anggap saja Bapak sedang pulang lebih dulu, sambil membawa doa untuk kebahagiaanmu.
Alya menggenggam gelang tersebut di dadanya.
Selama ini ia tidak pernah menganggap kebaikan kepada mertua sebagai sebuah pengorbanan besar.
Baginya, mencintai keluarga suami sama seperti mencintai keluarganya sendiri.
Namun, kini ia menyadari bahwa setiap kasih sayang yang diberikan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang.
Kadang balasannya bukan berupa harta.
Bukan pula pujian.
Melainkan kenangan yang membuat seseorang tetap merasa dicintai, bahkan setelah orang yang menyayanginya telah pergi untuk selamanya.
Dan sejak hari itu, setiap malam Jumat, Alya selalu menyiapkan beberapa bungkus makanan untuk dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan.
Bukan karena ingin dipuji.
Melainkan karena ia ingin meneruskan satu kebiasaan sederhana yang diwariskan ayah mertuanya.
Kebiasaan menolong orang lain tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Karena bagi Alya, menjadi menantu terbaik bukan berarti selalu sempurna.
Melainkan tetap memilih berbuat baik, bahkan ketika kebaikan itu tidak diketahui siapa pun.
