KEPINGAN EMAS PENINGGALAN EMAK

“Kamu tega ngomong begitu tentang Emak, Mas?” tanyaku dengan suara bergetar.

Mas Imran mendengus sambil meletakkan ponselnya di meja.

“Kalau nggak mau dengar, ya sudah! Tapi jangan harap aku kasih uang buat pulang kampung!”

Aku terdiam. Sudah delapan tahun kami menikah, dan selama itu pula aku terbiasa mengalah. Mas Imran bekerja sebagai kepala gudang di sebuah perusahaan ekspedisi di Bekasi, sementara aku mengurus rumah dan menerima pesanan kue kecil-kecilan. Namun, setiap rupiah hasil jualanku selalu dimintanya dengan alasan kebutuhan keluarga.

Malam itu, diam-diam aku membuka kaleng biskuit tempat menyimpan uang. Hanya ada tiga ratus delapan puluh ribu rupiah. Jumlah yang sebenarnya sudah kusiapkan untuk membeli bahan kue.

Keesokan paginya, aku tetap berangkat ke kampung menggunakan bus ekonomi.

Aku bahkan tidak sempat berpamitan kepada Mas Imran.

Sepanjang perjalanan menuju sebuah desa di Kabupaten Kebumen, hatiku gelisah. Berkali-kali aku menelepon Mbak Rini, tetangga yang selama ini membantu merawat Emak.

“Nduk, cepat pulang, ya. Emak dari tadi manggil namamu terus,” katanya sambil menangis.

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

Namun, ketika bus yang kutumpangi baru memasuki Purwokerto, teleponku kembali berdering.

Nama Mbak Rini muncul di layar.

“Nduk, yang sabar, ya.”

Dadaku langsung sesak.

“Kenapa, Mbak? Emak kenapa?”

Suara tangis terdengar dari seberang.

“Emakmu sudah nggak ada, Nduk. Tadi sekitar jam sembilan pagi.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Aku menangis tanpa memedulikan penumpang lain yang menatapku.

Aku terlambat.

Setibanya di rumah, jenazah Emak sudah terbujur di ruang tengah, diselimuti kain batik kesayangannya.

Aku berlutut di sampingnya.

“Mak, Sari pulang. Bangun sebentar, Mak. Sari belum sempat minta maaf.”

Tangisku pecah ketika melihat wajah Emak yang begitu kurus.

Selama ini, setiap kali menelepon, beliau selalu mengatakan dirinya sehat. Bahkan, ketika aku mengirim uang lima puluh ribu atau seratus ribu rupiah, Emak selalu menolak.

“Simpan buat kebutuhanmu, Nduk. Emak masih punya cukup uang.”

Aku mengira itu hanya cara Emak menjaga perasaanku.

Ternyata, aku sama sekali tidak mengenal kehidupan perempuan yang telah melahirkanku itu.

Setelah pemakaman selesai, aku memutuskan menginap di rumah Emak. Mas Imran sudah menelepon belasan kali, memarahiku karena pergi tanpa izin.

“Pulang besok! Jangan bikin aku malu!”

Aku mematikan ponsel.

Untuk pertama kalinya, aku tidak takut menghadapi kemarahannya.

Keesokan pagi, aku membersihkan dapur yang sudah lama tidak terurus. Saat menggeser lemari kayu tua, kakiku menyenggol sebuah batu bata yang terasa longgar.

Di bawahnya terdapat lubang kecil berisi kendi tanah liat.

Aku mengangkatnya dengan hati-hati.

Begitu tutupnya terbuka, napasku tertahan.

Puluhan keping logam berwarna kuning tersusun rapi di dalamnya.

Sebagian dibungkus kain putih, sebagian lagi disimpan dalam kantong beludru.

Aku mengambil satu keping.

Berat sekali.

Di permukaannya terdapat tulisan yang sudah agak pudar.

Dengan tangan gemetar, aku membawa beberapa keping ke toko emas milik Pak Hendra di pasar kecamatan.

Pak Hendra memeriksanya menggunakan alat penguji kadar emas. Wajahnya berubah serius.

“Bu, ini emas asli. Kadar kemurniannya tinggi.”

Aku menelan ludah.

“Kalau semuanya ada sekitar empat puluh delapan keping, kira-kira berapa harganya, Pak?”

Pak Hendra menghitung berdasarkan berat dan harga pembelian hari itu.

Lalu, ia menunjukkan angka di kalkulator.

Rp2.184.000.000.

Dua miliar seratus delapan puluh empat juta rupiah.

Kakiku langsung lemas.

“Pak, jangan bercanda.”

“Saya serius, Bu. Tapi kalau jumlahnya sebanyak itu, lebih baik Ibu periksa ke lembaga pengujian resmi dulu. Saya juga perlu memastikan asal-usul dan keaslian seluruh kepingnya.”

Aku pulang dengan pikiran kacau.

Bagaimana mungkin Emak yang selama ini tinggal di rumah berdinding anyaman bambu memiliki emas senilai miliaran rupiah?

Bahkan, beberapa bulan sebelumnya, namanya masih tercatat sebagai penerima bantuan sosial.

Saat aku kembali memeriksa kendi itu, kutemukan sepucuk surat terlipat di bagian dasarnya.

Tulisan tangannya sangat kukenal.

Untuk Sari, anak Emak tersayang.

Air mataku langsung menetes.

Aku membuka surat tersebut perlahan.

“Nduk, kalau kamu membaca surat ini, berarti Emak sudah pergi. Maafkan Emak karena selama ini menyembunyikan sesuatu darimu.

Emas itu bukan hasil bantuan pemerintah, bukan pula pemberian orang kaya. Itu hasil kerja keras Emak dan almarhum Bapakmu.

Dulu, sebelum Bapak meninggal, kami mempunyai usaha pengolahan hasil pertanian. Ketika usaha itu berkembang, Bapak membeli emas sedikit demi sedikit untuk masa depanmu.

Setelah Bapak pergi, Emak melanjutkan usaha itu melalui koperasi desa. Emak juga masih menerima bagian keuntungan dari gudang yang disewakan kepada koperasi.

Emak sengaja hidup sederhana karena tidak ingin orang datang hanya untuk meminta uang.

Tapi ada alasan lain, Nduk.

Emak pernah melihat bagaimana Imran memperlakukanmu.”

Tanganku mulai gemetar.

Aku melanjutkan membaca.

“Tiga tahun lalu, ketika Emak datang ke rumahmu, Emak mendengar Imran membentakmu karena uang belanja kurang. Emak juga melihat buku tabunganmu diambil olehnya.

Saat Emak bertanya kenapa kamu bertahan, kamu bilang semua baik-baik saja.

Sejak itu, Emak takut kalau uang ini diberikan kepadamu, Imran akan merampas semuanya.

Emak ingin kamu punya sesuatu yang benar-benar menjadi milikmu.”

Aku menutup mulut, menahan tangis.

Namun, bagian terakhir surat itu membuatku semakin terkejut.

“Pergilah menemui Pak Darmawan, notaris di kota. Ada sesuatu yang harus kamu ketahui sebelum mengambil keputusan.”

Sore itu juga aku menemui Pak Darmawan.

Lelaki berusia enam puluhan tersebut menyambutku seolah sudah lama menunggu.

“Alhamdulillah, akhirnya Mbak Sari datang.”

Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal dari lemari besi.

“Almarhumah ibumu sudah menyiapkan semuanya.”

Di dalam map terdapat akta kepemilikan tanah, dokumen usaha, rekening bank, dan surat wasiat.

Aku mematung ketika membaca jumlah aset yang tercatat.

Selain emas, Emak ternyata mempunyai dua bidang tanah produktif, sebuah gudang sewaan, dan simpanan bank senilai ratusan juta rupiah.

“Semua ini diwariskan kepada Mbak Sari sebagai anak tunggal beliau,” jelas Pak Darmawan. “Tentu proses administrasi dan kewarisan tetap harus diselesaikan sesuai ketentuan.”

“Kenapa Emak nggak pernah cerita, Pak?”

Pak Darmawan menarik napas panjang.

“Ibumu pernah bilang, uang bisa membuat seseorang terlihat baik padahal hatinya tidak. Beliau ingin memastikan kamu tidak kehilangan hak atas peninggalannya.”

Sebelum aku pulang, Pak Darmawan menyerahkan sebuah amplop lagi.

“Ini pesan khusus dari ibumu.”

Di dalamnya hanya terdapat satu kalimat.

“Nduk, jangan gunakan warisan ini untuk membeli cinta dari orang yang tidak pernah menghargaimu.”

Aku menangis sepanjang perjalanan pulang.

Namun, cobaan yang sebenarnya justru baru dimulai.

Entah bagaimana, kabar tentang emas itu sampai ke telinga Mas Imran.

Dua hari kemudian, ia datang ke rumah Emak bersama seorang lelaki yang mengaku sebagai penasihat keuangannya.

Wajah suamiku yang biasanya selalu marah mendadak berubah manis.

“Sayang, kenapa nggak bilang kalau Emak punya banyak harta?” katanya sambil meraih tanganku.

Aku menarik tanganku perlahan.

“Untuk apa, Mas?”

“Lho, ya buat kita! Aku sudah punya rencana. Kita bisa beli rumah besar, mobil, terus buka usaha.”

Aku menatapnya lama.

“Mas masih ingat kata-kata Mas waktu aku minta izin pulang?”

Senyumnya memudar.

“Sudahlah, jangan ungkit masa lalu.”

“Mas bilang Emak cuma sakit, bukan mati.”

Imran terdiam.

“Dan sekarang, setelah Emak meninggal, Mas datang karena hartanya?”

Wajahnya memerah.

“Jangan kurang ajar! Aku suamimu! Apa yang kamu punya juga hakku!”

Aku menggeleng.

“Warisan ini bukan otomatis milik Mas. Dan aku tidak akan menyerahkannya.”

Imran menghantam meja.

“Kalau begitu, kita cerai!”

Biasanya, ancaman itu akan membuatku menangis dan memohon.

Namun, kali ini aku justru merasa tenang.

“Baik, Mas. Kalau itu keputusan Mas, kita selesaikan secara resmi.”

Ia membeku.

Mungkin untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa perempuan yang selama ini selalu menunduk sudah berani menatap matanya.

Beberapa minggu berikutnya, dengan bantuan pengacara, aku mulai mengurus perceraian dan memastikan seluruh dokumen warisan tersimpan dengan aman.

Aku tidak langsung menjual semua emas peninggalan Emak. Setelah memeriksa keasliannya dan berkonsultasi mengenai pengelolaan aset, aku memutuskan mempertahankan sebagian besar simpanan tersebut.

Aku juga memeriksa catatan koperasi dan menemukan kenyataan yang membuat dadaku kembali sesak.

Selama bertahun-tahun, Emak diam-diam membiayai sekolah anak-anak kurang mampu di desa. Setiap bulan, ada sebagian keuntungan usaha yang disalurkan untuk membeli seragam, buku, dan membayar kebutuhan sekolah mereka.

Mbak Rini menangis ketika kuceritakan penemuanku.

“Emakmu itu orang baik, Sar. Banyak orang tahu beliau hidup sederhana, tapi nggak banyak yang tahu berapa banyak anak yang ditolongnya.”

Aku akhirnya memahami sesuatu.

Emak bukan perempuan miskin yang kebetulan menyimpan emas.

Beliau perempuan berkecukupan yang tidak pernah merasa perlu menunjukkan kekayaannya.

Enam bulan kemudian, rumah reyot Emak kurenovasi tanpa mengubah bentuk dapur lamanya. Di halaman samping, kubangun ruang belajar gratis untuk anak-anak desa.

Aku menamainya Rumah Belajar Emak.

Pada hari pembukaannya, seorang anak perempuan kecil menghampiriku sambil membawa buku tulis lusuh.

“Bu Sari, dulu Mbah sering bilang kalau cucu-cucunya harus sekolah tinggi.”

Aku tersenyum.

“Memangnya Mbah punya cucu banyak?”

Anak itu mengangguk polos.

“Kata Mbah, semua anak yang dibantu sekolah itu cucunya.”

Aku tak mampu menahan air mata.

Sore harinya, aku duduk sendirian di dapur, memandangi kendi tanah liat yang kini kusimpan di rak kayu.

Di sebelahnya terdapat foto Emak sedang tersenyum dengan kebaya sederhana.

“Mak, ternyata Emak kaya sekali,” bisikku.

Angin sore berembus melalui jendela.

Aku mengusap bingkai fotonya dengan lembut.

“Tapi bukan emas itu yang bikin Sari merasa paling beruntung.”

Aku teringat bagaimana Emak selalu menyisihkan lauk terbaik untukku, menjahit seragam sekolahku hingga larut malam, dan diam-diam menangis setiap kali aku kembali ke rumah suamiku.

Sekarang aku mengerti mengapa Emak menyimpan begitu banyak kepingan emas.

Beliau bukan sedang menunggu hari untuk menikmati kekayaannya.

Beliau sedang menyiapkan jalan keluar bagi anak perempuannya.

Dan dari semua peninggalan itu, hadiah terbesar yang kuterima bukanlah emas senilai miliaran rupiah, melainkan keberanian untuk akhirnya hidup tanpa rasa takut.

Sayangnya, keberanian itu baru kutemukan setelah tangan yang selama ini paling ingin melindungiku tak lagi bisa kugenggam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang