Pukul lima pagi, aku menemukan sesuatu yang membuat tanganku gemetar lebih hebat daripada saat terjebak di gudang obat.
Namaku bukan hanya dihapus dari dokumen program tanggap darurat.

Dalam laporan penilaian kompetensi yang dikirim ke bagian kepegawaian, aku dinyatakan tidak mampu bekerja di bawah tekanan, memiliki ketidakstabilan emosi, dan membutuhkan pengawasan khusus ketika menghadapi situasi darurat.
Di bagian akhir laporan itu terdapat tanda tangan elektronik Kapten Dimas Adinata.
Tanggalnya enam minggu lalu.
Aku membaca dokumen tersebut berulang kali.
Enam minggu lalu, aku masih menjalankan tugas seperti biasa. Aku bahkan baru saja memimpin tim medis saat simulasi penanganan korban kecelakaan massal dan mendapatkan evaluasi yang baik dari instruktur senior.
Bagaimana mungkin seseorang menilaiku tidak kompeten tanpa pernah memberitahuku?
Aku segera menghubungi Ratih.
“Mbak, aku menemukan laporan lain.”
“Apa isinya?”
“Dimas menulis kalau aku nggak layak memimpin penanganan darurat.”
Ratih terdiam.
“Kamu pernah menjalani evaluasi resmi yang hasilnya seperti itu?”
“Nggak pernah.”
“Kalau begitu, jangan langsung menemui Dimas. Kita periksa dulu dokumen aslinya dan siapa saja yang punya kewenangan mengubah data.”
Aku mengangguk.
Ratih kemudian memintaku mengumpulkan bukti pekerjaan yang memang berhak kuakses dan menyerahkannya melalui prosedur resmi.
Pagi itu, aku tidak datang memenuhi perintah Dimas untuk mengajari Keisya.
Aku justru pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.
Dokter spesialis THT menjelaskan bahwa pita suaraku mengalami peradangan akibat benturan dan iritasi bahan kimia. Aku membutuhkan istirahat suara serta pemantauan sampai kondisiku pulih.
“Kalau dipaksakan bicara keras atau mengikuti latihan berat sekarang, pemulihannya bisa terganggu,” kata dokter.
Aku mengangguk.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa bersalah karena harus beristirahat.
Ketika keluar dari ruang pemeriksaan, ponselku dipenuhi pesan Dimas.
“Alya, kamu di mana?”
“Keisya belum memahami bagian distribusi obat.”
“Presentasi tinggal beberapa hari.”
“Kamu sengaja mau mempermalukan unit kita?”
Aku membaca semuanya tanpa menjawab.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan baru masuk.
“Kalau kamu masih ingin mendapat rekomendasi penugasan tahun depan, sebaiknya belajar bekerja sama.”
Aku berhenti berjalan.
Rekomendasi penugasan.
Tiba-tiba, aku teringat formulir pendaftaran Maluku yang kukirim semalam.
Apakah Dimas memiliki pengaruh terhadap seleksi tersebut?
Aku langsung menelepon Ratih.
“Mbak, untuk penugasan Maluku, siapa yang menentukan kelulusan?”
“Ada tim seleksi terpisah. Mereka menilai kompetensi, pengalaman, kondisi kesehatan, dan kebutuhan pelayanan.”
“Dimas bisa menggagalkanku?”
“Dia bisa memberikan laporan sesuai kewenangannya, tetapi bukan satu-satunya penentu. Kalau ada penilaian yang tidak sesuai fakta, kamu berhak meminta pemeriksaan.”
Aku menghembuskan napas lega.
Namun, Ratih belum selesai berbicara.
“Alya, aku baru menerima informasi dari bagian administrasi. Program tanggap darurat yang kamu susun ternyata sudah diajukan untuk penghargaan inovasi pelayanan medis.”
Aku berhenti di depan lift.
“Penghargaan apa?”
“Program inovasi tingkat institusi. Kalau lolos, tim penyusunnya akan mendapat pengakuan resmi dan kesempatan mengikuti pelatihan lanjutan.”
Dadaku mendadak sesak.
“Nama Keisya yang diajukan?”
“Iya. Sebagai ketua penyusun.”
Aku memejamkan mata.
Jadi, ini bukan sekadar kesempatan presentasi.
Ada penghargaan dan pengembangan karier yang mungkin sedang diambil dari hasil kerja kerasku.
Siang itu, Ratih membantuku mengajukan permintaan peninjauan dokumen kepada bagian pengawasan internal.
Aku menyerahkan salinan rancangan awal, riwayat revisi, korespondensi pekerjaan, serta bukti pengumpulan data dari lima unit pelayanan.
Aku juga menyampaikan laporan terpisah mengenai kecelakaan saat latihan dan kejadian terkunci di gudang, tanpa langsung menuduh siapa pun sebagai pelakunya.
Aku ingin fakta diperiksa, bukan sekadar membalas rasa sakit hati.
Dua hari kemudian, Dimas mendatangiku di rumah Mama.
Dia masih mengenakan seragam dinas.
“Alya, kita perlu bicara.”
Aku sedang duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen pemeriksaan kesehatan.
“Silakan.”
Dimas duduk di hadapanku.
“Kenapa kamu mengajukan keberatan ke bagian pengawasan?”
Aku menutup map perlahan.
“Karena namaku dihapus dari program yang kususun.”
Dimas menghela napas.
“Keisya hanya menggantikanmu sebagai penanggung jawab presentasi.”
“Kalau begitu, kenapa namanya tercantum sebagai penyusun utama?”
“Itu penyesuaian administrasi.”
“Dan laporan yang mengatakan aku tidak kompeten?”
Wajah Dimas langsung berubah.
“Kamu mendapatkan laporan itu dari mana?”
Aku menatapnya lama.
“Jadi kamu mengakui laporan itu memang ada?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara yang masih serak.
“Enam minggu lalu, aku memimpin simulasi penanganan korban dengan hasil evaluasi baik. Tapi kamu menulis kalau aku tidak stabil secara emosional.”
“Aku hanya mempertimbangkan keselamatan tim.”
“Berdasarkan evaluasi yang mana?”
Dimas mengusap wajahnya.
“Alya, kamu memang sering panik.”
“Aku pernah mengalami serangan panik, Mas. Tapi itu tidak berarti seluruh pekerjaanku gagal. Kalau ada masalah kompetensi, seharusnya dilakukan evaluasi objektif, bukan menuliskan kesimpulan sepihak.”
Dimas menatapku dengan kesal.
“Kamu berubah sejak membatalkan pertunangan.”
Aku tersenyum tipis.
“Mungkin karena sekarang aku berhenti membiarkan kamu menjawab semua pertanyaan atas namaku.”
Sebelum Dimas sempat membalas, Mama keluar dari dapur.
“Alya, jangan bicara seperti itu kepada calon suamimu.”
Aku menoleh.
“Ma, pertunangan kami sudah batal.”
Mama meletakkan gelas dengan keras.
“Mama belum menyetujui pembatalan itu.”
Aku terdiam beberapa detik.
Kemudian menjawab pelan.
“Mama tidak harus menyetujuinya.”
Wajah Mama memerah.
“Kamu sekarang berani melawan Mama?”
“Aku sedang mengambil keputusan tentang hidupku sendiri.”
Dimas segera berdiri.
“Tante, biar saya bicara dengan Alya nanti.”
Namun, aku menggeleng.
“Nggak perlu, Mas. Setelah ini, kalau ada persoalan pekerjaan, kita bicarakan melalui jalur resmi.”
Dimas menatapku dengan sorot mata yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Lalu dia pergi tanpa berpamitan.
Seminggu kemudian, aku menerima panggilan untuk memberikan keterangan kepada tim pemeriksa internal.
Di ruangan kecil lantai tiga, seorang pejabat pengawas bernama Kolonel Surya memintaku menjelaskan kronologi penyusunan program.
Aku menunjukkan dokumen satu per satu.
Tanggal pengumpulan data.
Catatan wawancara dengan kepala unit.
Perhitungan kebutuhan logistik.
Riwayat perubahan rancangan.
Ketika sampai pada dokumen pengesahan, Kolonel Surya mengernyit.
“Saudari Alya, apakah Anda pernah memberikan persetujuan tertulis untuk mengalihkan kepemilikan karya ini?”
“Tidak, Pak.”
“Apakah Saudari mengetahui bahwa dokumen tersebut diubah sebelum kecelakaan latihan?”
“Saya baru mengetahuinya beberapa hari lalu.”
Beliau mengangguk dan mencatat sesuatu.
Kemudian seorang petugas menyerahkan berkas lain.
Kolonel Surya membacanya cukup lama.
“Ada satu hal yang perlu kami konfirmasi.”
Aku menegakkan tubuh.
“Apa, Pak?”
“Dalam catatan persetujuan perubahan dokumen, terdapat nama seorang pihak yang menyatakan telah memberikan pertimbangan mengenai kondisi psikologis Anda.”
Aku membeku.
“Siapa?”
Kolonel Surya memandangku.
“Ibu Ratna Maheswari.”
Mama.
Aku menatap beliau tanpa berkedip.
Nama itu terasa seperti pukulan yang datang dari tempat paling tidak kuduga.
“Mama saya?”
“Benar. Namun, kami masih memeriksa konteks pernyataan tersebut dan bagaimana dokumen itu digunakan.”
Aku tidak langsung menjawab.
Selama ini, Mama selalu mengatakan aku terlalu lemah.
Terlalu penakut.
Terlalu sulit diatur.
Namun, aku tidak pernah membayangkan penilaiannya tentang diriku sampai digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam urusan pekerjaanku.
Sore itu, aku pulang dengan perasaan hancur.
Mama sedang duduk di ruang keluarga ketika aku masuk.
“Ma, Mama pernah bicara dengan Dimas tentang kondisi psikologisku?”
Beliau menoleh.
“Pernah. Kenapa?”
“Apa Mama pernah memberikan pernyataan tertulis?”
Mama terdiam.
Aku langsung tahu jawabannya.
“Ma?”
Mama menarik napas panjang.
“Dimas meminta Mama menjelaskan kebiasaanmu sejak kecil. Dia bilang itu untuk membantu penempatan tugas yang sesuai.”
Aku menggenggam tas semakin erat.
“Jadi Mama menulis kalau aku gampang panik?”
“Itu kenyataan, Alya.”
“Dan Mama tidak bertanya laporan itu akan digunakan untuk apa?”
Mama mulai terlihat kesal.
“Mama cuma ingin kamu mendapat pekerjaan yang tidak terlalu berat. Kamu selalu memaksakan diri.”
Aku tertawa kecil, tetapi air mataku mulai jatuh.
“Ma, aku sudah tujuh tahun bekerja. Aku punya sertifikasi, pengalaman lapangan, dan evaluasi kinerja. Kenapa cerita Mama tentang ketakutanku waktu kecil harus menentukan kemampuanku sekarang?”
Mama tidak menjawab.
Aku menarik napas panjang.
“Selama ini Mama bilang ingin aku kuat. Tapi setiap kali aku berhasil melakukan sesuatu sendiri, Mama justru mengingatkanku bahwa aku lemah.”
Wajah Mama perlahan berubah.
“Alya…”
“Aku tahu Mama mungkin khawatir. Tapi kekhawatiran tidak memberi Mama hak untuk menentukan masa depanku tanpa mendengarkanku.”
Malam itu, aku memutuskan pindah sementara ke apartemen kecil milik Ratih yang sedang kosong.
Aku membutuhkan jarak untuk memulihkan diri, bukan hanya dari cedera, tetapi juga dari tekanan yang terus membuatku meragukan kemampuan sendiri.
Dua minggu berikutnya, pemeriksaan internal berlangsung.
Dari rekaman CCTV dan catatan akses gudang, diketahui bahwa pintu terkunci akibat penggunaan sistem penguncian otomatis yang belum diperbaiki dengan benar.
Keisya memang pernah meminta petugas kebersihan melakukan disinfeksi ruangan, tetapi tidak ada bukti bahwa dia sengaja mengurungku.
Meski demikian, tim pemeriksa menemukan bahwa jadwal pembersihan tidak diberitahukan kepada seluruh petugas yang menggunakan gudang.
Ada kelalaian prosedur keselamatan yang harus dipertanggungjawabkan.
Sementara itu, pemeriksaan terhadap kecelakaan latihan menemukan bahwa pengait pengaman tidak memenuhi kondisi penggunaan yang semestinya.
Dimas juga dianggap tidak menjalankan prosedur penghentian latihan setelah peserta mengalami cedera.
Namun, temuan terbesar justru berasal dari dokumen program tanggap darurat.
Tim audit menemukan riwayat perubahan yang menunjukkan bahwa Dimas menyetujui penggantian nama penyusun utama atas permintaan Keisya, tanpa adanya persetujuan dariku.
Ketika dimintai keterangan, Keisya menyatakan bahwa dia hanya mengikuti arahan Dimas.
Namun, korespondensi yang ditemukan menunjukkan bahwa dialah yang pertama kali mengusulkan penggantian tersebut.
Aku menerima salinan kesimpulan pemeriksaan beberapa hari kemudian.
Tanganku gemetar ketika membacanya.
Bukan karena terkejut bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang salah.
Melainkan karena akhirnya ada dokumen resmi yang menunjukkan bahwa selama ini aku tidak sekadar membayangkan ketidakadilan tersebut.
Namaku kemudian dipulihkan sebagai penyusun utama program.
Proses penilaian penghargaan ditunda sampai koreksi administrasi selesai.
Dimas dan Keisya menjalani pemeriksaan disiplin sesuai kewenangan institusi, sedangkan rekomendasi kompetensi yang tidak didukung evaluasi objektif diminta untuk ditinjau kembali.
Aku tidak merasa gembira melihat mereka menghadapi konsekuensi.
Aku hanya merasa lega karena pekerjaanku akhirnya diakui.
Beberapa hari kemudian, Keisya menemuiku di halaman rumah sakit.
Dia tampak jauh lebih kurus.
“Alya, boleh bicara sebentar?”
Aku mengangguk.
Keisya menunduk.
“Aku minta maaf.”
Aku menunggu.
“Aku iri sama kamu.”
Aku mengernyit.
“Iri?”
Keisya mengangguk sambil menangis.
“Semua orang selalu bilang aku lebih percaya diri, lebih berani, lebih cocok memimpin. Tapi setiap kali ada pekerjaan sulit, hasilmu selalu lebih baik.”
Aku terdiam.
“Aku merasa harus membuktikan bahwa aku juga bisa. Waktu Dimas menawarkan kesempatan presentasi, aku menerimanya. Awalnya aku bilang ke diri sendiri cuma menggantikanmu.”
Dia mengusap air mata.
“Tapi ketika namaku dicantumkan sebagai penyusun utama, aku nggak menolak.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena untuk pertama kalinya, aku merasa orang-orang akan melihatku sebagai seseorang yang berhasil.”
Aku menghela napas panjang.
“Keisya, kamu punya kemampuan sendiri. Kamu nggak perlu mengambil pekerjaan orang lain supaya terlihat berhasil.”
“Aku tahu sekarang.”
Aku memandangnya beberapa saat.
“Dan soal Dimas?”
Keisya terdiam.
Kemudian dia menggeleng.
“Tidak ada hubungan seperti yang kamu pikirkan. Tapi aku senang ketika dia lebih memperhatikanku. Aku merasa menang setiap kali dia membelaku di depanmu.”
Pengakuan itu menyakitkan.
Namun, setidaknya kali ini Keisya tidak berusaha menyembunyikannya.
“Aku menerima permintaan maafmu,” kataku akhirnya. “Tapi bukan berarti semuanya langsung kembali seperti dulu.”
Keisya mengangguk.
“Aku mengerti.”
Sebulan kemudian, kondisiku membaik.
Suaraku mulai pulih, dan dokter mengizinkanku kembali menjalani aktivitas kerja secara bertahap.
Pada saat yang hampir bersamaan, Ratih menelepon membawa kabar.
“Alya, hasil seleksi Maluku sudah keluar.”
Aku langsung berdiri.
“Bagaimana, Mbak?”
“Kamu diterima.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Serius?”
“Iya. Tapi penempatannya tetap bergantung pada hasil pemeriksaan kesehatan akhir dan kesiapan keberangkatan.”
Aku tertawa sambil menangis.
Selama beberapa detik, aku tidak mampu mengatakan apa pun.
Dua tahun.
Aku benar-benar akan menjalani penugasan selama dua tahun di wilayah Kepulauan Maluku.
Ketika kabar itu sampai kepada Mama, beliau meneleponku.
“Alya, kamu benar-benar mau pergi sejauh itu?”
“Iya, Ma.”
“Di sana fasilitasnya tidak seperti di Bogor. Kalau kamu sakit bagaimana?”
“Ada sistem pelayanan kesehatan dan prosedur penanganan darurat, Ma. Aku juga sudah membaca seluruh ketentuannya.”
Mama terdiam lama.
Kemudian suaranya terdengar bergetar.
“Mama takut kehilangan kamu.”
Aku memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, Mama mengakui ketakutannya sendiri.
“Ma, aku juga takut.”
“Kalau begitu jangan pergi.”
Aku tersenyum sedih.
“Takut bukan berarti aku harus berhenti.”
Di seberang sana, Mama mulai menangis.
“Alya, Mama cuma ingin melindungimu.”
“Aku tahu. Tapi mulai sekarang, biarkan aku belajar melindungi diriku sendiri juga.”
Mama tidak langsung menjawab.
Namun, sebelum menutup telepon, beliau berkata pelan.
“Hati-hati di sana, Nak.”
Dua minggu sebelum keberangkatan, Dimas datang menemuiku.
Dia mengenakan pakaian biasa dan terlihat lebih lelah daripada terakhir kali kami bertemu.
“Aku dengar kamu diterima di Maluku.”
Aku mengangguk.
“Selamat,” katanya.
“Terima kasih.”
Kami berdiri canggung di taman rumah sakit.
Kemudian Dimas mengeluarkan sebuah amplop.
“Ini hasil evaluasi latihan pertamamu lima tahun lalu.”
Aku menerimanya dengan bingung.
“Untuk apa?”
“Aku menemukannya ketika membereskan dokumen lama.”
Aku membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat lembar penilaian yang sudah menguning.
Namaku tercantum jelas.
Di bagian komentar instruktur, tertulis bahwa aku menunjukkan kemampuan mengambil keputusan yang baik dalam tekanan dan memiliki kepedulian tinggi terhadap keselamatan korban.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
“Kenapa kamu memberikannya sekarang?”
Dimas menunduk.
“Karena aku baru sadar sesuatu.”
Aku menatapnya.
“Dulu aku jatuh cinta karena kamu berani melakukan hal yang sulit meskipun kamu takut. Tapi setelah hubungan kita semakin serius, aku malah ingin kamu menjadi seseorang yang selalu bisa kukendalikan.”
Aku tidak menjawab.
“Aku pikir kalau kamu terus bergantung kepadaku, kamu nggak akan pernah meninggalkanku.”
Angin sore bertiup pelan.
Aku memandangi lelaki yang pernah begitu kucintai.
“Mas, kamu nggak harus membuat seseorang merasa kecil supaya dia tetap membutuhkanmu.”
Dimas mengangguk dengan mata merah.
“Aku tahu. Tapi aku terlambat menyadarinya.”
Aku mengembalikan amplop itu kepadanya.
“Simpan saja. Aku sudah punya bukti yang lebih penting.”
“Apa?”
Aku tersenyum kecil.
“Pengalaman yang kubangun sendiri.”
Hari keberangkatan akhirnya tiba.
Di Bandara Soekarno-Hatta, Ratih mengantarku bersama beberapa rekan kerja.
Mama juga datang.
Beliau membawa sebuah tas kecil berisi obat-obatan pribadi yang sudah disesuaikan dengan anjuran dokter, makanan ringan, dan selembar surat.
“Apa ini, Ma?”
“Baca nanti kalau sudah sampai.”
Aku memeluknya erat.
Mama menangis.
Namun, kali ini dia tidak memintaku membatalkan keberangkatan.
Ketika pesawat lepas landas, aku memandang kota yang perlahan mengecil di bawah awan.
Untuk pertama kalinya, aku pergi bukan untuk melarikan diri dari seseorang.
Aku pergi karena ada kehidupan yang ingin kubangun.
Tiga bulan pertama di Maluku tidak mudah.
Aku harus menyesuaikan diri dengan cuaca, perjalanan laut, keterbatasan persediaan, dan jadwal pelayanan yang kadang berubah mengikuti kondisi alam.
Ada hari ketika aku merasa sangat lelah.
Ada malam ketika suara hujan dan angin membuatku teringat kejadian terkunci di gudang.
Namun, aku belajar meminta bantuan ketika membutuhkannya.
Aku tidak lagi menganggap keberanian sebagai kemampuan melakukan semuanya sendirian.
Suatu sore, tim kami menerima seorang anak laki-laki yang mengalami luka setelah terjatuh dari perahu kecil.
Anak itu menangis ketakutan ketika melihat peralatan medis.
Aku duduk di sampingnya.
“Takut, ya?”
Dia mengangguk.
“Aku juga pernah takut,” kataku.
Anak itu menatapku.
“Tante perawat juga takut?”
“Iya. Banyak hal yang masih bikin Tante takut.”
“Terus kenapa Tante tetap kerja di sini?”
Aku tersenyum.
“Karena takut itu perasaan. Kita tetap bisa belajar melakukan hal yang perlu dilakukan, pelan-pelan, dengan bantuan orang lain.”
Anak itu mengangguk.
Aku menggenggam tangannya ketika dokter mulai menangani lukanya.
Dan pada saat itulah, aku teringat diriku sendiri.
Perempuan yang dulu selalu dianggap lemah karena mengakui ketakutannya.
Perempuan yang pernah dipaksa percaya bahwa dirinya tidak cukup kompeten.
Sekarang aku duduk di sebuah klinik kecil di pulau yang jauh dari rumah, membantu seseorang melewati rasa takutnya.
Enam bulan setelah penugasanku dimulai, aku menerima sebuah surel resmi.
Program tanggap darurat yang kususun akhirnya memperoleh penghargaan inovasi pelayanan di tingkat institusi.
Namaku tercantum sebagai penyusun utama.
Aku membaca pemberitahuan itu dengan mata berkaca-kaca.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih membuatku terharu.
Dalam catatan penilaiannya, tim menyebut bahwa rancangan tersebut membantu meningkatkan kesiapan distribusi obat dan koordinasi tenaga medis saat simulasi penanganan korban.
Program itu tidak lagi sekadar dokumen yang pernah diperebutkan.
Hasil kerjaku akhirnya digunakan sebagaimana tujuan awalnya.
Malam itu, aku membuka surat dari Mama yang sejak keberangkatan kusimpan di dalam laci.
Aku pernah membacanya sekali, tetapi kali ini aku ingin membacanya kembali.
Tulisan tangan Mama terlihat sedikit bergetar.
“Alya, Mama dulu mengira anak yang berani adalah anak yang tidak pernah takut. Mama berusaha menghapus semua ketakutanmu karena Mama sendiri tidak tahu bagaimana menghadapi rasa takut kehilangan orang yang Mama sayangi.
Mama salah ketika menganggap perasaanmu sebagai kelemahan.
Mama juga salah ketika membiarkan orang lain menggunakan cerita masa kecilmu untuk menilai kemampuanmu sekarang.
Mama tidak meminta kamu langsung memaafkan semuanya.
Mama hanya ingin kamu tahu bahwa Mama bangga melihatmu berani memilih hidupmu sendiri.
Pulanglah nanti bukan karena kamu kalah, tetapi karena kamu memang ingin pulang.”
Aku menangis lama setelah selesai membacanya.
Bukan karena semua luka masa lalu langsung sembuh.
Melainkan karena akhirnya Mama mulai memahami sesuatu yang selama ini begitu sulit kujelaskan.
Dua tahun kemudian, pada hari terakhir penugasanku, aku berdiri di dermaga kecil sambil memandang laut yang berkilauan diterpa matahari pagi.
Seorang rekan kerja menghampiriku.
“Alya, setelah ini mau kembali ke Bogor?”
Aku tersenyum.
“Mungkin. Tapi aku ingin melanjutkan pendidikan dulu.”
“Nggak takut memulai lagi?”
Aku tertawa pelan.
“Takut.”
Rekanku ikut tertawa.
“Terus?”
Aku memandang kapal yang bersiap berangkat.
“Ya tetap jalan.”
Di dalam tas, tersimpan salinan penghargaan program tanggap darurat, sertifikat penugasan, dan foto-foto orang yang pernah kutemui selama dua tahun terakhir.
Namun, benda paling berharga bagiku justru selembar catatan kecil yang kutulis sendiri pada malam sebelum berangkat.
“Aku tidak harus menjadi manusia tanpa rasa takut untuk membuktikan bahwa aku mampu.”
Aku membacanya sekali lagi sebelum memasukkannya kembali ke tas.
Selama bertahun-tahun, aku membiarkan orang lain menentukan siapa diriku.
Mama menyebutku penakut.
Dimas menyebutku tidak stabil.
Keisya membuatku merasa bahwa keberhasilanku selalu bisa digantikan oleh orang lain.
Namun, pada akhirnya, tidak satu pun dari mereka berhak menentukan batas kemampuanku.
Aku memang pernah takut.
Aku pernah terluka.
Aku pernah salah mempercayai seseorang.
Tetapi semua itu tidak menghapus pengetahuan, pengalaman, dan kerja keras yang telah kubangun.
Saat kapal mulai bergerak meninggalkan dermaga, aku tersenyum memandang laut.
Dulu, aku mengira keberanian berarti tidak pernah gemetar.
Sekarang aku tahu, keberanian justru sering dimulai ketika tangan masih gemetar, tetapi kita tetap memilih melakukan hal yang benar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak lagi berusaha menjadi perempuan yang tidak memiliki ketakutan.
Aku hanya ingin menjadi perempuan yang tidak membiarkan ketakutan, atau orang-orang yang memanfaatkannya, mengambil alih masa depanku.
