
“Kalau pria dalam foto ini adalah keluarga Adrian, kenapa dia berdiri begitu dekat dengan ibuku dua puluh delapan tahun lalu?”
Tanganku gemetar ketika menunjukkan foto itu kepada Selena.
Perempuan di hadapanku tidak langsung menjawab. Dia justru menarik kursi, duduk, lalu memintaku melakukan hal yang sama.
“Kirana, ada alasan kenapa aku datang sendiri dan enggak meminta Adrian menjelaskan semuanya.”
Aku masih berdiri.
“Alasan apa?”
“Karena aku takut Adrian akan kembali mengambil keputusan atas nama melindungimu, tanpa memberimu kesempatan menentukan hidupmu sendiri.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Di atas meja redaksi, cincin pernikahan yang seharusnya melingkar di jariku masih tersimpan dalam kotak beludru.
Selena menunjuknya.
“Adrian menitipkan cincin itu kepadaku kemarin. Dia bilang belum berani menemuimu karena kamu pasti membencinya.”
“Lalu kenapa kamu yang membawanya?”
“Karena aku tahu ada sesuatu yang lebih penting daripada cincin itu.”
Aku akhirnya duduk.
“Ceritakan semuanya.”
Selena menarik napas panjang.
“Pria dalam foto itu bernama Hendra Mahendra. Dia adik almarhum kakek Adrian.”
Jantungku berdegup keras.
“Jadi dia paman dari ayah Adrian?”
Selena mengangguk.
Aku menatap foto itu sekali lagi.
Hendra Mahendra berdiri di samping ibuku, Ratna Adelia. Mereka terlihat akrab, tetapi foto tersebut tidak cukup untuk menjelaskan hubungan mereka.
“Apa hubungan dia dengan Ibu?”
“Dulu mereka bekerja bersama di Bandung. Hendra mengelola perusahaan percetakan keluarga Mahendra, sedangkan ibumu menangani pembukuan.”
Aku mulai merasa lega.
Setidaknya, hubungan mereka tidak langsung berarti sesuatu yang mengerikan seperti yang sempat kubayangkan.
Namun Selena belum selesai.
“Pada tahun 1998, perusahaan itu mengalami masalah keuangan besar. Hendra dituduh menggelapkan dana, lalu meninggal beberapa bulan kemudian akibat kecelakaan.”
Aku membeku.
“Terus hubungannya denganku?”
“Setelah kematian Hendra, keluarga Mahendra menemukan catatan yang menunjukkan bahwa ibumu pernah menerima transfer sejumlah besar uang dari rekening perusahaan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Ibuku?”
Selena mengangguk.
“Selama bertahun-tahun, keluarga Adrian mengira ibumu mengetahui sesuatu tentang hilangnya dana itu.”
Aku menggeleng.
“Kalau begitu, kenapa Adrian justru mau menikah denganku?”
Selena menatapku lama.
“Karena awalnya dia mendekatimu untuk mencari tahu.”
Dadaku langsung terasa kosong.
Aku menatap amplop putih yang berada di meja.
“Jadi selama ini aku cuma bagian dari penyelidikannya?”
“Awalnya mungkin begitu. Tapi aku enggak tahu bagaimana perasaannya kemudian.”
Aku tertawa getir.
Selama beberapa bulan terakhir, aku mencoba meyakinkan diri bahwa Adrian benar-benar ingin membangun keluarga bersamaku.
Dia mengantarku memeriksakan kehamilan.
Mengingatkanku makan.
Membantu menyiapkan pernikahan.
Dan sekarang aku harus menerima kemungkinan bahwa hubungan kami bermula dari rahasia bisnis yang tidak pernah kuceritakan kepadanya karena aku sendiri tidak mengetahuinya.
“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”
Selena menunduk.
“Karena aku juga baru mendapatkan dokumen lengkapnya dua hari lalu.”
Aku mengerutkan kening.
“Dari siapa?”
“Dari ibuku.”
Selena mengeluarkan sebuah surat.
“Ibuku dulu bekerja sebagai sekretaris pribadi Hendra Mahendra. Sebelum meninggal, beliau menitipkan beberapa dokumen lama kepadaku. Aku baru memeriksanya kembali setelah menerima kabar tentang kecelakaan yang kualami.”
Aku terdiam.
“Jadi kemarin kamu benar-benar mengalami kecelakaan?”
“Iya. Mobilku ditabrak dari belakang saat menuju Bandung. Aku mengalami cedera ringan, tetapi tas berisi dokumen itu sempat hilang.”
“Lalu kenapa Adrian meninggalkan akad kita?”
Selena menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Karena orang yang menolongku menghubunginya dan mengatakan ada seseorang yang mencoba mengambil berkas milik Hendra.”
Aku mengepalkan tangan.
“Tapi dia bisa meneleponku. Dia bisa menjelaskan.”
“Aku tahu.”
“Dia bahkan enggak bilang kapan akan kembali.”
Selena mengangguk pelan.
“Dan itu kesalahan Adrian. Aku enggak datang untuk membelanya.”
Aku memandangnya cukup lama.
“Kalau begitu, apa yang sebenarnya kamu inginkan?”
Selena mendorong amplop itu lebih dekat kepadaku.
“Aku ingin kamu mengetahui kebenaran sebelum memutuskan masa depanmu dan anak yang sedang kamu kandung.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Selena bukan sebagai perempuan yang merebut calon suamiku.
Melainkan seseorang yang juga sedang membawa beban dari masa lalu keluarga mereka.
Namun ada satu pertanyaan yang belum terjawab.
“Selena, dari mana kamu tahu Adrian sudah mencari informasi tentangku sebelum acara di Puncak?”
Dia mengeluarkan sebuah lembar catatan.
“Enam bulan sebelum kegiatan perusahaan itu, Adrian pernah meminta tim legal memeriksa arsip perusahaan lama keluarganya. Nama ibumu muncul dalam salah satu dokumen.”
Aku memperhatikan tanggalnya.
Benar.
Dokumen itu dibuat sebelum aku mengetahui kehamilanku.
Namun aku juga melihat sesuatu yang janggal.
Di bagian bawah terdapat catatan tangan.
Hubungi Kirana Adelia melalui jalur profesional. Jangan melibatkan keluarga sebelum fakta diverifikasi.
Aku menatap Selena.
“Ini tulisan Adrian?”
“Iya.”
Aku menarik napas panjang.
“Jadi dia memang sengaja memperhatikanku sejak awal.”
Selena tidak menjawab.
Aku kemudian membuka lembar berikutnya.
Terdapat salinan rekening lama, surat perjanjian kerja, dan beberapa catatan transaksi.
Satu angka membuatku terdiam.
Rp750.000.000.
Jumlah yang sangat besar untuk tahun 1998.
Namun di samping transaksi itu terdapat keterangan yang berbeda dari penjelasan Selena.
Dana titipan pembelian mesin produksi atas nama Ratna Adelia.
Aku mengerutkan kening.
“Kalau uang ini untuk pembelian mesin, kenapa keluarganya menuduh ibuku menerima dana hasil penggelapan?”
Selena mendekat.
“Itulah yang belum jelas. Karena itu aku ingin kamu membantu memeriksanya.”
Aku langsung menggeleng.
“Aku enggak mau kembali terlibat dengan keluarga Adrian hanya untuk menyelesaikan masalah mereka.”
“Kirana, ini juga menyangkut nama baik ibumu.”
Kalimat itu membuatku diam.
Aku memandang foto lama tersebut.
Ibu yang kukenal selalu bekerja keras.
Dia mengajariku menabung, mencatat pengeluaran, dan tidak menggunakan uang yang bukan hak kami.
Sulit membayangkan perempuan itu pernah terlibat dalam persoalan keuangan sebesar ini.
Namun sebagai reporter ekonomi, aku juga tahu bahwa keyakinan pribadi bukan pengganti bukti.
“Aku perlu bicara dengan Ibu,” kataku akhirnya.
Selena mengangguk.
“Itu langkah yang paling benar.”
Sore itu, aku pulang ke rumah orang tuaku di Jakarta.
Ibu sedang menyiapkan makan malam ketika aku memperlihatkan foto Hendra Mahendra.
Wajahnya langsung berubah.
“Kirana, dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Dari Selena.”
Ibu perlahan duduk.
Aku meletakkan dokumen transaksi di meja.
“Bu, sebenarnya apa yang terjadi tahun 1998?”
Ibu memandangi kertas tersebut cukup lama.
Kemudian air matanya mulai jatuh.
“Akhirnya masalah ini muncul lagi.”
Aku menggenggam tangannya.
“Ceritakan semuanya, Bu.”
Ibu menarik napas panjang.
“Dulu Hendra memang memintaku membantu mengurus pembayaran pembelian mesin. Dana itu ditransfer melalui rekening penampungan sementara yang kubuka khusus atas permintaan perusahaan.”
Aku mengangguk.
“Lalu?”
“Mesin-mesin itu dibeli dari pemasok di luar negeri. Semua pembayaran sebenarnya memiliki kuitansi dan dokumen pengiriman.”
“Kenapa perusahaan kemudian menuduh ada penggelapan?”
Ibu menunduk.
“Karena sebagian dokumen pembayaran hilang setelah kantor mereka mengalami kebakaran.”
Aku membeku.
“Dibakar?”
“Ibu enggak tahu penyebab kebakarannya. Tapi setelah kejadian itu, Hendra dituduh mengambil uang perusahaan. Tidak lama kemudian dia meninggal.”
Aku menatap Ibu.
“Terus kenapa Ibu enggak membela diri?”
“Ibu sudah memberikan semua dokumen yang masih kusimpan. Namun keluarga Mahendra tidak mau lagi membicarakan kasus itu. Hendra sendiri pernah memintaku menjauh supaya keluargaku tidak ikut terseret.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Bu, masih ada bukti pembelian mesin itu?”
Ibu mengangguk.
“Ada.”
Aku langsung menegakkan tubuh.
“Di mana?”
“Di rumah lama nenekmu di Bandung. Ibu menyimpannya dalam sebuah kotak besi.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kenapa Ibu enggak pernah cerita?”
Ibu menatapku dengan sedih.
“Karena Ibu mengira semuanya sudah selesai. Ibu enggak mau masa lalu itu mengganggu hidupmu.”
Aku terdiam.
Kalimat itu terdengar begitu familier.
Adrian juga menggunakan alasan melindungiku ketika memilih menyembunyikan sesuatu.
Namun aku tidak ingin mengulangi pola yang sama.
“Bu, kita harus memeriksa dokumennya. Kalau memang benar, nama Ibu bisa dibersihkan.”
Ibu mengangguk pelan.
Keesokan harinya, aku pergi ke Bandung bersama Ibu dan Selena.
Kami menemukan kotak besi itu di lemari penyimpanan rumah lama nenek.
Di dalamnya terdapat dokumen pengiriman mesin, bukti transfer, dan salinan surat dari Hendra Mahendra.
Namun ada satu amplop yang membuat Ibu tiba-tiba menangis.
Amplop itu berisi surat terakhir Hendra sebelum meninggal.
Aku membacanya dengan hati-hati.
Dalam surat tersebut, Hendra menuliskan bahwa dana pembelian mesin telah digunakan sesuai tujuan awal, tetapi ada seseorang dari pihak manajemen yang mencoba mengubah catatan transaksi agar seolah-olah uang itu hilang.
Nama orang tersebut tidak disebutkan secara langsung.
Hendra hanya menulis bahwa dirinya sudah mengumpulkan bukti dan akan menyerahkannya kepada auditor independen.
Namun dia meninggal sebelum proses itu selesai.
Aku memandang Selena.
“Jadi kemungkinan selama ini ada orang lain yang sengaja membiarkan Hendra disalahkan.”
Selena mengangguk.
“Tapi kita tetap harus memverifikasi seluruh dokumen ini.”
Aku setuju.
Kami kemudian menghubungi seorang pengacara dan akuntan forensik untuk membantu menelusuri transaksi lama tersebut.
Sementara itu, Adrian akhirnya datang menemuiku.
Dia berdiri di depan rumah orang tuaku dengan wajah sangat lelah.
“Kirana, aku ingin menjelaskan semuanya.”
Aku menatapnya.
“Sekarang kamu punya waktu?”
Dia menunduk.
“Aku tahu aku salah.”
Aku mengangguk.
“Bukan cuma karena kamu pergi di hari pernikahan.”
“Aku tahu.”
“Kamu mendekatiku karena ingin mencari tahu masalah keluargamu?”
Adrian terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Awalnya iya.”
Dadaku langsung terasa sakit.
“Aku sudah memperhatikan pekerjaanmu sebagai reporter ekonomi. Ketika melihat nama ibumu di arsip lama, aku ingin mencari tahu apakah keluargamu punya hubungan dengan Hendra.”
Aku menatapnya.
“Jadi kejadian di Puncak juga bagian dari rencanamu?”
Adrian langsung menggeleng.
“Tidak. Aku enggak pernah merencanakan hubungan pribadi kita. Malam itu kami sama-sama sadar, dan apa yang terjadi merupakan keputusan yang kemudian harus kami hadapi bersama.”
Aku menarik napas panjang.
“Lalu kenapa setelah tahu aku hamil, kamu langsung ingin menikah?”
“Karena aku merasa bertanggung jawab. Tapi setelah mengenalmu lebih dekat, perasaanku juga berubah.”
Aku memandangnya lama.
“Kalau memang berubah, kenapa kamu masih menyembunyikan alasan awal mendekatiku?”
Adrian menunduk.
“Karena aku takut kamu akan meninggalkanku kalau tahu.”
Aku tersenyum pahit.
“Dan akhirnya kamu justru meninggalkanku lebih dulu.”
Air matanya mulai menggenang.
“Kirana, aku menyesal.”
Aku mengangguk.
“Tapi penyesalan enggak bisa membuat hari pernikahan kita kembali.”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan.
“Aku enggak akan menikah hanya karena sedang mengandung anakmu. Kalau kita ingin membangun keluarga, harus ada kepercayaan. Dan sekarang kepercayaan itu sudah rusak.”
Adrian mengusap wajah.
“Apa masih ada kesempatan?”
Aku menarik napas panjang.
“Aku belum tahu. Tapi sekarang aku butuh waktu untuk memikirkan hidupku sendiri.”
Dia mengangguk.
“Aku akan menghormatinya.”
Beberapa bulan kemudian, pemeriksaan dokumen lama menemukan bahwa sebagian besar transaksi pembelian mesin memang sesuai dengan arsip pembayaran dan catatan pengiriman yang masih tersedia.
Temuan tersebut membantu menjelaskan bahwa Ratna Adelia bukan pihak yang menggelapkan dana sebagaimana selama ini dicurigai.
Namun identitas orang yang diduga mengubah catatan transaksi belum dapat dipastikan secara lengkap karena sebagian arsip telah hilang.
Keluarga Mahendra akhirnya mengakui bahwa tuduhan lama terhadap Ibu tidak memiliki dasar yang cukup dan menyampaikan permintaan maaf secara resmi.
Adrian juga mulai memperbaiki hubungannya denganku.
Dia tidak lagi datang membawa janji besar.
Dia hanya memastikan aku mendapatkan dukungan selama kehamilan, tanpa memaksaku kembali bersamanya.
Ketika dokter menyarankan agar aku menunda perjalanan jauh karena kondisi kehamilan membutuhkan pemantauan lebih ketat, aku memutuskan tidak mengambil penugasan London untuk saat itu.
Aku tetap bekerja sebagai reporter dengan penyesuaian jadwal.
Beberapa bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Adrian datang ke rumah sakit setelah aku mengizinkannya.
Ketika menggendong putri kami untuk pertama kalinya, dia menangis.
“Terima kasih, Kirana.”
Aku tersenyum lemah.
“Jaga dia baik-baik.”
Dia mengangguk.
“Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik.”
Aku menatapnya.
“Jadi ayah yang baik tidak harus dimulai dengan menjadi suamiku.”
Adrian terdiam.
Lalu mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Kami sepakat membesarkan anak kami dengan tanggung jawab bersama sambil tetap tinggal terpisah.
Hubungan kami tidak langsung kembali seperti dulu.
Dan aku tidak ingin memaksakan akhir bahagia hanya karena pernah membayangkan kami akan menikah.
Namun kejutan yang sesungguhnya datang beberapa minggu setelah putriku lahir.
Selena mengunjungiku sambil membawa sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat cincin pernikahan yang dulu dia kembalikan kepadaku.
Aku mengernyit.
“Kenapa kamu membawa cincin ini lagi?”
Selena tersenyum.
“Aku menemukannya masih tersimpan dalam kotak dokumen Adrian ketika membantu keluarganya membereskan arsip lama. Aku pikir kamu yang paling berhak memutuskan akan diapakan cincin ini.”
Aku menatap benda itu cukup lama.
Dulu cincin tersebut melambangkan masa depan yang kuimpikan.
Sekarang, benda itu justru mengingatkanku pada hari ketika aku belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dibangun dari rasa tanggung jawab.
Aku menutup kotaknya.
“Untuk sekarang, aku akan menyimpannya.”
Selena mengangguk.
“Kalau suatu hari kamu memilih menikah, pastikan itu karena kamu benar-benar ingin.”
Aku tersenyum.
“Itu yang akan kulakukan.”
Setelah Selena pulang, aku duduk di dekat jendela sambil menggendong putriku.
Bayi kecil itu tertidur pulas di pelukanku.
Aku memandang wajahnya yang tenang.
Lalu menyadari bahwa selama ini aku terlalu takut membayangkan masa depan tanpa Adrian.
Padahal hidupku tidak pernah hanya bergantung pada satu orang.
Aku masih memiliki pekerjaan.
Keluarga.
Teman-teman yang menyayangiku.
Dan sekarang, seorang putri yang membutuhkan cinta serta kehadiranku.
Aku tidak tahu apakah suatu hari Adrian dan aku akan kembali bersama.
Namun kali ini, keputusan itu tidak akan dibuat karena tekanan keluarga, rasa bersalah, atau rahasia masa lalu.
Aku akan memilih berdasarkan kepercayaan yang benar-benar dibangun.
Sebab terkadang, pernikahan yang batal bukan berarti seluruh masa depan ikut hancur.
Kadang, itu justru kesempatan untuk memastikan bahwa kehidupan yang akan kita jalani selanjutnya benar-benar merupakan pilihan kita sendiri.
