AKU DATANG KE ACARA PELANTIKAN MANTAN KEKASIHKU, BUKAN LAGI SEBAGAI

Tiga bulan setelah kepulanganku, sebuah undangan berwarna krem tiba di rumah. Di bagian depan amplop tercetak lambang instansi tempat Walid akan dilantik menjadi perwira.

Aku memandangi undangan itu cukup lama.

Nama Walid tercantum di dalamnya.

Namun, bukan nama itu yang membuat tanganku gemetar.

Melainkan sebuah catatan kecil yang diselipkan bersama undangan.

“Datanglah kalau kamu berani. Aku ingin kamu melihat sendiri siapa yang akhirnya berdiri di samping Walid.”

Tulisan tangan Rani.

Aku langsung mengenalinya.

Selama bertahun-tahun bersahabat, aku sudah hafal cara Rani menulis huruf-hurufnya.

Aku tersenyum getir.

Ternyata setelah berhasil merebut laki-laki yang pernah kucintai, dia masih merasa perlu mempermalukanku.

“Fin, ada apa?”

Suara Bang Zano membuatku tersentak.

Aku segera menyerahkan undangan tersebut kepadanya.

Begitu membaca catatan Rani, wajah kakakku langsung berubah.

“Kurang kerjaan sekali perempuan itu!”

Aku hanya mengangkat bahu.

“Sudahlah, Bang. Nggak penting.”

Zano menatapku.

“Kamu mau datang?”

Aku terdiam.

Sejujurnya, aku tidak ingin bertemu Walid ataupun Rani.

Namun, ada sesuatu yang membuatku berpikir ulang.

Selama dua tahun berpacaran, Walid selalu memintaku merahasiakan hubungan kami dari rekan-rekannya. Dia mengatakan bahwa keluargaku terlalu sederhana untuk diperkenalkan kepada lingkungan pergaulannya.

Aku masih ingat bagaimana ibunya pernah mempermalukanku ketika datang berkunjung.

“Perempuan seperti kamu harus tahu diri. Anak saya calon perwira. Jangan berharap bisa masuk keluarga kami hanya bermodalkan wajah cantik.”

Saat itu, aku hanya menunduk.

Aku tidak pernah membalas.

Bahkan ketika Walid menyuruhku mengaku sebagai anak seorang pensiunan pegawai biasa, aku menurut.

Aku menyembunyikan siapa sebenarnya Ayah karena ingin dicintai sebagai Fina, bukan karena pangkat keluargaku.

Namun, ternyata keputusan itu justru membuat mereka merasa berhak merendahkanku.

“Fin?”

Aku menoleh kepada Zano.

“Aku mau datang, Bang.”

Kakakku mengangkat alis.

“Yakin?”

Aku mengangguk.

“Tapi bukan untuk membalas dendam.”

“Lalu?”

“Aku ingin melihat apakah aku sudah benar-benar bisa menghadapi masa laluku tanpa menangis.”

Zano terdiam sejenak, kemudian tersenyum.

“Kalau begitu, Abang temani.”

Pagi acara pelantikan tiba, Ibu membantuku memilih pakaian.

Aku mengenakan kebaya modern berwarna biru tua dengan rok batik yang sederhana tetapi anggun. Rambutku disanggul rendah, sementara wajahku dirias tipis.

Ketika berjalan keluar kamar, Ayah yang sedang membaca koran langsung mengangkat wajah.

Beliau tersenyum.

“Anak Ayah cantik sekali.”

Aku tertawa kecil.

“Ayah jangan mulai.”

Darto menghampiriku.

“Siap berangkat?”

“Siap, Yah.”

Beliau kemudian menggenggam tanganku.

“Fina, hari ini Ayah ingin kamu mengingat sesuatu.”

“Apa, Yah?”

“Pangkat Ayah bukan ukuran harga dirimu. Kamu berharga bahkan seandainya Ayah tidak memiliki jabatan apa pun.”

Aku mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Fina tahu, Yah.”

Ayah tersenyum.

“Bagus. Sekarang kita berangkat.”

Setibanya di lokasi pelantikan, suasana sudah sangat ramai.

Para keluarga peserta berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Beberapa tamu membawa buket bunga, sementara yang lain sibuk mengabadikan momen menggunakan ponsel.

Aku berjalan bersama Bang Zano menuju area tamu.

Namun, baru beberapa langkah, seseorang memanggil namaku.

“Fina?”

Aku menoleh.

Rani berdiri di hadapanku.

Dia mengenakan kebaya merah muda dan membawa buket bunga besar.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan paruh baya yang sangat kukenal.

Ibu Walid.

Tatapan Rani bergerak dari ujung rambut sampai sepatuku.

Kemudian dia tersenyum sinis.

“Wah, kamu benar-benar datang?”

Aku membalas senyumnya.

“Kamu sendiri yang mengundangku, Ran.”

Ibu Walid langsung menyela.

“Fina? Kamu masih belum bisa melupakan anak saya?”

Aku menarik napas panjang.

“Selamat pagi, Tante.”

Perempuan itu melipat tangan di dada.

“Seharusnya kamu punya harga diri. Walid sudah memilih Rani. Jangan membuat suasana jadi tidak nyaman.”

Bang Zano maju selangkah, tetapi aku segera menahan lengannya.

“Nggak apa-apa, Bang.”

Aku menatap ibu Walid dengan tenang.

“Saya datang sebagai tamu undangan, Tante. Bukan untuk mengganggu siapa pun.”

Rani terkekeh.

“Undangan dari siapa? Aku cuma mengirimkan kartu supaya kamu tahu Walid sudah berhasil.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, terima kasih sudah mengabari.”

Senyum Rani perlahan memudar.

Mungkin dia mengharapkan aku menangis atau memohon kepada Walid.

Namun, aku sudah tidak memiliki alasan melakukan semua itu.

Tiba-tiba seorang petugas menghampiri kami.

“Permisi, Mbak Fina?”

Aku menoleh.

“Iya?”

“Komandan meminta Mbak dan keluarga menuju ruang penerimaan tamu kehormatan. Beliau sudah tiba.”

Rani langsung mengerutkan kening.

“Komandan siapa?”

Petugas itu tidak menjawab pertanyaannya.

Dia hanya mempersilakanku berjalan.

Aku dan Bang Zano mengikutinya.

Namun, sebelum meninggalkan tempat tersebut, kudengar ibu Walid berbisik kepada Rani.

“Mungkin dia jadi staf acara di sini.”

Aku hanya tersenyum kecil.

Beberapa menit kemudian, acara dimulai.

Para peserta pelantikan berdiri dalam barisan rapi.

Aku melihat Walid di antara mereka.

Wajahnya terlihat tegang, tetapi sesekali dia melirik ke arah kursi para tamu.

Ketika pandangannya menemukan Rani, dia tersenyum.

Namun, senyum itu menghilang ketika melihatku duduk bersama Bang Zano di bagian tamu kehormatan.

Aku langsung memalingkan wajah.

Tidak lama kemudian, pembawa acara mengumumkan kedatangan salah seorang pejabat tinggi yang turut menghadiri prosesi tersebut.

Aku berdiri bersama para tamu lainnya.

Ayah memasuki area acara dengan seragam dinas lengkap, didampingi beberapa perwira dan petugas protokol.

Jenderal Darto Prasetyo.

Ayahku sendiri.

Aku melihat Walid menegakkan tubuh.

Dia tentu mengenali sosok Ayah. Sebagai peserta pendidikan kedinasan, Walid pernah beberapa kali mengikuti pengarahan yang disampaikan beliau.

Namun, Walid sama sekali tidak mengetahui hubungan kami.

Ketika prosesi resmi selesai dan para keluarga diperbolehkan memberikan ucapan selamat, Ayah berjalan menghampiriku.

“Fina, sudah menunggu lama?”

Aku menggeleng.

“Nggak, Yah.”

Ayah tersenyum dan merapikan sedikit ujung selendangku.

“Maaf Ayah tadi harus mengikuti rangkaian acara.”

“Nggak apa-apa.”

Aku mencium tangan beliau.

Dari sudut mataku, aku melihat Walid berdiri mematung beberapa meter dari kami.

Buket bunga di tangan Rani hampir terlepas.

Ibu Walid menatap kami dengan mulut sedikit terbuka.

Ayah kemudian menoleh kepada Zano.

“Zano, nanti antar adikmu makan dulu. Jangan sampai dia telat makan.”

“Siap, Yah.”

Walid akhirnya memberanikan diri mendekat.

“Selamat siang, Jenderal.”

Ayah membalas salamnya dengan sopan.

“Selamat siang.”

Walid melirikku.

“Maaf, Jenderal… Mbak Fina ini…”

Ayah menatapnya.

“Putri saya.”

Wajah Walid langsung pucat.

“Pu… putri Bapak?”

“Iya. Ada keperluan?”

Walid tampak kehilangan kata-kata.

Rani yang berdiri di belakangnya ikut membeku.

Ibu Walid buru-buru mendekat dengan senyum canggung.

“Ya ampun, ternyata Fina putri Bapak Jenderal? Kami benar-benar tidak tahu!”

Ayah memandangnya sekilas.

“Memangnya ada yang salah kalau tidak tahu?”

Perempuan itu langsung terdiam.

Aku nyaris tertawa, tetapi segera menahan diri.

Walid kemudian menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Fin, kenapa kamu nggak pernah bilang?”

Aku menghela napas.

“Aku pernah mengajakmu bertemu Ayah dan Ibu. Kamu yang selalu menolak.”

“Tapi kamu bilang ayahmu cuma pensiunan biasa.”

“Aku bilang keluargaku hidup sederhana. Kamu sendiri yang menyimpulkan macam-macam.”

Walid menunduk.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Dan waktu ibumu menghina pekerjaanku, kamu cuma diam.”

Ibu Walid langsung menyela.

“Fina, Tante waktu itu cuma khawatir dengan masa depan Walid.”

Aku menatapnya.

“Tante berhak khawatir. Tapi bukan berarti Tante berhak merendahkan orang lain.”

Suasana mendadak canggung.

Ayah memperhatikan kami beberapa saat sebelum akhirnya berkata,

“Fina, Ayah tunggu di ruang tamu. Selesaikan urusan pribadimu baik-baik.”

Beliau kemudian meninggalkan kami bersama Zano.

Walid langsung mendekat.

“Fin, aku minta maaf.”

Aku mengangguk.

“Aku dengar.”

“Aku nggak tahu kalau kamu…”

“Kalau aku anak jenderal?” potongku.

Walid terdiam.

Aku menatapnya lekat-lekat.

“Jadi kalau aku benar-benar anak orang miskin, kamu nggak perlu meminta maaf?”

Wajahnya semakin pucat.

“Jangan begitu, Fin.”

“Lalu harus bagaimana, Walid?”

Aku menarik napas panjang.

“Dulu kamu bilang ingin memiliki istri yang bisa mendukung kariermu. Aku bekerja, menabung, bahkan membantu membayar beberapa kebutuhanmu ketika kamu masih pendidikan.”

Walid menunduk semakin dalam.

“Tapi ketika keluargamu menganggap aku nggak pantas, kamu memilih meninggalkanku.”

Rani tiba-tiba maju.

“Fin, cukup. Walid sekarang calon suamiku.”

Aku menoleh kepadanya.

“Aku tahu, Ran. Dan aku nggak berniat mengambilnya kembali.”

Rani terdiam.

“Aku cuma ingin kalian mengerti bahwa seseorang nggak boleh dinilai dari pekerjaan orang tuanya atau jumlah uang yang dimilikinya.”

Walid mengusap wajah.

“Fin, seandainya aku bisa mengulang semuanya…”

Aku menggeleng.

“Nggak perlu.”

Dia menatapku.

“Kenapa?”

“Karena aku sudah nggak ingin kembali ke masa ketika aku terus merasa harus membuktikan diri supaya pantas dicintai.”

Aku berbalik meninggalkan mereka.

Namun, beberapa langkah kemudian, Walid kembali memanggil.

“Fina!”

Aku berhenti.

“Ada apa lagi?”

Dia menelan ludah.

“Apakah ayahmu tahu semua yang pernah terjadi di antara kita?”

Aku mengangguk.

“Tahu.”

Wajah Walid langsung berubah tegang.

“Apa beliau akan memengaruhi karierku?”

Aku menatapnya cukup lama.

“Tidak. Ayahku cukup profesional untuk tidak menggunakan jabatannya mengurus sakit hati anaknya.”

Walid tampak lega.

Namun, kalimat berikutnya membuatnya kembali terdiam.

“Tapi kamu sendiri yang harus menentukan perwira seperti apa yang ingin kamu jadi. Pangkat tidak akan membuat seseorang otomatis memiliki kehormatan.”

Aku meninggalkannya tanpa menunggu jawaban.

Di ruang tamu kehormatan, Ayah sedang berbincang dengan beberapa tamu.

Begitu melihatku, beliau menghentikan percakapan dan menghampiri.

“Sudah selesai, Nak?”

Aku mengangguk.

“Sudah, Yah.”

Ayah memperhatikan wajahku.

“Masih sedih?”

Aku berpikir sejenak.

“Anehnya, nggak.”

Beliau tersenyum.

“Bagus.”

Namun, ketika kami hendak pulang, Rani tiba-tiba muncul di dekat pintu keluar.

Kali ini dia datang sendirian.

Wajahnya tidak lagi menunjukkan kesombongan seperti sebelumnya.

“Fin, boleh bicara sebentar?”

Aku mengangguk.

Rani menggenggam tasnya erat-erat.

“Aku mau minta maaf.”

Aku terdiam.

“Dulu aku memang sengaja mendekati Walid ketika hubungan kalian sedang bermasalah.”

Aku memandangnya tanpa menyela.

“Aku iri sama kamu, Fin. Kamu selalu terlihat bahagia, meskipun hidup sederhana. Sementara aku merasa harus punya sesuatu yang lebih baik daripada orang lain.”

Air matanya mulai mengalir.

“Aku pikir kalau berhasil mendapatkan Walid, aku akan merasa menang.”

“Lalu sekarang?”

Rani menunduk.

“Sekarang aku takut dia memilihku hanya karena keluargaku punya hubungan yang bisa membantu masa depannya.”

Aku menghela napas.

“Ran, aku nggak bisa menjawab itu untukmu. Kamu harus membicarakannya sendiri dengan Walid.”

Rani mengangguk.

“Maaf sudah menyakitimu.”

Aku menatap sahabat yang pernah sangat kupercaya itu.

Memaafkan bukan perkara mudah.

Luka yang ditinggalkannya tidak hilang hanya karena beberapa kalimat penyesalan.

Namun, aku juga tidak ingin terus membawa kemarahan tersebut sepanjang hidup.

“Aku terima permintaan maafmu, Ran. Tapi hubungan kita nggak bisa langsung kembali seperti dulu.”

Rani mengangguk sambil menangis.

“Aku mengerti.”

Kami berpisah tanpa pelukan.

Tetapi untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar bebas dari masa lalu.

Dalam perjalanan pulang, Bang Zano terus menggodaku.

“Wah, tadi wajah Walid pucat sekali. Abang sampai kasihan!”

Aku tertawa.

“Bang, jangan begitu.”

“Serius, Fin! Dia kayak orang baru lihat hantu!”

Ayah yang duduk di depan langsung menegur.

“Zano, jangan menertawakan kesalahan orang lain.”

Kakakku langsung mengangguk.

“Siap, Yah.”

Aku tersenyum melihat tingkah mereka.

Namun, ketika mobil berhenti di lampu merah, Ayah tiba-tiba menoleh kepadaku.

“Fina, Ayah mau bertanya.”

“Iya, Yah?”

“Kalau hari ini kamu datang bukan sebagai anak Ayah, apakah kamu tetap berani menghadapi Walid?”

Aku terdiam cukup lama.

Pertanyaan itu membuatku berpikir.

Kemudian aku mengangguk.

“Iya, Yah. Sekarang Fina berani.”

Ayah tersenyum bangga.

“Kalau begitu, Ayah benar-benar senang.”

Beberapa bulan kemudian, aku kembali bekerja sebagai konsultan pendidikan.

Aku juga melanjutkan program beasiswa yang pernah kurancang ketika masih kuliah.

Program itu memberikan pendampingan kepada anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang ingin melanjutkan pendidikan.

Aku menggunakan nama sendiri, tanpa mencantumkan jabatan Ayah dalam setiap kegiatan.

Suatu sore, seorang siswi penerima beasiswa menghampiriku.

“Kak Fina, aku boleh tanya sesuatu?”

Aku tersenyum.

“Tentu.”

“Benar Kak Fina anak seorang jenderal?”

Aku mengangguk.

“Iya.”

Anak itu menunduk.

“Berarti Kakak nggak pernah tahu bagaimana rasanya jadi orang miskin?”

Aku terdiam sesaat.

Kemudian duduk di sampingnya.

“Kakak mungkin nggak mengalami semua kesulitan yang kamu alami. Tapi Kakak tahu bagaimana rasanya dianggap nggak berharga hanya karena orang lain mengira kita miskin.”

Dia mengangkat wajah.

Aku menggenggam tangannya.

“Jangan pernah percaya kalau masa depanmu ditentukan oleh pekerjaan orang tuamu. Belajar yang sungguh-sungguh, jaga harga dirimu, dan jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa lebih rendah.”

Anak itu tersenyum.

“Terima kasih, Kak.”

Aku membalas senyumnya.

Malam harinya, ketika pulang ke rumah, aku menemukan Ayah sedang duduk di teras bersama Ibu.

Beliau memanggilku.

“Fina, sini sebentar.”

Aku menghampiri mereka.

Ayah menunjukkan sebuah foto lama.

Foto ketika aku masih kecil, mengenakan seragam sekolah dasar dan memegang piala lomba membaca puisi.

“Kamu ingat ini?”

Aku tertawa.

“Ingat, Yah. Waktu itu Fina menang juara satu.”

Ayah mengangguk.

“Kamu tahu kenapa Ayah masih menyimpan foto ini?”

Aku menggeleng.

“Karena hari itu kamu pulang sambil menangis.”

Aku terkejut.

“Kok Ayah masih ingat?”

“Kamu bilang teman-temanmu mengejek karena Ayah nggak sempat datang menonton.”

Aku menunduk.

Ayah mengusap rambutku.

“Waktu itu Ayah masih sibuk bertugas. Kamu bilang ingin punya ayah yang bisa datang seperti ayah teman-temanmu.”

Aku tersenyum sedih.

“Fina masih kecil, Yah.”

Ayah mengangguk.

“Tapi sejak hari itu Ayah sadar, jabatan setinggi apa pun nggak ada artinya kalau keluarga sendiri merasa sendirian.”

Air mataku mulai menggenang.

“Maafkan Ayah karena dulu terlalu keras ketika melarang hubunganmu dengan Walid. Ayah sebenarnya takut kamu disakiti, tapi Ayah juga seharusnya mendengarkan perasaanmu.”

Aku langsung memeluk beliau.

“Ayah nggak perlu minta maaf.”

Ayah mengusap punggungku.

“Yang penting sekarang kamu sudah pulang.”

Aku memejamkan mata dalam pelukannya.

Dulu, aku pernah meninggalkan rumah ini karena mengira cinta seorang laki-laki lebih penting daripada kasih sayang keluargaku.

Aku rela menyembunyikan identitasku, menerima hinaan, bahkan merendahkan diri sendiri demi mempertahankan seseorang yang ternyata tidak benar-benar menghargai diriku.

Namun, setelah semua yang terjadi, aku akhirnya memahami satu hal.

Menjadi putri seorang jenderal bukanlah kemenangan terbesarku.

Kemenangan terbesarku adalah ketika aku mampu berdiri di hadapan orang yang pernah menghancurkan hatiku tanpa lagi membutuhkan pengakuannya.

Aku tidak perlu membuat Walid menyesal.

Aku tidak perlu membuktikan bahwa keluargaku lebih terhormat daripada keluarganya.

Dan aku tidak perlu menggunakan pangkat Ayah untuk membuat orang lain takut.

Karena harga diriku tidak pernah bergantung pada semua itu.

Aku adalah Fina.

Perempuan yang pernah patah hati, pernah salah memilih, tetapi akhirnya berani memperbaiki hidupnya sendiri.

Dan kali ini, jika suatu hari seseorang datang menawarkan cinta, aku tidak akan lagi bertanya apakah aku cukup pantas untuknya.

Aku akan bertanya apakah dia cukup tulus untuk menerima diriku apa adanya.

Sebab orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan menunggu sampai mengetahui siapa ayah kita untuk mulai memperlakukan kita dengan hormat.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang