Malam itu, tak seorang pun di Desa Kandangjati Kulon bisa tidur nyenyak. Tangisan ibu Farida terdengar hingga ke halaman rumah, sementara puluhan warga masih berkumpul dengan wajah pucat. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa pencarian seorang anak kecil yang berangkat mengaji akan berakhir dengan kabar begitu memilukan.
Di tengah kerumunan, Pak Hasan, ayah Farida, berdiri mematung. Kedua tangannya gemetar. Matanya terus menatap rumah tua milik Mbah Jiwo yang kini dijaga beberapa warga.
“Tadi sore anak saya masih tertawa, Pak,” ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar. “Dia bahkan minta dibelikan sandal baru kalau nanti saya dapat upah dari sawah.”
Tak seorang pun sanggup menjawab.
Pak Karim, kepala desa, mendekat dan memegang bahunya.
“Sabar, San. Kita serahkan semuanya kepada pihak berwenang. Yang penting sekarang jangan sampai warga bertindak sendiri.”
Namun, kemarahan sudah telanjur menyebar.
Beberapa orang mulai meneriakkan tuduhan kepada Mbah Jiwo. Ada yang ingin mendobrak pintu rumahnya, ada pula yang menuntut agar perempuan tua itu segera dibawa keluar.
“Kalau benar dia yang melakukan, bagaimana mungkin tega kepada anak sekecil itu?” seru seorang warga.
“Jangan main hakim sendiri!” bentak Pak Karim. “Kita belum tahu seluruh kejadiannya!”
Di dalam rumah, Mbah Jiwo duduk di sebuah kursi kayu. Wajahnya terlihat lelah, sementara kedua tangannya menggenggam ujung kain batik yang dikenakannya.
Perempuan itu sudah lama tinggal seorang diri. Suaminya meninggal bertahun-tahun sebelumnya, sedangkan anak satu-satunya merantau dan hampir tidak pernah pulang.

Bagi sebagian warga, Mbah Jiwo dikenal sebagai perempuan pendiam yang sesekali membagikan makanan kepada anak-anak. Namun, ada pula yang menganggap tingkah lakunya semakin aneh sejak beberapa bulan terakhir.
Semua cerita itu kini kembali dibicarakan, bercampur dengan ketakutan dan prasangka.
Tak lama kemudian, petugas kepolisian datang. Rumah tersebut diperiksa, sementara warga diminta menjauh agar proses penyelidikan tidak terganggu.
Pak Hasan mendekati salah seorang petugas.
“Pak, saya cuma ingin tahu satu hal. Kenapa anak saya?”
Petugas itu terdiam sesaat.
“Kami akan berusaha mencari jawabannya, Pak. Tapi kami harus memeriksa semuanya terlebih dahulu.”
Keesokan paginya, kabar mengenai kematian Farida sudah menyebar hingga desa-desa tetangga.
Rumah keluarga Farida dipenuhi pelayat. Ibunya, Bu Aminah, duduk di dekat jendela dengan mata sembap. Di pangkuannya tergeletak sebuah kerudung kecil berwarna putih yang biasa dipakai Farida ketika mengaji.
Sejak malam sebelumnya, perempuan itu hampir tidak berbicara.
Ketika tetangganya, Bu Salmah, datang membawa makanan, Bu Aminah hanya menggeleng.
“Saya belum lapar, Mbak.”
“Kamu harus makan sedikit, Min.”
Bu Aminah menatap kerudung di tangannya.
“Setiap pulang mengaji, Farida selalu bilang lapar. Saya biasanya sudah menyiapkan nasi hangat. Kemarin saya masak sayur kesukaannya.”
Suaranya mulai bergetar.
“Sekarang makanannya masih ada, tapi anak saya tidak akan pernah pulang lagi.”
Bu Salmah memeluknya erat.
Di luar rumah, beberapa anak berdiri sambil memperhatikan orang-orang dewasa yang mondar-mandir. Mereka adalah teman-teman mengaji Farida.
Salah satunya, seorang anak laki-laki bernama Rofiq, terlihat gelisah.
“Bu, saya mau cerita sesuatu,” katanya kepada ibunya.
“Ada apa, Fiq?”
“Kemarin Farida bilang mau mampir sebentar sebelum pulang.”
“Mampir ke mana?”
Rofiq menunduk.
“Katanya ada orang yang janji mau kasih dia sesuatu.”
Ibunya terkejut.
“Siapa orangnya?”
Rofiq menggeleng.
“Saya nggak tahu, Bu. Farida cuma bilang orang itu sudah kenal dia.”
Keterangan Rofiq kemudian disampaikan kepada petugas.
Meski belum cukup untuk memastikan apa yang terjadi, cerita itu membuka kemungkinan bahwa Farida tidak sekadar tersesat ketika pulang mengaji.
Sementara itu, pemeriksaan terhadap Mbah Jiwo terus berlangsung.
Dalam pengembangan kisah yang beredar di masyarakat, perempuan tua tersebut digambarkan beberapa kali memberikan keterangan yang berubah-ubah. Ada kalanya ia mengaku tidak mengingat kejadian sore itu, tetapi pada kesempatan lain ia menyebut Farida memang sempat datang ke rumahnya.
Petugas berusaha mencocokkan setiap keterangan dengan barang bukti dan kesaksian warga.
Di antara orang-orang yang dimintai keterangan terdapat Pak Darman, seorang pedagang keliling yang biasa melewati gang dekat rumah Mbah Jiwo.
“Sore itu saya melihat Farida berdiri di depan pagar,” tuturnya.
“Apakah dia sendirian?” tanya petugas.
“Awalnya sendirian. Tapi kemudian ada seseorang memanggilnya dari dalam rumah.”
“Anda melihat siapa yang memanggil?”
Pak Darman menggeleng.
“Tidak jelas, Pak. Saya sedang mendorong gerobak. Saya pikir dia cuma mampir seperti biasanya.”
Kesaksian tersebut membuat suasana penyelidikan semakin serius.
Namun, ada satu hal yang mengusik pikiran Pak Darman.
“Saya ingat Farida sempat menoleh ke arah jalan,” katanya perlahan. “Seperti sedang mencari seseorang.”
“Kenapa Bapak berpikir begitu?”
“Karena sebelum masuk, dia sempat bertanya apakah ibunya sudah lewat.”
Petugas mencatat keterangan itu.
Beberapa hari setelah pemakaman, Bu Aminah memberanikan diri memasuki kamar Farida.
Selama ini, pintu kamar tersebut selalu ditutup. Ia tidak sanggup melihat barang-barang putrinya.
Di atas kasur kecil masih tergeletak boneka kain yang mulai kusam. Di dinding tergantung tas mengaji berwarna merah muda, sedangkan di dekat jendela tersusun beberapa buku bergambar.
Bu Aminah duduk di tepi kasur.
Tangannya meraih sebuah buku tulis yang sampulnya dihiasi gambar bunga.
Di halaman pertama terdapat coretan huruf-huruf yang belum rapi. Farida sedang belajar menulis namanya sendiri.
Bu Aminah tersenyum di tengah tangis.
“Katanya kalau sudah pintar menulis, kamu mau bikin surat buat Ibu, Nak.”
Ketika membalik halaman berikutnya, selembar kertas kecil terjatuh.
Itu bukan surat, melainkan gambar sederhana yang dibuat Farida menggunakan pensil warna.
Ada tiga orang berdiri di depan sebuah rumah. Di atasnya tertulis dengan huruf besar yang tidak beraturan, BAPAK IBU FARIDA.
Di bawah gambar itu terdapat kalimat pendek.
Farida sayang Ibu dan Bapak.
Bu Aminah menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, ia menangis tanpa berusaha menahan suara.
Pak Hasan yang mendengar tangisan istrinya segera masuk.
Ia melihat gambar tersebut, lalu duduk di samping Bu Aminah.
“Anak kita baik sekali, ya, Min.”
Bu Aminah mengangguk.
“Dia bahkan belum sempat belajar menulis dengan benar.”
Pak Hasan menggenggam tangan istrinya.
“Kita tidak bisa mengembalikan Farida. Tapi kita harus memastikan anak-anak lain tidak mengalami hal yang sama.”
Beberapa minggu berlalu. Penyelidikan masih menjadi pembicaraan masyarakat, meskipun tidak semua kabar yang beredar memiliki dasar yang jelas.
Cerita mengenai gulai daging, rumah tua, dan berbagai dugaan mengerikan berkembang semakin jauh dari satu orang ke orang lain.
Sebagian warga mengaku mendengar pengakuan tertentu. Sebagian lainnya mengatakan ada rahasia yang sengaja ditutupi.
Namun, ketika diminta menjelaskan dari mana informasi itu berasal, kebanyakan hanya menjawab bahwa mereka mendengarnya dari orang lain.
Pak Karim akhirnya mengumpulkan warga di balai desa.
“Saya tahu semuanya sedih dan marah,” katanya. “Tapi jangan sampai kita menambah penderitaan keluarga Farida dengan menyebarkan cerita yang belum tentu benar.”
Seorang warga mengangkat tangan.
“Lalu bagaimana dengan keselamatan anak-anak kami, Pak?”
“Itulah yang harus kita pikirkan bersama.”
Malam itu, warga menyepakati beberapa langkah sederhana. Anak-anak yang berangkat mengaji akan didampingi secara bergantian. Para orang tua diminta saling mengabari apabila anak mereka belum tiba di rumah. Guru mengaji juga akan memastikan setiap murid pulang bersama keluarga atau pendamping yang dikenal.
Tidak ada yang menganggap aturan itu mampu menghapus tragedi yang telah terjadi.
Namun, setidaknya mereka ingin mencegah kehilangan berikutnya.
Beberapa bulan kemudian, sebuah peristiwa kecil membuat Bu Aminah kembali teringat kepada putrinya.
Sore itu, seorang anak perempuan berdiri di depan rumahnya sambil membawa tas mengaji.
“Bu Aminah, boleh saya minta air minum?”
Bu Aminah segera mengambilkan segelas air.
Anak itu meminumnya dengan cepat, kemudian tersenyum.
“Terima kasih, Bu. Saya mau pulang, tapi masih menunggu kakak.”
“Kalau begitu, tunggu di sini saja. Jangan berjalan sendirian.”
Anak itu mengangguk.
Saat memperhatikan wajahnya, Bu Aminah merasakan dadanya sesak. Senyum anak tersebut mengingatkannya kepada Farida.
“Namamu siapa, Nak?”
“Nisa, Bu.”
Bu Aminah mengusap kepala anak itu dengan lembut.
“Rajin mengaji, ya, Nisa.”
“Iya, Bu.”
Ketika kakaknya datang menjemput, Nisa melambaikan tangan.
“Assalamualaikum, Bu Aminah!”
“Waalaikumsalam, Nak. Hati-hati di jalan.”
Bu Aminah berdiri cukup lama di depan pintu, memperhatikan kedua anak itu hingga menghilang di tikungan.
Pak Hasan menghampirinya.
“Kamu kenapa, Min?”
Bu Aminah menggeleng pelan.
“Tadi saya seperti melihat Farida pulang mengaji.”
Pak Hasan terdiam.
Lalu istrinya melanjutkan dengan suara lirih.
“Saya dulu selalu berpikir bahwa selama Farida berada di kampung sendiri, dia pasti aman. Semua orang mengenalnya. Semua orang terlihat baik kepadanya.”
Ia menatap suaminya.
“Ternyata mengenal seseorang tidak selalu berarti kita benar-benar tahu siapa dia.”
Pak Hasan mengangguk.
Sejak hari itu, Bu Aminah mulai membantu para ibu mendampingi anak-anak yang berangkat mengaji. Kadang ia menyiapkan air minum, kadang menunggu di depan musala sampai semua anak dijemput.
Ia tidak pernah menganggap kegiatan itu sebagai pengganti kehadiran Farida.
Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan putrinya.
Bertahun-tahun kemudian, kisah tentang Mbah Jiwo dan gulai daging masih diceritakan dalam berbagai versi. Sebagian semakin menyeramkan, sebagian berubah menjadi cerita yang sulit dibedakan antara kenyataan dan tambahan dari mulut ke mulut.
Tanpa dokumen penyelidikan dan putusan pengadilan yang dapat diverifikasi, berbagai rincian mengenai motif, pelaku, dan kejadian sebenarnya tidak layak dianggap sebagai fakta yang sudah pasti.
Namun, dalam kisah yang diwariskan itu, ada satu kenangan yang jauh lebih penting daripada semua rumor.
Kenangan tentang seorang anak kecil yang berangkat mengaji dengan dua kuncir rambut dan senyum ceria.
Seorang anak yang hanya ingin belajar, bermain, dan pulang ke pelukan ibunya.
Pada suatu sore, ketika rambut Bu Aminah telah memutih, seorang perempuan muda datang mengunjunginya bersama anak perempuannya.
“Bu Aminah masih ingat saya?”
Bu Aminah memperhatikan wajah tamunya.
“Nisa?”
Perempuan itu tersenyum dan mengangguk.
“Saya dulu sering diberi minum di sini setelah mengaji.”
Bu Aminah memeluknya.
Nisa kemudian menggandeng putrinya mendekat.
“Salim sama Nenek, Sayang.”
Anak kecil itu mencium tangan Bu Aminah.
“Namanya siapa?” tanya Bu Aminah.
Nisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Farida, Bu.”
Bu Aminah terdiam.
“Saya menamainya Farida karena sejak kecil Ibu selalu mengajarkan kami untuk saling menjaga,” lanjut Nisa. “Saya ingin anak saya tumbuh dengan mengingat kebaikan itu.”
Air mata mengalir di pipi Bu Aminah.
Ia memeluk Farida kecil dengan hati-hati, seolah sedang memeluk sebuah kenangan yang telah lama dirindukannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, mendengar nama Farida tidak hanya membuatnya menangis karena kehilangan.
Nama itu juga membawa harapan.
Sebab, meskipun hidup putrinya berakhir terlalu cepat, kasih sayang yang ditinggalkannya ternyata terus tumbuh dalam kehidupan orang lain.
Dan pada akhirnya, itulah yang ingin dikenang Bu Aminah.
Bukan cerita mengerikan tentang sebuah rumah tua atau gulai daging yang membuat orang ketakutan, melainkan tentang seorang anak yang pernah hidup, dicintai, dan tidak pernah benar-benar dilupakan.
