Tunanganku Delapan Kali Membatalkan Pendaftaran Nikah Demi Tantenya. Pada

“Ayahku bilang ada satu nama dalam perjanjian itu yang sengaja disembunyikan selama dua puluh tiga tahun.”

Dimas mengakhiri panggilan dengan wajah tegang.

Aku masih berdiri di halaman Kantor Urusan Agama, menggenggam map pendaftaran nikah yang baru saja kami siapkan. Di hadapanku, Arga terlihat gelisah, sementara Tante Rina memeluk map cokelatnya seolah seluruh kehidupannya bergantung pada dokumen tersebut.

“Nama siapa?” tanyaku.

Dimas menggeleng.

“Ayah belum mau menjelaskan lewat telepon.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Kalau begitu, kamu yang jelaskan. Delapan kali aku datang ke KUA sendirian. Delapan kali kamu membuatku merasa nggak cukup penting untuk diperjuangkan. Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?”

Arga mengusap wajahnya.

“Aku baru mengetahui sebagian masalah ini setelah pembatalan kelima.”

Aku terdiam.

“Berarti tiga pembatalan pertama memang karena Tante Rina?”

Dia mengangguk.

“Dua kali Tante benar-benar membutuhkan bantuan. Tapi setelah itu, aku mulai merasa setiap kali kita menjadwalkan pernikahan, selalu ada masalah baru.”

“Dan kamu nggak pernah mempertanyakannya?”

“Aku takut dianggap nggak tahu balas budi.”

Tante Rina langsung menangis.

“Tante membesarkanmu seperti anak sendiri, Ga.”

Arga menatapnya.

“Aku tahu. Tapi Tante juga memanfaatkan rasa terima kasihku untuk membuat Nadya terus menunggu.”

Perempuan itu terdiam.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan KUA.

Pak Surya Pradana, ayah Dimas, turun dengan wajah serius. Dia langsung menghampiri Tante Rina.

“Rina, setelah dua puluh tiga tahun, kamu masih mau menyembunyikannya?”

Tante Rina mundur selangkah.

“Aku cuma berusaha menjaga apa yang seharusnya menjadi milik keluargaku.”

Pak Surya menghela napas panjang.

“Itu bukan alasan untuk mengatur pernikahan anak-anak.”

Kami kemudian pindah ke sebuah ruang pertemuan kecil di kantor pengacara dekat KUA. Dimas menghubungi petugas untuk menjelaskan bahwa kami menunda pengurusan berkas hari itu.

Aku bersyukur dia tidak memaksaku melanjutkan pendaftaran ketika begitu banyak hal belum jelas.

Di ruang pertemuan, Pak Surya membuka map yang dibawa Tante Rina.

Dokumen itu merupakan perjanjian kerja sama antara perusahaan keluarganya dan almarhum kakek Arga.

Dua puluh tiga tahun lalu, mereka bersama-sama membangun usaha pergudangan dan distribusi di Bekasi.

Namun, ketika perusahaan mengalami kesulitan, kakek Arga mengalihkan sebagian kepemilikannya kepada keluarga Pradana sebagai bagian dari penyelesaian utang usaha.

“Perjanjian itu sah,” jelas Pak Surya. “Tetapi ada dokumen tambahan yang mengatur pembagian hasil jika aset lama dijual.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu apa hubungannya dengan pernikahanku?”

Pak Surya menatapku cukup lama.

“Karena ayahmu pernah menjadi penjamin salah satu kewajiban perusahaan tersebut.”

Aku membeku.

“Ayahku?”

Dia mengangguk.

“Pak Haris Prameswari.”

Aku langsung teringat bahwa Ayah pernah bercerita mengenai usaha distribusi yang gagal ketika aku masih kecil. Tetapi beliau selalu mengatakan masalah itu sudah selesai.

Pak Surya melanjutkan.

“Beberapa tahun lalu, tanah bekas gudang tersebut dijual untuk pembangunan kawasan komersial. Setelah kewajiban lama diperhitungkan, masih ada dana yang menurut dokumen penyelesaian harus dibagikan kepada pihak-pihak tertentu, termasuk ahli waris Pak Haris.”

“Berapa nilainya?” tanya Dimas.

“Sekitar delapan belas miliar rupiah menjadi bagian yang masih diperselisihkan.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

Tante Rina langsung menyela.

“Tanah itu milik keluarga Arga! Kenapa Nadya harus mendapat bagian?”

Pak Surya menatapnya tegas.

“Karena dokumen lama mencatat kontribusi dan kewajiban masing-masing pihak. Hak itu tidak ditentukan oleh siapa yang menikahi siapa.”

Aku mulai memahami sesuatu.

“Tante takut kalau aku menikah dengan Arga, masalah ini akan terbongkar?”

Tante Rina menunduk.

Pak Surya menggeleng.

“Bukan sesederhana itu. Rina tahu bahwa keluarga Nadya memiliki kepentingan dalam penyelesaian aset. Dia ingin masalah itu diselesaikan secara diam-diam sebelum Nadya menjadi bagian keluarganya.”

Aku menatap Arga.

“Kamu tahu tentang uang ini?”

Dia menggeleng.

“Aku baru tahu ada sengketa tanah setelah pembatalan kelima. Tante bilang kalau aku menikah sebelum masalah keluarga selesai, semua orang akan saling menuntut.”

“Dan kamu percaya?”

“Aku percaya karena Tante menunjukkan dokumen yang nggak kupahami.”

Aku tertawa pahit.

“Jadi daripada bertanya kepada pengacara atau bicara denganku, kamu memilih membiarkanku menunggu?”

Arga tidak menjawab.

Pak Surya kemudian mengeluarkan surat lain.

“Ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui.”

Dia menunjuk sebuah nama pada dokumen lama.

Rina Kusumawardani.

Ternyata Tante Rina pernah bertindak sebagai pengurus administrasi perusahaan ketika aset tersebut dialihkan. Dia juga menerima kuasa terbatas untuk membantu penyelesaian beberapa kewajiban keluarga.

Namun, berdasarkan laporan yang baru diperiksa, sebagian hasil penjualan tanah telah diterima melalui rekening perusahaan yang pernah dikelolanya dan belum seluruhnya dipertanggungjawabkan kepada para pihak yang berhak.

Tante Rina langsung pucat.

“Itu uang untuk membayar utang lama!”

“Kalau begitu, kita periksa bukti pembayarannya,” jawab Pak Surya.

Aku memandang perempuan yang selama ini kuhormati seperti calon ibu mertua.

“Jadi Tante sengaja membuat Arga membatalkan pernikahan karena takut aku mengetahui semua ini?”

Air mata Tante Rina jatuh.

“Awalnya Tante cuma ingin menunda beberapa minggu. Tapi setelah kamu terus menentukan tanggal baru, Tante panik.”

Aku terdiam.

“Dan delapan kali kamu membiarkan aku datang ke KUA?”

Tante Rina menutup wajah.

“Tante takut kehilangan semuanya.”

Aku menggeleng perlahan.

“Yang Tante lakukan justru membuatku kehilangan tiga tahun kepercayaan kepada Arga.”

Arga menunduk.

Dimas yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.

“Ayah, apakah keluarga kita sengaja memperkenalkan aku kepada Nadya karena persoalan aset ini?”

Aku langsung menoleh kepadanya.

Pertanyaan itu juga sejak tadi mengganggu pikiranku.

Pak Surya terdiam sesaat.

“Ayah memang mengetahui Nadya adalah putri Pak Haris. Tapi Ayah tidak meminta kamu mendekatinya untuk menyelesaikan urusan bisnis.”

Dimas menatap ayahnya.

“Kenapa Ayah nggak bilang sejak awal?”

“Karena Ayah mengira sengketa lama itu sudah hampir selesai. Ayah juga tidak ingin kalian merasa pertemuan tersebut memiliki maksud lain.”

Aku menarik napas panjang.

“Pak Surya, apakah Ayah saya mengetahui masalah ini?”

“Beliau mengetahui ada penyelesaian aset yang belum tuntas, tetapi belum menerima rincian terbaru.”

Aku langsung menghubungi Ayah.

Beliau mendengarkan penjelasanku dengan terkejut.

“Nadya, Ayah memang pernah terlibat dalam usaha itu. Tapi Ayah nggak pernah menyangka persoalannya akan memengaruhi kehidupan pribadimu.”

Aku menutup mata.

Setidaknya sekarang aku tahu tidak ada hubungan darah tersembunyi yang membuat pernikahanku dengan Dimas bermasalah.

Yang ada hanyalah sengketa bisnis lama yang disembunyikan, lalu dimanfaatkan untuk mengatur hidup orang lain.

Setelah pertemuan selesai, Arga menghampiriku di halaman kantor.

“Nadya, aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk yang mana?”

Dia terdiam.

“Untuk delapan kali membatalkan janji? Untuk membiarkan Tante Rina mengatur hubungan kita? Atau karena baru mengatakan kebenaran setelah melihatku bersama laki-laki lain?”

Air matanya mulai menggenang.

“Semuanya.”

Aku menghela napas.

“Ga, aku pernah sangat mencintaimu.”

“Aku tahu.”

“Tapi cinta saja nggak cukup kalau setiap keputusan penting selalu harus menunggu izin orang lain.”

Arga menunduk.

“Aku ingin memperbaikinya.”

“Aku berharap kamu bisa berubah. Tapi bukan untuk mendapatkanku kembali.”

Dia menatapku dengan mata merah.

Aku melanjutkan.

“Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak ingin kembali menjalani kehidupan yang membuatku terus mempertanyakan apakah aku benar-benar diprioritaskan.”

Arga akhirnya mengangguk.

Untuk pertama kalinya, dia tidak membantah.

Beberapa minggu berikutnya dipenuhi pemeriksaan dokumen dan pertemuan antara penasihat hukum keluarga.

Ternyata sebagian dana hasil penjualan tanah memang digunakan membayar kewajiban lama. Namun, ada transaksi yang belum memiliki bukti pendukung memadai.

Tante Rina akhirnya menyerahkan seluruh catatan yang disimpannya dan bersedia menjalani proses pemeriksaan.

Penyelesaian hak para pihak kemudian dilakukan melalui jalur hukum dan administrasi yang sesuai.

Aku tidak terlibat langsung dalam pengelolaan dana tersebut. Ayah menunjuk penasihat hukum untuk mewakili kepentingan keluarga kami.

Sementara itu, aku dan Dimas memilih menunda rencana pernikahan selama beberapa bulan.

Bukan karena takut kepada rahasia keluarga.

Melainkan karena aku ingin memastikan keputusanku benar-benar lahir dari keinginan sendiri, bukan sebagai reaksi terhadap perlakuan Arga.

Dimas tidak keberatan.

Suatu sore, kami duduk di sebuah kafe kecil di Bandung.

“Nadya, kamu pernah menyesal bertemu denganku?” tanyanya.

Aku tersenyum.

“Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?”

“Karena sejak kita bertemu, masalah keluargamu justru semakin rumit.”

Aku tertawa kecil.

“Masalah itu sebenarnya sudah ada sebelum kita saling kenal.”

Dimas mengangguk.

“Tapi aku nggak ingin kamu merasa harus menikah denganku hanya karena aku selalu datang tepat waktu.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Memangnya kamu nggak ingin menikah denganku?”

Dia tersenyum.

“Ingin. Tapi aku ingin kamu memilihku karena mengenalku, bukan karena membandingkanku dengan Arga.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa Dimas tidak sedang berusaha memenangkan persaingan dengan mantan tunanganku.

Dia hanya ingin membangun hubungan yang sehat.

Enam bulan kemudian, kami kembali datang ke KUA.

Kali ini, seluruh dokumen sudah diperiksa lebih dahulu.

Orang tua kami mengetahui jadwalnya.

Dan tidak ada lagi rahasia keluarga yang sengaja disembunyikan.

Saat berjalan menuju pintu, aku tiba-tiba berhenti.

Dimas menoleh.

“Ada apa?”

Aku memandangi bangku panjang tempat dahulu aku duduk sendirian selama berjam-jam.

“Di sana aku pernah merasa sangat bodoh.”

Dimas mengikuti arah pandangku.

“Kenapa?”

“Karena aku terus menunggu seseorang yang selalu punya alasan untuk nggak datang.”

Dia menggenggam tanganku.

“Kamu nggak bodoh karena pernah percaya, Nadya.”

Aku tersenyum sedih.

“Tapi aku terlalu lama mengabaikan kenyataan.”

Dimas tidak menjawab.

Dia hanya berjalan bersamaku masuk ke kantor.

Hari itu, proses pendaftaran berjalan lancar.

Beberapa minggu kemudian, kami melangsungkan akad nikah sederhana bersama keluarga terdekat.

Tidak ada pesta besar.

Tidak ada dekorasi mewah.

Namun, ketika Dimas mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap, aku menangis.

Bukan karena akhirnya berhasil menikah setelah berkali-kali gagal.

Melainkan karena aku tahu keputusan ini benar-benar milikku.

Setelah akad selesai, Ayah menghampiriku.

“Nadya, ada sesuatu yang ingin Ayah berikan.”

Beliau menyerahkan sebuah amplop kecil.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Foto Ayah ketika masih muda, berdiri bersama beberapa pekerja di depan gudang sederhana.

Di belakang foto itu terdapat tulisan tangan Ayah.

Jangan pernah membiarkan urusan harta membuatmu kehilangan orang yang benar-benar menghargaimu.

Aku menatap Ayah.

Beliau tersenyum.

“Dulu Ayah terlalu sibuk mengejar usaha sampai hampir kehilangan waktu bersama keluarga. Ayah nggak ingin kamu mengulangi kesalahan yang sama.”

Aku memeluknya erat.

Beberapa bulan setelah pernikahan, sengketa aset lama akhirnya mencapai penyelesaian yang disepakati para pihak.

Keluargaku menerima bagian yang dinyatakan menjadi haknya setelah pemeriksaan dokumen dan penyelesaian kewajiban.

Namun, uang itu tidak mengubah kehidupanku secara drastis.

Aku tetap bekerja.

Dimas tetap menjalankan tanggung jawabnya.

Kami menggunakan sebagian dana keluarga yang diterima secara sah untuk membantu biaya pengobatan Ibu dan memperbaiki rumah orang tuaku.

Suatu hari, aku mendengar Arga telah pindah ke luar kota setelah menyelesaikan persoalan keluarganya.

Dia juga mulai bekerja tanpa lagi melibatkan Tante Rina dalam setiap keputusan pribadi.

Aku tidak menghubunginya.

Tetapi aku berharap dia benar-benar menemukan keberanian untuk menjalani hidup dengan pilihannya sendiri.

Setahun setelah pernikahan kami, Dimas mengajakku melewati KUA tempat semuanya bermula.

Kami berhenti sebentar di depan gedung.

Aku memandangi pintu masuknya sambil tersenyum.

Dulu, tempat itu selalu mengingatkanku pada rasa malu.

Pada janji yang dibatalkan.

Pada kursi kosong di sebelahku.

Namun, sekarang aku tidak lagi merasakan kesedihan yang sama.

Dimas menoleh.

“Kamu sedang memikirkan apa?”

Aku menggenggam tangannya.

“Delapan kali aku datang ke sini membawa harapan yang salah.”

Dia tersenyum.

“Dan yang kesembilan?”

Aku menatapnya.

“Yang kesembilan aku akhirnya belajar bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling lama kutunggu.”

Dimas mengangkat alis.

“Lalu tentang apa?”

Aku tersenyum.

“Tentang dua orang yang sama-sama memilih datang.”

Dia tertawa kecil dan menggenggam tanganku semakin erat.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan.

Aku tidak tahu bagaimana kehidupan Arga sekarang.

Aku juga tidak lagi ingin mencari tahu.

Karena pada akhirnya, rahasia perjanjian bisnis dua puluh tiga tahun lalu memang berhasil menjelaskan mengapa Tante Rina terus menghalangi pernikahan kami.

Namun, rahasia itu tidak mengubah satu kenyataan.

Arga tetap memilih untuk tidak jujur.

Dia membiarkan rasa terima kasih kepada tantenya menjadi alasan untuk mengabaikan perasaanku.

Dan aku terlalu lama berharap seseorang akan berubah hanya karena aku terus bersabar.

Sekarang aku memahami bahwa kesetiaan tidak berarti harus menerima penundaan tanpa batas.

Pengertian tidak berarti harus terus mengalah.

Dan cinta yang sehat tidak membuat seseorang merasa seperti pilihan terakhir.

Aku menatap Dimas yang sedang mengemudi.

Dia menyadari tatapanku dan tersenyum.

“Ada apa?”

Aku menggeleng.

“Nggak apa-apa.”

“Lalu kenapa senyum-senyum sendiri?”

Aku tertawa.

“Karena aku senang.”

Dimas ikut tertawa.

Di luar jendela, jalanan Bandung mulai ramai oleh kendaraan sore.

Aku menyandarkan kepala ke kursi dan memejamkan mata.

Dulu aku mengira kebahagiaan akan datang ketika Arga akhirnya memenuhi janjinya.

Ternyata kebahagiaan justru dimulai ketika aku berhenti menunggu janji yang terus dilanggar.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak lagi takut membuat rencana masa depan.

Karena sekarang, ketika kami mengatakan akan pergi bersama, aku tahu ada seseorang yang benar-benar berniat datang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang