AKU DATANG KE KANTOR SUAMIKU MEMBAWA KEJUTAN, TAPI SATPAM MALAH

Pukul enam pagi, ketika Reza masih tertidur pulas di kamar kami, aku sudah duduk di ruang makan sambil memandangi foto perempuan misterius yang dikirimkan kepadaku semalam.

Di belakang foto itu terlihat logo lama perusahaan Reza. Perempuan tersebut mengenakan blazer cokelat dan sedang menandatangani sesuatu.

Namun, yang membuatku semakin gelisah adalah sebuah gelang emas tipis di pergelangan tangannya.

Aku pernah melihat gelang itu.

Tiga tahun lalu, saat menghadiri acara ulang tahun perusahaan Reza, aku sempat berbincang dengan seorang perempuan bernama Maya. Dia memperkenalkan diri sebagai mantan konsultan keuangan perusahaan.

Setelah malam itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.

Aku langsung mencari namanya melalui media sosial.

Akunnya masih aktif, tetapi unggahan terakhir dibuat hampir setahun lalu.

Dengan jantung berdebar, aku mengirimkan pesan.

“Bu Maya, saya Kirana, istri Reza Aditya. Saya ingin menanyakan sesuatu mengenai dokumen perusahaan tiga tahun lalu.”

Aku tidak berharap mendapat balasan secepat itu.

Namun, lima menit kemudian, ponselku bergetar.

“Bu Kirana, akhirnya Ibu menghubungi saya. Tolong jangan beri tahu Reza.”

Tanganku langsung dingin.

Kami sepakat bertemu sore hari di kantor Pak Hendra.

Sementara itu, Reza bangun sekitar pukul tujuh.

Dia keluar kamar mengenakan kemeja putih yang baru kusetrika semalam.

“Sayang, doakan ya. Hari ini penting banget.”

Aku menatapnya sambil mengaduk teh.

“Pertemuan dengan investor?”

“Iya. Kalau berhasil, kita bisa membeli rumah yang lebih besar.”

Aku hampir tertawa.

Rumah yang sekarang kami tempati saja hendak digunakannya sebagai jaminan tanpa izinku.

Namun, aku hanya tersenyum.

“Semoga semuanya berjalan sesuai kenyataan, Mas.”

Reza mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

“Nggak apa-apa. Hati-hati di jalan.”

Begitu mobilnya meninggalkan halaman, aku segera berangkat menuju kantor Pak Hendra.

Di sana sudah menunggu seorang pengacara bernama Bu Ratna dan perwakilan dari pihak pembiayaan.

Pak Hendra menjelaskan bahwa pemberitahuan keberatanku sudah diterima. Proses verifikasi dokumen yang menggunakan namaku ditunda sampai keaslian persetujuan dapat dipastikan.

Aku menghela napas lega.

“Berarti rumah saya aman?”

“Untuk pengajuan ini, belum ada pembebanan jaminan yang sah atas rumah Ibu berdasarkan dokumen yang kami periksa,” jawab Bu Ratna. “Tetapi kita tetap harus memastikan tidak ada pengajuan lain.”

Aku mengangguk.

Kemudian Pak Hendra menunjukkan salinan tanda tangan yang tercantum dalam berkas.

“Bu Kirana, ini tampaknya diambil dari dokumen lama.”

Aku memperhatikan bentuk huruf terakhir namaku.

Tiga tahun lalu, aku pernah menandatangani surat persetujuan penggunaan rumah sebagai alamat korespondensi perusahaan Reza.

Namun, surat tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan pembiayaan.

“Mas Reza menyimpan salinannya,” kataku pelan.

Bu Ratna mengangguk.

“Itu perlu diperiksa lebih lanjut. Kita tidak boleh langsung menyimpulkan siapa yang menempelkan tanda tangan tersebut.”

Siang harinya, aku menerima telepon dari Fikri.

Suaranya terdengar panik.

“Kirana, kamu melakukan sesuatu terhadap pengajuan pembiayaan?”

Aku terdiam sebentar.

“Kenapa?”

“Pertemuan investor baru selesai. Pihak pembiayaan meminta klarifikasi mengenai dokumen penjamin. Reza marah besar.”

Aku menatap jendela.

