PUTRAKU MEMILIH PUTRI MANTAN SELINGKUHAN AYAHNYA DAN MEMINTAKU

Malam itu, setelah Arga dan Nadira meninggalkan rumah, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan daripada rancangan pengalihan saham yang dikirim mantan suamiku.

Di bagian belakang dokumen perceraian lama, ada nomor akta yang tidak sesuai dengan salinan resmi milikku.

Aku memeriksanya berulang kali.

Selama dua belas tahun, aku menyimpan seluruh berkas perceraian bersama dokumen pendirian perusahaan. Aku tahu persis kapan perusahaan itu dibagi, aset mana yang menjadi hakku, dan kewajiban apa yang harus diselesaikan Damar.

Namun, dokumen yang dibawa Nadira malam ini memuat satu halaman tambahan.

Halaman yang menyatakan bahwa Damar masih memiliki hak ekonomi atas sebagian saham perusahaanku apabila kepemilikan tersebut dialihkan kepada anak kandung kami.

Aku langsung menelepon Pak Hendra.

“Pak, apa mungkin ada perjanjian tambahan yang tidak tercantum dalam salinan resmi?”

“Bisa saja ada rancangan atau dokumen lain, Bu. Tapi keabsahannya harus diperiksa. Kenapa?”

“Seseorang sedang mencoba menggunakannya untuk mengambil saham perusahaan saya.”

Nada suara Pak Hendra langsung berubah.

“Besok pagi datanglah ke kantor. Bawa semua dokumennya.”

Keesokan harinya, aku tiba sebelum pukul delapan.

Pak Hendra sudah menunggu bersama seorang pengacara bernama Bu Maya.

Setelah membandingkan dokumen yang kubawa dengan arsip resmi, keduanya saling berpandangan.

“Bu Rani,” kata Bu Maya, “halaman tambahan ini tidak tercantum dalam dokumen penyelesaian harta yang tersimpan di arsip kami.”

Aku menegakkan tubuh.

“Berarti palsu?”

“Kami belum bisa langsung menyimpulkan begitu. Tetapi ada ketidaksesuaian yang serius.”

Pak Hendra menunjukkan bagian tanda tangan.

“Tanda tangan Ibu tampaknya merupakan salinan dari dokumen lain. Perhatikan bentuk garis dan posisi tinta yang sama persis.”

Aku merasa tengkukku dingin.

“Jadi Damar mencoba menggunakan tanda tanganku?”

“Itu salah satu dugaan yang perlu diperiksa.”

Aku menarik napas panjang.

Selama dua belas tahun, aku mengira Damar sudah berhenti mengganggu hidupku.

Ternyata dia hanya menunggu kesempatan lain.

Siang itu, aku memanggil kepala keuangan dan sekretaris perusahaan.

Aku meminta pemeriksaan seluruh korespondensi tentang perubahan kepemilikan saham selama enam bulan terakhir.

Hasilnya membuatku semakin gelisah.

Ternyata ada dua permintaan informasi mengenai nilai perusahaan yang dikirim melalui konsultan bisnis.

Salah satu konsultan tersebut pernah bekerja sama dengan Damar.

Permintaan itu disampaikan seolah-olah menjadi bagian dari persiapan pergantian kepemimpinan.

Yang membuat dadaku semakin sesak adalah nama orang yang disebut sebagai calon direktur baru.

Arga Prasetyo.

Putraku sendiri.

Sore harinya, Arga datang ke kantor tanpa membuat janji.

Wajahnya terlihat lelah.

“Bu, aku perlu bicara.”

Aku mempersilahkannya duduk.

“Aku sudah bertengkar dengan Ayah,” katanya.

Aku tetap diam.

“Dia bilang Ibu sengaja membatalkan pengalihan saham supaya aku nggak menikahi Nadira.”

“Dan kamu percaya?”

Arga menunduk.

“Aku nggak tahu harus percaya siapa.”

Aku membuka laci dan mengeluarkan salinan dokumen lama.

“Kalau begitu, lihat ini.”

Arga membaca beberapa halaman.

Semakin lama, wajahnya semakin pucat.

“Ayah mengirim dokumen ini?”

“Iya.”

“Tapi dia bilang dokumen itu memang pernah ditandatangani Ibu.”

Aku menunjuk halaman terakhir.

“Kalau begitu, mengapa salinan resminya tidak memuat klausul tersebut?”

Arga terdiam.

Kemudian dia berkata pelan, “Ayah bilang setelah aku menerima saham, sebagian keuntungan perusahaan bisa digunakan untuk mendirikan usaha bersama.”

“Bersama siapa?”

Arga menelan ludah.

“Ayah dan Tante Ratih.”

Aku memejamkan mata.

Akhirnya, tujuan mereka mulai terlihat.

“Jadi kamu sudah tahu rencana itu?”

“Aku tahu Ayah ingin membuka usaha. Tapi aku nggak tahu dia menganggap punya hak atas saham Ibu.”

Aku memandang putraku cukup lama.

“Arga, kamu boleh membantu ayahmu menggunakan uang yang memang menjadi hakmu. Tapi kamu nggak boleh menjanjikan sesuatu yang belum menjadi milikmu.”

Arga mengangguk.

Namun, tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya.

“Bu, ada sesuatu yang membuatku semakin bingung.”

Dia menunjukkan pesan dari Nadira.

Perempuan itu menulis bahwa ibunya mendesaknya menandatangani perjanjian pranikah yang mengatur pembagian keuntungan dari saham Arga setelah menikah.

Aku membaca pesannya dua kali.

“Apakah Nadira setuju?”

Arga menggeleng.

“Dia menolak. Makanya kami bertengkar dengan Tante Ratih semalam.”

Aku terdiam.

Mungkin aku telah terlalu cepat menganggap Nadira terlibat.

Namun, sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Arga melanjutkan.

“Nadira bilang dia ingin bertemu Ibu tanpa ditemani siapa pun.”

Aku menatap putraku.

“Untuk apa?”

“Katanya dia membawa bukti yang selama ini disembunyikan ibunya.”

Keesokan sore, Nadira datang sendirian.

Tidak ada riasan mencolok di wajahnya. Dia hanya mengenakan kemeja putih sederhana dan celana bahan hitam.

Begitu masuk, dia langsung menunduk.

“Tante, saya minta maaf atas kejadian kemarin.”

Aku mempersilahkannya duduk.

“Kalau kamu datang untuk membicarakan pernikahan, keputusan itu tetap milik kalian.”

Nadira menggeleng.

“Saya datang karena ada hal lain.”

Dia membuka tas dan mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul biru.

“Ini buku lama milik Mama.”

Aku mengernyit.

“Kenapa kamu membawanya?”

“Karena saya menemukan beberapa nama dan angka yang berkaitan dengan perusahaan Tante.”

Nadira membuka halaman yang sudah diberi penanda.

Di sana terdapat catatan pembayaran dari tahun-tahun menjelang perceraianku.

Beberapa nama perusahaan terlihat familier.

Namun, satu nama membuat jantungku langsung berdegup keras.

PT Mahendra Sentosa.

Perusahaan pemasok yang dulu bekerja sama dengan perusahaan keluargaku.

Perusahaan yang pernah menjadi sumber persoalan keuangan hingga membuatku dan Damar bertengkar hebat.

“Dari mana ibumu mendapatkan catatan ini?”

Nadira menunduk.

“Saya nggak tahu semuanya. Tapi ada satu halaman yang membuat saya takut.”

Dia membalik buku itu.

Pada bagian atas tertulis tanggal tiga bulan sebelum perceraianku.

Di bawahnya terdapat catatan singkat.

Pembayaran tahap kedua diterima. Berkas pengalihan sudah disiapkan. Damar memastikan Rani tidak akan membaca lampiran tambahan.

Aku merasakan kedua tanganku menjadi dingin.

“Jadi mereka sudah merencanakannya sejak dulu?”

Nadira mengangguk perlahan.

“Saya pikir Tante harus tahu.”

Aku memandang perempuan muda di hadapanku.

“Kenapa kamu menyerahkan ini? Dia ibumu.”

Air mata Nadira mulai mengalir.

“Karena saya nggak mau menikah dengan Arga sambil membawa kebohongan keluarga saya.”

Aku terdiam.

Nadira mengusap matanya.

“Saya tahu Mama pernah menyakiti Tante. Tapi saya baru memahami seberapa jauh setelah membaca buku ini.”

Dia menarik napas.

“Dan saya takut kalau diam, suatu hari Arga akan menganggap kebohongan seperti itu sesuatu yang biasa.”

Untuk pertama kalinya, aku melihat Nadira bukan sebagai putri perempuan yang pernah menghancurkan rumah tanggaku.

Melainkan sebagai seorang perempuan muda yang sedang berusaha menentukan prinsip hidupnya sendiri.

Aku menerima buku tersebut untuk diperiksa bersama penasihat hukum.

Namun, aku belum siap mempercayai semua isinya tanpa verifikasi.

Beberapa hari kemudian, pemeriksaan dokumen mengungkap kejanggalan yang lebih serius.

Ternyata sebagian dana perusahaan yang hilang menjelang perceraianku pernah dialihkan melalui beberapa rekening milik perusahaan pemasok.

Transaksi itu dilakukan ketika Damar masih memiliki kewenangan mengelola keuangan.

Dokumen yang dibawa Nadira membantu menunjukkan pola transaksi yang sebelumnya tidak pernah kuperiksa secara menyeluruh.

Aku menyerahkan seluruh informasi kepada penasihat hukum untuk menentukan langkah yang masih memungkinkan berdasarkan bukti dan ketentuan yang berlaku.

Namun, Damar ternyata mengetahui bahwa Nadira telah datang menemuiku.

Malam itu dia menelepon.

“Rani, kamu sudah keterlaluan.”

Aku tertawa pendek.

“Selama dua belas tahun aku nggak pernah mengganggumu. Sekarang kamu yang mengurus dokumen perusahaanku tanpa izin.”

“Perusahaan itu dulu kita bangun bersama!”

“Dan pembagian asetnya sudah diselesaikan saat perceraian.”

Damar terdiam.

Kemudian dia berkata dengan nada tajam.

“Kamu mau menghancurkan hubungan Arga dengan Nadira hanya demi membalas dendam?”

Aku menarik napas panjang.

“Damar, aku nggak pernah melarang mereka menikah.”

“Lalu kenapa sahamnya dibatalkan?”

“Karena aku tidak mau perusahaan yang kubangun diserahkan melalui rencana yang menyembunyikan kepentingan orang lain.”

Suara Damar meninggi.

“Kamu selalu merasa paling benar!”

Aku menggeleng meskipun dia tidak bisa melihatnya.

“Bukan. Aku hanya akhirnya belajar memeriksa bukti sebelum mempercayai seseorang.”

Aku memutus panggilan.

Keesokan paginya, Arga datang bersama Nadira.

Keduanya terlihat serius.

“Bu,” kata Arga, “aku mau menyampaikan keputusan kami.”

Aku menatapnya.

“Kami tetap ingin menikah.”

Aku mengangguk.

“Itu hak kalian.”

“Tapi kami nggak mau menerima saham atau bantuan usaha dari siapa pun sebagai bagian dari rencana pernikahan.”

Aku sedikit terkejut.

Nadira melanjutkan.

“Kami ingin membangun kehidupan sendiri dulu, Tante.”

Aku memandangnya lama.

“Kalian yakin?”

Arga mengangguk.

“Aku selama ini terlalu fokus pada apa yang akan Ibu berikan saat ulang tahunku. Sampai lupa bahwa perusahaan itu hasil kerja keras Ibu.”

Mataku mulai berkaca-kaca.

“Aku memang ingin suatu hari kamu meneruskannya.”

“Aku tahu, Bu.”

“Tapi meneruskan perusahaan bukan cuma soal menerima kepemilikan. Ada karyawan, tanggung jawab, dan keputusan yang akan memengaruhi banyak keluarga.”

Arga mengangguk.

“Aku ingin belajar dari bawah lagi. Kalau Ibu masih mengizinkan.”

Aku tersenyum kecil.

“Kalau kamu serius, kita bisa membicarakan posisi berdasarkan kemampuanmu, bukan hubungan keluarga.”

Arga tertawa pelan.

“Berarti aku harus ikut penilaian juga?”

“Tentu.”

Untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, suasana di antara kami terasa lebih ringan.

Namun, masalah dengan Damar dan Ratih belum selesai.

Pemeriksaan lebih lanjut menemukan indikasi bahwa beberapa dokumen lama memang telah diubah dan digunakan kembali untuk mendukung klaim yang tidak sesuai dengan kesepakatan resmi.

Damar diminta memberikan penjelasan melalui proses hukum yang berlaku.

Ratih juga harus menjelaskan keterlibatannya dalam penyusunan dokumen dan transaksi lama.

Aku tidak tahu seluruh keputusan akhir yang akan diambil pihak berwenang.

Namun, setidaknya kali ini aku tidak membiarkan rasa takut terhadap konflik keluarga menghentikanku mencari kebenaran.

Tiga bulan kemudian, Arga dan Nadira menikah.

Mereka mengadakan akad sederhana di sebuah gedung kecil di Bandung.

Aku datang mengenakan kebaya biru tua.

Ketika melihatku masuk, Arga langsung menghampiri.

“Ibu datang.”

Aku tersenyum.

“Tentu. Hari ini hari pentingmu.”

Dia memelukku erat.

“Terima kasih, Bu.”

Aku mengusap rambutnya seperti ketika dia masih kecil.

“Jaga istrimu baik-baik.”

Arga mengangguk.

“Aku akan berusaha.”

Kemudian Nadira mendekat.

Wajahnya terlihat gugup.

“Tante…”

Aku menggenggam tangannya.

“Mulai hari ini, kamu boleh memanggilku Ibu kalau kamu nyaman.”

Air matanya langsung jatuh.

“Terima kasih, Bu.”

Aku tersenyum.

Namun, sebelum melepas tangannya, aku mengatakan sesuatu dengan pelan.

“Nadira, aku nggak akan meminta kamu bertanggung jawab atas kesalahan ibumu. Tapi aku berharap kalian berdua tidak mengulangi kebohongan yang pernah merusak keluarga kami.”

Nadira mengangguk.

“Saya janji akan selalu berusaha jujur.”

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya, aku merasa masa lalu tidak harus diwariskan kepada anak-anak kami.

Beberapa bulan setelah pernikahan, Arga mulai bekerja kembali di perusahaan sebagai manajer proyek dengan tanggung jawab yang jelas.

Dia mengikuti penilaian kinerja seperti pegawai lain.

Tidak ada pengalihan saham secara otomatis.

Tidak ada janji bahwa suatu hari seluruh perusahaan pasti menjadi miliknya.

Aku ingin dia memahami bahwa kepemimpinan harus diperjuangkan melalui kemampuan dan integritas.

Suatu sore, Arga datang ke ruang kerjaku.

“Bu, aku mau menunjukkan laporan proyek.”

Aku memeriksanya.

Hasilnya cukup baik.

Namun, ada beberapa kesalahan perhitungan.

Aku menunjukkannya satu per satu.

Arga mendengarkan tanpa membantah.

Kemudian dia tertawa.

“Dulu aku pasti kesal kalau Ibu mengkritikku begini.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu Ibu sedang mengajarkanku bertanggung jawab.”

Aku tersenyum.

Malam itu, ketika pulang ke rumah, aku membuka lemari tempat menyimpan dokumen perusahaan.

Di sana masih tersimpan rancangan pengalihan saham yang dulu hampir kuserahkan kepada Arga.

Aku memandangnya cukup lama.

Kemudian memasukkannya ke dalam map arsip.

Aku tidak membakarnya.

Tidak pula merobeknya.

Karena dokumen itu mengingatkanku pada satu pelajaran penting.

Memberikan sesuatu kepada anak karena cinta bukan berarti harus menutup mata terhadap kesiapan dan tanggung jawabnya.

Aku tetap mencintai Arga.

Namun, aku tidak ingin cintaku membuatnya merasa berhak atas sesuatu yang belum pernah dia perjuangkan.

Dan aku juga tidak ingin kebencian terhadap masa lalu membuatku menolak seorang perempuan muda yang tidak melakukan kesalahan ibunya.

Setahun kemudian, Nadira melahirkan seorang bayi perempuan.

Ketika Arga menelepon memberi kabar, suaranya terdengar begitu bahagia.

“Bu, cucu Ibu sudah lahir!”

Aku tertawa sambil menangis.

“Alhamdulillah. Nadira sehat?”

“Sehat, Bu. Bayinya juga.”

Aku segera pergi ke rumah sakit.

Di sana, Nadira sedang berbaring sambil menggendong bayi kecil berselimut putih.

Begitu melihatku, dia tersenyum.

“Ibu, sini.”

Aku mendekat.

Nadira menyerahkan bayi tersebut ke pelukanku.

“Namanya siapa?” tanyaku.

Arga berdiri di samping tempat tidur.

“Kami menamainya Raina.”

Aku memandang wajah mungil itu.

“Cantik sekali.”

Nadira tersenyum.

“Kami memilih nama itu karena ingin dia tumbuh menjadi anak yang membawa ketenangan.”

Air mataku jatuh.

Aku memeluk cucuku dengan hati-hati.

Selama dua belas tahun, aku membawa luka akibat pengkhianatan Damar dan Ratih.

Aku pernah mengira luka itu akan selamanya membuatku sulit mempercayai siapa pun yang berkaitan dengan mereka.

Namun, sekarang aku berdiri di ruang perawatan sambil menggendong cucu yang lahir dari pernikahan anakku dengan putri Ratih.

Dan anehnya, yang kurasakan bukan kebencian.

Melainkan harapan.

Aku menatap Arga dan Nadira.

“Anak ini nggak perlu tahu semua pertengkaran yang pernah terjadi antara keluarga kita sebelum dia cukup besar untuk memahami.”

Arga mengangguk.

“Kalau suatu hari dia bertanya?”

Aku tersenyum.

“Kita ceritakan kebenarannya dengan cara yang tepat. Bukan untuk membuatnya membenci siapa pun, tetapi supaya dia belajar bahwa kesalahan orang dewasa tidak harus diulang oleh generasi berikutnya.”

Nadira mulai menangis.

Aku mengusap pipinya.

“Sudah, jangan nangis. Kamu baru melahirkan.”

Dia tertawa kecil.

Malam itu, ketika pulang dari rumah sakit, aku kembali memikirkan hari ketika Arga datang membawa Nadira ke rumahku.

Aku masih ingat betapa sakitnya mendengar nama Ratih.

Betapa marahnya aku ketika mengetahui Damar telah menyiapkan dokumen pengalihan saham tanpa izin.

Dan betapa takutnya aku kehilangan putraku hanya karena tidak mau menyerahkan perusahaan yang kubangun sendiri.

Namun, sekarang aku memahami sesuatu.

Aku tidak pernah benar-benar harus memilih antara mencintai anakku dan melindungi hakku.

Keduanya bisa berjalan bersama.

Aku boleh memberikan restu tanpa menyerahkan aset.

Aku boleh memaafkan masa lalu tanpa melupakan pelajarannya.

Dan aku boleh menerima Nadira sebagai menantu tanpa harus menganggap semua tindakan ibunya benar.

Aku memarkir mobil di halaman rumah.

Sebelum masuk, ponselku bergetar.

Sebuah foto dari Arga muncul.

Raina sedang tidur di pelukan Nadira.

Di bawahnya ada pesan.

“Bu, terima kasih karena dulu Ibu nggak menyerah menghadapi aku. Kalau Ibu langsung menyerahkan saham itu, mungkin aku nggak akan pernah belajar membedakan antara hak dan tanggung jawab.”

Aku membaca pesan tersebut berkali-kali.

Kemudian membalas.

“Ibu nggak pernah berhenti mencintaimu, Ga. Ibu cuma ingin kamu tumbuh menjadi laki-laki yang bisa menjaga apa yang dipercayakan kepadamu.”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Di dalam rumah, lampu ruang keluarga menyala hangat.

Aku berjalan masuk sambil tersenyum.

Dulu, aku pernah mengira tindakan paling berat sebagai seorang ibu adalah merelakan anaknya menikahi perempuan yang berasal dari keluarga yang pernah menyakitiku.

Ternyata bukan.

Tindakan paling berat adalah tetap mencintai anakku sambil berani mengatakan tidak ketika dia meminta sesuatu yang tidak seharusnya kuberikan.

Dan malam itu, ketika mengingat wajah cucuku, aku tahu keputusan tersebut tidak menghancurkan keluarga kami.

Justru membantu kami membangunnya kembali dengan cara yang lebih jujur.

Karena warisan paling berharga yang bisa diberikan seorang ibu bukanlah rumah, saham, atau uang.

Melainkan keberanian untuk hidup tanpa mengambil hak orang lain, serta kemampuan untuk tidak mewariskan dendam kepada generasi berikutnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang