AKU MEMBERI MAKAN SEORANG KAKEK YANG SETIAP HARI DUDUK DI DEPAN

“KAKEK YANG SELAMA INI KUBERI MAKAN TERNYATA SUDAH MENINGGAL TIGA HARI LALU. TAPI PAGI INI, PULUHAN MOBIL HITAM DATANG KE WARUNGKU MEMBAWA SURAT TERAKHIR DARINYA!”

Aku masih sulit memercayai apa yang sedang terjadi.

Namaku Nadira, 27 tahun. Selama hampir tiga bulan, aku memberikan makanan gratis kepada seorang kakek bernama Pak Surya yang selalu duduk di bangku plastik depan warung nasiku di Yogyakarta.

Dia datang hampir setiap sore pukul enam, mengenakan jaket cokelat lusuh yang sama.

Tidak pernah meminta uang.

Tidak pernah mengeluh.

Dia hanya duduk, menikmati makanan yang kuberikan, lalu sesekali membantuku menghitung pengeluaran warung.

Pertemuan terakhir kami terjadi pada Senin sore.

Hari itu hujan turun cukup deras. Pak Surya datang lebih awal daripada biasanya. Wajahnya terlihat pucat, tetapi dia tetap tersenyum ketika aku membawakan nasi hangat dan sayur sop.

“Kek, wajah Kakek kelihatan capek. Lagi sakit?”

“Cuma kurang tidur, Nak.”

Aku memintanya beristirahat di dalam warung.

Namun sebelum pulang, Pak Surya mengeluarkan sebuah amplop tua dari saku jaketnya.

“Kalau suatu hari Kakek enggak datang lagi, simpan ini baik-baik.”

Aku tertawa kecil.

“Kakek ngomongnya kayak mau pergi jauh saja.”

Dia tidak ikut tertawa.

“Janji sama Kakek, ya.”

Aku akhirnya mengangguk.

Di dalam amplop itu terdapat kartu nama bertuliskan Surya Adiprana dan sebuah nomor telepon.

Aku menyimpannya di laci kasir tanpa berpikir panjang.

Itulah terakhir kalinya aku melihat Pak Surya dalam keadaan hidup.

Keesokan harinya, Selasa, bangku plastik di depan warung kosong.

Aku mengira dia sedang beristirahat.

Rabu sore, Pak Surya kembali tidak muncul.

Aku mulai khawatir dan bertanya kepada beberapa pedagang sekitar, tetapi tidak seorang pun mengetahui tempat tinggalnya.

Kamis malam, seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun datang ke warungku.

Namanya Arga.

Dia menunjukkan foto Pak Surya dan bertanya apakah aku mengenalnya.

Ketika kujawab bahwa kakek itu sering makan di warungku, ekspresinya langsung berubah.

“Kakek itu meninggal Senin malam,” katanya dingin.

Aku membeku.

“Senin malam?”

“Iya. Tiga hari lalu.”

Aku langsung teringat pertemuan terakhir kami pada Senin sore.

Jadi, beberapa jam setelah meninggalkan warungku, Pak Surya telah meninggal dunia.

Air mataku langsung jatuh.

“Beliau dimakamkan di mana, Mas? Saya ingin datang mendoakan.”

Arga justru meletakkan sejumlah uang di meja.

“Ambil ini. Dan mulai sekarang, jangan pernah mengaku punya hubungan dengan kakek itu.”

Aku mendorong uangnya kembali.

“Maaf, saya enggak butuh.”

Wajah Arga mengeras.

“Kalau Kakek pernah memberikan sesuatu kepadamu, lebih baik lupakan saja.”

Jantungku berdebar.

Aku langsung teringat amplop tua di laci kasir.

Namun aku memilih diam.

Arga pergi dengan mobil hitamnya tanpa memberikan alamat makam Pak Surya.

Malam itu aku menangis sendirian.

Aku menyesal karena tidak pernah menanyakan alamat rumah kakek tersebut.

Aku juga menyesal karena tidak menyadari bahwa Senin sore mungkin merupakan kesempatan terakhirku untuk berbicara dengannya.

Jumat pagi, tepat empat hari setelah Pak Surya meninggal dan tiga hari setelah terakhir kali aku melihatnya, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi.

Puluhan mobil hitam berhenti di sepanjang jalan depan warungku.

Para tetangga keluar rumah.

Beberapa pelanggan bahkan meninggalkan sarapannya untuk melihat rombongan tersebut.

Seorang pria berjas gelap turun dari mobil pertama.

Di belakangnya, beberapa orang membawa map dokumen.

Arga juga terlihat di antara mereka.

Namun kali ini wajahnya pucat.

Pria berjas itu berjalan menghampiriku.

“Apakah Anda Nona Nadira?”

Aku mengangguk gugup.

“Saya Haryanto, pengacara pribadi almarhum Bapak Surya Adiprana.”

Aku terdiam.

“Pak Surya?”

“Benar. Beliau meninggal dunia pada Senin malam setelah sempat mendapatkan perawatan medis. Pemakamannya dilaksanakan pada Rabu pagi.”

Air mataku kembali menggenang.

“Jadi beliau benar-benar sudah enggak ada?”

Pak Haryanto mengangguk.

“Saya turut berduka. Kami datang hari ini karena almarhum meninggalkan pesan khusus untuk Anda.”

Aku menatapnya bingung.

“Untuk saya?”

“Iya. Sebelum meninggal, beliau telah memberikan instruksi tertulis kepada kami. Setelah seluruh dokumen awal diperiksa, keluarga dan pihak terkait diminta berkumpul di sini pada Jumat pagi.”

Aku memandang deretan mobil hitam di belakangnya.

“Jadi orang-orang ini datang karena permintaan Pak Surya?”

“Sebagian adalah anggota keluarga beliau, sebagian lagi penasihat hukum dan perwakilan usaha yang berkaitan dengan dokumen tersebut.”

Pak Haryanto kemudian mengeluarkan sebuah foto lama.

Aku langsung mengenali perempuan yang berdiri di samping Pak Surya.

Itu nenekku.

Ibu dari almarhum ayahku.

“Pak, ini nenek saya.”

“Saya tahu, Nona Nadira.”

Tanganku mulai gemetar.

“Bagaimana Bapak bisa tahu?”

“Karena lebih dari empat puluh tahun lalu, nenek Anda pernah menyelamatkan hidup Pak Surya ketika beliau belum memiliki apa-apa.”

Aku menatap foto tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Pak Haryanto melanjutkan.

“Waktu itu Pak Surya mengalami kecelakaan di sebuah daerah dekat Yogyakarta. Beliau kehilangan pekerjaan, tidak mempunyai keluarga yang bisa dihubungi, dan membutuhkan biaya pengobatan. Nenek Anda menolongnya, membayar sebagian biaya rumah sakit, bahkan memberinya tempat tinggal sementara.”

Aku terdiam.

“Pak Surya tidak pernah melupakan pertolongan itu. Setelah berhasil membangun usahanya, beliau berkali-kali mencoba menemukan keluarga nenek Anda untuk membalas kebaikannya.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena keluarga Anda sudah beberapa kali berpindah tempat tinggal. Beliau baru berhasil menemukan Anda beberapa bulan lalu, setelah mengetahui bahwa cucu perempuan yang dicarinya menjalankan warung nasi di sini.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Jadi selama tiga bulan ini, Pak Surya sebenarnya sudah mengetahui siapa aku.

Namun dia memilih datang sebagai seorang kakek sederhana.

Bukan pengusaha kaya.

Bukan orang berpengaruh.

Hanya seseorang yang ingin mengenal cucu perempuan dari orang yang pernah menyelamatkan hidupnya.

Pak Haryanto mengeluarkan amplop krem bertuliskan namaku.

“Surat ini ditulis Pak Surya sebelum beliau meninggal. Beliau meminta agar surat tersebut dibacakan setelah keluarga yang terkait dengan amanatnya hadir.”

Arga tiba-tiba maju.

“Pak Haryanto, saya rasa ini bukan tempat yang tepat!”

Pengacara itu menatapnya.

“Tempat ini dipilih langsung oleh almarhum, Pak Arga.”

Wajah Arga semakin tegang.

Pak Haryanto membuka surat tersebut.

Di dalamnya tertulis bahwa Pak Surya ingin membantu mengembangkan warungku melalui sebuah dana sosial yang sudah disiapkan secara khusus.

Namun ada hal lain yang membuatku membeku.

Pak Surya juga meminta pengacaranya memeriksa rencana pembelian deretan ruko di sepanjang jalan tempat aku berjualan.

Termasuk ruko yang sewanya tiba-tiba dinaikkan hampir dua kali lipat.

“Apa hubungannya dengan saya, Pak?” tanyaku.

Pak Haryanto mengeluarkan dokumen tambahan.

“Berdasarkan pemeriksaan awal, rencana pembelian beberapa ruko ini berkaitan dengan salah satu anak perusahaan kelompok usaha Pak Surya.”

Aku menoleh kepada Arga.

Wajahnya terlihat semakin pucat.

“Pak Arga merupakan salah satu pimpinan yang mengurus proyek tersebut,” lanjut pengacara itu.

Aku teringat ancaman pemilik ruko yang memberiku waktu sepuluh hari untuk membayar sewa baru atau pergi.

“Jadi kenaikan sewa warung saya ada hubungannya dengan Arga?”

Pak Haryanto menjawab hati-hati.

“Kami menemukan korespondensi yang menunjukkan adanya permintaan agar beberapa ruko dikosongkan sebelum transaksi pembelian diselesaikan. Keterlibatan masing-masing pihak masih perlu diperiksa lebih lanjut.”

Arga langsung menyela.

“Itu prosedur bisnis biasa!”

Pak Haryanto menatapnya tenang.

“Kalau memang demikian, tentu Bapak tidak keberatan dokumennya diperiksa.”

Arga terdiam.

Aku menggenggam kartu nama pemberian Pak Surya.

Sekarang aku mulai memahami mengapa Arga datang pada Kamis malam dan memintaku mengaku tidak mengenal kakeknya.

Dia khawatir hubunganku dengan Pak Surya akan mengungkap tindakan yang dilakukannya terhadap para penyewa ruko.

Namun Pak Haryanto belum selesai.

“Nona Nadira, ada satu keputusan lain yang dibuat almarhum.”

Aku menatapnya.

“Apa, Pak?”

“Beliau telah menyiapkan dana untuk membantu usaha Anda berkembang. Dana itu tidak langsung menjadi milik pribadi Anda, tetapi dikelola melalui program pemberdayaan usaha kecil yang beliau bentuk sebelum meninggal.”

Aku terdiam.

“Kenapa harus saya?”

Pak Haryanto tersenyum.

“Karena ketika Pak Surya bertanya apa yang akan Anda lakukan jika memiliki uang banyak, Anda menjawab ingin membuka lapangan pekerjaan bagi ibu-ibu yang kesulitan mencari nafkah.”

Air mataku kembali jatuh.

Aku teringat percakapan kami saat hujan.

Aku mengira Pak Surya hanya sedang mengajakku mengobrol.

Ternyata beliau menyimpan setiap kata.

Pak Haryanto menyerahkan surat terakhirnya kepadaku.

Di bagian bawah terdapat satu kalimat yang ditulis tangan.

Nadira, dulu nenekmu menolongku ketika aku bukan siapa-siapa. Kamu menolongku ketika mengira aku juga bukan siapa-siapa. Jangan pernah kehilangan hati seperti itu, sekalipun suatu hari kamu memiliki lebih banyak daripada yang pernah kamu bayangkan.

Aku menangis sambil memeluk surat tersebut.

Beberapa bulan setelah pertemuan itu, rencana pengosongan ruko dihentikan sementara untuk diperiksa. Pengelola proyek kemudian memperbaiki prosedur negosiasi dengan para penyewa.

Arga diberhentikan dari penanganan proyek setelah pemeriksaan internal menemukan pelanggaran prosedur dan konflik kepentingan yang tidak dilaporkan.

Sementara itu, melalui program yang telah disiapkan Pak Surya, aku mendapat akses pelatihan usaha, bantuan peralatan, dan pembiayaan pengembangan dapur produksi dengan ketentuan yang jelas.

Warung kecilku perlahan berkembang.

Aku mulai mempekerjakan beberapa ibu yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kuubah.

Bangku plastik di depan warung.

Bangku tempat Pak Surya selalu duduk setiap pukul enam sore.

Aku membersihkannya setiap hari.

Bukan karena berharap beliau datang lagi.

Melainkan karena ingin selalu mengingat seseorang yang pernah mengajariku bahwa nilai sebuah kebaikan tidak ditentukan oleh jumlah uang yang diberikan.

Setiap kali melihat bangku tersebut, aku teringat senyumnya.

Dan aku selalu bersyukur karena pada Senin sore terakhir itu, sebelum beliau meninggalkan warung, aku sempat mengatakan sesuatu.

“Kek, besok datang lagi, ya. Aku mau masakin sayur sop kesukaan Kakek.”

Pak Surya hanya tersenyum dan menjawab pelan.

“Kalau Kakek enggak sempat datang, jangan berhenti berbagi, Nak.”

Waktu itu aku tidak memahami maksudnya.

Sekarang aku mengerti.

Pak Surya memang tidak pernah kembali.

Namun kebaikannya tetap hidup melalui orang-orang yang akhirnya bisa kubantu.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang