Arga masih terduduk di lantai apartemen ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
Nama Keisya muncul di layar.
Aku melihatnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan.
Biasanya, nama itu cukup membuat kami bertengkar berjam-jam. Namun malam ini, aku bahkan tidak punya tenaga untuk merasa cemburu.
“Angkat saja, Mas,” kataku pelan. “Mungkin dia membutuhkanmu.”
Arga menatap layar ponselnya sebelum akhirnya menolak panggilan tersebut.
“Enggak, Na. Sekarang aku mau bicara sama kamu.”
Aku hampir tersenyum mendengar kalimat itu.

Selama empat tahun menikah, itulah yang paling sering kuinginkan. Perhatian penuh dari suamiku tanpa harus bersaing dengan perempuan lain.
Sayangnya, dia baru memberikannya setelah semuanya terlambat.
“Aku benar-benar enggak tahu kamu hamil,” katanya dengan suara bergetar.
“Aku tahu.”
“Kalau saja malam itu aku mengangkat teleponmu…”
“Anak kita mungkin tetap enggak bisa diselamatkan, Mas. Dokter sudah menjelaskan penyebab keguguranku. Aku enggak menyalahkan Mas atas kejadian medis itu.”
Arga mengangkat wajah.
“Tapi aku menyalahkan diriku sendiri.”
Aku menatapnya.
“Yang menyakitiku bukan cuma kehilangan bayi. Aku harus menghadapinya tanpa suamiku. Dan ketika Mas pulang, Mas bahkan enggak mau mendengarkan aku.”
Arga menunduk.
Sebelum dia sempat menjawab, bel apartemen berbunyi.
Aku mengerutkan kening.
Sudah hampir pukul sepuluh malam.
Ketika pintu kubuka, Keisya berdiri di depan apartemen dengan wajah pucat.
Di tangannya ada sebuah map cokelat.
“Nara, maaf datang malam-malam. Aku harus bicara.”
Arga langsung berdiri.
“Keisya? Kamu ngapain ke sini?”
Keisya tidak menjawabnya.
Dia justru menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu kamu kehilangan bayimu tiga bulan lalu.”
Seluruh tubuhku membeku.
“Apa?”
Keisya menggenggam map itu semakin erat.
“Aku sudah tahu sejak malam kejadian.”
Aku merasa udara di sekitarku mendadak menghilang.
“Dari mana kamu tahu?”
Keisya menunduk.
“Rani meneleponku malam itu.”
Aku terdiam.
Rani?
Sahabatku sendiri?
Keisya melanjutkan dengan suara bergetar.
“Waktu Arga enggak bisa dihubungi, Rani menemukan nomor teleponku dari akun media sosial. Dia tahu Arga sedang bersamaku di Bandung. Dia memohon supaya aku menyampaikan bahwa kamu masuk rumah sakit.”
Aku perlahan menoleh kepada Arga.
Wajah suamiku menunjukkan keterkejutan yang sama.
“Keisya, kamu enggak pernah bilang ada telepon dari Rani.”
Keisya mulai menangis.
“Karena aku sengaja menyembunyikannya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku memandang perempuan yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam pernikahanku.
“Kenapa?”
Keisya mengusap air matanya.
“Malam itu ayahku sedang dirawat di rumah sakit Bandung. Arga datang membantuku mengurus administrasi dan menemani keluargaku. Aku tahu itu bukan alasan untuk membuat dia mengabaikanmu.”
Dia berhenti sejenak.
“Waktu Rani menelepon, aku sedang memegang ponsel Arga karena dia pergi membeli obat untuk ayahku. Rani bilang kamu jatuh di rumah, sedang diperiksa, dan kondisimu belum jelas. Aku berjanji akan menyampaikan semuanya.”
“Lalu?” tanyaku.
“Aku enggak menyampaikannya.”
Arga mundur selangkah.
“Kamu sadar enggak apa yang kamu lakukan?”
Keisya mengangguk sambil menangis.
“Aku takut kamu langsung pulang dan meninggalkanku menghadapi masalah ayah sendirian. Aku tahu itu egois. Aku pikir setelah keadaan ayah membaik, aku bisa menjelaskan semuanya.”
Tanganku mulai gemetar.
“Jadi malam itu kamu tahu aku membutuhkan suamiku?”
“Iya.”
“Dan kamu memilih diam?”
Keisya menunduk.
“Iya, Nara.”
Aku tertawa kecil, tetapi air mata langsung mengalir di pipiku.
Selama tiga bulan, aku mengira Arga hanya mengabaikan panggilanku karena terlalu sibuk menemani Keisya.
Ternyata ada seseorang yang secara sadar menyembunyikan kabar tentang keadaanku.
Namun Keisya belum selesai.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
Dia membuka map cokelat itu dan mengeluarkan sebuah amplop putih.
Di sudutnya tertera nama rumah sakit tempat aku dirawat.
Aku langsung mengenalinya.
“Itu apa?”
“Surat yang dititipkan Rani kepadaku dua hari setelah kejadian. Dia mengirimkannya melalui kurir ke alamat rumah sakit ayahku karena kamu masih belum siap bicara langsung dengan Arga.”
Aku menatap amplop tersebut.
Di bagian depannya tertulis nama Arga.
Keisya menyerahkannya dengan tangan gemetar.
“Aku enggak pernah memberikan surat ini kepadanya.”
Arga mengambil amplop itu.
Di dalamnya terdapat salinan surat keterangan perawatan, foto pemeriksaan kehamilan, dan sepucuk surat pendek yang kutulis ketika masih berada di rumah sakit.
Aku bahkan hampir melupakan surat itu.
Saat itu, Rani menyarankanku menulis semua yang ingin kusampaikan karena aku belum sanggup menelepon Arga lagi.
Arga membaca tulisanku dengan mata memerah.
Mas, aku tahu kita sedang banyak masalah. Tapi malam ini aku benar-benar membutuhkanmu. Aku baru saja kehilangan bayi kita. Aku enggak meminta Mas memperbaiki semuanya. Aku cuma ingin Mas pulang dan duduk di sampingku sebentar.
Tangannya gemetar hebat.
“Keisya… kamu menyimpan ini selama tiga bulan?”
Keisya menangis semakin keras.
“Iya.”
“Kenapa baru sekarang kamu mengaku?”
Keisya mengangkat wajah.
“Karena tadi siang aku melihat Nara di rumah sakit. Aku baru tahu ternyata selama ini dia kontrol ke bagian kebidanan. Aku takut sesuatu yang buruk sudah terjadi. Setelah Arga bilang dia menemukan hasil pemeriksaan Nara, aku sadar enggak bisa terus menyembunyikan surat itu.”
Aku menatap Keisya lama sekali.
“Jadi kamu datang bukan untuk meminta maaf karena merebut perhatian suamiku.”
Keisya diam.
“Kamu datang karena kebohonganmu akhirnya terbongkar.”
Air matanya terus mengalir.
“Aku tahu kamu berhak membenciku.”
“Aku enggak punya tenaga untuk membencimu, Keisya. Tapi aku enggak mau kamu berpikir permintaan maaf bisa menghapus apa yang sudah kamu lakukan.”
Keisya mengangguk.
“Aku mengerti.”
Arga tiba-tiba berdiri.
“Mulai malam ini, jangan hubungi aku lagi untuk urusan pribadi.”
Keisya menatapnya dengan wajah hancur.
“Arga…”
“Aku sudah terlalu lama membiarkan batas hubungan kita enggak jelas. Kamu salah karena menyembunyikan kabar itu. Tapi aku juga salah karena terus menempatkanmu dalam posisi yang seharusnya bukan milikmu.”
Keisya tidak membantah.
Dia hanya mengucapkan maaf sekali lagi sebelum meninggalkan apartemen.
Setelah pintu tertutup, Arga menatapku.
“Nara, aku baru tahu ada orang yang sengaja menyembunyikan kabar itu dariku. Tapi aku enggak akan menjadikan Keisya alasan untuk membenarkan sikapku.”
Aku diam.
“Sebelas panggilanmu tetap masuk ke ponselku. Aku memilih enggak menjawab karena mengira kita akan bertengkar lagi. Itu keputusanku sendiri.”
Untuk pertama kalinya, aku mendengar Arga mengakui kesalahannya tanpa berusaha membela diri.
Namun pengakuan itu tidak mengembalikan apa pun.
Aku berjalan menuju meja, mengambil amplop kedua dari kotak hadiah, lalu menyerahkannya kepadanya.
Arga membukanya perlahan.
Wajahnya kembali pucat.
“Surat gugatan cerai?”
Aku mengangguk.
“Aku sudah mengurusnya beberapa minggu lalu.”
“Nara, apa kita enggak bisa mencoba sekali lagi?”
Aku memandang pria yang pernah kucintai sepenuh hati.
“Mas, selama empat tahun aku terus mencoba. Aku pernah memohon supaya Mas pulang lebih awal. Aku pernah menangis cuma karena ingin Mas mendengarkan ceritaku. Bahkan ketika merasa tersakiti, aku selalu menjadi orang pertama yang meminta maaf.”
Aku menarik napas.
“Tapi setelah kehilangan bayi kita, aku akhirnya mengerti bahwa aku enggak bisa terus mempertahankan pernikahan sendirian.”
Arga menangis.
“Aku masih mencintaimu.”
“Aku percaya Mas mungkin masih punya perasaan untukku. Tapi cinta tanpa perhatian, tanggung jawab, dan rasa aman enggak cukup untuk membangun rumah tangga.”
Dia duduk kembali, memandangi surat itu tanpa berkata-kata.
Beberapa menit kemudian, Arga mengangkat wajah.
“Aku akan menghormati keputusanmu.”
Aku mengangguk pelan.
Malam itu, Arga pergi tanpa memaksaku berubah pikiran.
Beberapa hari kemudian, aku menelepon Rani dan meminta penjelasan tentang surat yang tidak pernah sampai kepada Arga.
Rani menangis ketika mengetahui semuanya.
“Aku sudah curiga Keisya enggak menyampaikan surat itu,” katanya. “Tapi waktu kutanya, dia bilang sudah memberikannya. Aku pikir Arga memang memilih diam. Maaf, Na. Seharusnya aku memastikan langsung.”
Aku tidak menyalahkan Rani.
Namun kejadian tersebut membuatku sadar betapa berbahayanya mempercayakan pesan penting kepada seseorang yang memiliki kepentingan sendiri.
Enam bulan kemudian, proses perceraian kami selesai.
Arga beberapa kali meminta maaf dan menawarkan bantuan untuk biaya pemeriksaan kesehatanku. Aku menerima pertanggungjawaban yang memang menjadi kewajibannya, tetapi menolak menjadikan bantuan itu sebagai alasan untuk kembali bersama.
Aku mulai hidup di apartemen yang lebih kecil, kembali bekerja penuh waktu, dan perlahan membangun rutinitas baru.
Suatu pagi, aku datang ke rumah sakit untuk pemeriksaan terakhir.
Dokter mengatakan kondisi fisikku sudah pulih dengan baik.
Ketika keluar dari ruang pemeriksaan, aku melihat seorang ibu muda sedang menggendong bayi di ruang tunggu.
Dulu, pemandangan seperti itu selalu membuat dadaku sesak.
Namun hari itu, aku hanya tersenyum.
Aku masih merindukan anak yang tidak sempat kulahirkan.
Mungkin kerinduan itu akan selalu menjadi bagian dari hidupku.
Tetapi aku tidak lagi merasa harus menghukum diri sendiri karena kehilangan tersebut.
Malam harinya, aku membuka kotak kecil yang dulu kusiapkan untuk Arga.
Aku mengambil foto hasil pemeriksaan kehamilan pertama dan kartu ucapan ulang tahun pernikahan kami.
Lalu aku memasukkannya ke dalam sebuah album.
Di halaman pertama, aku menulis satu kalimat.
Untuk anakku yang pernah hadir begitu singkat, tetapi mengajarkanku arti mencintai dan menjaga diri sendiri.
Aku menutup album itu dengan hati yang jauh lebih tenang.
Dulu aku berpikir kehilangan bayiku adalah akhir dari seluruh kebahagiaanku.
Kemudian aku menyadari bahwa kehilangan itu bukan alasan aku harus terus bertahan dalam hubungan yang membuatku merasa sendirian.
Keisya memang menyembunyikan kebenaran.
Arga memang terlambat mengetahui semuanya.
Namun keputusan untuk melanjutkan hidup akhirnya berada di tanganku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak lagi menunggu seseorang pulang agar hidupku terasa lengkap.
