Aku hampir terjatuh ketika dari dalam kamar terdengar suara seseorang memanggil namaku.
“Miska…”
Suaranya pelan, tetapi begitu jelas.
Yang membuat seluruh tubuhku membeku, suara itu terdengar persis seperti suara Mas Halid.
Padahal suamiku masih berada di luar rumah, sibuk mengurus genset.
Aku mundur perlahan sambil memegangi dinding.
“Siapa di dalam?” tanyaku dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara napas berat dari balik pintu kamar.
Aku mencoba meyakinkan diri bahwa mungkin Mas Halid sudah masuk melalui pintu belakang tanpa sepengetahuanku.
Namun, ketika melirik jendela, aku masih melihat cahaya senter bergerak-gerak di dekat bangunan genset.
Berarti Mas Halid benar-benar masih di luar.
Lalu siapa yang memanggilku?
“Miska, masuklah.”
Suara itu terdengar lagi.
Kali ini lebih rendah.
Aku langsung membaca istigfar.
Tanpa berpikir panjang, aku berbalik dan berlari menuju pintu depan.
Namun, baru beberapa langkah, terdengar suara keras dari dalam kamar.
BRAK!
Seperti sebuah lemari didorong hingga menghantam dinding.
Aku tersentak, tetapi tidak berani menoleh.
Begitu sampai di pintu utama, aku langsung menarik gagangnya.
Tidak bergerak.
Aku mencoba memutar kunci.
Anehnya, pintu tetap tidak terbuka.
“Ya Allah, kenapa lagi ini?”
Aku menariknya lebih kuat.
Tetap terkunci.
Padahal beberapa menit sebelumnya aku masuk melalui pintu yang sama tanpa kesulitan.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari belakang.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku membeku.
Langkah tersebut bergerak perlahan dari arah kamar menuju ruang tengah.
Aku memejamkan mata sambil membaca doa.
“Miska…”
Suara itu kembali terdengar.
Aku menutup kedua telinga.
“Jangan mendekat!”
Langkah kaki langsung berhenti.
Kemudian terdengar suara tawa pelan.
Bukan tawa Mas Halid.
Melainkan suara seorang perempuan.
“Hihihi…”
Aku langsung membuka mata.

Di ujung lorong, samar-samar terlihat sosok berambut panjang mengenakan kain batik.
Aku tidak mampu melihat wajahnya.
Namun, tubuhnya tampak berdiri miring, seolah sedang mengintip dari balik dinding.
Aku menangis ketakutan.
“Mas Halid! Tolong!”
Teriakanku tertelan dengungan genset.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara suamiku dari luar.
“Dek! Sudah menyala belum lampunya?”
Aku langsung memukul pintu.
“Mas! Bukakan pintunya!”
Tidak lama kemudian, terdengar langkah kaki tergesa-gesa.
“Kenapa, Dek?”
“Pintunya nggak bisa dibuka!”
Mas Halid mencoba membuka dari luar.
Anehnya, sekali dorong saja pintu langsung terbuka.
Aku hampir jatuh ke pelukannya.
“Astaghfirullah, Miska! Kamu kenapa?”
Aku langsung menangis.
“Mas, ada orang di dalam!”
Mas Halid menatapku dengan wajah tegang.
“Orang?”
Aku mengangguk berkali-kali.
“Ada yang memanggil namaku dari kamar. Suaranya mirip kamu, tapi aku tahu itu bukan kamu!”
Mas Halid segera mengambil senter.
Ia masuk dan memeriksa seluruh ruangan.
Aku mengikuti dari belakang sambil menggenggam bajunya.
Namun, ketika kami sampai di kamar, tidak ada siapa-siapa.
Lemari masih berdiri di tempat semula.
Jendela tertutup.
Bahkan lilin yang tadi padam sudah tergeletak di lantai.
Mas Halid mengarahkan senter ke setiap sudut.
“Nggak ada orang, Dek.”
“Tapi aku dengar sendiri!”
Suamiku menghela napas.
“Mungkin kamu terlalu capek.”
Aku langsung menatapnya.
“Mas pikir aku berhalusinasi?”
“Bukan begitu. Mas cuma…”
Belum selesai berbicara, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari lantai atas.
DUK!
Kami berdua langsung terdiam.
Mas Halid mengangkat senter ke arah langit-langit.
“Apa itu?” bisikku.
Suamiku tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, suara yang sama terdengar lagi.
DUK!
Kali ini seperti sesuatu sedang dipukul menggunakan kayu.
Mas Halid menggenggam tanganku.
“Kita periksa besok pagi saja.”
Aku langsung mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajah suamiku.
Malam itu, setelah listrik genset berhasil mengalir ke beberapa ruangan, kami memutuskan tidur di kamar depan.
Namun, menjelang tengah malam, aku kembali terbangun.
Dari lantai atas terdengar suara perempuan bernyanyi.
Nadanya merdu, tetapi begitu menyedihkan.
Aku tidak memahami seluruh liriknya. Yang jelas, lagu tersebut terdengar seperti tembang Jawa kuno.
Aku segera mengguncang bahu Mas Halid.
“Mas, bangun!”
Suamiku membuka mata dengan susah payah.
“Ada apa?”
“Dengarkan!”
Kami berdua terdiam.
Suara sinden itu masih terdengar.
Mas Halid langsung duduk.
“Mas juga dengar,” bisiknya.
Aku menatapnya.
“Berarti aku nggak salah dengar, kan?”
Mas Halid menggeleng.
“Tapi mungkin ada orang memutar musik dari rumah sekitar.”
Aku hampir tertawa karena kesal.
“Mas, rumah terdekat saja jauh sekali. Masa suaranya bisa terdengar tepat dari atas kepala kita?”
Mas Halid tidak menjawab.
Ia mengambil senter dan berdiri.
Aku langsung menahan tangannya.
“Mas mau ke mana?”
“Mau lihat tangga.”
“Jangan naik!”
“Mas cuma mau memastikan.”
Dengan perasaan takut, aku mengikutinya sampai ruang tengah.
Tangga menuju lantai dua terlihat cukup besar, terbuat dari kayu jati dengan pegangan berukir.
Di bagian atas, lorong memanjang menuju beberapa kamar yang pintunya tertutup.
Suara sinden itu terdengar semakin jelas.
Mas Halid mengarahkan senter ke atas.
Tiba-tiba, bayangan seseorang melintas di ujung lorong.
Aku langsung mencengkeram lengan suamiku.
“Mas! Itu!”
Mas Halid ikut terkejut.
“Siapa di atas?” teriaknya.
Tidak ada jawaban.
Namun, suara nyanyian mendadak berhenti.
Keheningan yang menyusul membuat suasana semakin mencekam.
Kami berdiri cukup lama.
Kemudian terdengar suara seorang perempuan berbisik.
“Jangan masuk kamar terakhir…”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Mas Halid langsung menarik tanganku menjauh dari tangga.
“Kita kembali ke kamar.”
Aku tidak membantah.
Namun, sebelum menutup pintu, aku sempat melihat sesuatu di anak tangga paling bawah.
Sebuah bunga melati.
Masih segar.
Padahal sebelumnya tidak ada bunga apa pun di sana.
Pagi harinya, aku menunjukkan bunga tersebut kepada Mas Halid.
Suamiku memandangnya dengan serius.
“Darimana bunga ini?”
“Di tangga, Mas. Semalam.”
Mas Halid mengusap wajah.
“Kita tanya Pak Hamdan nanti.”
Aku langsung mengangguk.
Pak Hamdan adalah orang yang membantu Mas Halid mendapatkan pekerjaan mengurus perkebunan sawit ini.
Ia juga yang menyerahkan kunci rumah.
Mungkin lelaki tersebut mengetahui sejarah bangunan yang kami tempati.
Sekitar pukul sembilan pagi, Pak Hamdan datang mengantar beberapa dokumen pekerjaan.
Aku segera menghampirinya.
“Pak, boleh saya tanya sesuatu?”
Pak Hamdan tersenyum.
“Tentu, Bu Miska. Ada apa?”
“Rumah ini dulu milik siapa?”
Senyumnya langsung memudar.
“Kenapa Ibu bertanya?”
Aku menceritakan kejadian semalam.
Mulai dari sosok misterius, pintu yang terkunci sendiri, hingga suara sinden dari lantai atas.
Pak Hamdan mendengarkan tanpa menyela.
Namun, semakin lama wajahnya terlihat semakin tegang.
“Pak?” panggilku.
Lelaki itu menghela napas.
“Rumah ini dulu milik Pak Wiryo.”
“Pak Wiryo?”
“Iya. Beliau pemilik perkebunan sebelum perusahaan mengambil alih pengelolaannya.”
Aku mengangguk.
“Lalu kenapa rumah ini dibiarkan kosong?”
Pak Hamdan terdiam.
Kemudian menjawab pelan.
“Karena pernah terjadi musibah.”
Jantungku langsung berdebar.
“Musibah apa?”
“Sepuluh tahun lalu, ada beberapa anggota keluarga Pak Wiryo yang meninggal di rumah ini.”
Aku menutup mulut.
“Ya Allah…”
Pak Hamdan menunduk.
“Sejak saat itu, rumah ini jarang ditempati.”
Aku kembali bertanya.
“Pak, dulu ada penyanyi sinden yang tinggal di sini?”
Wajah Pak Hamdan langsung berubah pucat.
“Siapa yang bilang?”
“Saya mendengar suara sinden semalam.”
Lelaki itu menelan ludah.
“Namanya Raras.”
Aku membeku.
“Raras?”
Pak Hamdan mengangguk.
“Dia sering diundang Pak Wiryo untuk mengisi acara keluarga.”
“Dia sekarang di mana?”
Pak Hamdan mengalihkan pandangan.
“Nggak tahu. Sudah lama nggak terdengar kabarnya.”
Aku semakin penasaran.
“Tapi kenapa suaranya bisa terdengar dari lantai atas?”
Pak Hamdan langsung berdiri.
“Maaf, Bu. Saya masih ada urusan.”
Aku terkejut melihat reaksinya.
“Pak, sebentar!”
Namun, lelaki itu sudah berjalan menuju mobil.
Mas Halid yang sejak tadi mengurus dokumen di teras langsung menghampiriku.
“Dek, kenapa Pak Hamdan buru-buru?”
Aku menggeleng.
“Entahlah, Mas. Tapi sepertinya dia tahu sesuatu.”
Siang harinya, ketika Mas Halid memeriksa batas kebun bersama pekerja, aku memutuskan membersihkan ruang tengah.
Saat menggeser sebuah lemari pajangan, aku menemukan pintu kecil di baliknya.
Pintunya terbuat dari kayu tua.
Pada bagian tengah terdapat lubang kunci yang sudah berkarat.
Aku mengerutkan kening.
“Ruangan apa lagi ini?”
Aku mencoba mendorongnya.
Terkunci.
Namun, ketika memperhatikan bagian bawah pintu, aku melihat secarik kertas terselip di celah lantai.
Dengan bantuan penggaris, aku menariknya keluar.
Kertas itu sudah menguning.
Di atasnya terdapat tulisan tangan.
Jangan percaya kepada orang yang menyerahkan kunci rumah ini.
Aku membeku.
Pak Hamdan?
Aku membaca kalimat berikutnya.
Dia mengetahui apa yang terjadi kepada keluarga Wiryo pada malam terakhir mereka.
Jantungku berdegup semakin cepat.
Tiba-tiba, dari balik pintu kecil itu terdengar suara seorang perempuan.
“Tolong…”
Aku tersentak.
Suara itu sangat pelan.
Seperti seseorang sedang berbicara dari tempat yang jauh.
Aku mendekatkan telinga.
“Tolong buka…”
Aku langsung mundur.
Tidak mungkin!
Apakah ada seseorang yang dikurung di balik pintu tersebut?
Aku segera mengambil ponsel untuk menelepon Mas Halid.
Namun, sebelum panggilan tersambung, terdengar suara ketukan dari dalam.
Tok.
Tok.
Tok.
Aku membeku.
Kemudian suara perempuan tersebut kembali terdengar.
“Miska…”
Aku menahan napas.
Bagaimana dia mengetahui namaku?
“Miska, dengarkan aku…”
Suara itu terdengar semakin jelas.
“Aku tahu siapa yang membunuh mereka.”
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
“Membunuh siapa?” tanyaku dengan suara gemetar.
Tidak ada jawaban.
Hanya terdengar suara tangisan.
Kemudian perempuan itu berbisik.
“Tiga orang yang kau lihat terbujur di ruang tengah…”
Aku merasa seluruh tubuhku menegang.
Aku belum pernah menceritakan tentang tiga jenazah kepada siapa pun.
Bahkan Mas Halid pun belum mengetahui kejadian tersebut.
Lalu bagaimana perempuan itu bisa mengetahuinya?
Aku memberanikan diri bertanya.
“Siapa kamu?”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian terdengar jawaban lirih.
“Raras…”
Aku membeku.
Penyanyi sinden yang disebut Pak Hamdan?
“Tolong buka pintunya, Miska. Aku sudah terlalu lama menunggu.”
Aku menatap kunci pintu yang berkarat.
“Aku nggak punya kuncinya.”
Suara perempuan itu terdengar seperti sedang menangis.
“Kuncinya ada di kamar terakhir lantai atas.”
Aku langsung teringat peringatan semalam.
Jangan masuk kamar terakhir.
Aku menggeleng kuat-kuat.
“Nggak! Aku nggak mau naik ke sana!”
Namun, suara perempuan itu kembali terdengar.
“Kalau kamu nggak membukanya sebelum malam Jumat, mereka akan datang lagi.”
Aku menelan ludah.
“Siapa yang akan datang?”
Tiba-tiba terdengar suara keras dari balik pintu.
BRAK!
Aku langsung menjerit.
Kemudian semuanya mendadak sunyi.
Aku berlari menuju halaman depan.
Mas Halid belum kembali.
Aku mencoba meneleponnya berkali-kali, tetapi tidak mendapat jawaban.
Akhirnya, aku duduk di teras sambil menunggu dengan perasaan gelisah.
Sekitar setengah jam kemudian, Mas Budi datang membawa alat pemotong rumput.
Melihat wajahku yang pucat, ia langsung bertanya.
“Mbak Miska, kenapa?”
Aku menceritakan penemuan pintu kecil di balik lemari.
Mas Budi mendengarkan dengan wajah semakin serius.
“Di balik lemari ruang tengah?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Mas Budi tampak terkejut.
“Setahu saya, di sana dulu ada ruang penyimpanan dokumen milik Pak Wiryo.”
Aku menatapnya.
“Mas pernah masuk?”
“Belum. Tapi dulu bapak saya bekerja sebagai penjaga rumah ini.”
Jantungku langsung berdebar.
“Berarti Mas tahu sejarah rumah ini?”
Mas Budi terlihat ragu.
“Sedikit.”
Aku segera bertanya.
“Mas, siapa sebenarnya Raras?”
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa Mbak tanya soal dia?”
“Karena ada perempuan dari balik pintu yang mengaku bernama Raras.”
Mas Budi membeku.
Ia memandangku cukup lama.
Kemudian mengucapkan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Mbak, Raras itu sudah meninggal.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Meninggal?”
Mas Budi mengangguk.
“Menurut cerita bapak saya, Raras meninggal beberapa tahun setelah kejadian di rumah ini.”
Aku terdiam.
“Lalu siapa yang bicara dari balik pintu?”
Mas Budi menggeleng.
“Saya nggak tahu.”
Aku menelan ludah.
Namun, lelaki itu kemudian mendekat dan berbicara lebih pelan.
“Tapi ada sesuatu yang pernah diceritakan bapak saya.”
“Apa?”
“Raras sebenarnya pernah menyembunyikan sebuah benda di lantai atas.”
Aku langsung teringat perkataan perempuan dari balik pintu.
“Kunci?”
Mas Budi mengangguk.
“Mungkin.”
“Untuk apa?”
Mas Budi menghela napas.
“Katanya benda itu merupakan satu-satunya bukti yang bisa menjelaskan penyebab kematian keluarga Pak Wiryo.”
Aku merasa jantungku berdebar semakin cepat.
“Mas, kenapa nggak pernah dilaporkan?”
“Karena sebelum sempat menyerahkan bukti itu, Raras menghilang.”
Aku terdiam.
Mas Budi kemudian berdiri.
“Mbak, kalau boleh saya sarankan, jangan mencari tahu sendirian.”
Aku mengangguk.
Namun, saat hendak kembali masuk rumah, tiba-tiba Mas Budi memanggilku.
“Mbak Miska!”
Aku menoleh.
“Iya?”
“Ada satu hal lagi.”
“Apa?”
Mas Budi menatap rumah besar di belakangku.
“Kalau malam nanti terdengar suara orang membaca Yasin, jangan mendekati ruang tengah.”
Aku membeku.
“Kenapa?”
Pria itu menjawab dengan suara sangat pelan.
“Karena setelah suara Yasin terdengar, biasanya akan muncul tiga jenazah di depan televisi.”
Aku merasa napasku berhenti.
“Mas tahu soal itu?”
Mas Budi mengangguk.
“Bapak saya pernah melihatnya.”
Aku menatap lelaki tersebut tanpa berkedip.
“Terus apa yang terjadi?”
Mas Budi menelan ludah.
“Bapak saya mencoba membuka kain yang menutupi salah satu jenazah.”
Aku merasakan tengkukku dingin.
“Lalu?”
Wajah Mas Budi semakin pucat.
“Keesokan paginya, bapak saya ditemukan pingsan di depan tangga. Setelah sadar, beliau nggak pernah mau masuk rumah ini lagi.”
Aku memandang pintu rumah dengan ketakutan.
Namun, Mas Budi belum selesai berbicara.
“Dan sebelum meninggal, bapak saya pernah mengatakan satu hal.”
“Apa?”
Mas Budi menatapku tajam.
“Katanya, dari tiga jenazah yang muncul di ruang tengah, salah satunya bukan anggota keluarga Pak Wiryo.”
Aku membeku.
“Bukan?”
Mas Budi mengangguk perlahan.
“Yang ketiga adalah perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan penghuni baru rumah itu.”
Aku merasa seluruh tubuhku gemetar.
“Penghuni baru?”
Mas Budi menatapku dengan wajah penuh ketakutan.
“Iya, Mbak.”
Ia berhenti sejenak.
“Kata bapak saya, setiap kali rumah itu dihuni perempuan baru, salah satu jenazah yang muncul akan memiliki wajah perempuan tersebut.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Tiba-tiba aku teringat sosok panjang yang tertutup kain hitam di depan televisi.
Benda yang hampir kubuka sebelum Mas Halid menggedor pintu.
Dan sekarang, sebuah pertanyaan mengerikan muncul dalam pikiranku.
Bagaimana kalau waktu itu aku benar-benar membuka kain penutupnya?
Apakah aku akan melihat wajahku sendiri?
Aku memandang rumah besar yang berdiri megah di tengah perkebunan sawit.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bangunan itu bukan sekadar rumah tua yang menyimpan kisah kematian.
Ada sesuatu yang masih berlangsung di dalamnya.
Sesuatu yang seolah terus mengulang kejadian mengerikan dari masa lalu.
Dan mungkin…
Aku bukan hanya penghuni baru.
Aku adalah orang berikutnya yang sedang menunggu giliran untuk menjadi jenazah ketiga.