“Bagus. Berarti mereka akhirnya memeriksa siapa yang benar-benar memberikan persetujuan.”

Fikri menarik napas panjang.

“Kirana, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

“Apa?”

“Reza mengira kamu sudah menyetujui pengajuan itu. Tapi waktu aku tanya siapa yang menyerahkan persetujuanmu, dia malah menyuruhku diam.”

Aku memejamkan mata.

“Fikri, aku tidak pernah menandatangani berkas itu.”

Di seberang telepon terdengar keheningan.

Kemudian Fikri berkata pelan, “Kalau begitu, masalahnya jauh lebih serius daripada yang kupikirkan.”

Sore harinya, Maya datang ke kantor Pak Hendra.

Perempuan itu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir kami bertemu.

Begitu duduk, dia langsung mengeluarkan sebuah map.

“Saya sudah menunggu tiga tahun untuk bisa menjelaskan ini.”

Aku menatapnya.

“Kenapa harus menunggu?”

Maya menarik napas panjang.

“Karena dulu saya takut.”

Dia menjelaskan bahwa tiga tahun lalu, ketika perusahaan Reza mengalami kesulitan keuangan, dirinya diminta membantu menyiapkan dokumen pembiayaan untuk sebuah proyek desain hotel.

Saat itu, ada seorang investor perempuan bernama Lestari yang bersedia memberikan dana dengan jaminan sebuah rumah milik keluarganya.

Namun, menurut Maya, dokumen penggunaan dana yang dijelaskan kepada Lestari tidak sama dengan pencairan yang kemudian terjadi.

“Sebagian dana ternyata dipindahkan ke perusahaan lain,” kata Maya.

“Perusahaan siapa?”

“Perusahaan yang saat itu dikendalikan seorang konsultan keuangan bernama Hendra Wijaya.”

Aku langsung menoleh kepada Pak Hendra.

Beliau menggeleng.

“Bukan saya, Bu Kirana. Nama lengkap orang itu berbeda.”

Maya melanjutkan bahwa Hendra Wijaya membantu Reza merancang sejumlah transaksi pembiayaan. Ketika proyek hotel gagal, Lestari menghadapi sengketa jaminan rumahnya.

“Lestari kehilangan rumah?” tanyaku.

Maya mengangguk sedih.

“Rumah itu akhirnya dijual setelah kewajibannya tidak dapat diselesaikan. Tapi perkara mengenai penjelasan awal dan penggunaan dananya masih disengketakan.”

Dadaku terasa sesak.

“Kenapa saya baru mengetahui semuanya sekarang?”

“Karena waktu itu saya diminta menandatangani perjanjian kerahasiaan setelah mengundurkan diri. Saya takut salah bicara dan dituntut.”

Maya menunduk.

“Tapi ketika mengetahui nama Ibu muncul dalam pengajuan baru, saya merasa tidak bisa diam lagi.”

Aku memandangnya lama.

“Jadi Ibu yang mengirim email semalam?”

Maya mengangguk.

“Saya minta maaf karena tidak berani menyebut nama secara langsung.”

Kemudian dia membuka sebuah dokumen lama.

Di halaman terakhir terdapat nama seseorang yang membuatku membeku.

Nadine Larasati.

Aku mengangkat kepala.

“Bukankah Nadine baru bekerja di perusahaan setahun lalu?”

Maya menggeleng.

“Dia memang kembali bekerja setahun lalu. Tapi tiga tahun sebelumnya, dia sudah terlibat sebagai perantara proyek milik Hendra Wijaya.”

Aku merasa dunia seolah berhenti berputar.

Jadi Nadine bukan sekadar mantan kekasih yang kembali muncul dalam kehidupan suamiku.

Dia juga memiliki hubungan bisnis dengan orang yang pernah terlibat dalam perkara pembiayaan bermasalah.

“Reza tahu?” tanyaku.

Maya menatapku dengan sedih.

“Setahu saya, mereka bertiga saling mengenal sejak proyek hotel itu.”

Aku terdiam lama.

Selama ini, Reza selalu mengatakan Nadine kembali ke kota karena mengalami kesulitan setelah bercerai.

Ternyata ada bagian penting dari hubungan mereka yang sengaja tidak pernah diceritakan kepadaku.

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah.

Aku menginap di tempat ayahku.

Sekitar pukul sembilan, Reza menelepon berkali-kali.

Akhirnya aku mengangkatnya.

“Kirana! Kamu yang menghentikan proses pembiayaan?”

“Iya.”

“Kamu sadar nggak berapa besar kerugian yang bisa terjadi?”

Aku menarik napas panjang.

“Aku sadar betapa besar kerugian yang mungkin terjadi kalau asetku dijadikan jaminan tanpa persetujuan.”

Reza terdiam.

Kemudian suaranya melembut.

“Sayang, aku cuma ingin membangun masa depan kita.”

“Bersama Nadine?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan, “Dan menggunakan rumah serta uang peninggalan ibuku?”

“Kirana, jangan campur masalah pribadi dengan bisnis!”

Aku tertawa hambar.

“Kamu yang mencampurnya sejak awal, Mas.”

Reza menghela napas.

“Pulang dulu. Kita bicara baik-baik.”

“Aku akan bicara. Tapi bukan berdua saja.”

Keesokan harinya, kami bertemu di kantor Bu Ratna.

Reza datang bersama Nadine.

Aku sama sekali tidak terkejut.

Yang membuatku terkejut justru sikap Nadine.

Dia berjalan masuk dengan percaya diri, lalu duduk tepat di samping suamiku.

Seolah tempat itu memang miliknya.

Bu Ratna membuka pertemuan dengan menunjukkan beberapa dokumen.

“Kami ingin meminta penjelasan mengenai penggunaan data pribadi Bu Kirana dalam pengajuan pembiayaan.”

Reza langsung berkata, “Itu hanya kesalahan administrasi.”

Aku menatapnya.

“Kalau kesalahan administrasi, kenapa tanda tanganku muncul pada dokumen yang tidak pernah kubaca?”

Nadine segera menyela.

“Bu Kirana, mungkin Ibu lupa pernah memberikan persetujuan.”

Aku tersenyum tipis.

“Nadine, saya lupa banyak hal kecil. Tapi saya tidak mungkin lupa pernah mempertaruhkan rumah peninggalan ibu saya.”

Wajahnya berubah.

Bu Ratna kemudian memperlihatkan salinan dokumen tiga tahun lalu.

“Nadine, apakah Anda mengenal Hendra Wijaya?”

Perempuan itu langsung membeku.

Reza menoleh kepadanya.

“Jawab saja,” kataku.

Nadine menggenggam ujung tasnya.

“Dia dulu konsultan proyek.”

“Dan Anda bekerja dengannya?”

“Iya.”

“Kenapa informasi itu tidak pernah disebutkan ketika Anda kembali bergabung dengan perusahaan Reza?”

Nadine menunduk.

Reza akhirnya berbicara.

“Karena aku yang memintanya.”

Aku memandang suamiku.

“Kenapa?”

Dia menutup wajah dengan kedua tangan.

“Karena aku takut kamu salah paham.”

Aku tertawa getir.

“Mas, selama enam tahun kamu selalu menggunakan kalimat itu setiap kali menyembunyikan sesuatu.”

Reza akhirnya mengaku bahwa perusahaan utamanya sedang mengalami masalah likuiditas. Dia berharap proyek baru melalui PT Nara Cipta Investama bisa menyelamatkan bisnisnya.

Namun, karena beberapa kewajiban lama belum terselesaikan, perusahaan tersebut kesulitan mendapatkan pembiayaan.

“Makanya aku membutuhkan jaminan tambahan,” katanya.

“Jaminan dari rumahku?”

Reza menunduk.

“Aku berniat memberitahumu setelah semuanya pasti.”

Aku menggeleng.

“Bukan setelah semuanya pasti, Mas. Setelah semuanya terlambat untuk kutolak.”

Nadine tiba-tiba menangis.

“Aku juga nggak ingin keadaannya seperti ini.”

Aku menoleh kepadanya.

“Tapi kamu tetap membiarkan pegawai memanggilmu sebagai istri Reza.”

Ruangan mendadak sunyi.

Reza langsung mengangkat wajah.

“Apa?”

Aku menatapnya.

“Satpam kantormu menyebut Nadine sebagai Bu Bos, istrimu.”

Wajah Reza pucat.

Nadine buru-buru menyela.

“Itu cuma salah paham pegawai baru.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Aku juga mendengar kalian membicarakan masa depan bersama setelah dana investor masuk.”

Reza tidak menjawab.

Nadine mulai menangis semakin keras.

Akhirnya, suamiku berkata pelan, “Aku memang memiliki hubungan dengan Nadine lagi.”

Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menembus dadaku.

Meskipun sudah mencurigainya, mendengar pengakuan langsung tetap membuatku sulit bernapas.

“Sejak kapan?”

Reza menunduk.

“Delapan bulan lalu.”

Aku memejamkan mata.

Delapan bulan.

Delapan bulan aku masih menyiapkan makan malam untuknya.

Delapan bulan aku masih mengingatkan dia minum obat ketika sakit.

Delapan bulan aku masih percaya bahwa kami sedang berjuang membangun rumah tangga yang sama.

Padahal, dia sudah merencanakan kehidupan lain.

Aku mengusap air mata.

“Baik. Sekarang aku tahu.”

Reza langsung mendekat.

“Kirana, aku minta maaf.”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan.”

Dia berhenti.

“Aku nggak datang untuk mendengar alasan kenapa kamu berselingkuh. Aku datang untuk memastikan asetku tidak digunakan tanpa izin.”

Bu Ratna kemudian menjelaskan bahwa persoalan penggunaan dokumen akan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan resmi.

Reza diminta menyerahkan seluruh salinan berkas dan memberikan keterangan mengenai proses pembuatannya.

Sementara itu, aku meminta agar seluruh komunikasi selanjutnya dilakukan melalui penasihat hukum.

Pertemuan berakhir tanpa pelukan atau permintaan maaf yang langsung kuterima.

Namun, sebelum pergi, Nadine menghampiriku.

“Kirana, aku tahu kamu membenciku.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak punya waktu untuk membencimu, Nadine.”

Dia terdiam.

“Aku hanya ingin kamu berhenti menggunakan kebohongan untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hakmu.”

Nadine menunduk.

Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki jawaban.

Beberapa minggu berikutnya menjadi masa yang melelahkan.

Aku mengumpulkan dokumen kepemilikan rumah, catatan rekening, serta bukti komunikasi yang berkaitan dengan pembiayaan.

Aku juga mulai mempersiapkan proses perceraian.

Ayah mendampingiku tanpa memaksakan keputusan apa pun.

Suatu malam, ketika aku sedang membereskan barang-barang pribadi, Ayah menghampiriku.

“Kirana, kamu masih ingin mempertahankan pernikahan itu?”

Aku terdiam lama.

Kemudian menggeleng.

“Aku nggak tahu harus mempertahankan apa lagi, Yah.”

Ayah mengangguk.

“Kamu nggak harus mengambil keputusan hanya karena marah. Tapi kamu juga nggak wajib bertahan hanya karena sudah menikah enam tahun.”

Air mataku jatuh.

Aku memeluknya erat.

Tiga bulan kemudian, hasil pemeriksaan internal menemukan ketidaksesuaian dalam penggunaan dokumen persetujuan atas namaku.

Perusahaan pembiayaan tidak melanjutkan pengajuan tersebut.

Sementara dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan data ditangani melalui prosedur hukum yang berlaku.

Aku tidak kehilangan rumah peninggalan ibuku.

Dana hasil penjualan tanah juga tetap berada dalam rekening pribadiku.

Namun, yang paling berarti bukanlah uang itu sendiri.

Melainkan kenyataan bahwa aku berhasil mempertahankan hak untuk menentukan bagaimana aset tersebut digunakan.

Proses perceraian berlangsung beberapa bulan.

Reza sempat memintaku mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.

Dia mengatakan hubungannya dengan Nadine sudah berakhir.

Namun, aku tidak lagi ingin menjadi orang yang harus menunggu sampai laki-laki itu kehabisan pilihan sebelum kembali mengingat istrinya.

Ketika putusan perceraian akhirnya selesai, aku menangis.

Bukan karena menyesal.

Melainkan karena aku pernah benar-benar mencintainya.

Aku pernah membayangkan kami membesarkan anak bersama.

Aku pernah berharap bisa menemaninya sampai tua.

Namun, kini aku memahami bahwa kenangan baik tidak cukup untuk menghapus pengkhianatan yang dilakukan secara sadar.

Setahun kemudian, aku membuka sebuah studio desain kecil di Bandung.

Aku menggunakan sebagian dana hasil penjualan tanah untuk membangun usaha atas namaku sendiri.

Aku mempekerjakan beberapa desainer muda dan mulai menerima proyek renovasi rumah sederhana.

Suatu sore, Fikri datang berkunjung.

Dia membawa dua gelas kopi.

“Bu Bos, sekarang benar-benar jadi bos, ya.”

Aku tertawa.

“Jangan panggil begitu. Aku masih belajar.”

Fikri tersenyum.

“Justru itu yang membuatmu berbeda.”

Kami duduk di ruang tamu studio sambil membicarakan perkembangan pekerjaan.

Aku kemudian bertanya tentang perusahaan Reza.

Fikri terdiam sebentar.

“Bisnisnya masih berjalan, tapi jauh lebih kecil. Beberapa proyek dihentikan setelah masalah pembiayaan kemarin.”

Aku mengangguk.

“Bagaimana dengan Nadine?”

“Sudah nggak bekerja di sana.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Tidak semua cerita masa lalu perlu terus diikuti sampai halaman terakhir.

Malam itu, ketika hendak pulang, aku menerima sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Foto aku dan Reza saat pertama kali membuka kantornya enam tahun lalu.

Kami berdiri di depan ruko kecil dengan cat dinding yang belum selesai.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan Reza.

“Aku dulu punya seseorang yang percaya padaku ketika aku belum punya apa-apa. Sayangnya, aku baru sadar nilainya setelah kehilangan dia.”

Aku memandang foto itu cukup lama.

Kemudian meletakkannya ke dalam laci.

Aku tidak membalas pesan tersebut.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Melainkan karena aku tidak lagi membutuhkan pengakuannya untuk mengetahui bahwa kepercayaanku dulu memang berharga.

Sebelum keluar, aku mematikan lampu studio.

Di dekat pintu terdapat papan nama kecil bertuliskan Kirana Living Studio.

Aku tersenyum.

Setahun lalu, aku datang ke kantor suamiku membawa kejutan berupa rencana memberikan dana hampir enam miliar rupiah untuk membantu bisnisnya.

Aku mengira uang itu akan menjadi awal dari masa depan yang lebih baik bagi kami.

Namun, hari itu justru memperlihatkan bahwa ada seseorang yang sudah merencanakan masa depan tanpa melibatkanku sebagai pasangan.

Aku mungkin kehilangan suami.

Aku kehilangan rumah tangga yang kubangun selama enam tahun.

Namun, aku tidak kehilangan hak untuk menentukan hidupku sendiri.

Aku tidak kehilangan rumah peninggalan ibu.

Dan yang paling penting, aku tidak kehilangan keberanian untuk memulai kembali.

Di luar, hujan mulai turun membasahi jalanan Bandung.

Aku membuka payung dan berjalan menuju mobil.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi merasa harus menyelamatkan bisnis seseorang demi membuktikan cintaku.

Aku tidak lagi menunggu suami pulang dengan membawa alasan tentang rapat dan investor.

Aku hanya memikirkan rancangan rumah yang harus kuselesaikan besok pagi.

Rumah milik sebuah keluarga muda yang ingin memiliki ruang bermain untuk anak-anak mereka.

Aku tersenyum membayangkannya.

Dulu, aku selalu sibuk membantu orang lain membangun masa depan sampai lupa bahwa masa depanku sendiri juga berhak diperjuangkan.

Sekarang aku sudah memahami satu hal.

Cinta yang baik tidak menjadikan kepercayaan sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan.

Dan pernikahan seharusnya menjadi tempat dua orang saling menjaga, bukan tempat seseorang diam-diam mempertaruhkan hak pasangannya.

Aku menyalakan mesin mobil.

Di kaca spion, papan nama studionya masih terlihat jelas.

Kirana Living Studio.

Untuk pertama kalinya, namaku berdiri di depan sebuah usaha yang kubangun dengan keputusanku sendiri.

Dan kali ini, aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengakuiku sebagai pemiliknya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang