
Pagi pertama bekerja di Rumah Sakit Sanjaya, aku sama sekali tidak menyangka bahwa orang pertama yang akan mempermalukanku di depan para pegawai ternyata adalah adik tiriku sendiri.
“Maya? Kamu ngapain di sini?”
Aku menghentikan langkah ketika mendengar suara perempuan memanggil dari belakang.
Begitu berbalik, kulihat Tiwi berdiri bersama dua perawat muda. Dia mengenakan seragam kerja berwarna biru muda dengan kartu identitas tergantung di dada.
“Tiwi?”
Adik tiriku itu memperhatikanku dari ujung rambut sampai kaki.
“Kamu kerja di sini?”
Aku mengangguk.
“Iya. Mulai hari ini.”
Tiwi langsung tertawa kecil.
“Wah, hebat juga kamu bisa diterima di rumah sakit sebesar ini.”
Aku tersenyum.
“Alhamdulillah.”
“Bagian kebersihan, ya?”
Kedua temannya saling berpandangan.
Aku menarik napas panjang.
“Bukan, Wi. Aku…”
“Kalau bagian kebersihan, jangan masuk lewat sini. Pintu karyawan ada di belakang.”
Aku terdiam.
Tiwi melanjutkan dengan nada meremehkan.
“Di sini ada aturan, Maya. Jangan sampai kamu bikin malu keluarga gara-gara nggak tahu tata tertib.”
Sebelum aku sempat menjawab, seorang perempuan berusia sekitar empat puluh tahun menghampiri kami.
“Dokter Maya?”
Aku langsung menoleh.
“Iya, Bu.”
Perempuan itu tersenyum ramah.
“Saya Ratih, kepala ruangan. Dokter sudah ditunggu Kepala Instalasi Gawat Darurat untuk pengarahan.”
Aku mengangguk.
“Baik, Bu. Terima kasih.”
Ketika kembali menghadap Tiwi, kulihat wajah adik tiriku sudah berubah pucat.
“Dokter?” gumamnya.
Bu Ratih menoleh.
“Iya. Dokter Maya mulai bertugas di IGD hari ini. Kalian sudah berkenalan?”
Aku tersenyum kecil.
“Sudah, Bu. Tiwi adik saya.”
Tiwi langsung menunduk.
Aku tidak memperpanjang percakapan.
Setelah berpamitan, aku mengikuti Bu Ratih menuju ruang pengarahan.
Namun, sebelum kami berbelok di ujung lorong, aku masih sempat mendengar salah satu teman Tiwi bertanya.
“Tiwi, bukannya tadi kamu bilang kakakmu cuma lulusan SMA?”
Aku tidak mendengar jawabannya.
Dan sejujurnya, aku tidak ingin tahu.
Hari pertamaku terlalu penting untuk dihabiskan memikirkan penghinaan keluargaku.
Menjelang siang, aku sedang memeriksa hasil laboratorium seorang pasien ketika telepon di meja perawat berbunyi.
Bu Ratih mengangkatnya.
Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah serius.
“Ada pasien laki-laki sekitar enam puluh tahun, nyeri dada berat. Ambulans sedang menuju IGD.”
Aku segera menyiapkan diri bersama tim.
Tidak lama kemudian, pasien tiba menggunakan brankar.
Namun, begitu melihat wajah laki-laki tersebut, seluruh tubuhku mendadak menegang.
“Ayah?”
Laki-laki yang terbaring di hadapanku adalah ayah kandungku sendiri.
Wajahnya pucat. Keringat dingin membasahi dahinya. Napasnya terlihat berat.
Di belakang brankar, Tante Gina berlari sambil menangis.
“Tolong suami saya, Dok!”
Aku segera menguasai diri.
“Bu Ratih, tolong panggil dokter penanggung jawab jaga. Kita perlu pemeriksaan EKG segera.”
Aku membantu tim melakukan penanganan awal sesuai arahan dokter senior.
Tante Gina yang sejak tadi menangis baru menyadari keberadaanku ketika aku mendekat untuk menanyakan riwayat penyakit Ayah.
“Maya?”
Aku mengangguk.
“Tante, Ayah punya riwayat penyakit jantung atau tekanan darah tinggi?”
Gina justru menatapku dengan bingung.
“Kamu ngapain pakai jas dokter?”
“Tante, sekarang bukan waktunya membicarakan itu. Saya perlu informasi kondisi Ayah.”
Perempuan itu akhirnya menjawab dengan terbata-bata.
“Dia punya darah tinggi. Obatnya sering lupa diminum.”
Aku mencatat keterangannya.
Setelah pemeriksaan, dokter senior menjelaskan bahwa kondisi Ayah mengarah pada serangan jantung dan membutuhkan penanganan segera oleh tim spesialis.
Ayah kemudian dipindahkan untuk mendapatkan perawatan lanjutan.
Aku berdiri di lorong dengan kedua tangan gemetar.
Meskipun Ayah telah begitu sering menyakitiku, melihatnya terbaring lemah membuat dadaku terasa sesak.
Dia tetap ayahku.
Orang yang pernah menggendongku ketika kecil, sebelum akhirnya memilih meninggalkanku.
Sore harinya, Tiwi datang bersama seorang laki-laki berseragam TNI.
“Ma! Ayah bagaimana?” serunya panik.
Gina langsung memeluk putrinya.
“Masih ditangani dokter, Nak.”
Aku yang berdiri tidak jauh dari mereka perlahan menoleh.
Namun, ketika melihat laki-laki di samping Tiwi, aku langsung terdiam.
Wajah itu terasa sangat kukenal.
Laki-laki tersebut juga terlihat terkejut ketika melihatku.
“Maya?”
Aku mengerutkan kening.
“Mas Arga?”
Dia adalah Kapten Arga, salah seorang rekan satuan Mas Jeno.
Kami pernah beberapa kali bertemu dalam acara bersama keluarga anggota TNI.
Tiwi langsung menatap kami bergantian.
“Kalian saling kenal?”
Arga mengangguk.
“Kenal. Dokter Maya tunangannya Kapten Jeno.”
Wajah Tiwi langsung berubah.
“Tunangannya siapa?”
“Kapten Jeno. Senior saya.”
Aku menatap Tiwi yang kini tampak kehilangan kata-kata.
“Mas Arga calon suamimu?” tanyaku.
Dia mengangguk kaku.
Namun, sebelum percakapan berlanjut, teleponku berdering.
Mas Jeno.
Aku mengangkatnya sambil berjalan beberapa langkah menjauh.
“Halo, Mas.”
“Sayang, kamu masih di rumah sakit?”
“Iya. Ayah masuk IGD tadi siang.”
Suara Jeno langsung berubah serius.
“Bagaimana kondisinya?”
Aku menjelaskan keadaan Ayah secara singkat.
Mas Jeno mengatakan akan datang setelah menyelesaikan tugasnya.
Satu jam kemudian, dia tiba.
Begitu melihatnya, Tiwi langsung berdiri tegak.
Sementara Arga menghampiri dan memberikan salam hormat sebagaimana kebiasaan mereka di lingkungan kedinasan.
“Selamat sore, Kapten.”
Jeno membalas salamnya.
Kemudian dia berjalan menghampiriku.
“Sayang, kamu sudah makan?”
Aku menggeleng.
Jeno menghela napas.
“Sejak pagi belum makan benar?”
Aku tersenyum lemah.
“Belum sempat, Mas.”
Dia menyerahkan sekotak makanan.
“Makan dulu. Ayahmu sudah ditangani tim medis.”
Tiwi memandangi kami tanpa berkedip.
Tante Gina yang sejak tadi diam akhirnya bertanya.
“Jadi… laki-laki ini siapa, Maya?”
Aku menoleh.
“Mas Jeno. Calon suamiku.”
Gina memperhatikan seragam Jeno.
“Dia juga tentara?”
Jeno mengangguk sopan.
“Iya, Bu.”
“Berpangkat apa?”
“Kapten.”
Wajah Gina langsung memerah.
Arga kemudian menjelaskan bahwa dirinya dan Jeno bertugas di lingkungan satuan yang sama.
Untuk beberapa saat, tidak seorang pun berbicara.
Aku tahu apa yang sedang dipikirkan Tante Gina.
Pagi kemarin, dia membanggakan calon suami Tiwi yang berpangkat kapten untuk merendahkanku.
Sekarang dia mengetahui bahwa calon suamiku juga memiliki pangkat yang sama.
Namun, bagiku, kenyataan tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dirayakan.
Aku tidak memilih Jeno karena pangkatnya.
Aku mencintainya karena dia tetap menghormatiku bahkan ketika tidak seorang pun dari keluargaku mau mengakuiku.
Malam harinya, Ayah mulai sadar setelah menjalani penanganan.
Ketika aku masuk bersama dokter yang merawatnya, Ayah memandangku dengan bingung.
“Maya?”
Aku mendekat.
“Iya, Yah.”
“Kamu… kenapa ada di sini?”
Aku berusaha tersenyum.
“Aku bekerja di sini.”
Ayah memperhatikan jas putih yang kukenakan.
Kemudian matanya tertuju pada kartu identitasku.
Dokter Maya Prameswari.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ekspresi yang tidak pernah muncul di wajah Ayah selama bertahun-tahun.
Penyesalan.
“Kamu dokter?”
Aku mengangguk.
“Iya, Yah.”
Bibirnya bergetar.
“Sejak kapan?”
“Aku baru menyelesaikan pendidikan profesi dokter dan mendapat penempatan di rumah sakit ini.”
Ayah menutup mata.
Air mata perlahan mengalir dari sudut matanya.
“Ayah nggak tahu…”
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk.
“Karena Ayah nggak pernah bertanya.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Ayah membuka mata.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Waktu aku kecil, aku menunggu Ayah datang menjemputku dari panti asuhan.”
Air mataku mulai jatuh.
“Setiap ada mobil berhenti di depan gerbang, aku selalu berharap itu Ayah.”
Ayah menatapku tanpa berkata-kata.
“Tapi Ayah nggak pernah datang.”
Aku menarik napas panjang.
“Ketika aku diterima di fakultas kedokteran lewat beasiswa, aku ingin sekali memberi tahu Ayah.”
Suaraku semakin pecah.
“Waktu aku lulus, aku ingin Ayah datang melihatku memakai toga.”
Aku mengusap air mata.
“Tapi aku takut menghubungi Ayah karena setiap kali mencoba, aku selalu merasa seperti orang asing.”
Ayah mulai menangis.
“Maafkan Ayah, Maya.”
Aku terdiam.
Selama bertahun-tahun, itulah kalimat yang paling ingin kudengar.
Namun, ketika akhirnya diucapkan, ternyata hatiku tidak langsung merasa lega.
“Ayah salah,” lanjutnya.
“Ayah terlalu sibuk membangun keluarga baru sampai melupakan anak yang seharusnya Ayah lindungi.”
Aku menggenggam tangannya perlahan.
“Aku nggak membenci Ayah.”
Ayah menangis semakin keras.
“Tapi aku juga belum bisa melupakan semuanya begitu saja.”
Dia mengangguk.
“Ayah mengerti.”
Beberapa hari kemudian, kondisi Ayah membaik.
Aku tetap bekerja seperti biasa.
Sementara Tiwi mulai bersikap lebih sopan kepadaku.
Namun, hubungan kami masih terasa canggung.
Suatu sore, Tiwi menghampiriku di kantin rumah sakit.
“Mbak Maya, boleh duduk?”
Aku mengangguk.
Dia duduk sambil meremas ujung seragamnya.
“Mbak, aku mau minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Soal apa?”
“Soal perkataanku kemarin. Aku pikir Mbak bekerja sebagai petugas kebersihan.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalaupun aku bekerja sebagai petugas kebersihan, apa itu membuatku pantas dihina?”
Tiwi langsung menunduk.
“Nggak, Mbak.”
Dia menghela napas.
“Aku salah.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih sudah mengakuinya.”
Tiwi kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Mbak, sebenarnya waktu kecil aku pernah menemukan surat-surat untuk Ayah di dalam lemari Mama.”
Aku langsung menegakkan tubuh.
“Surat apa?”
“Surat dari panti asuhan.”
Jantungku berdegup kencang.
Tiwi menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Di surat itu ada tulisan bahwa Mbak sering sakit dan ingin bertemu Ayah.”
Aku membeku.
Selama ini aku mengira Ayah memang mengetahui keinginanku tetapi sengaja mengabaikannya.
“Terus?”
Tiwi menunduk.
“Mama menyimpan surat-surat itu. Aku nggak tahu apakah Ayah pernah membacanya.”
Dadaku mendadak terasa sesak.
Jadi mungkin selama bertahun-tahun, sebagian suratku tidak pernah sampai kepada Ayah?
Malam itu, aku menemui Ayah untuk menanyakan kebenarannya.
Beliau terdiam cukup lama sebelum mengaku bahwa dulu Gina pernah mengatakan pihak panti tidak ingin dirinya datang karena kehadirannya dianggap mengganggu penyesuaianku.
Aku menatap Ayah tidak percaya.
“Dan Ayah langsung percaya?”
Ayah menunduk.
“Ayah seharusnya mencari tahu sendiri.”
Aku mengangguk.
“Iya, Yah. Seharusnya begitu.”
Beberapa hari kemudian, Tante Gina akhirnya mengakui bahwa dia memang menyembunyikan sejumlah surat dari panti asuhan.
Dia takut kehadiranku mengganggu kehidupan keluarga barunya.
Namun, pengakuan itu tidak membuat Ayah sepenuhnya terbebas dari kesalahan.
Dia tetap orang dewasa yang memilih tidak mencari putrinya selama bertahun-tahun.
Aku mengatakan hal tersebut kepadanya.
Dan untuk pertama kalinya, Ayah tidak mencari alasan.
Beberapa bulan kemudian, aku dan Jeno melangsungkan pernikahan sederhana.
Ayah datang bersama Gina dan Tiwi.
Namun, keputusan paling penting yang kubuat bukanlah tentang siapa yang akan berdiri mendampingiku di pelaminan.
Melainkan tentang siapa yang akan mewakili keluarga yang selama ini membesarkanku.
Aku mengundang Pak Hadi, pengurus panti asuhan yang selama bertahun-tahun menjadi sosok ayah bagiku.
Ketika beliau datang, aku langsung memeluknya.
“Bapak, Maya akhirnya menikah.”
Pak Hadi tersenyum sambil mengusap air mata.
“Alhamdulillah, Nak. Bapak bangga sekali.”
Ayah kandungku berdiri beberapa langkah di belakang.
Aku melihat wajahnya berubah ketika menyadari betapa dekat hubunganku dengan Pak Hadi.
Namun, dia tidak marah.
Sebaliknya, dia menghampiri lelaki tua itu.
“Pak Hadi, terima kasih sudah membesarkan putri saya.”
Pak Hadi tersenyum.
“Maya anak yang kuat. Dia tumbuh menjadi perempuan baik karena kerja kerasnya sendiri.”
Ayah mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Saya menyesal tidak berada di sisinya.”
Pak Hadi menepuk bahunya.
“Kalau ingin memperbaiki hubungan, lakukan mulai sekarang. Jangan hanya karena hari ini Maya menikah.”
Ayah menunduk.
“Saya akan berusaha.”
Ketika acara pernikahan selesai, aku duduk bersama Jeno di teras.
Langit mulai berubah jingga.
Jeno menggenggam tanganku.
“Sayang, bahagia?”
Aku tersenyum.
“Bahagia, Mas.”
Dia menatapku.
“Masih ada yang mengganjal?”
Aku berpikir sejenak.
“Mungkin ada.”
Aku menatap halaman tempat Ayah sedang berbincang dengan Pak Hadi.
“Tapi sekarang aku tahu bahwa aku nggak harus memaksa diriku melupakan masa lalu supaya bisa bahagia.”
Jeno mengangguk.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
“Mas, dulu aku pikir kalau berhasil menjadi dokter, Ayah pasti akan menyayangiku.”
Jeno mengusap tanganku.
“Tapi sekarang?”
Aku tersenyum kecil.
“Sekarang aku tahu, kalau seseorang benar-benar menyayangiku, dia nggak perlu menunggu sampai aku punya gelar untuk mengakuiku.”
Jeno mengecup keningku dengan lembut.
Beberapa waktu kemudian, aku kembali mengunjungi panti asuhan tempatku dibesarkan.
Aku membawa sejumlah buku pelajaran dan perlengkapan sekolah untuk anak-anak.
Ketika sedang membagikannya, seorang anak perempuan berusia sekitar sembilan tahun menghampiriku.
“Kak Maya, benar Kakak dulu tinggal di sini?”
Aku mengangguk.
“Iya, Sayang.”
“Terus sekarang Kakak jadi dokter?”
Aku tersenyum.
“Alhamdulillah.”
Anak itu menatapku penuh harap.
“Kalau aku rajin belajar, aku juga bisa jadi dokter?”
Aku berjongkok di hadapannya.
“Tentu kamu boleh punya cita-cita itu. Nanti kita cari jalan supaya kamu bisa terus sekolah dan belajar.”
Dia tersenyum lebar.
Aku mengusap kepalanya.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Dulu, aku datang ke rumah Ayah dengan harapan mendapatkan pengakuan.
Aku ingin menunjukkan bahwa anak yang pernah dibuangnya ternyata bisa menjadi seseorang yang membanggakan.
Namun, setelah semua yang terjadi, aku akhirnya memahami bahwa kebahagiaanku tidak boleh bergantung pada penilaian orang lain.
Aku tetap anak perempuan yang pernah menangis di balik jendela panti asuhan.
Aku tetap seseorang yang tumbuh dengan kerinduan terhadap kasih sayang seorang ayah.
Namun, aku juga perempuan yang berhasil menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan menemukan orang-orang yang menerima diriku apa adanya.
Ketika sore tiba, aku berdiri di depan gerbang panti asuhan.
Dulu, di tempat itulah aku selalu menunggu Ayah datang menjemput.
Sekarang, sebuah mobil berhenti di depanku.
Jeno turun dan tersenyum.
“Ayo pulang, Dokter Maya.”
Aku memandangnya sambil tertawa kecil.
“Iya, Mas.”
Namun, sebelum masuk mobil, aku sempat menoleh sekali lagi ke arah gerbang.
Untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasakan kesedihan ketika melihatnya.
Sebab kini aku memahami bahwa rumah bukan selalu tempat kita dilahirkan.
Rumah adalah tempat seseorang menunggu kepulangan kita dengan kasih sayang, bukan dengan penghinaan.
Dan aku akhirnya memiliki tempat itu.
Bukan karena aku sudah menjadi dokter.
Bukan karena aku menikah dengan seorang kapten.
Melainkan karena aku telah menemukan orang-orang yang melihat nilai diriku tanpa harus mengetahui jabatan, gelar, ataupun masa laluku.
Orang-orang yang tidak pernah membuatku merasa harus membuktikan bahwa aku pantas dicintai.
Dan itulah kemenangan terbesar dalam hidupku.
