“Keisya tahu aku masuk rumah sakit malam itu?”
Arga berdiri mematung di depan pintu apartemenku. Ponselnya masih tergenggam erat, sementara pesan dari Keisya terus terbayang di kepalaku.
“Mas, jawab.”
Arga menarik napas panjang.
“Keisya tahu kamu menelepon malam itu. Tapi dia nggak tahu kamu kehilangan bayi kita.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Bagaimana dia bisa tahu aku menelepon?”
Arga menunduk.

“Tiga bulan lalu, aku sedang menemani Keisya mengurus ayahnya yang dirawat di rumah sakit Bandung. Ponselku tertinggal di mobil ketika aku membantu memindahkan barang-barang.”
“Lalu?”
“Keisya mengambil ponselku karena dia ingin menghubungi sopir. Dia melihat panggilan darimu.”
Dadaku mulai sesak.
“Dan dia nggak memberitahumu?”
Arga menggeleng perlahan.
“Dia bilang baru tahu ada panggilan itu keesokan paginya.”
Aku tertawa pahit.
“Sebelas panggilan, Mas. Sebelas kali aku menelepon.”
“Aku tahu.”
“Nggak, kamu nggak tahu. Kalau kamu benar-benar tahu rasanya menunggu seseorang ketika tubuhmu kesakitan dan kamu takut kehilangan bayimu, kamu nggak akan berdiri di sini mencari alasan.”
Arga memejamkan mata.
Aku mengambil ponselku dan menghubungi Keisya.
Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
“Kak Nara?”
“Keisya, aku ingin bertanya langsung. Malam ulang tahun pernikahanku, kamu melihat telepon dari aku?”
Keisya terdiam.
“Kak, aku…”
“Jawab saja.”
“Iya.”
Aku menggenggam ponsel semakin erat.
“Jam berapa?”
“Sekitar setengah sembilan malam.”
Aku langsung teringat malam itu.
Sekitar pukul delapan aku mulai merasa pusing. Tidak lama kemudian, aku terjatuh di dapur. Aku menelepon Arga berkali-kali sebelum akhirnya tetanggaku datang menolong.
“Kenapa kamu nggak memberi tahu Arga?”
Suara Keisya mulai bergetar.
“Aku pikir Kakak sedang marah karena Mas Arga belum pulang.”
“Jadi kamu sengaja membiarkan panggilanku?”
Keisya menangis.
“Iya, Kak. Aku salah.”
Arga langsung mengambil ponsel dari tanganku.
“Keisya, kamu bilang baru melihat panggilan itu besok pagi!”
“Aku takut kamu marah, Mas.”
“Kenapa kamu berbohong?”
“Karena malam itu Ayah baru selesai menjalani pemeriksaan. Kamu sudah berjanji menemaniku sampai urusannya selesai. Aku takut kamu langsung pergi kalau tahu Nara menelepon.”
Aku menutup mata.
Ternyata Keisya memang sengaja menyembunyikan panggilanku.
Namun, ada sesuatu yang perlu kupastikan.
“Keisya,” kataku setelah mengambil kembali ponsel, “apakah malam itu kamu tahu aku sedang sakit?”
“Nggak, Kak. Aku benar-benar nggak tahu.”
“Apakah ada pesan dari rumah sakit atau tetanggaku?”
“Nggak ada yang kubaca. Aku cuma melihat panggilan masuk.”
Aku terdiam.
Keisya tidak mengetahui bahwa aku sedang mengalami keguguran.
Dia memang melakukan kesalahan serius dengan menyembunyikan panggilan tersebut, tetapi aku tidak bisa menuduhnya mengetahui sesuatu yang sebenarnya tidak dia ketahui.
Aku menutup telepon.
Arga menatapku dengan mata merah.
“Nara, aku akan menyelesaikan masalah ini dengan Keisya.”
Aku menggeleng.
“Masalah kita bukan hanya Keisya.”
Dia terdiam.
“Kamu sendiri yang memilih nggak memeriksa ponselmu. Kamu sendiri yang menganggap panggilanku pasti cuma soal pertengkaran. Dan setelah pulang dua hari kemudian, kamu bahkan nggak bertanya kenapa tanganku diperban.”
Arga menunduk.
Aku melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kalau Keisya nggak pernah ada sekalipun, sikapmu malam itu tetap menyakitiku.”
Air mata Arga jatuh.
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba membela diri.
Aku akhirnya mempersilakannya duduk di ruang tamu. Bukan karena ingin berdamai, melainkan karena ada sesuatu yang sudah terlalu lama kusembunyikan.
Dari lemari kamar, aku mengambil kotak krem yang pernah kusiapkan untuk ulang tahun pernikahan kami.
Kotak itu masih berada di tempat yang sama sejak tiga bulan lalu.
Aku meletakkannya di hadapan Arga.
“Apa ini?”
“Hadiah yang seharusnya kuberikan malam itu.”
Arga membuka tutupnya.
Di dalam terdapat sepasang kaus kaki bayi, hasil pemeriksaan kehamilan, dan sebuah kartu kecil.
Dia mengambil kartu tersebut dengan tangan gemetar.
Selamat ulang tahun pernikahan, Papa. Tahun depan, semoga kita bisa merayakannya bertiga.
Arga menutup mulutnya.
“Ya Tuhan, Nara…”
Aku duduk di sofa seberangnya.
“Aku baru tahu sedang hamil dua hari sebelumnya. Waktu itu dokter memperkirakan usia kehamilanku sekitar enam minggu.”
Arga memandang foto USG yang masih tersimpan di dalam kotak.
“Kenapa kamu nggak bilang waktu aku pulang?”
Aku terdiam sejenak.
“Karena saat itu aku bahkan belum bisa menerima kenyataan bahwa anak kita sudah nggak ada. Aku masih kesakitan, masih takut, dan kamu pulang dalam keadaan marah karena merasa aku terlalu cemburu.”
Arga menangis.
“Aku nggak tahu kamu sedang berduka.”
“Aku tahu. Aku juga menyesal nggak segera mengatakan semuanya. Tapi malam itu aku nggak punya tenaga untuk menghadapi pertengkaran lagi.”
Dia menunduk cukup lama.
Kemudian bertanya dengan suara nyaris tidak terdengar.
“Kalau waktu itu aku mengangkat telepon, apakah bayi kita bisa diselamatkan?”
Aku memandangnya.
Pertanyaan yang sama telah menghantuiku selama tiga bulan.
“Aku pernah bertanya begitu kepada dokter.”
Arga mengangkat wajah.
“Dokter bilang apa?”
“Dokter bilang keguguran pada awal kehamilan bisa terjadi karena berbagai faktor. Mereka nggak bisa memastikan apakah hasilnya akan berbeda jika aku tiba lebih cepat atau kalau kamu ada bersamaku.”
Aku menghapus air mata.
“Jadi aku nggak akan mengatakan kamu penyebab kematian bayi kita.”
Arga menangis semakin keras.
“Tapi aku tetap meninggalkanmu sendirian.”
Aku mengangguk.
“Dan itulah yang sulit kumaafkan.”
Malam itu, Arga akhirnya mengetahui seluruh kejadian yang selama ini kusembunyikan.
Aku menunjukkan surat keluar rumah sakit, catatan tindakan medis, dan jadwal kontrol yang kujalani selama masa pemulihan.
Kondisiku sempat membutuhkan pemantauan karena perdarahan dan anemia setelah keguguran. Luka bakar di pergelangan tanganku juga memerlukan perawatan lanjutan.
Selama beberapa minggu pertama, Rani dan tetanggaku, Bu Siska, bergantian menemaniku.
Arga membaca semuanya dalam diam.
Ketika menemukan nama Rani sebagai kontak darurat, dia menatapku.
“Kenapa bukan aku?”
Aku tersenyum sedih.
“Karena waktu itu aku nggak tahu apakah kamu akan mengangkat telepon.”
Dia tidak mampu menjawab.
Menjelang tengah malam, Arga berdiri.
“Aku ingin memperbaiki semuanya, Nara.”
Aku menatapnya.
“Ada hal yang memang bisa diperbaiki. Tapi nggak semuanya bisa kembali seperti dulu.”
“Aku bersedia melakukan apa pun.”
“Kalau begitu, mulailah dengan menghormati keputusanku.”
Arga terdiam.
“Aku ingin kita berpisah.”
Wajahnya seketika pucat.
“Nara…”
“Aku sudah memikirkannya selama tiga bulan. Ini bukan keputusan mendadak.”
Dia menggeleng.
“Kita bisa ikut konseling pernikahan.”
“Mungkin itu akan membantu kita memahami kesalahan masing-masing. Tapi aku nggak ingin melanjutkan pernikahan ini.”
Arga menunduk.
Aku melihat betapa berat kalimat itu baginya.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa harus menarik kembali keputusanku hanya karena melihatnya terluka.
Dua minggu kemudian, Arga menghubungiku melalui pengacara.
Dia menyatakan bersedia menjalani proses perceraian dengan baik.
Keisya juga mengirimkan surat permintaan maaf.
Dalam surat itu, dia mengakui bahwa dirinya terlalu bergantung kepada Arga sejak pertunangannya dengan lelaki itu gagal bertahun-tahun lalu.
Dia menulis bahwa perhatian Arga membuatnya merasa masih memiliki seseorang yang akan selalu mendahulukannya.
Aku membaca surat tersebut sekali, lalu menyimpannya.
Aku tidak membalas.
Aku tidak lagi ingin menghabiskan waktu memahami hubungan mereka.
Yang paling penting sekarang adalah memulihkan hidupku sendiri.
Sebulan kemudian, perceraian kami memasuki tahap akhir.
Aku mulai kembali bekerja penuh waktu di sebuah perusahaan desain interior di Jakarta. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku mampu menyusun rencana masa depan tanpa selalu mempertimbangkan jadwal Arga.
Namun, suatu sore, Rani datang membawa amplop dari Bu Siska.
“Katanya ini tertinggal di rumah sakit waktu kamu pertama kali dirawat.”
Aku membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat secarik kertas kecil yang sudah agak kusut.
Tulisan tanganku sendiri.
Aku langsung mengenalinya.
Itu catatan yang kutulis ketika masih terbaring di rumah sakit, beberapa jam setelah kehilangan bayi kami.
Waktu itu dokter menyarankanku menuliskan perasaan agar lebih mudah mengungkapkan kesedihan.
Aku hampir melupakan catatan tersebut.
Di atas kertas tertulis sebuah nama.
Aksa.
Nama yang diam-diam kupilih untuk bayi kami, meskipun aku belum pernah mengetahui jenis kelaminnya.
Di bawahnya terdapat satu kalimat.
Maaf ya, Nak. Mama belum sempat memperkenalkanmu kepada Papa.
Aku menangis begitu keras sampai Rani langsung memelukku.
Selama tiga bulan, aku berusaha melanjutkan kehidupan.
Namun, ternyata masih ada bagian dari kesedihan yang belum pernah kuberikan ruang.
Beberapa hari kemudian, aku memutuskan mengirimkan salinan catatan itu kepada Arga melalui pengacara.
Bukan karena ingin kembali.
Melainkan karena dia juga berhak mengetahui nama yang pernah kuberikan kepada anak kami.
Arga membalas dengan surat pendek.
Terima kasih sudah memberitahuku tentang Aksa. Aku menyesal tidak hadir ketika kalian membutuhkanku. Aku tidak akan meminta kamu mengubah keputusanmu. Aku hanya berharap suatu hari nanti kamu bisa hidup bahagia tanpa harus mengingatku dengan rasa sakit.
Aku membaca surat tersebut tanpa menangis.
Mungkin karena aku akhirnya memahami bahwa penyesalan seseorang tidak selalu harus dibayar dengan kesempatan kedua.
Enam bulan setelah perceraian selesai, aku pindah ke apartemen baru yang lebih dekat dengan kantorku.
Aku juga mulai mengikuti kegiatan komunitas pendampingan perempuan yang pernah mengalami kehilangan kehamilan.
Di sanalah aku bertemu beberapa perempuan yang memiliki cerita berbeda, tetapi memahami kesedihan yang sama.
Suatu hari, seorang anggota baru bertanya kepadaku.
“Mbak Nara, bagaimana caranya berhenti merasa bersalah?”
Aku terdiam cukup lama.
Kemudian menjawab, “Aku juga masih belajar. Tapi sekarang aku tahu bahwa kehilangan bukan berarti kita gagal menjadi ibu.”
Perempuan itu menangis.
Aku menggenggam tangannya.
“Dan kita nggak harus terlihat kuat setiap hari.”
Setahun setelah malam aku kehilangan Aksa, aku mengunjungi sebuah taman kecil di dekat rumah.
Aku membawa bunga putih dan selembar foto USG yang sudah kusimpan dalam album.
Aku duduk di bangku taman sambil memandangi langit sore.
“Hai, Aksa,” bisikku.
“Mama datang.”
Angin berembus perlahan.
Aku tersenyum di antara air mata.
“Mama sekarang sudah lebih baik. Mama masih sering kangen, tapi Mama juga sudah bisa tertawa tanpa merasa bersalah.”
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan dari Rani masuk.
“Nara, jangan lupa malam ini kita makan bareng. Aku sudah pesan tempat.”
Aku membalas dengan senyum kecil.
“Siap. Aku datang.”
Saat hendak berdiri, aku melihat seorang perempuan sedang duduk beberapa bangku dariku.
Dia memegang hasil USG sambil menangis sendirian.
Aku ragu sejenak sebelum menghampirinya.
“Mbak, maaf. Apa Mbak butuh bantuan?”
Perempuan itu mengangkat wajah.
Matanya merah.
“Aku baru kehilangan bayi.”
Aku duduk di sampingnya.
“Nggak apa-apa kalau Mbak mau menangis.”
Dia menunduk.
“Aku merasa sendirian.”
Aku menatapnya dengan lembut.
“Aku pernah merasakan hal yang sama.”
Perempuan itu mulai bercerita.
Aku mendengarkan tanpa menyela.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan.
Mungkin aku tidak bisa mengubah masa lalu.
Tidak bisa mengulang malam ketika aku menelepon Arga sebelas kali.
Tidak bisa mengembalikan bayi yang begitu kunantikan.
Namun, aku masih bisa memilih bagaimana menjalani hari berikutnya.
Aku bisa menggunakan pengalamanku untuk membuat seseorang merasa tidak sepenuhnya sendirian.
Ketika perempuan itu akhirnya tersenyum tipis, aku merasakan kehangatan yang sudah lama tidak hadir di dadaku.
Dulu, aku mengira berhenti mengejar Arga berarti menyerah pada pernikahanku.
Sekarang aku memahami bahwa terkadang berhenti mengejar seseorang justru menjadi langkah pertama untuk kembali menemukan diri sendiri.
Aku tidak lagi membutuhkan Arga untuk membuktikan bahwa aku pantas dicintai.
Aku juga tidak membutuhkan Keisya untuk mengakui bahwa dia telah mengambil terlalu banyak ruang dalam rumah tanggaku.
Yang kubutuhkan hanyalah keberanian untuk menerima kenyataan dan melanjutkan hidup.
Karena cinta yang sehat tidak membuat seseorang harus menelepon sebelas kali hanya untuk berharap didengarkan.
Dan keluarga seharusnya menjadi tempat kita merasa aman, bukan tempat kita terus-menerus bersaing untuk mendapatkan perhatian.
Aku menatap langit sekali lagi sebelum meninggalkan taman.
“Aksa, Mama pulang dulu, ya.”
Aku tersenyum kecil.
“Kali ini Mama nggak pulang untuk menunggu siapa pun.”
Aku berjalan menuju gerbang taman dengan langkah perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa masa depan bukan lagi sesuatu yang harus kutakuti.
Dan meskipun aku tidak pernah bisa menggendong Aksa dalam pelukanku, dia akan selalu menjadi bagian dari hidupku.
Bukan sebagai alasan untuk berhenti melangkah.
Melainkan sebagai pengingat bahwa aku pernah mencintai begitu dalam.
Dan aku masih memiliki begitu banyak cinta untuk diberikan kepada kehidupan yang menungguku di depan.
