
Aku baru saja meletakkan ember berisi ikan mas di dapur ketika mendengar salah seorang tetangga menyebut nama ibu mertuaku.
“Kasihan Bu Syarifah. Suaminya makin terang-terangan saja sekarang.”
Langkahku langsung terhenti.
Suara itu berasal dari balik pagar samping rumah. Rupanya dua perempuan yang tadi berbisik-bisik masih berdiri di sana.
Aku sebenarnya tidak suka menguping pembicaraan orang. Namun, ketika mendengar nama Pak Sofyan disebut, rasa penasaranku langsung muncul.
“Memangnya Bu Nindi masih mau meladeni Pak Sofyan?” tanya perempuan lainnya.
“Entahlah. Tapi tadi malam aku lihat motornya parkir di depan rumah itu sampai hampir jam sembilan.”
Aku menelan ludah.
Jadi bukan hanya aku yang merasa kedatangan Pak Sofyan cukup aneh.
“Kalau istriku diperlakukan begitu, pasti sudah ribut satu kampung,” lanjut perempuan pertama.
Aku buru-buru masuk ke dapur sebelum mereka menyadari keberadaanku.
Di sana, ibu mertua sedang menyiapkan bumbu.
“Bu, ikannya sudah saya taruh di dekat wastafel.”
“Iya. Tolong bersihkan dulu, ya, Mir.”
Aku mengangguk.
Namun, ketika hendak mengambil pisau, aku memberanikan diri bertanya.
“Bu, Pak Sofyan sering minta dimasakkan makanan sama Ibu?”
Gerakan tangan Ibu langsung berhenti.
“Nggak juga. Kenapa?”
“Nggak apa-apa. Cuma penasaran.”
Ibu menatapku sebentar.
“Kalau ada tetangga yang ngomong macam-macam, jangan langsung dipercaya.”
Aku terkejut.
“Lho, Ibu tahu ada yang membicarakan kita?”
Ibu menghela napas.
“Di kampung ini, orang membeli garam saja bisa jadi bahan gosip.”
Aku tersenyum kecil, tetapi hatiku semakin tidak tenang.
Mengapa Ibu langsung menyinggung gosip, padahal aku belum mengatakan apa-apa?
Sepanjang pagi, kami sibuk menyiapkan pepes ikan.
Aku membersihkan ikan, sementara Ibu menghaluskan bumbu menggunakan cobek batu. Aroma kemangi, kunyit, bawang, dan cabai memenuhi dapur.
Sesekali Ibu mengajariku cara membungkus ikan menggunakan daun pisang agar bumbunya tidak tumpah.
Dalam suasana seperti itu, aku hampir melupakan kecurigaanku.
Bagaimanapun, Ibu memang selalu memperlakukanku dengan cukup baik.
Sejak Mas Fahri berangkat bekerja ke Kalimantan, beliau menjadi satu-satunya keluarga yang menemaniku setiap hari.
Namun, ketika ketiga pepes selesai dikukus, ponsel Ibu tiba-tiba berdering.
Aku tidak sengaja melihat nama yang muncul di layar.
Sofyan.
Ibu segera mengangkatnya dan berjalan menuju halaman belakang.
Aku melanjutkan pekerjaan sambil berpura-pura tidak memperhatikan.
Beberapa menit kemudian, Ibu kembali dengan wajah tegang.
“Mir, nanti kamu saja yang mengantarkan pepesnya.”
Aku menoleh.
“Semuanya, Bu?”
“Iya.”
“Tapi tadi Pak Sofyan bilang satu ekor buat kita.”
Ibu menggeleng.
“Nggak usah. Antarkan semuanya.”
Aku merasa heran, tetapi tidak membantah.
Sekitar tengah hari, aku berangkat menuju rumah Pak Sofyan.
Bu Syarifah sedang menjemur pakaian ketika aku tiba.
Begitu melihat kantong berisi pepes di tanganku, wajahnya langsung berubah.
“Ini apa?”
“Pepes ikan, Bu. Pesanan Pak Sofyan.”
“Suami saya pesan pepes lagi?”
Aku mengangguk.
“Tadi pagi beliau mengantarkan ikan ke rumah.”
Bu Syarifah tertawa getir.
“Hebat sekali suami saya. Di rumah sendiri nggak pernah mau makan masakan istrinya, tetapi rajin sekali menyuruh perempuan lain memasak.”
Aku langsung merasa tidak nyaman.
“Maaf, Bu. Saya cuma diminta mengantarkan.”
Perempuan itu menatapku tajam.
“Bilang kepada mertua kamu, lain kali jangan semua permintaan laki-laki beristri dituruti!”
Aku terdiam.
Bu Syarifah mengambil kantong tersebut, kemudian masuk tanpa mengucapkan terima kasih.
Aku pulang dengan perasaan kesal sekaligus malu.
Namun, kejutan sebenarnya baru terjadi sore harinya.
Ketika sedang membersihkan meja makan, aku mendengar suara motor berhenti di halaman.
Pak Sofyan datang lagi.
Kali ini wajahnya terlihat marah.
“Bu Nindi!” panggilnya keras.
Ibu yang sedang beristirahat langsung keluar dari kamar.
“Pak Sofyan? Ada apa?”
Pria itu melangkah masuk tanpa dipersilakan.
“Kenapa pepesnya diberikan semua kepada istri saya?”
Aku terkejut mendengar pertanyaan tersebut.
Bukankah memang makanan itu harus diantar ke rumahnya?
Ibu menjawab dengan tenang.
“Kan memang pesanan Bapak.”
Pak Sofyan mendengus.
“Saya meminta dibuatkan supaya bisa makan di sini!”
Aku langsung membeku.
Apa?
Pak Sofyan ingin makan di rumah kami?
Ibu menatapnya dengan wajah tidak senang.
“Pak, saya sudah bilang jangan datang terlalu sering.”
Namun, lelaki itu justru semakin marah.
“Jadi sekarang Ibu mau menghindari saya?”
Aku segera berdiri di samping Ibu.
“Pak, kalau memang ada masalah, sebaiknya dibicarakan baik-baik.”
Pak Sofyan menoleh kepadaku.
“Almira, ini urusan orang tua. Kamu nggak perlu ikut campur.”
Aku menahan kesal.
“Kalau Bapak datang dan membentak ibu mertua saya di rumah ini, tentu saya berhak bertanya.”
Wajah Pak Sofyan memerah.
Namun, sebelum ia sempat menjawab, ponselnya berdering.
Setelah melihat layar, ekspresinya mendadak berubah.
Ia menolak panggilan tersebut.
Kemudian menatap Ibu dengan tajam.
“Jangan lupa janji kita, Nindi.”
Setelah mengatakan itu, ia pergi.
Aku berdiri mematung.
Janji?
Janji apa?
Ibu langsung duduk di kursi dengan wajah pucat.
“Bu, sebenarnya ada hubungan apa antara Ibu dan Pak Sofyan?”
Beliau menggeleng.
“Nggak ada apa-apa.”
“Tapi tadi dia bicara soal janji.”
Ibu mengusap wajah.
“Almira, tolong jangan bertanya sekarang.”
Aku menatapnya cukup lama.
Akhirnya, aku memilih diam.
Namun, malam itu aku menerima panggilan yang membuat pikiranku semakin kacau.
Mas Rahmat, teman kerja suamiku, tiba-tiba menelepon.
“Halo, Almira.”
“Iya, Mas. Ada apa?”
“Sebenarnya aku mau menanyakan sesuatu.”
“Tentang Mas Fahri?”
Rahmat terdiam.
“Kamu sudah lama nggak ditelepon suamimu?”
Aku mengangguk meskipun ia tidak melihatnya.
“Sudah hampir seminggu.”
Terdengar helaan napas panjang.
“Almira, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui.”
Jantungku langsung berdebar.
“Apa, Mas?”
Namun, Rahmat justru berkata bahwa ia akan menghubungiku kembali setelah memastikan sesuatu.
Panggilan itu berakhir tanpa penjelasan.
Aku mulai merasa ada banyak hal yang disembunyikan dariku.
Pak Sofyan.
Ibu mertua.
Mas Fahri.
Mengapa semuanya tiba-tiba terlihat saling berkaitan?
Keesokan paginya, aku terbangun ketika mendengar Ibu berbicara melalui telepon di dapur.
“Fahri, Ibu sudah berusaha menahan Sofyan. Tapi dia makin sulit diatur.”
Aku langsung berhenti melangkah.
Nama suamiku disebut.
Aku bersembunyi di balik dinding.
“Nggak bisa terus begini, Fahri. Kalau Almira sampai tahu, semuanya akan berantakan.”
Dadaku terasa sesak.
Ibu melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kamu sendiri yang membuat masalah. Sekarang kenapa Ibu yang harus menyelesaikannya?”
Aku hampir tidak mampu bernapas.
Jadi benar ada sesuatu antara Mas Fahri dan Pak Sofyan.
Namun, apa?
Setelah panggilan berakhir, aku buru-buru kembali ke kamar.
Aku tidak ingin Ibu mengetahui bahwa aku mendengar percakapannya.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan masuk dari Mas Rahmat.
Aku segera membukanya.
Di layar muncul sebuah foto.
Mas Fahri sedang duduk bersama seorang perempuan muda di sebuah restoran.
Tangan perempuan itu menggenggam tangan suamiku.
Di belakangnya terlihat dekorasi ulang tahun.
Aku langsung menangis.
Belum selesai aku memahami foto tersebut, Mas Rahmat mengirim pesan berikutnya.
Maaf, Mir. Aku nggak tega terus menyembunyikannya. Perempuan itu bernama Nabila. Mereka sudah dekat beberapa bulan terakhir.
Aku merasa seluruh tubuhku kehilangan tenaga.
Suamiku berselingkuh?
Selama ini aku menunggu teleponnya setiap malam.
Aku selalu berusaha menghemat uang kiriman agar kebutuhan Ibu tercukupi.
Bahkan ketika ingin membeli pakaian baru, aku selalu berpikir dua kali.
Namun, ternyata Mas Fahri sedang menikmati waktu bersama perempuan lain.
Aku menutup wajah dan menangis cukup lama.
Sore harinya, aku memberanikan diri menelepon suamiku.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua ditolak.
Barulah pada panggilan ketiga, Mas Fahri mengangkatnya.
“Halo, Mir. Ada apa?”
Aku menarik napas panjang.
“Mas, Nabila itu siapa?”
Sambungan mendadak hening.
“Mas?”
“Kenapa kamu bertanya begitu?”
“Jawab saja.”
“Dia teman kantor.”
“Teman yang biasa menggenggam tanganmu di restoran?”
Mas Fahri langsung meninggikan suara.
“Siapa yang mengirimkan foto itu?”
Aku tertawa getir.
“Jadi Mas nggak menyangkal?”
“Almira, jangan langsung percaya omongan orang!”
Aku memejamkan mata.
“Kalau begitu, jelaskan kenapa kamu sudah seminggu nggak meneleponku.”
Mas Fahri tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara perempuan memanggil dari kejauhan.
“Mas Fahri, kita jadi pergi sekarang?”
Aku langsung membeku.
Mas Fahri buru-buru menutup telepon.
Aku menatap layar dengan air mata mengalir.
Namun, ketika hendak meletakkan ponsel, sebuah pesan baru masuk.
Kali ini dari nomor tidak dikenal.
Almira, jangan hanya menyelidiki perselingkuhan suamimu. Cari tahu juga kenapa Pak Sofyan begitu sering datang ke rumah mertuamu.
Aku langsung membalas.
Siapa kamu?
Jawabannya datang beberapa detik kemudian.
Orang yang pernah kehilangan segalanya karena keluarga Fahri.
Aku merasa tengkukku dingin.
Apa maksudnya?
Sebelum sempat bertanya lagi, sebuah foto dikirimkan kepadaku.
Foto lama yang memperlihatkan Pak Sofyan, Mas Fahri, dan seorang lelaki yang tidak kukenal.
Mereka berdiri di depan sebuah kantor notaris.
Di bawahnya terdapat tanggal dua tahun lalu.
Aku memperbesar foto tersebut.
Mas Fahri sedang memegang map cokelat.
Sedangkan Pak Sofyan terlihat tersenyum sambil menerima sebuah dokumen.
Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Keesokan harinya, ketika Ibu pergi ke pengajian, aku memberanikan diri memeriksa lemari dokumen keluarga.
Aku tahu tindakanku mungkin dianggap lancang.
Namun, setelah semua kejadian tersebut, aku tidak bisa terus berpura-pura tidak mengetahui apa-apa.
Di bagian paling bawah lemari, aku menemukan map berwarna biru.
Di dalamnya terdapat beberapa surat utang.
Nama Pak Sofyan tercantum sebagai pemberi pinjaman.
Sedangkan nama Mas Fahri tertulis sebagai pihak yang menerima uang.
Jumlahnya membuatku hampir menjatuhkan dokumen.
Dua ratus lima puluh juta rupiah.
Aku membaca tanggalnya.
Dua tahun lalu.
Tepat beberapa minggu sebelum aku menikah dengan Mas Fahri.
Tanganku mulai gemetar.
Untuk apa suamiku meminjam uang sebanyak itu?
Aku membalik halaman berikutnya.
Di sana terdapat perjanjian bahwa pinjaman tersebut akan dijamin menggunakan sebidang tanah setelah proses pengalihan hak selesai.
Aku langsung mengenali alamat tanah tersebut.
Tanah warisan almarhum ayahku.
Aku membeku.
Bagaimana mungkin tanahku digunakan sebagai jaminan utang Mas Fahri?
Aku memeriksa tanda tangan pada dokumen.
Di sana terdapat tanda tangan yang menyerupai milikku.
Padahal aku tidak pernah menandatangani surat tersebut.
Aku langsung memotret seluruh dokumen.
Kemudian menghubungi Mbak Rina, sepupuku yang bekerja di kantor notaris.
Setelah mendengar ceritaku, Mbak Rina memintaku segera membawa dokumen itu untuk diperiksa dan tidak menyerahkan sertifikat asli kepada siapa pun.
Aku mengangguk sambil menangis.
Namun, sebelum sempat keluar rumah, terdengar suara pintu depan dibuka.
Ibu sudah pulang.
Aku buru-buru menyimpan kembali map tersebut.
Sayangnya, ketika hendak menutup lemari, sebuah amplop jatuh ke lantai.
Aku memungutnya.
Di bagian depan tertulis nama lengkapku.
Almira Putri.
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan surat pernyataan yang menyebutkan bahwa setelah menikah, aku memberikan kuasa kepada Mas Fahri untuk mengurus penjualan tanah warisanku.
Aku merasa dunia berputar.
Tidak mungkin.
Aku tidak pernah memberikan kuasa seperti itu.
Tiba-tiba terdengar suara Ibu dari belakang.
“Almira…”
Aku langsung berbalik.
Ibu berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat.
Matanya tertuju kepada dokumen di tanganku.
“Kamu sudah menemukannya?”
Aku menatap beliau dengan air mata mengalir.
“Bu, apa maksud semua ini?”
Ibu tidak menjawab.
Aku mengangkat surat tersebut.
“Kenapa ada tanda tanganku di sini? Aku nggak pernah menandatangani apa pun!”
Ibu menutup wajah dengan kedua tangan.
“Almira, maafkan Ibu…”
Aku mundur selangkah.
“Jadi Ibu tahu?”
Beliau mengangguk sambil menangis.
“Mas Fahri dan Pak Sofyan yang mengurus semuanya.”
Aku merasa dadaku semakin sakit.
“Kenapa Ibu membiarkan mereka menggunakan tanah peninggalan Bapakku?”
Ibu terisak.
“Karena Fahri sudah terlanjur berutang. Pak Sofyan mengancam akan membawa masalah itu ke pengadilan.”
Aku menggeleng.
“Itu bukan alasan untuk memalsukan tanda tanganku!”
Ibu menangis semakin keras.
“Aku tahu, Nak. Ibu salah.”
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa iba melihat tangisan beliau.
Aku justru merasa seluruh kepercayaanku runtuh.
Namun, sebelum percakapan kami selesai, terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Pak Sofyan.
Ia datang dengan wajah tegang.
Begitu melihat dokumen di tanganku, langkahnya langsung terhenti.
“Jadi kamu sudah tahu?”
Aku menatapnya tajam.
“Pak, kenapa nama saya ada di surat utang suami saya?”
Pak Sofyan tersenyum tipis.
“Karena suamimu sudah menyetujui semuanya.”
“Tapi saya tidak!”
“Kalau begitu, kamu harus menyelesaikan masalah ini dengan Fahri.”
Aku mengepalkan tangan.
“Saya akan melaporkan dugaan pemalsuan dokumen ini.”
Senyum Pak Sofyan langsung menghilang.
Ia menatap ibu mertuaku.
“Bu Nindi, saya sudah bilang jangan sampai Almira menemukan berkas itu!”
Aku terdiam.
Jadi selama ini mereka benar-benar bersekongkol.
Namun, sesuatu yang lebih mengejutkan terjadi ketika Bu Syarifah tiba-tiba muncul di depan pintu.
Perempuan itu membawa sebuah tas hitam.
Wajahnya terlihat sangat marah.
“Sofyan!”
Pak Sofyan langsung menoleh.
“Kamu ngapain datang ke sini?”
Bu Syarifah tertawa getir.
“Harusnya aku yang bertanya begitu.”
Ia kemudian menatapku.
“Almira, kamu jangan percaya semua omongan laki-laki ini.”
Aku terdiam.
Bu Syarifah membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah map.
“Pak Sofyan bukan cuma memberi pinjaman kepada Fahri.”
Jantungku langsung berdebar.
“Maksud Ibu?”
Perempuan itu memperlihatkan beberapa bukti transfer.
“Selama hampir setahun, uang yang diterima Sofyan dari Fahri justru mengalir kepada seorang perempuan di Kalimantan.”
Aku membeku.
“Nabila?”
Bu Syarifah mengangguk.
“Benar.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Namun, Bu Syarifah belum selesai.
“Perempuan itu bukan sekadar selingkuhan suamimu, Almira.”
Aku menahan napas.
“Lalu siapa?”
Bu Syarifah menatap Pak Sofyan dengan mata penuh kebencian.
“Nabila adalah anak kandung Sofyan dari hubungan masa lalunya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap Pak Sofyan dengan wajah tidak percaya.
“Jadi selama ini…”
Bu Syarifah mengangguk sambil menangis.
“Fahri mendekati Nabila bukan hanya karena jatuh cinta. Mereka sedang menjalankan rencana untuk mengambil tanah warisanmu.”
Aku merasa lututku melemas.
Namun, sebelum sempat bertanya lebih jauh, Bu Syarifah mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh tubuhku membeku.
“Dan orang yang pertama kali mengusulkan agar Fahri menikah denganmu bukan ibu mertuamu.”
Aku menatapnya.
“Lalu siapa?”
Bu Syarifah menunjuk Pak Sofyan.
“Dia.”
Aku mundur perlahan.
Pak Sofyan tidak membantah.
Wajahnya justru berubah sangat pucat.
Bu Syarifah kembali berbicara.
“Dua tahun lalu, Sofyan sudah tahu bahwa tanah peninggalan ayahmu akan masuk kawasan pengembangan jalan baru. Nilainya akan meningkat berkali-kali lipat.”
Aku menutup mulut.
“Jadi pernikahanku…”
Bu Syarifah menangis.
“Mungkin sejak awal memang sudah direncanakan untuk mempermudah penguasaan tanah itu.”
Aku memandang ibu mertuaku.
Beliau hanya menunduk sambil menangis.
Kemudian aku kembali menatap Pak Sofyan.
Lelaki yang datang malam-malam hanya untuk meminta dibuatkan pepes ikan.
Lelaki yang selalu terlihat santai sambil mengisap pipa rokok.
Ternyata mungkin dialah orang yang sejak awal menyusun rencana untuk menghancurkan kehidupanku.
Namun, tepat ketika aku hendak menelepon Mbak Rina, Pak Sofyan tiba-tiba berbicara.
“Almira, sebelum kamu melapor, ada sesuatu yang harus kamu ketahui tentang ayah kandungmu.”
Aku langsung terdiam.
“Bapak saya sudah meninggal. Jangan bawa-bawa beliau!”
Pak Sofyan menggeleng perlahan.
“Justru karena ayahmu sudah meninggal, kamu nggak pernah tahu alasan sebenarnya dia meninggalkan tanah itu untukmu.”
Aku merasakan jantungku berdegup semakin cepat.
“Maksud Bapak?”
Pak Sofyan menatapku lama.
Kemudian berkata dengan suara rendah.
“Tanah itu bukan sekadar warisan, Almira.”
Aku menahan napas.
“Di bawah tanah tersebut ada sesuatu yang telah disembunyikan ayahmu selama puluhan tahun.”
Aku membeku.
“Sesuatu apa?”
Pak Sofyan melirik Bu Syarifah.
Wajahnya terlihat semakin tegang.
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuatku tidak mampu bergerak.
“Bukti tentang kematian seseorang.”
Aku menatapnya dengan mata membelalak.
“Siapa yang meninggal?”
Pak Sofyan tidak langsung menjawab.
Ia justru mengeluarkan sebuah foto lama dari saku kemejanya.
Foto itu memperlihatkan ayahku berdiri bersama seorang perempuan muda.
Di belakang mereka terdapat bangunan tua yang tidak kukenal.
Namun, ketika melihat wajah perempuan tersebut, aku merasa darahku berhenti mengalir.
Perempuan itu sangat mirip denganku.
Pak Sofyan kemudian berkata pelan.
“Namanya Larasati.”
Aku menelan ludah.
“Siapa dia?”
Pak Sofyan menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Dia kakak kandungmu, Almira.”
Aku membeku.
“Dan sampai hari ini, tidak seorang pun tahu di mana jasadnya ditemukan.”
Aku merasa seluruh dunia berhenti berputar.
Selama ini aku percaya bahwa diriku adalah anak tunggal.
Namun, sekarang seorang lelaki yang telah berusaha mengambil tanah warisanku justru mengatakan bahwa aku memiliki kakak perempuan yang meninggal secara misterius.
Dan yang lebih mengerikan, rahasia kematiannya mungkin tersembunyi di tanah yang selama ini menjadi incaran mereka.
Aku memandang foto tersebut dengan tangan gemetar.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa persoalan rumah tanggaku mungkin hanya bagian kecil dari sebuah rahasia keluarga yang jauh lebih besar.
Rahasia yang telah disembunyikan sejak sebelum aku dilahirkan.
Dan kini, setelah semua kebohongan mulai terbongkar, aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kupercaya.
