Palang pintu itu akhirnya terlepas dari penyangganya.
BRAK!
Aku spontan menarik Runi menjauh, sementara daun pintu bergetar begitu keras hingga debu berjatuhan dari kusennya.
“MAS! ADA APA?” teriak Hanah dari dalam kamar.
“Jangan keluar, Han! Peluk bayi kita!”
Aku segera meraih bangku kayu di dekat dinding, lalu menyeretnya untuk mengganjal pintu.
Tanganku gemetar. Runi menangis sambil terus menunjuk ke arah luar.
“Ayaa… Mbak… Mbak…”
Aku memeluknya erat.
“Nggak ada siapa-siapa, Nak. Runi sama Bapak saja.”

Anehnya, setelah bangku itu menahan pintu, semua suara mendadak berhenti.
Tidak ada gedoran.
Tidak ada tawa.
Bahkan aroma harum yang sejak tadi memenuhi rumah perlahan menghilang.
Aku memberanikan diri mengintip melalui celah papan.
Perempuan itu sudah tidak ada.
Namun, di depan pintu terdapat sebuah bungkusan kecil dari daun pisang.
Aku yakin benda tersebut sebelumnya tidak berada di sana.
“Mas…”
Hanah muncul sambil menggendong bayi kami.
Wajahnya pucat. Rambutnya masih berantakan, dan tubuhnya terlihat lemah setelah melahirkan.
“Ada siapa di luar?”
Aku menelan ludah.
“Perempuan yang mengaku bernama Lasmini.”
Hanah langsung terdiam.
Aku memperhatikan perubahan wajahnya.
“Han, kamu kenal?”
“Nggak,” jawabnya cepat.
“Tapi kenapa kamu langsung pucat waktu dengar namanya?”
Hanah mengalihkan pandangan.
“Karena aku takut, Mas. Dari tadi pintunya digedor begitu keras.”
Aku ingin bertanya lagi, tetapi melihat kondisinya, aku mengurungkan niat.
“Sudah, kamu istirahat. Kita tunggu sampai terang.”
Hanah mengangguk.
Namun, ketika hendak kembali ke dipan, Runi tiba-tiba meronta dari pelukanku.
“Mbak nangis, Pak!”
Aku membeku.
“Mbak siapa?”
Runi menunjuk pintu.
“Mbaknya nangis.”
Aku merasakan tengkukku dingin.
Di luar rumah, tiba-tiba terdengar suara isakan.
Pelan sekali.
Seperti seseorang yang sedang berusaha menahan tangis.
Aku tidak tahu apakah suara itu berasal dari perempuan tadi atau hanya akibat pikiranku yang terlalu tegang.
Namun, ada sesuatu yang membuatku semakin gelisah.
Tangisan itu terdengar bukan dari teras.
Melainkan dari bawah lantai rumah.
Aku menunduk.
Rumah Mbah Sartini memang berdiri sedikit lebih tinggi daripada permukaan tanah. Beberapa bagian lantainya terbuat dari papan kayu tua.
Dari sela-selanya, terdengar suara seperti seseorang sedang menggeser benda berat.
Krrr… krrr…
Aku segera membawa Runi menjauh.
“Han, kita jangan tidur lagi. Duduk di sini saja sampai Mbah pulang.”
Hanah tidak membantah.
Kami duduk berdekatan sambil menunggu cahaya pagi.
Sekitar satu jam kemudian, terdengar azan Subuh dari arah perkampungan yang jauh.
Aku mengembuskan napas lega.
Anehnya, bersamaan dengan suara azan, isakan di bawah lantai langsung berhenti.
Aku segera mengambil air wudu dan menunaikan salat.
Seusai salat, aku berdoa cukup lama.
Aku memohon agar keluargaku diberi keselamatan dan bisa segera meninggalkan tempat tersebut.
Ketika matahari mulai menerangi halaman, aku memberanikan diri membuka pintu.
Bungkusan daun pisang itu masih tergeletak di depan teras.
Aku tidak menyentuhnya.
Namun, dari bagian yang sedikit terbuka, terlihat beberapa helai rambut hitam dan sepotong kain bayi berwarna putih.
Jantungku langsung berdebar.
Kain tersebut memiliki motif bunga kecil yang sangat kukenal.
Motif yang sama dengan kain bedong yang kami bawa dari rumah.
Aku segera masuk.
“Han! Coba periksa tas perlengkapan bayi!”
Hanah terlihat bingung.
“Kenapa, Mas?”
“Pokoknya periksa dulu.”
Ia membuka tas dan mengeluarkan beberapa pakaian.
Tidak lama kemudian, wajahnya berubah.
“Mas…”
“Apa?”
“Bedong putihnya nggak ada.”
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Yang ada gambar bunga kecil?”
Hanah mengangguk.
“Padahal tadi malam masih ada.”
Aku terdiam cukup lama.
Bagaimana mungkin kain itu berada di luar rumah?
Bukankah pintu sejak tadi terkunci?
Belum sempat aku memikirkan jawabannya, terdengar suara seseorang mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum!”
Aku menoleh.
Mbah Sartini akhirnya pulang.
Perempuan tua itu membawa bakul bambu dan beberapa bungkus daun.
Ketika melihat bangku yang mengganjal pintu, ia langsung berhenti.
“Ada apa ini?”
Aku tidak mampu menahan diri lagi.
“Mbah, semalam perempuan itu datang!”
Wajah Mbah Sartini berubah.
“Perempuan siapa?”
“Lasmini!”
Bakul di tangannya hampir terjatuh.
Aku menunjuk bungkusan daun pisang di teras.
“Dia meninggalkan itu. Di dalamnya ada kain bedong bayi kami!”
Mbah Sartini langsung berjalan mendekat.
Namun, begitu melihat bungkusan tersebut, tubuhnya mendadak kaku.
“Ya Allah…”
Aku memperhatikannya.
“Mbah tahu benda itu?”
Perempuan tua tersebut mengangguk perlahan.
Kemudian ia mengambil sebatang kayu dan membuka lipatan daun pisang.
Di dalamnya memang terdapat kain bedong putih, beberapa helai rambut panjang, dan sebuah gelang benang berwarna merah.
Mbah Sartini menatap gelang tersebut cukup lama.
“Sudah mulai lagi,” gumamnya.
Aku merasa semakin takut.
“Maksud Mbah?”
Perempuan itu menoleh.
“Lasmini pernah kehilangan bayi di rumah ini.”
Aku membeku.
“Kehilangan bagaimana?”
Mbah Sartini menghela napas.
“Bertahun-tahun lalu, dia melahirkan seorang bayi perempuan. Tapi bayinya tidak bertahan hidup.”
Aku terdiam.
“Sejak itu, Lasmini selalu datang setiap mendengar ada bayi lahir.”
“Dia mau mengambil bayi orang?”
Mbah Sartini tidak langsung menjawab.
“Dia merasa ada sesuatu yang harus dikembalikan kepadanya.”
Aku teringat perkataan beliau sebelumnya.
Seseorang akan datang meminta pengganti.
Aku menatap Mbah Sartini dengan serius.
“Mbah, apa sebenarnya yang harus dikembalikan?”
Perempuan itu menunduk.
“Saya pernah melakukan kesalahan ketika menolong persalinannya.”
“Kesalahan apa?”
Mbah Sartini mengusap kedua matanya.
“Ketika bayinya lahir, saya terlalu cepat menyimpulkan bahwa bayi itu sudah meninggal.”
Aku mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Saya tidak punya peralatan seperti di rumah sakit. Waktu itu saya panik. Lasmini mengalami perdarahan dan harus segera dibawa mencari pertolongan.”
Aku menahan napas.
“Lalu bayinya?”
Mbah Sartini menatapku.
“Ketika saya kembali memeriksanya, bayi itu ternyata masih menunjukkan tanda kehidupan.”
Aku langsung terkejut.
“Berarti bayinya masih hidup?”
Perempuan tua itu mengangguk.
“Namun, saat itu Lasmini sudah dibawa pergi oleh keluarganya. Saya menitipkan bayi tersebut kepada seseorang agar segera dibawa ke fasilitas kesehatan.”
“Siapa orangnya?”
Mbah Sartini terdiam.
Aku semakin mendesak.
“Mbah, siapa yang membawa bayi Lasmini?”
Perempuan itu menggeleng.
“Saya tidak pernah berhasil menemukannya lagi.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi selama ini Lasmini mencari anak yang sebenarnya mungkin masih hidup?”
Air mata Mbah Sartini mengalir.
“Iya.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, rasa takutku bercampur dengan kasihan.
Kalau cerita itu benar, Lasmini bukan hanya perempuan misterius yang mengganggu keluarga kami.
Dia adalah seorang ibu yang kehilangan anak tanpa pernah mendapatkan kepastian.
Namun, ada satu hal yang belum kupahami.
“Kalau begitu, kenapa dia meminta Runi membawa adiknya?”
Mbah Sartini menatap Hanah yang sedang duduk di dipan.
Kemudian berkata pelan.
“Karena mungkin dia mengenali sesuatu.”
Aku mengikuti arah pandangannya.
Hanah langsung menunduk.
“Han?”
Istriku tidak menjawab.
Aku mendekat.
“Kamu tahu sesuatu?”
Hanah menggigit bibir.
“Mas, aku sebenarnya pernah datang ke desa ini.”
Aku membeku.
“Kapan?”
“Sekitar tiga bulan lalu.”
Aku menatapnya dengan mata membelalak.
“Tiga bulan lalu? Waktu kamu masih hamil?”
Hanah mengangguk sambil menangis.
Aku merasa dadaku sesak.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena aku takut Mas marah.”
Aku menarik napas panjang.
“Memangnya kamu datang untuk apa?”
Hanah mengusap air matanya.
“Waktu itu aku sering mimpi buruk. Aku bermimpi ada perempuan yang menangis sambil meminta anaknya dikembalikan.”
Aku terdiam.
“Awalnya aku mengira cuma mimpi biasa. Tapi hampir setiap malam mimpi itu datang lagi.”
Hanah mulai terisak.
“Lalu aku bertemu seorang perempuan di pasar. Dia menyarankan agar aku menemui Mbah Sartini.”
Aku langsung menoleh kepada perempuan tua tersebut.
“Mbah sudah kenal istri saya sebelumnya?”
Mbah Sartini mengangguk.
Aku merasa kemarahan mulai memenuhi dada.
“Kenapa Mbah nggak bilang?”
“Karena Hanah meminta saya merahasiakannya.”
Aku menatap istriku.
“Han, apa yang terjadi waktu kamu datang?”
Hanah terdiam cukup lama.
Kemudian dengan suara gemetar, ia menjawab.
“Mbah Sartini menunjukkan sebuah foto lama.”
“Foto siapa?”
“Seorang bayi perempuan.”
Aku mulai merasa tidak nyaman.
“Lalu?”
“Di belakang foto itu tertulis tanggal lahir yang sama dengan tanggal lahirku.”
Jantungku langsung berdegup.
Aku menatap Mbah Sartini.
“Jadi bayi yang dulu hilang itu…”
Perempuan tua tersebut menunduk.
“Saya belum bisa memastikan.”
Hanah kembali menangis.
“Tapi perempuan dalam mimpi itu terus memanggil namaku, Mas.”
Aku membeku.
“Lasmini?”
Hanah mengangguk perlahan.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
Kalau benar Hanah adalah bayi yang selama ini dicari Lasmini, berarti semua kejadian aneh sejak kami datang mungkin memiliki hubungan dengan masa lalu istriku.
Namun, aku tidak ingin membuat kesimpulan hanya berdasarkan cerita dan mimpi.
“Kita harus mencari bukti,” kataku akhirnya.
Mbah Sartini mengangguk.
“Di rumah lama Lasmini mungkin masih ada dokumen kelahiran.”
Aku langsung menggeleng.
“Tapi sekarang yang paling penting keselamatan Hanah dan anak-anak.”
Aku menatap istriku.
“Kita pulang hari ini. Setelah itu baru kita cari tahu semuanya.”
Hanah mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ia benar-benar ingin meninggalkan tempat tersebut.
Menjelang siang, aku mulai mempersiapkan motor.
Aku memeriksa bensin, rem, dan ban.
Sementara Mbah Sartini membantu Hanah mengganti pakaian serta membungkus bayi kami dengan kain bersih.
Runi duduk di dekat pintu sambil bermain dengan boneka kecilnya.
Namun, ketika aku hendak mengangkat tas, anak itu tiba-tiba berdiri.
“Pak…”
Aku menoleh.
“Apa, Nak?”
Runi menunjuk ke arah jendela.
“Mbaknya ada.”
Aku langsung menegang.
Di luar jendela, samar-samar terlihat bayangan perempuan berdiri di dekat rumpun bambu.
Rambutnya panjang.
Tubuhnya tinggi.
Aku segera menghampiri jendela.
Namun, sosok itu langsung bergerak menjauh.
Aku tidak mengejarnya.
Sebaliknya, aku segera membawa Runi keluar dan mendudukkannya di bagian depan motor.
Hanah kemudian naik dengan hati-hati sambil menggendong bayi kami.
Mbah Sartini berdiri di teras.
“Jalan pelan-pelan,” pesannya.
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah menolong keluarga saya, Mbah.”
Perempuan tua itu tersenyum sedih.
“Maafkan Mbah kalau ada yang membuat kalian takut.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya menyalakan motor dan mulai meninggalkan halaman rumah.
Awalnya perjalanan berlangsung lancar.
Namun, ketika kami melewati jalan setapak di samping pemakaman, mesin motor tiba-tiba tersendat.
Aku menurunkan kecepatan.
“Mas, kenapa?” tanya Hanah.
“Nggak tahu. Mesinnya seperti kehilangan tenaga.”
Aku mencoba menarik gas perlahan.
Namun, motor justru mati.
Aku menghela napas.
“Ya Allah…”
Aku segera turun dan memeriksa mesin.
Hanah tetap duduk sambil memeluk bayi kami.
Runi mulai gelisah.
“Ayah…”
“Iya, Nak?”
“Mbaknya ikut.”
Aku membeku.
Aku menoleh ke arah anakku.
“Mbak siapa?”
Runi menunjuk ke belakang.
Aku perlahan mengikuti arah telunjuknya.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Di antara batu nisan, berdiri seorang perempuan berambut panjang.
Lasmini.
Tubuhnya diam.
Wajahnya tertutup sebagian rambut.
Namun, kedua tangannya bergerak perlahan, seolah sedang memanggil seseorang.
Hanah langsung mencengkeram bahuku.
“Mas…”
Aku menelan ludah.
“Jangan lihat ke sana, Han.”
Namun, Lasmini tiba-tiba mengangkat wajah.
Matanya menatap lurus kepada istriku.
Kemudian ia berbisik.
“Anakku…”
Hanah langsung menangis.
“Aku nggak tahu siapa kamu!”
Lasmini melangkah mendekat.
“Aku sudah menunggumu…”
Aku segera berdiri di depan motor.
“Jangan dekati keluarga saya!”
Perempuan itu berhenti.
Kemudian kepalanya perlahan miring ke samping.
Senyumnya melebar.
“Aku bukan mau mengambil bayimu.”
Aku membeku.
“Lalu apa yang kamu mau?”
Lasmini menunjuk Hanah.
“Aku mau anakku kembali.”
Aku menatap istriku.
Hanah menangis semakin keras.
Namun, sebelum aku sempat berbicara lagi, Lasmini tiba-tiba membungkukkan tubuhnya ke belakang.
Gerakannya begitu tidak wajar.
Kedua tangannya menyentuh tanah, sementara kepalanya terbalik menghadap kami.
Aku langsung mundur.
“ASTAGHFIRULLAH!”
Runi menjerit.
Hanah memeluk bayi kami erat-erat.
Dalam posisi tubuh yang mengerikan itu, Lasmini mulai bergerak mendekat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Aku segera mencoba menyalakan motor.
Sekali.
Gagal.
Dua kali.
Tetap mati.
Suara gerakan perempuan itu semakin dekat.
Aku merasa seluruh tubuhku gemetar.
Namun, tepat ketika ia hampir mencapai jalan, tiba-tiba terdengar suara azan dari kejauhan.
Lasmini berhenti.
Tubuhnya mendadak kaku.
Kemudian ia perlahan mengangkat kepala dan menatap Hanah.
Air mata mengalir dari kedua matanya.
“Jangan percaya Sartini…”
Aku membeku.
“Apa?”
Lasmini menggerakkan bibirnya.
“Dia yang mengambil bayiku…”
Kemudian sosok itu mundur perlahan ke arah pemakaman.
Dalam beberapa detik, ia menghilang di balik pepohonan.
Aku berdiri mematung.
Hanah menangis sambil memanggil namaku.
“Mas, ayo pergi!”
Aku segera kembali mencoba menyalakan motor.
Kali ini mesin langsung hidup.
Tanpa menoleh lagi, aku membawa keluargaku meninggalkan tempat tersebut.
Namun, sepanjang perjalanan, satu kalimat terus terngiang di kepalaku.
Jangan percaya Sartini.
Dia yang mengambil bayiku.
Aku tidak tahu siapa yang sedang berkata jujur.
Mbah Sartini mengaku telah menyelamatkan bayi Lasmini.
Sementara Lasmini justru menuduh perempuan tua itu mengambil anaknya.
Namun, ketika menatap Hanah melalui kaca spion, aku tiba-tiba menyadari sesuatu.
Sejak Lasmini memanggilnya anakku, istriku terus memegangi sebuah benda kecil di balik bajunya.
Sebuah kalung.
Kalung perak dengan liontin berbentuk bulan sabit.
Aku sangat mengenal benda itu.
Hanah selalu memakainya sejak kami menikah.
Katanya, kalung tersebut adalah satu-satunya peninggalan dari orang yang membesarkannya.
Namun, ada sesuatu yang membuatku terkejut ketika mengingat foto lama yang sempat diperlihatkan Mbah Sartini.
Bayi perempuan dalam foto itu mengenakan kalung dengan liontin yang sama.
Aku merasa napasku tercekat.
Jangan-jangan Hanah benar-benar anak Lasmini?
Dan kalau memang begitu…
Mengapa orang yang membesarkan Hanah selama ini tidak pernah menceritakan asal-usulnya?
Aku semakin erat menggenggam setang motor.
Sebab kini aku mulai menyadari bahwa perjalanan kami ke rumah Mbah dukun mungkin bukan sebuah kebetulan.
Ada kemungkinan seseorang sengaja mengarahkan Hanah kembali ke desa ini.
Seseorang yang mengetahui siapa ibu kandungnya.
Dan mungkin juga mengetahui mengapa Lasmini selama puluhan tahun hidup dalam kesedihan karena kehilangan anaknya.
Namun, tepat ketika kami hampir mencapai jalan raya, Hanah tiba-tiba menepuk bahuku.
“Mas…”
Aku menoleh sedikit.
“Apa, Han?”
Suaranya terdengar sangat lemah.
“Aku baru ingat sesuatu.”
Aku merasa jantungku berdegup.
“Apa?”
Hanah menggenggam kalungnya semakin erat.
“Waktu aku kecil, orang yang membesarkanku pernah bilang kalung ini bukan hadiah.”
Aku menahan napas.
“Lalu?”
Hanah menangis.
“Katanya, kalung ini adalah tanda supaya suatu hari ibu kandungku bisa menemukanku.”
Aku langsung membeku.
Namun, kalimat berikutnya membuat seluruh tubuhku terasa dingin.
“Mas… orang yang menitipkan kalung ini dulu bernama Sartini.”
Aku hampir kehilangan kendali atas setang motor.
Mbah Sartini.
Perempuan yang baru saja menolong persalinan Hanah.
Perempuan yang berkali-kali memperingatkan kami tentang kedatangan Lasmini.
Ternyata sejak puluhan tahun lalu sudah memiliki hubungan dengan keluargaku.
Dan sekarang, aku mulai bertanya-tanya apakah semua kejadian mengerikan yang kami alami benar-benar disebabkan oleh makhluk gaib.
Atau justru akibat sebuah kebohongan besar yang selama ini disembunyikan oleh manusia.
