Di Hari Ulang Tahun Pernikahan Kami, Aku Menerima Hasil USG Perempuan Lain—Lalu

Malam itu, aku tidak tidur sedikit pun.

Dari balik pintu kamar yang terkunci, aku mendengar Arga beberapa kali berjalan mondar-mandir di lorong. Sekitar pukul dua pagi, ponselnya berdering. Suaranya terdengar samar, tetapi satu kalimat berhasil kutangkap.

“Pokoknya pastikan semua berkas selesai sebelum mereka melahirkan.”

Aku memeluk perutku erat-erat.

Anak kecil di dalam rahimku bergerak perlahan, seolah mengingatkan bahwa mulai sekarang aku tidak boleh sembarangan mengambil keputusan.

Pagi harinya, aku menelepon Ayah.

“Yah, aku mau pulang.”

Ayah tidak bertanya apa-apa.

“Papa jemput sekarang?”

“Iya. Tapi jangan bilang Arga dulu.”

Empat puluh menit kemudian, mobil Ayah berhenti di depan rumah dinas. Aku sudah menyiapkan koper kecil berisi pakaian, dokumen kehamilan, dan beberapa barang penting.

Ketika aku sedang menuruni tangga, Arga muncul dari ruang kerja.

“Mau ke mana?”

“Ke rumah Papa.”

“Kenapa mendadak?”

“Aku ingin istirahat. Rumah ini terlalu ramai.”

Arga mengerutkan kening.

“Mira cuma tinggal sementara, Laras.”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, seharusnya nggak masalah aku tinggal sementara di rumah orang tuaku.”

Dia tampak ingin membantah, tetapi mobil Ayah sudah memasuki halaman.

Sebelum aku pergi, Arga memegang lenganku.

“Laras, jangan membuat keputusan aneh menjelang persalinan.”

Aku perlahan melepaskan tangannya.

“Aku justru sedang membuat keputusan yang paling masuk akal.”

Di rumah Ayah, aku akhirnya menangis.

Bukan karena kehadiran Mira.

Bukan pula karena suamiku lebih memperhatikan perempuan lain.

Aku menangis karena membayangkan seseorang menggunakan tanda tanganku untuk mengatur masa depan seorang bayi tanpa persetujuanku.

Ayah mendengarkan seluruh ceritaku sampai selesai.

Kemudian beliau menelepon pengacara keluarga, Bu Ratna.

Siang itu juga, kami memeriksa dokumen yang sebelumnya dikirimkan kepadaku.

“Bu Laras, ini baru berkas persiapan pengajuan,” jelas Bu Ratna. “Belum berarti perubahan wali anak tersebut sah atau sudah disetujui. Tetapi penggunaan tanda tangan tanpa izin tetap perlu diperiksa.”

Aku mengangguk.

“Bagaimana dengan bayi saya?”

“Kita akan memastikan data medis dan persalinan Anda hanya dapat diakses serta ditangani sesuai prosedur rumah sakit. Anda juga berhak menentukan siapa yang boleh mendampingi Anda selama proses persalinan.”

Aku menghela napas.

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, aku merasa sedikit lebih tenang.

Namun, Bu Ratna kemudian menunjukkan sebuah halaman yang sebelumnya tidak kuperhatikan.

Di sana terdapat nama sebuah yayasan.

Yayasan Kasih Raka.

Aku mengernyit.

“Ini apa?”

“Yayasan yang baru didirikan empat bulan lalu. Berdasarkan berkas ini, yayasan tersebut direncanakan membantu kebutuhan anak-anak keluarga personel yang gugur dalam tugas.”

“Bukankah itu bagus?”

“Tujuannya terdengar baik. Tetapi ada sesuatu yang perlu dijelaskan.”

Bu Ratna menunjuk bagian pengelolaan dana.

Nama Arga tercantum sebagai pengurus.

Sementara namaku tertulis sebagai calon pihak yang akan menyediakan dukungan keuangan awal.

Jumlahnya mencapai Rp2,4 miliar.

Aku membeku.

Uang itu berasal dari dana warisan almarhum ibuku yang kusimpan dalam rekening investasi pribadi.

Arga mengetahui keberadaan dana tersebut, tetapi aku tidak pernah mengizinkannya digunakan.

“Kenapa nama saya ada di sini?”

Bu Ratna menatapku serius.

“Itulah yang harus kita tanyakan kepada suami Anda.”

Sore harinya, aku menerima telepon dari Dimas, rekan kerja Arga.

“Laras, bisa kita bicara?”

Aku hampir menolak.

Namun, dia langsung menambahkan, “Ini tentang Raka.”

Kami sepakat bertemu di kantor Bu Ratna keesokan harinya.

Dimas datang membawa sebuah map tua.

Wajahnya terlihat lelah.

“Laras, aku minta maaf karena kemarin tidak langsung menjelaskan semuanya.”

Aku menatapnya.

“Sekarang jelaskan.”

Dimas membuka map tersebut.

“Raka memang meninggal setelah sebuah operasi penugasan tahun lalu. Tapi sebelum itu, dia pernah membuat laporan mengenai dugaan penyimpangan pengadaan perlengkapan untuk satuan.”

Aku terkejut.

“Penyimpangan apa?”

“Sejumlah peralatan yang seharusnya memenuhi standar keselamatan ternyata tidak sesuai spesifikasi. Raka menemukan masalahnya dan meminta pemeriksaan.”

Aku menahan napas.

“Arga tahu?”

Dimas mengangguk.

“Dia termasuk orang yang menerima laporan awal.”

Aku memandang berkas di hadapanku.

“Lalu apa hubungannya dengan Mira?”

“Setelah Raka meninggal, Mira menemukan salinan laporan itu di antara barang-barang suaminya.”

Dimas berhenti sebentar.

“Dia meminta Arga membantunya mencari tahu apakah laporan tersebut pernah ditindaklanjuti.”

Aku mulai memahami mengapa Arga sering menemui Mira.

Namun, pertanyaan terpenting belum terjawab.

“Bayi Mira?”

Dimas menatapku.

“Itu anak Raka, Laras. Berdasarkan riwayat yang Mira berikan, kehamilannya sesuai dengan masa sebelum Raka meninggal. Tapi Arga takut seseorang akan memanfaatkan keadaan Mira yang sedang hamil untuk menekan keluarganya.”

“Kenapa harus membawa bayinya ke rumah kami?”

“Arga punya rencana agar kalian menjadi wali anak tersebut jika sesuatu terjadi pada Mira.”

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Tanpa berbicara denganku?”

Dimas menunduk.

“Aku sudah bilang itu salah.”

Aku meremas ujung bajuku.

“Dan kenapa dia bilang ada sesuatu yang harus diubah setelah kedua bayi lahir?”

Dimas tampak ragu.

Kemudian dia menjawab pelan.

“Karena dia ingin mendaftarkan bayi Mira sebagai anak dalam tanggungan keluargamu untuk memperoleh perlindungan dan fasilitas yang menurutnya lebih baik. Dia juga berniat memindahkan sebagian dana warisanmu ke yayasan sebagai jaminan pembiayaannya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi semua itu menggunakan namaku?”

Dimas mengangguk.

“Arga bilang dia akan menjelaskannya setelah persalinan.”

Aku tertawa getir.

“Setelah semuanya selesai?”

Dimas tidak menjawab.

Aku menutup map.

“Mas Dimas, membantu keluarga sahabat yang meninggal itu baik. Tetapi memalsukan persetujuan istri dan menggunakan uangnya diam-diam bukan kebaikan.”

Dimas menunduk.

“Aku tahu.”

Namun, masih ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.

“Kenapa Mira juga bersikap seolah menyembunyikan sesuatu dariku?”

Dimas terdiam cukup lama.

“Ada baiknya kamu bertanya langsung kepadanya.”

Dua hari kemudian, Mira menghubungiku.

Dia menangis ketika mendengar suaraku.

“Laras, aku tahu kamu marah.”

“Aku ingin tahu satu hal. Apa kamu tahu Arga menggunakan namaku dalam dokumen pengurusan anakmu?”

Mira langsung terdiam.

Kemudian dia menjawab.

“Aku tahu ada rencana pengasuhan. Tapi Arga bilang kamu sudah setuju.”

Aku memejamkan mata.

“Dia bohong.”

Tangis Mira semakin keras.

“Aku nggak pernah berniat merebut keluargamu, Laras.”

“Kalau begitu, kenapa kamu tinggal di rumahku dan membiarkan barang-barangku dipindahkan?”

Mira menarik napas tersendat.

“Arga bilang rumah itu akan dijadikan tempat pemulihanku setelah melahirkan. Aku sudah bilang nggak perlu mengganti seluruh perabot.”

Aku terdiam.

“Dan bunga mawar?”

“Aku memang punya alergi terhadap serbuk sari tertentu. Tapi aku nggak pernah meminta semuanya dicabut.”

Aku menunduk.

Semakin banyak penjelasan yang kudengar, semakin jelas bahwa Arga telah membuat keputusan sepihak atas nama orang-orang di sekitarnya.

Namun, Mira tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuatku kembali tegang.

“Laras, ada satu hal yang belum diketahui Arga.”

“Apa?”

“Aku menemukan surat terakhir Raka.”

Aku langsung duduk tegak.

“Surat apa?”

“Dia menulisnya beberapa hari sebelum penugasan terakhir. Di dalamnya dia menyebut nama seseorang yang harus kuhubungi kalau terjadi sesuatu.”

“Siapa?”

Mira terdiam.

Kemudian menjawab pelan.

“Ayahmu.”

Aku membeku.

“Papa?”

“Iya.”

Jantungku berdegup kencang.

Mengapa Raka mengenal Ayah?

Dan mengapa selama ini Ayah tidak pernah mengatakan apa-apa?

Malam itu, aku langsung membawa surat tersebut kepada Ayah setelah Mira menyerahkan salinannya melalui Bu Ratna.

Begitu membaca nama Raka di bagian bawah, wajah Ayah berubah.

“Papa mengenalnya,” kata beliau akhirnya.

Aku menatapnya.

“Sejak kapan?”

“Raka pernah datang ke perusahaan Papa sekitar setahun lalu. Dia meminta bantuan memeriksa asal beberapa perlengkapan yang dibeli melalui kontraktor swasta.”

Ayah menghela napas.

“Perusahaan Papa bergerak di bidang distribusi alat kesehatan. Raka menemukan bahwa sebagian sertifikat produk tidak sesuai dengan catatan pemasok resmi.”

Aku membeku.

“Lalu?”

“Papa membantu memeriksa nomor seri dan dokumen pemasok. Tapi sebelum pemeriksaan selesai, Raka meninggal.”

“Kenapa Papa nggak cerita?”

“Karena perkara itu masih dalam pemeriksaan, dan Papa tidak ingin menyebarkan tuduhan sebelum ada hasil resmi.”

Aku menatap surat tersebut.

Di bagian akhir, Raka menulis bahwa ia tidak ingin keluarganya menerima bantuan yang mengharuskan mereka menutup mulut mengenai temuannya.

Kalimat itu terasa seperti tamparan.

Arga membangun yayasan atas nama sahabatnya.

Tetapi justru sedang menyembunyikan dokumen penting yang ingin diselidiki sahabat tersebut.

Aku menghubungi Dimas lagi.

“Mas, apakah Arga pernah menyerahkan laporan Raka kepada pihak pemeriksa?”

Dimas terdiam.

“Tidak semua lampirannya.”

Aku menutup mata.

“Kenapa?”

“Arga takut laporan itu akan menyeret pejabat yang pernah membantunya dalam karier.”

Aku merasa dadaku sesak.

Akhirnya, semuanya mulai masuk akal.

Arga bukan hanya ingin membantu Mira.

Dia juga ingin mengendalikan keadaan agar masa lalu Raka tidak berkembang menjadi persoalan yang mengancam dirinya.

Dan untuk itu, dia bersedia menggunakan namaku, uangku, bahkan calon bayi kami sebagai bagian dari rencananya.

Keesokan harinya, aku meminta Arga datang ke kantor Bu Ratna.

Dia tiba dengan wajah lelah.

Begitu melihatku, dia langsung menghampiri.

“Laras, kamu sudah makan? Aku khawatir sama kondisi kamu.”

Aku menatapnya.

“Duduk dulu, Mas.”

Arga tampak bingung ketika melihat Ayah dan Bu Ratna sudah menunggu.

Aku meletakkan salinan dokumen di hadapannya.

“Mas, aku ingin kamu menjelaskan tiga hal.”

Arga mengangguk.

“Pertama, kenapa namaku ada dalam rancangan pengurusan wali anak Mira?”

Wajahnya berubah.

“Kamu sudah lihat berkas itu?”

“Kedua, kenapa uang warisanku tercantum sebagai sumber dana yayasan?”

“Laras, aku bisa jelaskan.”

“Ketiga, kenapa laporan terakhir Raka belum diserahkan seluruhnya?”

Arga membeku.

Untuk beberapa saat, dia hanya memandang dokumen di atas meja.

Kemudian perlahan menutup wajah dengan kedua tangan.

“Aku cuma ingin menyelesaikan semuanya tanpa membuat kalian khawatir.”

Aku menggeleng.

“Mas, kamu justru membuat semuanya jauh lebih buruk.”

Arga mulai menangis.

“Aku berutang nyawa kepada Raka.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak sanggup melihat Mira dan bayinya kesulitan.”

“Aku juga ingin membantu mereka.”

Aku berhenti sebentar.

“Tapi kenapa kamu nggak pernah bertanya apa yang aku inginkan?”

Arga menunduk.

“Aku takut kamu menolak.”

Aku menatapnya lama.

“Jadi kamu memilih membuat keputusan menggunakan namaku?”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Mas, bantuan yang dibangun dari kebohongan bukanlah bentuk tanggung jawab.”

Air mataku jatuh.

“Dan kalau kamu benar-benar ingin menghormati Raka, kamu seharusnya membantu mengungkap kebenaran yang dia perjuangkan, bukan menyembunyikan laporannya.”

Arga menangis semakin keras.

Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki alasan untuk membantah.

Aku kemudian menyampaikan keputusanku.

“Aku akan tinggal terpisah dulu sampai semuanya jelas. Aku juga nggak mengizinkan siapa pun menggunakan namaku atau data anakku dalam dokumen apa pun tanpa persetujuan.”

Arga mengangkat wajah.

“Laras, jangan tinggalkan aku.”

Aku menggeleng pelan.

“Aku nggak sedang menghukummu. Aku sedang melindungi diriku dan anak kita.”

Beberapa minggu kemudian, proses pemeriksaan terhadap dugaan pemalsuan dokumen dan penggunaan data tanpa izin mulai berjalan.

Arga akhirnya menyerahkan seluruh lampiran laporan Raka kepada pihak yang berwenang melakukan pemeriksaan.

Mira juga memberikan keterangan mengenai dokumen yang ditemukannya.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangan.

Kehamilanku sudah memasuki minggu-minggu terakhir.

Dan sekarang, yang paling penting adalah memastikan persalinanku berlangsung dengan aman.

Aku memilih rumah sakit lain setelah berkonsultasi dengan dokter kandungku.

Bukan karena rumah sakit sebelumnya terbukti melakukan kesalahan.

Melainkan karena aku membutuhkan lingkungan yang membuatku merasa tenang.

Ayah dan Bu Ratna membantuku mengurus administrasi.

Aku juga meminta agar hanya orang-orang yang kuizinkan dapat menerima informasi mengenai persalinanku.

Suatu malam, kontraksi mulai terasa.

Ayah segera mengantarku ke rumah sakit.

Setelah melalui proses persalinan yang melelahkan, akhirnya terdengar tangisan bayi.

Seorang anak perempuan.

Dokter meletakkannya di dadaku.

Aku langsung menangis.

“Selamat datang, Sayang.”

Aku menatap wajah kecilnya.

Hidung mungil.

Pipi kemerahan.

Jari-jari yang menggenggam ujung bajuku.

Untuk sesaat, seluruh ketakutan yang selama ini memenuhi pikiranku menghilang.

Aku menamainya Aluna.

Dua hari kemudian, aku menerima kabar bahwa Mira juga telah melahirkan dengan selamat.

Seorang bayi laki-laki.

Namanya Raka Mahendra, diambil dari nama ayahnya.

Mira mengirimkan foto bayinya kepadaku.

Di bawahnya terdapat pesan singkat.

“Terima kasih karena kamu tetap peduli kepada kami, meskipun semua ini sudah membuatmu begitu terluka.”

Aku membalas.

“Anakmu nggak bersalah atas keputusan orang dewasa. Semoga kalian sehat selalu.”

Beberapa bulan kemudian, proses hukum terkait dokumen yang menggunakan namaku masih berjalan.

Arga menjalani pemeriksaan dan menghadapi konsekuensi administratif sesuai hasil proses yang berlaku.

Aku belum memutuskan apakah pernikahan kami dapat dipertahankan.

Namun, aku mulai mengikuti konseling untuk memahami apa yang sebenarnya kuinginkan setelah semua kejadian tersebut.

Sementara itu, Mira memilih tinggal bersama keluarganya di Semarang.

Dia tidak menerima rencana pemindahan hak pengasuhan yang pernah disiapkan Arga.

Sebaliknya, dia mulai mengurus bantuan dan hak yang mungkin tersedia bagi anaknya melalui jalur resmi.

Aku sempat mengunjunginya bersama Ayah ketika Aluna berusia enam bulan.

Kami duduk di teras rumah sederhana milik orang tua Mira.

Dua bayi kami tidur di kereta dorong masing-masing.

Mira menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Laras, aku dulu pikir kamu pasti membenciku.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku sempat marah. Tapi sekarang aku tahu kamu juga nggak mengetahui semua yang Arga rencanakan.”

Mira mengangguk.

“Raka pasti sedih kalau tahu namanya dipakai untuk menutupi sesuatu.”

Aku memandang bayi laki-laki yang sedang tertidur.

“Kalau suatu hari dia bertanya tentang ayahnya, ceritakan bahwa ayahnya pernah berusaha melakukan hal yang benar.”

Mira tersenyum sambil menangis.

“Aku akan cerita.”

Setahun setelah ulang tahun pernikahan yang mengubah hidupku, aku kembali berdiri di halaman rumah Ayah.

Aluna sedang belajar berjalan sambil berpegangan pada kursi taman.

Bunga mawar putih tumbuh di sepanjang pagar.

Ayah menanamnya beberapa bulan setelah aku pindah.

“Papa tahu kamu suka mawar,” katanya waktu itu.

Aku tersenyum sambil memperhatikan putriku.

Dulu, ketika melihat bunga mawarku dicabut dari halaman rumah dinas, aku merasa seluruh kenangan pernikahanku ikut direnggut.

Namun, sekarang aku memahami bahwa kenangan tidak tersimpan hanya di tempat atau benda.

Kenangan hidup dalam apa yang kita pelajari dan bagaimana kita memilih melanjutkan hidup.

Arga masih sesekali datang menemui Aluna melalui pengaturan yang kami sepakati.

Dia berusaha membangun hubungan sebagai ayah tanpa memaksaku kembali menjadi istrinya.

Aku menghargai usahanya, tetapi tidak menjadikannya alasan untuk mengabaikan luka yang belum sembuh.

Suatu sore, setelah Arga pulang, Ayah bertanya.

“Laras, kamu bahagia sekarang?”

Aku memandang Aluna yang sedang tertawa.

“Bahagia, Yah.”

“Walaupun hidupmu nggak berjalan seperti yang dulu kamu rencanakan?”

Aku mengangguk.

“Justru karena sekarang aku bisa memilih sendiri bagaimana hidupku berjalan.”

Ayah tersenyum.

Malam itu, setelah Aluna tertidur, aku membuka kotak hadiah krem yang masih kusimpan di lemari.

Kotak yang dulu berisi hasil USG Mira.

Aku mengeluarkan amplopnya.

Kertas tersebut sudah kusimpan terpisah sebagai bagian dari catatan perkara yang pernah kuhadapi.

Aku memandang kotak kosong itu beberapa saat.

Setahun lalu, aku mengira hadiah tersebut adalah awal dari berakhirnya hidupku.

Namun, ternyata kotak itu membuka rahasia yang membuatku berhenti mempercayakan seluruh keputusanku kepada seseorang hanya karena dia adalah suamiku.

Aku menutup kotak tersebut.

Kemudian berjalan menuju kamar Aluna.

Putriku tertidur pulas dengan kedua tangan terangkat di samping kepala.

Aku membetulkan selimutnya dan mencium keningnya.

“Tidur yang nyenyak, Sayang.”

Di luar jendela, hujan turun perlahan.

Aku tersenyum.

Dulu, aku pernah berpikir bahwa menjadi istri yang baik berarti selalu memahami keputusan suami, bahkan ketika keputusan itu membuatku terluka.

Namun, sekarang aku tahu bahwa pernikahan bukan alasan bagi seseorang untuk mengambil hak pasangannya.

Tanggung jawab tidak bisa dibangun dengan kebohongan.

Dan niat membantu orang lain tidak membenarkan tindakan yang menyakiti keluarga sendiri.

Aku mungkin belum mengetahui bagaimana akhir pernikahanku dengan Arga.

Tetapi satu hal sudah pasti.

Aku tidak akan membiarkan rasa takut kehilangan seseorang membuatku kehilangan kendali atas hidupku sendiri.

Karena sejak Aluna lahir, aku belajar bahwa cinta yang benar tidak hanya melindungi orang lain.

Cinta yang benar juga harus berani melindungi diri sendiri.

Dan itulah warisan paling berharga yang ingin kuberikan kepada putriku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang