Sehari Setelah Kami Resmi Bercerai, Mantan Suamiku Seharusnya Menikahi

Perempuan dalam rekaman kamera pengawas itu adalah Selma.

Calon istri Arga.

Aku mengenalinya bukan hanya dari wajah, melainkan juga dari gelang emas berbentuk daun yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Gelang itu pernah kulihat ketika Selma datang ke rumah kami enam bulan lalu sebagai rekan bisnis Arga.

Saat itu, aku belum tahu bahwa hubungan mereka telah berkembang jauh melampaui pekerjaan.

“Bu Nadira, Anda yakin?” tanya Inspektur Bagas.

Aku mengangguk.

“Namanya Selma Putri. Dia perempuan yang seharusnya menikah dengan Arga hari ini.”

Bagas menatap foto tersebut.

“Menarik. Dalam laporan kehilangan yang dibuat Selma pagi tadi, dia mengaku terakhir berkomunikasi dengan Arga melalui telepon kemarin malam. Dia tidak menyebutkan pertemuan di rumah sakit.”

Aku langsung terdiam.

Berarti Selma telah menyembunyikan sesuatu dari polisi.

Bagas meminta petugas memeriksa kembali keterangannya. Sementara itu, aku berusaha menyusun urutan kejadian yang selama ini terasa berantakan.

Kemarin pagi, pukul sepuluh, putusan perceraian kami telah berkekuatan hukum tetap dan kami menerima dokumen resminya.

Siang harinya, aku kembali ke apartemen untuk mengambil koper.

Sore itu aku terbang dari Jakarta menuju Singapura, tempat aku sudah memesan kamar hotel untuk berlibur selama seminggu.

Sementara Arga seharusnya menikahi Selma hari ini, setelah perceraian kami selesai.

Namun, menurut rekaman yang baru ditemukan, Arga berada di rumah sakit kemarin malam bersama Selma.

Lalu sejak pagi tadi, keberadaannya tidak diketahui.

“Pak Bagas,” kataku, “apakah Arga benar-benar sempat dirawat di rumah sakit?”

“Belum ada bukti bahwa dia terdaftar sebagai pasien. Tapi mobilnya ditemukan di area parkir gedung lama rumah sakit tersebut.”

Aku mengernyit.

“Gedung lama?”

“Ya. Sebagian lantainya sedang direnovasi. Ada ruang kantor administrasi yang sudah tidak digunakan.”

Aku memandang foto Selma sekali lagi.

Mengapa mereka pergi ke gedung rumah sakit yang hampir kosong pada malam sebelum pernikahan?

Pertanyaan itu belum terjawab ketika seorang petugas masuk.

“Pak, Bu Ratih sudah ditemukan. Beliau berada di rumahnya bersama sopir keluarga.”

Bagas langsung berdiri.

“Bagaimana kondisinya?”

“Aman. Tadi teleponnya terjatuh ketika sopir mencoba menghentikan beliau membicarakan sesuatu yang menurutnya sensitif.”

Aku menghela napas lega.

Setidaknya tidak ada kekerasan seperti yang sempat kubayangkan.

Namun, ucapan Bu Ratih tentang perempuan yang dikira sebagai diriku masih mengganggu pikiran.

Setelah mendapatkan persetujuan penyidik, aku diminta datang kembali esok pagi untuk melengkapi keterangan. Malam itu aku pulang ke apartemenku di Jakarta.

Aku hampir tidak tidur.

Sekitar pukul enam pagi, sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Nadira, kalau polisi sudah menemukan Selma dalam rekaman, jangan percaya semua yang dia katakan. Ada dokumen yang harus kamu lihat. Arga.

Aku langsung duduk tegak.

Nomor itu tidak kukenal.

Aku mencoba menelepon, tetapi panggilan tidak tersambung.

Pesan tersebut segera kuteruskan kepada Bagas.

Tidak sampai satu jam kemudian, aku sudah berada di kantor polisi.

“Pesan itu belum tentu dikirim Arga,” jelas Bagas. “Kami sedang menelusuri sumbernya melalui prosedur yang berlaku.”

Aku mengangguk.

“Apakah Selma sudah diperiksa lagi?”

“Sudah. Dia mengakui bertemu Arga di rumah sakit, tetapi mengatakan mereka hanya membahas masalah pribadi.”

“Kenapa sebelumnya dia berbohong?”

“Menurutnya, dia takut dicurigai karena pertengkaran mereka malam itu.”

Aku memandang Bagas.

“Pertengkaran apa?”

Bagas menarik napas.

“Arga ingin membatalkan pernikahan.”

Aku membeku.

“Padahal dia sendiri yang mendesak agar perceraian kami segera selesai?”

“Itulah yang sedang kami dalami.”

Beberapa saat kemudian, Bagas memperlihatkan salinan dokumen yang ditemukan di mobil Arga.

Di dalamnya terdapat catatan transaksi dari sebuah perusahaan bernama Mahendra Sentosa Logistics, perusahaan keluarga yang selama ini dikelola Arga bersama ayahnya.

Aku mengenal perusahaan itu.

Selama lima tahun menikah, aku sering membantu Arga memeriksa laporan keuangan ketika bisnisnya sedang kesulitan.

Namun, aku tidak pernah menjadi pengurus perusahaan.

“Apakah Anda mengenal perusahaan bernama Lentera Konsultan?” tanya Bagas.

Aku menggeleng.

“Belum pernah.”

“Perusahaan itu menerima sejumlah pembayaran dari Mahendra Sentosa selama dua tahun terakhir. Sebagian transaksi sedang diperiksa karena dokumen pendukungnya tidak lengkap.”

Aku menatap angka yang tercantum pada laporan.

Nilainya puluhan miliar rupiah.

“Siapa pemilik Lentera?”

“Secara administratif, seorang pria bernama Kevin Prasetyo.”

Aku terdiam.

Kevin adalah kakak kandung Selma.

Aku pernah bertemu dengannya dalam acara keluarga Arga.

“Pak, Kevin itu kakaknya Selma.”

Bagas mengangguk.

“Kami sudah mendapatkan informasi tersebut.”

Dadaku terasa semakin sesak.

Jadi hubungan Selma dengan Arga bukan hanya tentang perselingkuhan atau rencana pernikahan.

Ada kepentingan bisnis yang jauh lebih besar di belakangnya.

Menjelang siang, polisi mendapatkan rekaman tambahan dari kamera parkir rumah sakit.

Rekaman itu menunjukkan Arga dan Selma masuk ke gedung administrasi pukul sembilan malam.

Sekitar empat puluh menit kemudian, Selma keluar sendirian.

Dia terlihat menelepon seseorang sambil berjalan cepat menuju mobil lain.

Arga tidak terlihat keluar melalui pintu yang sama.

Namun, kamera di sisi belakang gedung sedang tidak berfungsi karena renovasi.

Tidak ada bukti yang menunjukkan ke mana dia pergi.

Ketika aku melihat rekaman tersebut, sesuatu mendadak terlintas dalam pikiranku.

“Pak Bagas, apakah gedung lama itu pernah digunakan perusahaan keluarga Arga?”

Bagas menoleh.

“Maksud Anda?”

“Beberapa tahun lalu, Mahendra Sentosa pernah menyewa ruangan administrasi di sebuah rumah sakit untuk mengelola distribusi alat kesehatan.”

Bagas langsung mencatat.

“Apakah Anda tahu siapa yang mengurus kontraknya?”

“Arga. Tapi saya tidak ingat apakah rumah sakitnya sama.”

Informasi itu akhirnya memberikan arah baru bagi penyelidikan.

Sore harinya, aku menerima telepon dari Bu Ratih.

Kali ini suaranya jauh lebih tenang.

“Nadira, Ibu ingin minta maaf soal telepon kemarin.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Kenapa Ibu bilang Arga sakit?”

Bu Ratih terdiam.

“Karena seseorang menghubungi Ibu dan mengatakan Arga sedang dirawat di rumah sakit. Dia meminta Ibu menghubungimu.”

“Siapa?”

“Selma.”

Aku memejamkan mata.

“Selma sendiri yang mengatakan itu?”

“Iya. Tapi waktu polisi datang pagi harinya, dia justru memintaku tidak mengatakan apa-apa.”

Aku menarik napas panjang.

“Kenapa Ibu menurutinya?”

“Karena Selma bilang kalau masalah ini terbongkar, perusahaan keluarga akan hancur.”

Aku terdiam.

Bu Ratih mulai menangis.

“Ibu takut kehilangan Arga. Tapi sekarang Ibu sadar, diam justru membuat semuanya semakin buruk.”

Aku menatap jendela apartemen.

“Bu, kalau Ibu tahu sesuatu tentang perusahaan, tolong sampaikan kepada polisi. Jangan sembunyikan lagi.”

Beliau mengangguk meskipun aku tidak bisa melihatnya.

Setelah panggilan berakhir, aku duduk cukup lama sambil memikirkan uang Rp2,75 miliar yang hendak ditransfer Arga kepadaku.

Mengapa dia menyiapkan uang sebesar itu?

Jawabannya datang dua hari kemudian.

Bagas menghubungiku dan meminta aku datang ke kantor penyidik bersama penasihat hukumku.

Di sana, aku diperlihatkan salinan perjanjian lama yang ditandatangani Arga.

Ternyata uang Rp2,75 miliar merupakan nilai bagian dari penyelesaian pembagian harta yang seharusnya menjadi hakku.

Namun, jumlah tersebut belum dibayarkan karena Arga meminta tenggat tambahan untuk mencairkan aset tertentu.

Aku langsung mengingat percakapan terakhir kami sebelum perceraian.

Arga pernah berkata bahwa dia akan menyelesaikan seluruh kewajiban keuangan setelah urusan administrasi selesai.

Aku mengira dia hanya sedang mencari alasan untuk menunda.

Ternyata dia memang menyiapkan pembayarannya.

Namun, ada bagian lain yang membuatku terkejut.

Di dalam surat pernyataan yang ditemukan di mobil, Arga menulis bahwa dia khawatir dokumen transfer tersebut akan digunakan untuk menuduhku menerima uang hasil transaksi perusahaan yang sedang diselidiki.

Dia ingin memastikan sumber pembayaran dapat dibuktikan berasal dari penjualan aset pribadinya.

Aku memandang Bagas.

“Jadi Arga sengaja menuliskan bahwa saya tidak tahu apa-apa?”

“Diduga begitu. Tetapi kami tetap perlu memastikan keterangannya langsung.”

Aku menelan ludah.

“Kalau dia masih hidup.”

Bagas menatapku dengan serius.

“Kami masih melakukan pencarian.”

Dua hari berikutnya terasa sangat panjang.

Polisi memeriksa sejumlah saksi, termasuk Kevin dan pihak perusahaan.

Sementara itu, aku mulai memahami alasan sebenarnya Arga begitu terburu-buru menyelesaikan perceraian kami.

Dia kemungkinan sudah mengetahui adanya masalah besar dalam bisnis keluarganya.

Dan dia ingin memisahkan urusan keuanganku dari persoalan tersebut sebelum semuanya terbongkar.

Namun, satu pertanyaan tetap membuatku marah.

Kalau benar dia ingin melindungiku, mengapa dia tidak berkata jujur sejak awal?

Mengapa dia justru berselingkuh, lalu menggunakan rencana pernikahan baru sebagai alasan untuk mempercepat perceraian?

Aku akhirnya mendapatkan kesempatan menanyakan semuanya seminggu setelah Arga menghilang.

Pagi itu, Bagas meneleponku.

“Bu Nadira, Arga sudah ditemukan.”

Aku langsung berdiri.

“Di mana?”

“Dia datang sendiri ke kantor polisi bersama seorang pengacara.”

Aku membeku.

“Dia masih hidup?”

“Iya. Kondisinya baik, meskipun terlihat sangat kelelahan.”

Aku menutup mata.

Rasa lega muncul begitu tiba-tiba sampai aku hampir menangis.

Namun, perasaan itu segera berubah menjadi kemarahan.

Selama seminggu, semua orang mencarinya.

Ibunya menangis.

Polisi memeriksa berbagai kemungkinan.

Dan aku terpaksa membatalkan liburan untuk kembali ke Indonesia.

Sementara dia ternyata masih hidup.

Ketika akhirnya kami bertemu di ruang pemeriksaan, Arga terlihat jauh lebih kurus.

Dia berdiri begitu melihatku masuk.

“Nadira…”

Aku menatapnya dingin.

“Kamu tahu berapa banyak orang yang mencarimu?”

Dia menunduk.

“Aku tahu.”

“Kamu juga tahu ibumu sampai menangis karena mengira sesuatu terjadi padamu?”

“Iya.”

Aku menarik napas panjang.

“Lalu kenapa kamu menghilang?”

Arga duduk perlahan.

“Malam itu aku bertemu Selma untuk membatalkan pernikahan kami.”

Aku terdiam.

“Kenapa?”

“Karena aku menemukan bukti bahwa Kevin menggunakan hubungan kami untuk mendapatkan akses ke beberapa transaksi perusahaan.”

Arga menjelaskan bahwa awalnya dia percaya Selma benar-benar mencintainya. Namun, beberapa bulan sebelum perceraian, dia menemukan sejumlah transaksi yang melibatkan Lentera Konsultan.

Ketika meminta penjelasan, Selma mengatakan semuanya merupakan kerja sama bisnis biasa.

Tetapi setelah memeriksa dokumen lebih jauh, Arga mulai menemukan ketidaksesuaian.

“Aku takut kalau membicarakannya terlalu cepat, bukti akan hilang,” katanya.

Aku memandangnya.

“Itu nggak menjelaskan kenapa kamu meninggalkanku.”

Arga menunduk.

“Karena aku memang berselingkuh, Nadira. Aku nggak bisa menggunakan masalah bisnis untuk membenarkan pengkhianatanku.”

Aku terdiam.

Untuk pertama kalinya, dia tidak mencoba menyalahkan keadaan.

“Aku mencintai Selma waktu itu,” lanjutnya. “Setidaknya, aku pikir begitu. Tapi setelah tahu dia menyembunyikan transaksi perusahaan, aku mulai mempertanyakan semuanya.”

“Dan kamu baru menyadarinya setelah menceraikanku?”

Air matanya jatuh.

“Aku menyadarinya terlalu terlambat.”

Aku menatapnya lama.

“Lalu malam di rumah sakit?”

“Selma meminta bertemu di gedung administrasi lama karena dia bilang ingin memberikan dokumen yang disimpan Kevin. Tapi setelah kami bertengkar, dia pergi.”

“Dan kamu?”

“Aku keluar melalui pintu belakang. Aku menemui seseorang yang sebelumnya membantuku memeriksa transaksi.”

“Siapa?”

“Seorang auditor independen.”

Aku mengerutkan kening.

“Kenapa kamu tidak langsung melapor?”

“Aku takut bukti yang kubawa belum cukup. Aku juga takut Kevin mengetahui keberadaanku sebelum dokumen diamankan.”

Bagas yang mendampingi pembicaraan kemudian menjelaskan bahwa alasan Arga menghilang masih diperiksa. Tindakannya tidak otomatis dapat dibenarkan hanya karena dia mengaku sedang mengumpulkan bukti.

Arga mengangguk.

“Aku bersedia bertanggung jawab.”

Aku menarik napas panjang.

“Dan uang Rp2,75 miliar?”

“Itu hakmu dari penyelesaian pembagian harta. Aku ingin menyelesaikannya sebelum urusan perusahaan menjadi lebih rumit.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, selesaikan melalui pengacara.”

Arga menatapku.

“Nadira, aku tahu semua ini nggak akan mengubah apa yang sudah kulakukan.”

Aku tersenyum pahit.

“Memang nggak.”

Dia menghapus air mata.

“Aku cuma ingin kamu tahu bahwa aku menyesal.”

Aku berdiri.

“Arga, selama lima tahun aku menunggu kamu berbicara jujur. Tapi bahkan ketika ingin melindungiku, kamu masih memilih mengambil keputusan sendiri dan meninggalkanku dalam kebingungan.”

Dia menunduk.

“Aku salah.”

“Kamu mungkin punya alasan untuk takut. Tapi aku juga punya hak mengetahui kenyataan yang memengaruhi hidupku.”

Aku mengambil tas.

“Dan sekarang, aku memilih hidup tanpa harus terus menunggu penjelasan darimu.”

Setelah itu, aku pergi.

Beberapa bulan kemudian, pemeriksaan terhadap transaksi Mahendra Sentosa masih berlangsung. Sejumlah pihak dimintai keterangan, termasuk Kevin dan Selma.

Aku tidak mengikuti setiap perkembangannya.

Penasihat hukumku hanya memastikan bahwa penyelesaian pembagian harta dilakukan sesuai perjanjian dan seluruh kewajiban yang sah dipenuhi.

Sementara itu, aku mulai kembali menjalani kehidupan yang sempat tertunda.

Aku mengambil liburan baru.

Kali ini benar-benar sendirian.

Aku memilih sebuah kota kecil di Bali, jauh dari keramaian dan urusan keluarga Mahendra.

Suatu pagi, ketika sedang duduk di tepi pantai, aku menerima pesan dari Bu Ratih.

Nadira, Ibu hanya ingin mengucapkan terima kasih. Ibu akhirnya belajar bahwa menjaga nama baik keluarga tidak boleh dilakukan dengan menyembunyikan kebenaran.

Aku tersenyum kecil.

Kemudian membalas singkat.

Semoga Ibu selalu sehat.

Aku meletakkan ponsel dan kembali memandang laut.

Dulu, aku mengira perceraian adalah akhir dari seluruh rencana hidupku.

Aku kehilangan lelaki yang pernah kucintai.

Kehilangan rumah tangga yang kubangun selama lima tahun.

Bahkan setelah resmi berpisah, aku masih harus menghadapi masalah yang ditinggalkannya.

Namun, sekarang aku mulai memahami sesuatu.

Seseorang tidak harus menjadi penjahat sepenuhnya untuk membuat kita terluka.

Arga mungkin pernah berusaha melindungiku dari persoalan bisnis keluarganya.

Tetapi dia juga telah mengkhianatiku, menyembunyikan banyak hal, dan mengambil keputusan tanpa menghormati hakku untuk mengetahui kebenaran.

Kedua kenyataan itu bisa ada bersamaan.

Dan aku tidak lagi merasa harus memilih salah satunya agar bisa melanjutkan hidup.

Sore itu, aku berjalan menyusuri pantai sampai matahari mulai tenggelam.

Ponselku bergetar sekali lagi.

Sebuah pesan masuk dari Arga.

Aku sudah menyelesaikan kewajiban pembayaran melalui pengacara. Terima kasih karena pernah menjadi bagian terbaik dalam hidupku.

Aku membacanya.

Kemudian menghapus notifikasi tanpa membalas.

Bukan karena membencinya.

Melainkan karena kisah kami memang sudah selesai.

Aku menatap langit yang berubah jingga.

Sehari setelah perceraian, aku pernah dipaksa kembali menghadapi rahasia mantan suamiku.

Namun, setelah semua kebenaran terbongkar, aku akhirnya mendapatkan sesuatu yang selama lima tahun hampir tidak pernah kurasakan.

Ketenangan.

Aku tidak perlu lagi menebak-nebak mengapa seseorang pergi.

Tidak perlu menunggu panggilan yang tidak kunjung datang.

Dan tidak perlu merasa bersalah karena memilih diriku sendiri.

Karena ternyata, kebebasan bukan hanya tentang meninggalkan hubungan yang sudah berakhir.

Kebebasan juga berarti berhenti membiarkan masa lalu menentukan bagaimana kita menjalani hari esok.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang