Kisah Nyata Mbah Sujiwo (Gulai Daging Tetangga)

Malam itu, tangisan seorang ibu memecah kesunyian Desa Kandangjati Kulon. Di depan rumah tua milik Mbah Sujiwo, puluhan warga berdiri dengan wajah pucat. Tak seorang pun berani mengatakan kepada ibu Farida apa yang sebenarnya ditemukan di dapur rumah tersebut.

“Pak, Farida mana? Katanya anak saya ada di sini?” teriak perempuan itu sambil mencoba menerobos kerumunan.

Suaminya, Pak Hasan, segera meraih lengannya.

“Bu, tenang dulu. Polisi masih memeriksa.”

“Nggak! Aku mau lihat anakku! Tadi sore dia pamit mengaji. Dia janji pulang sebelum malam!”

Pak Hasan tidak sanggup menjawab. Matanya merah, sementara kedua tangannya terus gemetar.

Di balik garis penjagaan sederhana yang dibuat warga, rumah Mbah Sujiwo tampak begitu sunyi. Lampu minyak masih menyala di dekat pintu dapur. Sebuah panci besar berada di atas tungku yang apinya sudah hampir padam.

Hanya beberapa jam sebelumnya, tidak seorang pun menganggap rumah itu berbahaya.

Farida bahkan sudah berkali-kali bermain di sana.

Bagi anak berusia lima tahun itu, Mbah Sujiwo adalah nenek yang suka bercerita dan sesekali memberinya singkong rebus.

Namun, malam itu, rumah yang dianggap aman tersebut menjadi pusat penyelidikan atas kematian Farida.

Ketika petugas membawa Mbah Sujiwo keluar, kerumunan warga langsung bergemuruh.

“Kenapa, Mbah? Kenapa harus Farida?” teriak seorang perempuan.

Mbah Sujiwo berjalan tertatih. Wajahnya terlihat lelah, tetapi ia tidak memberikan jawaban.

Pak Hasan mendekat, berusaha menahan amarah yang sejak tadi memenuhi dadanya.

“Mbah, anak saya salah apa sama Mbah?”

Perempuan tua itu mengangkat wajah.

Bibirnya bergerak pelan.

“Dia datang sendiri.”

Jawaban singkat itu membuat Pak Hasan kehilangan kendali.

“Dia percaya sama Mbah! Kami semua percaya sama Mbah!”

Beberapa warga segera menahannya sebelum ia semakin mendekat.

Petugas kemudian membawa Mbah Sujiwo pergi untuk diperiksa lebih lanjut.

Sementara itu, keluarga Farida harus menerima kenyataan paling menyakitkan dalam hidup mereka.

Anak yang mereka tunggu pulang tidak akan pernah kembali.

Keesokan paginya, seluruh desa diselimuti suasana berkabung.

Musala tempat Farida biasa mengaji terasa berbeda. Sandal kecil yang biasanya diletakkan di dekat pintu tidak lagi terlihat. Teman-temannya duduk diam, sebagian masih belum memahami mengapa Farida tidak datang.

Siti, sahabat sebaya Farida, terus memandangi tempat duduk kosong di sampingnya.

“Bu Guru, Farida besok ngaji lagi, kan?” tanyanya polos.

Bu Aisyah, guru mengaji mereka, terdiam cukup lama.

“Farida sekarang sudah bersama Allah, Nak.”

“Tapi kemarin dia bilang mau pinjamkan pensil warna ke aku.”

Bu Aisyah memeluk Siti sambil menahan tangis.

Pada siang hari, kepala desa, Pak Karman, mendatangi rumah keluarga Farida. Ia membawa beberapa informasi awal dari pemeriksaan petugas.

“Pak Hasan, saya tahu ini berat. Tapi mungkin ada sesuatu yang perlu Bapak ingat.”

“Apa, Pak?”

“Kemarin sebelum Magrib, beberapa anak melihat Farida berjalan bersama Mbah Sujiwo.”

Pak Hasan mengangkat kepala.

“Jadi dia nggak langsung ke musala?”

“Sepertinya begitu. Tapi kami belum tahu pasti apa yang terjadi setelahnya.”

Ibu Farida yang mendengar percakapan itu langsung menangis.

“Kenapa saya biarkan dia berangkat sendiri? Kenapa saya nggak antar?”

Pak Hasan merangkul istrinya.

“Jangan salahkan diri sendiri, Bu. Kita nggak pernah menyangka tetangga yang sudah kita kenal bertahun-tahun bisa menjadi bagian dari kejadian seperti ini.”

Namun, rasa bersalah terus menghantui keluarga itu.

Malam-malam berikutnya, Ibu Farida sering terbangun karena merasa mendengar suara putrinya memanggil dari halaman.

Kadang ia berdiri di depan pintu, memandangi jalan kecil yang dahulu dilewati Farida setiap sore.

“Farida biasanya lari dari ujung gang kalau sudah pulang mengaji,” katanya suatu malam.

Pak Hasan duduk di samping istrinya.

“Dia selalu teriak, Bapak, Farida pulang!”

Suaranya terputus.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman, Pak Hasan menangis tersedu-sedu.

Sementara keluarga Farida berjuang menghadapi kehilangan, penyelidikan terhadap Mbah Sujiwo terus berjalan.

Dalam cerita yang kemudian berkembang di masyarakat, muncul berbagai dugaan mengenai alasan perempuan tua itu melakukan perbuatan tersebut.

Ada warga yang mengatakan Mbah Sujiwo sering berbicara sendirian. Ada pula yang mengaku pernah mendengar suara aneh dari rumahnya pada malam hari.

Namun, tidak semua cerita itu dapat dibuktikan.

Suatu sore, Pak Karman mengumpulkan beberapa warga di balai desa.

“Saya minta semuanya berhenti menyebarkan kabar yang belum jelas,” katanya tegas.

“Tapi, Pak, katanya Mbah Jiwo mendengar bisikan gaib,” ujar seorang warga.

“Itu masih cerita yang beredar. Kita tidak boleh menganggapnya sebagai kebenaran sebelum ada bukti.”

“Terus bagaimana dengan gulai yang ditemukan di dapurnya?”

Ruangan mendadak hening.

Pertanyaan itu memang menjadi pembicaraan paling mengerikan di seluruh kampung.

Sejumlah warga mengatakan ada masakan di dapur Mbah Sujiwo ketika rumahnya diperiksa. Dari cerita tersebut kemudian muncul dugaan bahwa sebagian tubuh korban telah dimasak.

Namun, keterangan yang berkembang dari mulut ke mulut tidak selalu sama.

Pak Karman menghela napas.

“Biarkan petugas menyelidiki. Yang paling penting sekarang adalah membantu keluarga Farida.”

Di sudut ruangan, seorang lelaki tua bernama Pak Marto mengangkat tangan.

“Saya ingin menyampaikan sesuatu.”

Semua orang menoleh.

“Sebelum kejadian itu, saya pernah melihat Mbah Jiwo duduk sendirian di depan rumah sambil menangis.”

“Kapan, Pak?” tanya kepala desa.

“Sekitar seminggu sebelumnya. Saya tanya kenapa, dia cuma bilang sudah lama nggak bisa tidur.”

“Lalu?”

“Dia bilang pikirannya terasa kacau. Saya sarankan pergi ke puskesmas, tapi dia menolak.”

Pak Marto menunduk.

“Saya pikir itu cuma keluhan orang tua yang kesepian. Sekarang saya menyesal karena nggak mencoba mencari bantuan untuknya.”

Cerita tersebut membuat warga terdiam.

Mereka mulai menyadari bahwa sebelum tragedi terjadi, mungkin ada keadaan yang tidak mereka pahami.

Tetapi Pak Karman segera mengingatkan bahwa dugaan mengenai kondisi mental Mbah Sujiwo tidak dapat disimpulkan hanya dari perilakunya.

“Kalaupun seseorang sedang mengalami gangguan kesehatan, kita tetap harus mencari fakta dan memastikan keselamatan orang-orang di sekitarnya,” ujarnya.

Beberapa minggu berlalu.

Rumah Mbah Sujiwo tetap kosong. Pintu kayunya terkunci, sementara halaman mulai ditumbuhi rumput liar.

Anak-anak tidak lagi berani melewati gang itu sendirian.

Setiap sore, orang tua mengantar anak-anak mereka ke musala dan menjemputnya setelah mengaji.

Namun, perubahan paling besar terjadi pada keluarga Farida.

Ibu Farida hampir tidak pernah keluar rumah. Ia menyimpan pakaian mengaji putrinya dalam sebuah lemari kecil.

Setiap kali membuka lemari itu, ia teringat senyum Farida pada sore terakhir mereka bersama.

Suatu hari, Bu Aisyah datang berkunjung.

Ia membawa buku Iqra kecil milik Farida.

“Ini tertinggal di musala, Bu.”

Ibu Farida menerima buku itu dengan tangan gemetar.

Di halaman depannya terdapat tulisan nama Faridatul yang dibuat Bu Aisyah beberapa bulan sebelumnya.

“Dia sudah sampai halaman berapa, Bu?” tanyanya lirih.

“Halaman tiga puluh dua. Farida rajin sekali. Dia selalu ingin membaca lebih dulu daripada teman-temannya.”

Ibu Farida tersenyum di tengah tangis.

“Di rumah juga begitu. Kalau Bapaknya pulang dari sawah, dia langsung minta didengarkan mengaji.”

Bu Aisyah menggenggam tangannya.

“Bu, saya mau minta izin. Bagaimana kalau kami membuat tempat mengaji kecil untuk anak-anak di dekat rumah Ibu? Biar mereka nggak perlu berjalan sendirian terlalu jauh.”

Ibu Farida memandangnya dengan mata berkaca-kaca.

“Untuk anak-anak kampung?”

“Iya. Supaya orang tua juga bisa bergantian mendampingi.”

Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Ibu Farida mengangguk dengan penuh keyakinan.

“Saya mau bantu, Bu. Saya nggak ingin ada ibu lain yang merasakan kehilangan seperti saya.”

Gagasan itu mendapat dukungan warga.

Pak Karman meminjamkan sebuah ruangan kosong di balai desa. Pak Marto menyumbangkan tikar, sementara beberapa pemuda membantu memperbaiki lampu dan pintu.

Bu Aisyah mengatur jadwal mengaji, dan para orang tua bergantian mengantar serta menjemput anak-anak.

Beberapa bulan kemudian, ruangan kecil itu mulai dipenuhi suara anak-anak membaca Iqra.

Di dekat pintu, terpasang sebuah papan kayu sederhana.

Taman Mengaji Faridatul.

Pada hari pertama kegiatan, Ibu Farida datang membawa buku Iqra milik putrinya.

Ia meletakkannya di rak paling atas, terpisah dari buku-buku yang digunakan anak-anak.

Siti, sahabat Farida, menghampirinya.

“Bu, itu bukunya Farida, ya?”

“Iya, Nak.”

“Aku boleh lihat?”

Ibu Farida menyerahkan buku itu dengan hati-hati.

Siti membuka halaman pertama, lalu tersenyum kecil.

“Farida dulu bilang kalau sudah pintar mengaji, dia mau ngajarin adiknya.”

Mendengar ucapan itu, Ibu Farida kembali menangis.

Namun, kali ini tangisnya berbeda.

Di hadapannya ada puluhan anak yang masih memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan pulang dengan selamat kepada keluarga mereka.

Tahun demi tahun berlalu.

Peristiwa yang dikaitkan dengan nama Mbah Sujiwo terus diceritakan dalam berbagai versi. Sebagian orang menambahkan unsur mistis, sementara yang lain mengulang kisah tentang gulai daging yang membuat banyak pendengar merinding.

Tidak semua rincian cerita dapat dipastikan kebenarannya. Terutama mengenai motif, pengakuan yang dikaitkan dengan bisikan gaib, serta sejumlah detail yang terus berubah dalam penuturan masyarakat.

Namun, bagi orang-orang yang mengenang Farida, bagian terpenting dari kisah itu bukanlah cerita menyeramkan tentang rumah tua atau masakan di dapur.

Melainkan tentang seorang anak kecil yang kehilangan masa depannya.

Suatu sore, bertahun-tahun setelah tragedi tersebut, seorang pemuda datang ke Taman Mengaji Faridatul.

Ia adalah anak salah seorang warga yang dulu ikut mencari Farida pada malam kehilangannya.

Di dalam ruangan, ia melihat puluhan anak sedang belajar mengaji. Beberapa orang tua menunggu di teras sambil mengobrol.

“Pak, kenapa tempat ini dinamakan Faridatul?” tanyanya kepada Pak Karman yang kini sudah berambut putih.

Lelaki tua itu terdiam sebentar.

“Karena dulu ada seorang anak perempuan yang pergi mengaji, tetapi tidak pernah pulang.”

Pemuda itu mengangguk pelan.

“Jadi tempat ini dibangun untuk mengenangnya?”

“Bukan hanya itu,” jawab Pak Karman.

“Lalu untuk apa, Pak?”

Pak Karman memandang anak-anak yang sedang belajar.

“Supaya kita tidak cuma mengingat bagaimana Farida meninggal, tetapi juga mengingat apa yang seharusnya kita lakukan untuk melindungi anak-anak yang masih hidup.”

Pemuda itu terdiam.

Dari dalam ruangan terdengar seorang anak perempuan membaca dengan suara nyaring. Sesekali ia tertawa ketika salah melafalkan huruf.

Pak Karman tersenyum sedih.

“Dulu Farida juga begitu. Selalu bersemangat kalau belajar.”

Menjelang Magrib, kegiatan mengaji selesai.

Satu per satu anak berlari menghampiri orang tua mereka.

Seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikuncir dua keluar sambil membawa buku Iqra.

“Ibu, aku sudah selesai! Besok aku mau ngaji lagi!”

Ibunya tersenyum dan menggenggam tangannya.

Mereka berjalan pulang melewati jalan kampung yang mulai diterangi lampu.

Pak Karman memperhatikan keduanya hingga menghilang di ujung gang.

Ia teringat sore tahun 1992, ketika seorang anak perempuan bernama Faridatul mengucapkan janji yang hampir sama kepada ibunya.

Perbedaannya, kali ini seorang ibu bisa menyambut anaknya pulang.

Dan bagi masyarakat yang pernah mengalami tragedi itu, pemandangan sederhana tersebut adalah pengingat paling berharga.

Bahwa di balik cerita mengerikan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, ada tanggung jawab yang tidak boleh dilupakan.

Anak-anak membutuhkan perlindungan, bukan sekadar peringatan untuk takut kepada sosok tertentu.

Sebab, mengenang korban bukan berarti terus-menerus menghidupkan ketakutan tentang kematiannya.

Mengenang korban juga berarti melakukan sesuatu agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

Sementara nama Mbah Sujiwo tetap melekat pada berbagai kisah menyeramkan, nama Faridatul hidup dalam ingatan orang-orang yang memilih menjaga anak-anak mereka dengan lebih baik.

Dan mungkin, itulah cara paling bermakna untuk mengenang seorang anak yang dahulu pergi mengaji sambil tersenyum, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan untuk pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang