“Sebaiknya jenazah kakakmu dibawa ke kampung malam ini juga. Tapi karena tidak ada

Pak Diman mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur kap mobil yang masih terbuka.

Matanya tidak berkedip.

Di kursi tengah, Ranti masih duduk tegak. Wajahnya pucat, tetapi kedua sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyuman.

Yang membuat Pak Diman semakin ketakutan, mata perempuan itu mengikuti setiap gerakannya.

“Ran… Ranti?”

Suaranya nyaris tidak terdengar.

Tiba-tiba lampu kabin mobil menyala sendiri.

Pak Diman tersentak.

Dalam cahaya kekuningan itu, ia melihat Ranti mengangkat tangan kanannya perlahan.

Jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah Pak Diman.

Kemudian bibirnya bergerak.

“Bapak…”

Pak Diman langsung menjerit.

“ASTAGHFIRULLAH!”

Ia mundur tergesa-gesa hingga hampir tersandung pembatas jembatan.

Namun, ketika kembali menatap mobil, Ranti sudah menundukkan kepala.

Zaki dan Windu pun kembali duduk di sisi kanan dan kirinya.

Seolah sejak tadi mereka tidak pernah menghilang.

“Bapak kenapa?” teriak Zaki dari dalam mobil.

Pak Diman terdiam.

Ia mengusap wajah berkali-kali.

“Zak… kalian tadi ke mana?”

Zaki menurunkan kaca jendela.

“Maksud Bapak?”

“Kalian tadi nggak ada di mobil!”

Windu ikut menoleh.

“Kami dari tadi di sini, Pak.”

Pak Diman menelan ludah.

“Nggak mungkin…”

Zaki memandang ayahnya dengan bingung.

“Bapak kecapekan kali. Udah, coba nyalakan mobilnya lagi.”

Pak Diman tidak menjawab.

Dengan tangan gemetar, ia menutup kap mesin dan kembali duduk di belakang setir.

Sebelum menyalakan mesin, ia melirik kaca spion tengah.

Ranti masih duduk di antara kedua penumpang.

Kepalanya tertunduk.

Masker menutupi sebagian wajahnya.

Namun, ada sesuatu yang membuat Pak Diman merinding.

Di kaca spion, ia melihat Ranti tersenyum.

Padahal ketika menoleh langsung, wajah perempuan itu tidak bergerak.

Pak Diman buru-buru memalingkan pandangan.

“Bismillah…”

Ia memutar kunci kontak.

Anehnya, mesin langsung menyala.

Tanpa banyak bicara, Pak Diman segera melajukan mobil meninggalkan jembatan.

Windu memeluk tas kecil milik kakaknya.

Sejak tadi, pikirannya dipenuhi pertanyaan.

Ia belum mengetahui penyebab kematian Ranti.

Pak Diman hanya mengatakan bahwa kakaknya ditemukan tidak bernyawa di kamar kontrakan setelah mengeluh pusing.

Namun, ketika Windu meminta dibawa ke rumah sakit, Pak Diman justru menolak.

Katanya, semuanya sudah terlambat.

Sekarang, setelah melihat tingkah aneh Pak Diman, kecurigaan Windu semakin kuat.

“Pak,” panggilnya pelan.

Pak Diman tidak menjawab.

“Pak Diman?”

“Apa, Win?”

“Sebelum meninggal, Mbak Ranti sempat bicara apa?”

Pak Diman terlihat menegang.

“Nggak ada.”

“Katanya Mbak sempat mengeluh pusing.”

“Iya.”

“Terus kenapa nggak dibawa ke dokter?”

Pak Diman menghela napas panjang.

“Windu, Bapak sudah menjelaskan. Kakakmu meninggal mendadak.”

“Tapi penyebabnya apa, Pak?”

“Mana Bapak tahu!”

Bentakan itu membuat Windu tersentak.

Zaki langsung menoleh kepada ayahnya.

“Pak, jangan marah-marah. Windu cuma bertanya.”

Pak Diman mengusap wajah.

“Iya. Maaf.”

Windu menunduk.

Air matanya kembali mengalir.

Namun, ketika hendak mengambil tisu dari tas Ranti, ia menemukan sesuatu di kantong bagian depan.

Sebuah ponsel.

Ponsel milik kakaknya.

Windu segera mengambilnya.

Layarnya masih menyala ketika tombol samping ditekan.

Untungnya, ia mengetahui kode pembukanya.

Sejak kecil, mereka memang terbiasa saling meminjam ponsel.

Begitu layar terbuka, terlihat beberapa pesan yang belum terkirim.

Windu mengerutkan kening.

Pesan terakhir ditujukan kepadanya.

Win, kalau besok aku belum menghubungimu, jangan percaya siapa pun yang bilang aku sakit.

Jantung Windu langsung berdegup kencang.

Ia membaca pesan berikutnya.

Aku menemukan sesuatu di rumah Pak Diman. Aku takut.

Windu merasa tenggorokannya mengering.

Pesan tersebut ditulis pukul sebelas lewat empat puluh delapan menit, malam sebelum Ranti ditemukan meninggal.

Ia segera memeriksa galeri.

Ada beberapa foto kamar kontrakan, lemari pakaian, dan sebuah pintu kecil di belakang dapur.

Foto terakhir memperlihatkan selembar dokumen.

Windu memperbesarnya.

Di bagian atas tertulis surat perjanjian penempatan tenaga kerja.

Nama Ranti tercantum sebagai calon pekerja.

Namun, ada bagian yang membuat Windu terkejut.

Dalam dokumen tersebut tertulis bahwa Ranti menerima uang muka sebesar dua puluh juta rupiah.

Padahal kakaknya belum mendapatkan pekerjaan.

Windu yakin Ranti tidak pernah menerima uang sebanyak itu.

Ia segera menatap Zaki.

“Mas Zaki…”

Zaki menoleh.

“Apa?”

“Mas tahu soal uang dua puluh juta?”

Wajah Zaki langsung berubah.

“Uang apa?”

Windu memperlihatkan layar ponsel.

Zaki membacanya sekilas.

Kemudian wajahnya menjadi pucat.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Di ponsel Mbak Ranti.”

Zaki langsung menoleh ke depan.

“Bapak…”

Pak Diman menggenggam setir semakin erat.

“Apa lagi?”

“Surat perjanjian Ranti ada di ponselnya.”

Mobil mendadak mengurangi kecepatan.

Pak Diman menatap mereka melalui kaca spion.

“Windu, simpan ponsel itu.”

“Tapi, Pak…”

“Bapak bilang simpan!”

Windu langsung terdiam.

Namun, saat itulah terdengar suara perempuan dari kursi tengah.

“Jangan…”

Zaki membeku.

Windu perlahan menoleh.

Suara itu terdengar sangat dekat.

Seperti bisikan tepat di sebelah telinganya.

Ia memandang wajah Ranti.

Kakaknya masih tidak bergerak.

Namun, tangan kanan Ranti kini terletak di atas tas kecilnya.

Padahal beberapa saat lalu kedua tangan perempuan itu berada di pangkuan.

Windu merasa napasnya tercekat.

“Mbak?”

Tidak ada jawaban.

Tiba-tiba ponsel Ranti bergetar.

Sebuah alarm muncul di layar.

Judulnya membuat Windu semakin ketakutan.

Jika terjadi sesuatu padaku, buka rekaman ini.

Di bawahnya terdapat sebuah berkas audio.

Windu ragu beberapa saat.

Kemudian ia menekan tombol putar.

Terdengar suara Ranti.

“Pak, saya nggak mau menandatangani surat ini.”

Disusul suara Pak Diman.

“Kamu sudah menerima uang muka. Nggak bisa mundur begitu saja.”

“Saya nggak pernah menerima uang itu!”

“Kamu jangan mempersulit urusan!”

Windu menutup mulut.

Rekaman terus berjalan.

“Saya mau pulang. Saya nggak jadi bekerja di sana.”

Kemudian terdengar suara lelaki lain.

Suara Zaki.

“Pak, sudah. Jangan paksa Ranti.”

Windu langsung menoleh kepada Zaki.

Pria itu menunduk.

Rekaman berikutnya terdengar lebih kacau.

Ada suara kursi bergeser, benda jatuh, dan Ranti menangis.

“Tolong! Jangan kunci pintunya!”

Lalu terdengar suara Pak Diman.

“Biar dia tenang dulu!”

Rekaman berhenti.

Keheningan langsung menyelimuti mobil.

Windu menatap Pak Diman dengan mata berkaca-kaca.

“Bapak mengurung kakak saya?”

Pak Diman tidak menjawab.

“JAWAB, PAK!”

Zaki segera memegang bahu Windu.

“Win, tenang dulu.”

Windu menepis tangannya.

“Mas Zaki juga ada di sana! Kenapa Mas nggak menolong Mbak Ranti?”

Zaki mulai menangis.

“Aku sudah mencoba, Win.”

“Kalau begitu, kenapa kakakku meninggal?”

Pak Diman tiba-tiba menghentikan mobil di pinggir jalan.

Ia memukul setir.

“CUKUP!”

Windu langsung terdiam.

Pak Diman menoleh dengan wajah merah.

“Kakakmu memang dikunci di kamar belakang! Tapi Bapak nggak membunuhnya!”

Windu menangis semakin keras.

“Lalu apa yang terjadi?”

Pak Diman menunduk.

“Bapak cuma ingin dia menenangkan diri sampai orang dari perusahaan datang.”

“Perusahaan apa?”

Pak Diman mengusap wajah.

“Sebuah penyalur tenaga kerja.”

“Perusahaan resmi?”

Tidak ada jawaban.

Windu langsung memahami sesuatu.

Kakaknya mungkin telah menjadi korban penyaluran tenaga kerja yang tidak jelas.

“Pak, saya mau lapor polisi.”

Pak Diman langsung menatapnya.

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Karena kalau polisi tahu, Bapak bisa ditangkap!”

Windu merasa seluruh tubuhnya gemetar.

“Jadi Bapak lebih takut ditangkap daripada memikirkan kematian kakak saya?”

Pak Diman tidak mampu menjawab.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari kursi tengah.

Tok.

Tok.

Tok.

Mereka bertiga langsung membeku.

Suara itu berasal dari jendela di belakang Ranti.

Padahal tidak ada seorang pun di luar mobil.

Kemudian kepala Ranti perlahan terangkat.

Windu menjerit.

Zaki langsung membuka pintu dan hampir melompat keluar.

Namun, sebelum sempat bergerak, terdengar suara perempuan.

“Jangan pergi…”

Suara itu sangat lirih.

Pak Diman mematung.

Ranti kini menatap lurus ke arahnya.

Matanya terbuka.

Bibirnya bergerak perlahan.

“Kembalikan aku…”

Pak Diman langsung menangis.

“Ranti! Ampuni Bapak!”

Windu memeluk tubuh kakaknya sambil menangis histeris.

“Mbak! Mbak Ranti!”

Namun, tubuh Ranti kembali tidak bergerak.

Kepalanya tertunduk.

Suasana kembali sunyi.

Zaki menggigil.

“Pak, kita harus ke kantor polisi sekarang.”

Pak Diman menggeleng.

“Nggak. Kita antar Ranti pulang saja.”

Zaki langsung membentak.

“Bapak masih mau menutupi semuanya?”

Pak Diman terdiam.

Zaki mengusap air matanya.

“Aku sudah cukup ikut kebohongan Bapak!”

Windu menatapnya.

“Mas Zaki, sebenarnya apa yang terjadi?”

Zaki menarik napas panjang.

“Malam itu, setelah Ranti menolak menandatangani perjanjian, Bapak menguncinya di kamar belakang.”

Windu menahan napas.

“Aku mendengar dia menangis. Aku minta Bapak membukakan pintu, tapi Bapak nggak mau.”

Zaki mulai terisak.

“Beberapa jam kemudian, aku diam-diam membukanya.”

“Lalu?”

“Ranti sudah terbaring di lantai. Dia nggak merespons waktu kupanggil.”

Windu menutup wajah.

“Aku panik. Aku minta Bapak memanggil ambulans, tapi Bapak takut urusan perusahaan terbongkar.”

Pak Diman menunduk semakin dalam.

“Jadi kalian nggak pernah membawa Mbak ke rumah sakit?” tanya Windu.

Zaki menggeleng sambil menangis.

Saat itu Windu merasa ada sesuatu dalam dirinya yang hancur.

Bukan hanya karena kehilangan kakak.

Melainkan karena menyadari bahwa orang-orang yang mereka percaya justru lebih mengutamakan keselamatan diri sendiri.

Windu mengeluarkan ponselnya.

Ia langsung menghubungi layanan darurat dan menjelaskan lokasi mereka.

Pak Diman mencoba melarang, tetapi Zaki menahannya.

“Sudah, Pak. Jangan tambah kesalahan kita.”

Tidak lama kemudian, petugas datang dan membawa mereka ke fasilitas kesehatan terdekat.

Jenazah Ranti diperiksa sesuai prosedur, sementara polisi mulai meminta keterangan.

Windu menyerahkan rekaman suara serta dokumen yang tersimpan di ponsel kakaknya.

Pak Diman akhirnya mengakui bahwa ia bekerja sama dengan penyalur tenaga kerja yang tidak memiliki izin sebagaimana yang dijanjikannya.

Ia juga mengakui telah menahan Ranti di sebuah kamar ketika perempuan itu menolak penempatan kerja.

Namun, penyebab pasti kematian Ranti masih harus ditentukan melalui pemeriksaan medis.

Windu tidak ingin lagi menerima penjelasan tanpa bukti.

Malam berikutnya, ia duduk di ruang tunggu rumah sakit bersama Zaki.

Keduanya hampir tidak berbicara.

Akhirnya Zaki membuka suara.

“Win, aku tahu kamu mungkin nggak akan pernah memaafkanku.”

Windu menunduk.

“Aku cuma ingin Mbak Ranti pulang dengan selamat.”

Zaki menangis.

“Aku juga.”

“Tapi kamu terlambat menolongnya.”

Kalimat itu membuat Zaki terdiam.

Windu kemudian berkata pelan.

“Kalau nanti polisi memintamu bersaksi, jangan sembunyikan apa pun lagi.”

Zaki mengangguk.

“Aku janji.”

Beberapa hari kemudian, hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Ranti memiliki penyakit jantung yang sebelumnya tidak diketahui keluarga.

Dokter menjelaskan bahwa keadaan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan irama jantung yang berbahaya.

Namun, pemeriksaan lanjutan masih diperlukan untuk memastikan penyebab kematian dan apakah kondisi saat ia ditahan berperan dalam kejadian tersebut.

Windu menangis ketika mendengar penjelasan itu.

Ia teringat bahwa kakaknya memang beberapa kali mengeluh dada berdebar sejak mereka tiba di kota.

Namun, Ranti selalu mengatakan dirinya hanya kelelahan.

Pihak kepolisian melanjutkan penyelidikan mengenai penahanan, dugaan penipuan, serta penyaluran tenaga kerja.

Pak Diman pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya melalui proses hukum.

Ketika akhirnya jenazah Ranti dipulangkan menggunakan kendaraan jenazah resmi, Windu duduk di samping peti yang tertutup rapi.

Perjalanan kali ini terasa berbeda.

Tidak ada ketakutan menghadapi bayangan di kaca spion.

Tidak ada suara ketukan misterius.

Hanya kesedihan yang begitu dalam.

Sesampainya di kampung, ibu mereka langsung jatuh terduduk ketika melihat kendaraan berhenti di halaman.

“Ranti… anakku…”

Windu berlari memeluk ibunya.

“Maafkan Windu, Bu. Windu nggak bisa menjaga Mbak.”

Ibunya menangis sambil menggeleng.

“Kamu sudah berusaha, Nak.”

Setelah pemakaman selesai, Windu duduk sendirian di kamar yang dulu ditempatinya bersama Ranti.

Di sana masih tersimpan beberapa pakaian kakaknya.

Sebuah sisir.

Buku catatan kecil.

Dan foto mereka berdua ketika masih sekolah.

Windu mengambil foto tersebut sambil menangis.

“Mbak, akhirnya kita pulang.”

Tiba-tiba ponsel Ranti yang disimpan di atas meja menyala.

Windu tersentak.

Ia yakin baterainya sudah habis sejak kemarin.

Namun, layar itu kini memperlihatkan sebuah notifikasi.

Ada rekaman suara yang belum pernah dibukanya.

Namanya berbeda dari rekaman sebelumnya.

Untuk Windu.

Dengan tangan gemetar, Windu menekan tombol putar.

Terdengar suara Ranti yang terdengar lelah, tetapi lembut.

“Win, kalau kamu mendengar ini, mungkin aku sedang jauh dari rumah.”

Windu langsung menangis.

“Aku tahu kamu takut merantau. Sebenarnya aku juga takut.”

Terdengar suara Ranti tertawa kecil.

“Tapi aku ingin kita punya kehidupan yang lebih baik. Aku ingin Ibu nggak perlu bekerja terlalu keras lagi.”

Windu menutup mulut.

“Kamu harus ingat satu hal, Win. Kalau ada pekerjaan yang membuatmu merasa tidak aman, jangan bertahan hanya karena takut mengecewakan orang.”

Air mata Windu jatuh ke layar ponsel.

“Pulang saja. Nggak apa-apa memulai lagi.”

Rekaman berhenti beberapa saat.

Kemudian terdengar kalimat terakhir.

“Dan kalau suatu hari aku nggak bisa menemanimu lagi, jangan merasa sendirian. Kamu lebih kuat daripada yang kamu kira.”

Windu menangis tersedu-sedu.

Ia memeluk foto kakaknya.

Namun, tepat ketika hendak meletakkan ponsel, terdengar ketukan pelan dari pintu kamar.

Tok.

Tok.

Tok.

Windu menoleh.

Pintu yang tadinya tertutup kini sedikit terbuka.

Dari baliknya terdengar suara perempuan yang sangat dikenalnya.

“Win…”

Windu membeku.

Suara itu sama persis dengan suara Ranti.

“Jangan lupa makan, ya.”

Air mata Windu langsung mengalir semakin deras.

Kalimat itu adalah kalimat yang selalu diucapkan kakaknya sejak mereka kecil.

Windu berdiri perlahan.

“Mbak Ranti?”

Tidak ada jawaban.

Namun, ketika ia membuka pintu, tercium aroma minyak rambut melati yang biasa digunakan kakaknya.

Lorong rumah kosong.

Hanya ada angin sore yang masuk melalui jendela.

Windu tersenyum di tengah tangisnya.

Untuk pertama kalinya sejak kejadian mengerikan di jembatan, ia tidak merasa takut.

Ia hanya berbisik,

“Iya, Mbak. Windu akan baik-baik saja.”

Namun, saat kembali ke kamar, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.

Di bagian bawah foto mereka berdua terdapat tulisan tangan yang sebelumnya tidak ia sadari.

Tulisan itu dibuat menggunakan tinta biru yang mulai memudar.

Jika suatu hari aku tidak pulang, periksa bagian belakang lemari di kontrakan Pak Diman.

Windu langsung membeku.

Ia membaca tulisan tersebut berkali-kali.

Kemudian ingatannya kembali kepada salah satu foto dalam ponsel Ranti.

Foto pintu kecil di belakang dapur kontrakan.

Pintu yang selama ini tidak pernah dijelaskan Pak Diman.

Windu mengambil ponselnya dan membuka kembali foto tersebut.

Setelah memperbesar gambar, ia melihat sebuah tulisan kecil pada dinding di samping pintu.

Tulisan itu dibuat menggunakan spidol merah.

Tolong kami.

Di bawahnya terdapat beberapa nama perempuan.

Salah satunya Ranti.

Windu merasa jantungnya berdegup kencang.

Ia langsung menghubungi penyidik yang menangani kasus kakaknya.

“Pak, saya menemukan bukti baru.”

Petugas memintanya menjelaskan.

Windu menarik napas panjang.

“Sepertinya kakak saya bukan satu-satunya perempuan yang pernah dikurung di kontrakan Pak Diman.”

Di seberang telepon, penyidik terdiam.

Kemudian ia berkata dengan nada serius.

“Windu, kami memang sedang memeriksa bangunan itu.”

Windu menahan napas.

“Sudah ditemukan sesuatu, Pak?”

“Iya.”

“Apa?”

Petugas menarik napas.

“Kami menemukan ruang tambahan di belakang lemari dapur.”

Windu langsung teringat pesan kakaknya.

“Lalu?”

“Di dalamnya ada beberapa tas, dokumen identitas, dan barang pribadi milik perempuan lain.”

Windu menutup mulut.

Namun, penjelasan berikutnya membuat tubuhnya mendadak dingin.

“Dan salah satu tas itu berisi kartu identitas seorang perempuan yang dilaporkan hilang tiga tahun lalu.”

Windu hampir tidak mampu berbicara.

“Siapa namanya, Pak?”

Penyidik menyebutkan nama tersebut.

“Sulastri.”

Windu membeku.

Nama itu sangat dikenalnya.

Bukan karena pernah bertemu dengan perempuan tersebut.

Melainkan karena Sulastri adalah nama kakak Pak Diman yang menurut cerita keluarga sudah meninggal bertahun-tahun lalu.

Windu memandang foto Ranti dengan mata berkaca-kaca.

Sekarang ia mulai memahami mengapa kakaknya begitu takut setelah menemukan ruangan tersembunyi itu.

Mungkin Ranti mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perjanjian kerja palsu.

Sesuatu yang selama ini disembunyikan di balik dinding kontrakan.

Dan mungkin kematian Ranti bukan akhir dari kisah mengerikan tersebut.

Melainkan awal terbongkarnya nasib para perempuan yang pernah datang ke kota dengan membawa harapan, tetapi tidak pernah kembali ke rumah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang