
“Apartemenku dijadikan jaminan? Mas Arga, jawab aku sekarang!”
Suaraku menggema di lorong klinik yang hampir kosong. Arga berdiri membisu, sementara Citra menangis dengan kedua tangan menutupi wajah.
“Ran, aku bisa jelaskan semuanya,” katanya akhirnya.
“Kalau begitu, jelaskan kenapa ada orang yang berani memasukkan apartemenku ke dalam pengajuan kredit tanpa persetujuanku!”
Arga mengusap wajahnya dengan kasar.
“Perusahaanku sedang kesulitan. Ada proyek besar yang pembayarannya tertunda. Kalau pinjaman itu nggak cair, puluhan karyawan bisa kehilangan pekerjaan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Dan solusimu adalah mempertaruhkan rumahku?”
“Aku nggak akan membiarkan apartemenmu benar-benar disita!”
“Bagaimana kamu bisa menjamin sesuatu yang bahkan belum kamu miliki?”
Arga terdiam.
Aku tahu perusahaan yang dirintisnya sedang menghadapi tekanan keuangan. Selama beberapa bulan terakhir, dia sering terlihat kelelahan. Namun, setiap kali kutanya, jawabannya selalu sama. Semuanya terkendali.
Ternyata tidak ada yang terkendali.
Aku mengambil ponsel dan memotret dokumen yang masih tergeletak di meja, lalu meminta Siska menyimpan salinannya.
“Besok aku akan memeriksa semuanya langsung dengan bank.”
Arga mendekat.
“Rania, tolong. Kalau pengajuan itu gagal, perusahaanku bisa bangkrut.”
Aku memandang lelaki yang pernah berjanji membangun masa depan bersamaku.
“Mas, kamu bukan sedang berusaha menyelamatkan perusahaan. Kamu sedang berusaha menyelamatkan dirimu dengan mengorbankan aku.”
Malam itu, aku pulang bersama Siska.
Di perjalanan, ponselku terus bergetar. Arga menelepon lebih dari dua puluh kali. Ibunya mengirim pesan panjang, memintaku tidak mengambil keputusan ketika sedang marah.
Aku tidak membalas satu pun.
Namun, tepat ketika kami tiba di depan rumah Siska, sebuah pesan dari nomor Citra muncul.
“Mbak Rania, aku tahu Mbak membenciku. Tapi ada sesuatu yang harus Mbak lihat sebelum besok pagi. Jangan beri tahu Mas Arga.”
Aku membaca pesan itu dengan perasaan tidak nyaman.
Beberapa detik kemudian, Citra mengirimkan sebuah foto.
Foto halaman terakhir perjanjian kerja sama bisnis.
Di bagian bawahnya tercantum tanda tangan Arga dan Citra.
Namun, ada satu nama lain sebagai pihak penerima manfaat.
Ratih Prameswari.
Nama ibu Arga.
Aku menatap layar cukup lama.
Mengapa calon ibu mertuaku ikut terlibat?
Keesokan paginya, aku menemui pengacara bernama Nadia yang direkomendasikan Siska. Setelah memeriksa dokumen, Nadia menjelaskan bahwa pencantuman identitasku dan apartemenku dalam berkas pengajuan tidak otomatis membuatku terikat sebagai penjamin.
“Bank tetap harus memverifikasi persetujuan dan keabsahan dokumen,” katanya. “Apalagi apartemen ini milik pribadi Mbak, dan belum ada perjanjian jaminan yang Mbak tandatangani secara sah.”
Aku sedikit lega.
“Jadi apartemenku aman?”
“Berdasarkan dokumen yang kita lihat, belum ada bukti bahwa hak jaminan atas apartemen itu sudah terbentuk. Tapi kita perlu memeriksa statusnya secara resmi. Jangan menganggap persoalan selesai sebelum semua data dikonfirmasi.”
Hari itu juga, aku mendatangi bank bersama Nadia.
Hasil pemeriksaan membuatku bergidik.
Pengajuan pinjaman memang sudah masuk, tetapi belum disetujui. Petugas menemukan beberapa ketidaksesuaian data, termasuk surat persetujuan penjamin yang tanda tangannya berbeda dengan contoh resmi milikku.
Aku segera mengajukan keberatan tertulis dan menyatakan tidak pernah menyetujui penggunaan identitas maupun asetku.
Pihak bank mencatat sengketa tersebut dan menghentikan pemrosesan berkas terkait sambil melakukan pemeriksaan internal.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian malam sebelumnya, aku bisa menarik napas sedikit lebih lega.
Namun, persoalannya ternyata jauh lebih rumit.
Sore itu, aku menemui Citra di sebuah kafe kecil di kawasan Dago. Dia datang tanpa kardigan abu-abu Arga. Wajahnya pucat, matanya sembap.
“Aku nggak berharap Mbak memaafkanku,” katanya sebelum kami sempat memesan minuman.
“Aku datang bukan untuk membicarakan perasaanmu. Aku mau tahu kenapa nama ibu Arga tercantum dalam perjanjian itu.”
Citra menunduk.
“Karena Bu Ratih yang sebenarnya mengendalikan perusahaan baruku.”
Aku terdiam.
“Perusahaan atas namamu?”
Citra mengangguk.
“Mas Arga mengajakku mendirikan perusahaan untuk mengambil alih beberapa proyek. Katanya, kalau semuanya berjalan lancar, keuntungan bisa dipakai menutup utang perusahaan lama.”
“Lalu kenapa ibunya dilibatkan?”
“Bu Ratih menyediakan modal awal. Tapi uang itu ternyata bukan seluruhnya milik beliau.”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
Citra membuka tas, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di meja.
Ada catatan transfer, bukti pinjaman pribadi, dan perjanjian investasi.
“Bu Ratih meminjam uang dari beberapa kerabat. Nilainya hampir dua miliar. Sebagian uang itu sudah dipakai untuk menutup utang lama Mas Arga.”
Aku memandangi angka-angka tersebut.
“Jadi sekarang mereka mau mengajukan pinjaman baru untuk membayar utang sebelumnya?”
Citra mengangguk pelan.
“Dan apartemen Mbak dianggap jaminan paling mudah karena Mas Arga yakin kalian akan segera menikah.”
Dadaku mendadak terasa panas.
Selama ini, aku mengira Ratih hanya seorang ibu yang terlalu memanjakan putranya. Ternyata, dia ikut merancang keputusan yang dapat menghancurkan masa depanku.
“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”
Citra menggigit bibir.
“Karena awalnya aku juga percaya semuanya akan dilakukan dengan persetujuan Mbak. Tapi tiga hari lalu, Mas Arga memintaku menyiapkan dokumen tambahan dengan contoh tanda tangan Mbak.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu menurutinya?”
“Aku membuat berkasnya. Tapi aku tidak menandatangani atas nama Mbak. Aku takut kehilangan pekerjaan, jadi aku tetap diam.”
“Diam juga pilihan, Citra.”
Air matanya jatuh.
“Aku tahu.”
Aku memperhatikan perempuan itu beberapa saat.
“Dan hubunganmu dengan Arga?”
Citra mendongak.
“Aku nggak pernah punya hubungan seperti yang Mbak pikirkan.”
“Lalu kenapa kamu mengenakan kardigannya dan membawa kotak makan yang kuberikan?”
Citra menunduk semakin dalam.
“Karena aku sengaja.”
Aku membeku.
“Maksudmu?”
“Beberapa hari lalu, aku bilang kepada Mas Arga kalau dokumen ini berbahaya. Dia mengancam akan membuatku bertanggung jawab atas seluruh kesalahan administrasi kalau aku membocorkannya.”
Aku menunggu.
“Semalam, setelah tahu Mbak lembur, aku minta ikut menjemput. Aku sengaja duduk di depan dan membawa barang-barang itu karena aku tahu Mbak akan marah.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kamu sengaja membuatku cemburu?”
Citra mengangguk sambil menangis.
“Aku berharap Mbak bertengkar dengan Mas Arga sebelum pernikahan. Aku ingin Mbak mulai mempertanyakan semuanya.”
Aku terdiam lama.
“Kenapa nggak langsung memberitahuku?”
“Aku takut. Namaku ada di perusahaan itu. Aku pikir kalau aku membocorkan dokumen, mereka akan menuduhku mencuri data.”
Aku menggeleng perlahan.
“Kamu hampir menghancurkan hubungan orang dengan cara yang juga menyakitkan, Cit.”
“Aku tahu. Dan aku menyesal.”
Aku tidak langsung menjawab.
Motif Citra mungkin berbeda dari yang kuduga, tetapi tindakannya tetap salah. Dia memilih permainan emosi daripada kejujuran.
Meski begitu, aku menyadari bahwa pertengkaran di depan klinik justru membuat rencana pinjaman itu terbongkar sebelum terlambat.
Malam harinya, Ratih datang ke rumah Siska bersama Arga.
Aku menerima mereka di ruang tamu, dengan Siska tetap berada di dekatku.
Ratih langsung berbicara sebelum duduk.
“Rania, Tante dengar kamu membuat laporan ke bank.”
“Benar, Tante.”
“Kamu tahu tindakanmu bisa membuat keluarga kami kehilangan segalanya?”
Aku menatapnya tenang.
“Kalau keluarga Tante kehilangan sesuatu karena pengajuan yang tidak sah, itu bukan tanggung jawab saya.”
Ratih menghela napas panjang.
“Kamu akan menikah dengan Arga. Seharusnya kalian saling membantu.”
“Saling membantu berarti berdiskusi dan memberi persetujuan, bukan menggunakan dokumen orang lain diam-diam.”
Wajah Ratih memerah.
“Jangan terlalu perhitungan. Setelah menikah, harta suami istri juga untuk keluarga.”
Aku tersenyum getir.
“Apartemen itu kubeli sebelum menikah dengan uangku sendiri. Dan tidak ada pernikahan yang memberi siapa pun hak memalsukan persetujuanku.”
Ratih terdiam.
Arga akhirnya angkat bicara.
“Ran, aku memang salah. Tapi semua ini karena aku takut kehilangan perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Kalau kamu kehilangan perusahaan, kita masih bisa membangun kehidupan dari awal. Tapi kalau kamu mengkhianati kepercayaanku, apa yang masih bisa kita bangun?”
Arga tidak menjawab.
“Aku menunggumu enam tahun, Mas. Kita pernah makan mi instan berdua karena uang kita tinggal sedikit. Aku nggak pernah menuntut kamu jadi orang kaya.”
Air mataku mulai menggenang.
“Tapi kamu malah menganggap aku cuma berguna kalau punya aset yang bisa dijaminkan.”
Arga menundukkan kepala.
Ratih mencoba menyela, tetapi aku mengangkat tangan.
“Pernikahan kami tetap dibatalkan. Dan saya akan menyelesaikan persoalan dokumen ini melalui jalur resmi.”
Untuk pertama kalinya, Arga tidak berusaha menghentikanku.
Tiga hari kemudian, keluarga besar kami berkumpul untuk membicarakan pembatalan pernikahan.
Ayahku duduk di sampingku sepanjang pertemuan. Beliau tidak banyak bicara, tetapi genggamannya pada tanganku cukup membuatku kuat.
Ketika ibu Arga mulai membahas biaya resepsi yang hangus, Ayah akhirnya berbicara.
“Uang bisa dicari lagi. Tapi saya tidak akan menyerahkan anak saya kepada orang yang menganggap kepercayaannya bisa dipakai sebagai jaminan utang.”
Ruangan langsung sunyi.
Arga hanya menatap lantai.
Aku menyerahkan daftar pembayaran yang telah kulakukan kepada pihak penyelenggara acara. Beberapa vendor bersedia mengembalikan sebagian uang muka, sementara sisanya tidak dapat dikembalikan.
Aku menerima kerugian itu.
Jauh lebih baik kehilangan uang daripada harus menanggung kebohongan sepanjang pernikahan.
Pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahanku, aku bangun pukul tujuh pagi.
Tidak ada penata rias.
Tidak ada gaun putih.
Tidak ada musik penyambutan tamu.
Aku hanya mengenakan piyama biru dan duduk di balkon apartemen sambil menikmati secangkir teh hangat.
Apartemen itu akhirnya kembali terasa seperti rumahku sendiri.
Tiba-tiba, bel pintu berbunyi.
Ketika kubuka, seorang kurir menyerahkan sebuah paket kecil tanpa nama pengirim.
Di dalamnya terdapat kotak makan stainless steel yang sangat kukenal.
Stiker rumah pada tutupnya sudah sedikit mengelupas.
Aku membukanya perlahan.
Kotak itu kosong, kecuali selembar surat tulisan tangan.
“Rania, aku mengembalikan sesuatu yang dulu kamu berikan ketika aku belum punya apa-apa. Selama ini aku terlalu sibuk mengejar kesuksesan sampai lupa bahwa orang yang paling tulus mendukungku justru orang yang paling kusakiti.
Aku tidak meminta kamu kembali. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa setelah kamu pergi, aku akhirnya mengerti apa yang sebenarnya hilang.”
Aku duduk cukup lama memandangi surat itu.
Untuk sesaat, kenangan enam tahun bersama Arga kembali memenuhi pikiranku.
Namun, aku tidak menangis.
Bukan karena semua rasa sakit telah hilang, melainkan karena aku tidak lagi menganggap kenangan indah sebagai alasan untuk menerima perlakuan buruk.
Aku melipat surat tersebut dan menyimpannya bersama kotak makan itu.
Dua bulan kemudian, aku mendapat kabar bahwa perusahaan Arga sedang menjalani restrukturisasi utang. Pengajuan pinjaman yang melibatkan namaku telah ditolak, dan pengaduan tentang penggunaan dokumen pribadi masih ditangani melalui proses pemeriksaan.
Citra memberikan keterangannya kepada pihak yang berwenang. Aku tidak pernah menjadikannya sahabat, tetapi aku menghargai keputusannya untuk akhirnya berbicara jujur.
Aku sendiri kembali fokus bekerja di klinik.
Suatu sore, Siska menghampiriku ketika aku sedang menyelesaikan laporan pasien.
“Ran, kamu tahu nggak? Arga datang tadi.”
Aku berhenti mengetik.
“Ngapain?”
“Dia titip sesuatu.”
Siska menyerahkan sebuah amplop.
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat salinan surat pernyataan dari Arga bahwa dia telah menggunakan dokumen pribadiku tanpa persetujuan dan bersedia memberikan keterangan yang benar dalam proses pemeriksaan.
Tidak ada permohonan untuk kembali bersama.
Tidak ada kalimat yang menyalahkan keadaan.
Hanya pengakuan dan kesediaan bertanggung jawab.
Aku menghela napas panjang.
Setidaknya, Arga mulai memahami bahwa permintaan maaf bukan sekadar kata-kata.
Malam itu, setelah pulang kerja, aku menelepon Ayah.
“Yah, kalau dulu Rania tetap menikah, menurut Ayah apa yang bakal terjadi?”
Ayah terdiam sebentar.
“Kita nggak pernah tahu, Nak.”
Aku memandangi lampu kota dari balkon.
“Tapi mungkin Rania bisa kehilangan apartemen ini.”
“Mungkin juga tidak. Yang jelas, kamu menemukan sesuatu yang membuatmu tidak bisa lagi mempercayainya, lalu kamu memilih melindungi dirimu.”
Aku tersenyum kecil.
“Rania dulu takut banget bikin keluarga malu.”
Ayah tertawa pelan.
“Keluarga nggak malu karena anaknya membatalkan pernikahan. Ayah justru akan sedih kalau anak Ayah menikah hanya karena takut omongan orang.”
Air mataku tiba-tiba mengalir.
Setelah percakapan selesai, aku berjalan ke dapur.
Di atas rak, kotak makan stainless steel itu masih tersimpan.
Aku mengambilnya, membersihkan bagian dalamnya, lalu mengisi dengan nasi hangat, telur dadar, dan tumis sayur untuk bekal kerja besok.
Saat menutup kotaknya, aku melihat tulisan yang pernah kutempel tiga tahun lalu.
Pulanglah sebelum makananmu dingin.
Aku tersenyum.
Dulu, kalimat itu kutulis untuk Arga, berharap dia selalu ingat bahwa ada seseorang yang menunggunya pulang.
Sekarang, aku menyadari bahwa selama bertahun-tahun, aku sendiri terlalu sibuk menjadi tempat pulang bagi orang lain sampai lupa menjaga rumah yang telah kubangun untuk diriku sendiri.
Aku menambahkan sebuah stiker kecil di sebelah tulisan lama.
“Jangan tinggalkan dirimu demi siapa pun.”
Keesokan paginya, aku membawa kotak makan itu ke klinik.
Siska melihatnya dan langsung mengangkat alis.
“Lho, itu kotak makan legendaris?”
Aku tertawa.
“Iya.”
“Masih mau dipakai?”
“Kenapa nggak? Kotaknya nggak salah apa-apa.”
Siska ikut tertawa.
Namun, sebelum kami kembali bekerja, dia bertanya dengan suara lebih pelan.
“Ran, kalau suatu hari Arga berubah dan minta kesempatan kedua, kamu mau?”
Aku memikirkan pertanyaan itu beberapa saat.
“Aku berharap dia benar-benar berubah. Tapi perubahan itu bukan tiket untuk masuk lagi ke hidupku.”
Siska tersenyum.
“Jawaban yang bagus.”
Aku menggeleng sambil tertawa kecil.
“Bukan bagus, Sis. Aku cuma akhirnya belajar.”
Belajar bahwa cinta tidak boleh membuat seseorang kehilangan hak atas keputusan hidupnya sendiri.
Belajar bahwa pengorbanan yang sehat selalu memiliki batas.
Dan belajar bahwa pernikahan seharusnya dimulai dari kepercayaan, bukan dari rahasia yang sengaja disembunyikan sampai semuanya terlambat.
Tujuh hari sebelum pernikahan, aku kehilangan lelaki yang kupikir akan menjadi teman hidupku.
Namun, pada malam yang sama, aku mendapatkan kembali sesuatu yang hampir kuserahkan tanpa sadar.
Kendali atas masa depanku sendiri.
Dan ketika melihat kembali kotak makan sederhana itu, aku akhirnya memahami satu hal.
Bukan kursi depan mobil yang membuat pernikahanku batal.
Bukan pula kardigan abu-abu atau kotak makan yang dipinjamkan kepada perempuan lain.
Semua benda itu hanya membuka mataku terhadap sesuatu yang jauh lebih besar.
Aku hampir menikah dengan seseorang yang lebih takut kehilangan perusahaannya daripada kehilangan kepercayaanku.
Untungnya, aku mengetahuinya sebelum mengucapkan janji seumur hidup.
Karena terkadang, keputusan paling berani bukanlah bertahan sampai akhir.
Melainkan berani pergi sebelum kehilangan diri sendiri.
