IBU MERTUAKU MENENDANG KERANJANG SAYUR IBUKU DAN MENGHINANYA

“Mas, jawab satu pertanyaanku. Kamu tahu uang tiga ratus delapan puluh juta itu sudah dikembalikan perusahaan, atau tidak?”

Arif berdiri mematung di tengah Pasar Cibiru. Wajahnya pucat, sementara Bu Ratna, ibu mertuaku, terus

ujung kemejanya seolah meminta dia tidak mengatakan apa-apa.

Di belakangku, Ibu Sulastri masih berjongkok memunguti sayuran yang tadi ditendang Bu Ratna.

Melihat pemandangan itu, dadaku kembali terasa sesak.

“Dinda, kita bicara di rumah saja,” kata Arif akhirnya.

Aku menggeleng.

“Tadi Mama menghina ibuku di depan semua orang. Sekarang ketika aku bertanya soal uang milikku, kenapa semuanya harus dibicarakan diam-diam?”

Arif menatap ibunya.

“Ma, sebenarnya ada apa?”

Bu Ratna langsung menyela.

“Perempuan ini menuduh Mama mencuri uangnya!”

“Aku belum menuduh siapa pun,” jawabku. “Aku cuma meminta penjelasan tentang rekening yang bukan milik ibuku dan surat yang menggunakan tanda tanganku.”

Arif menarik napas panjang.

“Din, mungkin ada kesalahan administrasi.”

“Kalau memang salah administrasi, kita periksa bersama.”

Aku memperlihatkan dokumen dari bagian keuangan.

“Ini surat perubahan rekening. Tanggalnya sebelas bulan lalu. Pada hari itu, aku sedang mengikuti pelatihan kantor di Surabaya.”

Arif memandang layar ponselku.

Aku melanjutkan, “Mas ingat kamu meneleponku malam itu?”

Dia mengangguk perlahan.

“Kamu bilang perusahaan belum punya uang untuk mengembalikan pinjamanku.”

Arif tidak menjawab.

“Padahal berdasarkan pembukuan, pembayaran pertama dilakukan dua hari setelahnya.”

Bu Ratna tiba-tiba maju.

“Sudah cukup, Dinda! Kamu mau mempermalukan keluarga sendiri demi uang?”

Aku menatapnya.

“Bukan cuma soal uang, Bu. Ada orang yang menggunakan nama saya dan nama ibu saya tanpa persetujuan.”

Ibu Sulastri perlahan berdiri.

“Dinda, Nak, jangan sampai kamu bertengkar dengan suamimu karena Ibu.”

Aku menggenggam tangannya.

“Justru karena Ibu selalu mengalah, orang lain merasa boleh memperlakukan Ibu seperti ini.”

Seorang pedagang sayur bernama Bu Yati mendekat membawa keranjang plastik.

“Bu Sulastri, sayur yang masih bagus saya bantu kumpulkan, ya.”

Aku mengangguk penuh terima kasih.

Setelah memastikan Ibu tidak terluka, aku mengajaknya meninggalkan pasar. Sebelum pergi, aku mengatakan kepada Arif bahwa pembicaraan selanjutnya harus dilakukan di kantor bersama bagian keuangan dan penasihat hukum.

Aku tidak ingin membuat keputusan ketika sedang marah.

Namun aku juga tidak akan pulang lalu berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Keesokan paginya, kami bertemu Pak Rudi, kepala bagian keuangan perusahaan.

Arif duduk di sebelahku. Bu Ratna bersikeras ikut, tetapi aku meminta agar pembahasan hanya dihadiri pihak yang berkaitan langsung dengan transaksi.

Pak Rudi membuka laporan pembayaran.

“Bu Dinda, perusahaan mencatat pinjaman awal sebesar empat ratus lima puluh juta rupiah berdasarkan perjanjian tiga tahun lalu.”

Aku mengangguk.

Jumlah itu benar.

Uang tersebut berasal dari tabungan dan hasil investasiku sebelum menikah. Ketika perusahaan keluarga Arif hampir gagal membayar pemasok, aku meminjamkannya melalui perjanjian tertulis.

“Dari jumlah itu,” lanjut Pak Rudi, “perusahaan sudah membayarkan tiga ratus delapan puluh juta secara bertahap.”

Aku menatapnya.

“Ke rekening yang tercatat atas nama Sulastri?”

“Benar. Tetapi kami sedang memeriksa apakah identitas pemilik rekening itu sesuai dengan ibu kandung Ibu.”

Pak Rudi menunjukkan surat perubahan rekening.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan yang menyerupai milikku.

“Ada dokumen pendukung lain?” tanyaku.

Pak Rudi mengangguk.

“Ada salinan identitas dan surat permohonan. Berkas diterima oleh staf administrasi, kemudian disetujui melalui alur internal perusahaan.”

“Siapa yang memberikan persetujuan akhir?”

Pak Rudi melirik Arif.

“Pak Arif.”

Aku perlahan menoleh kepada suamiku.

“Mas?”

Arif memejamkan mata.

“Aku memang menyetujui perubahan rekening itu.”

Dadaku terasa dingin.

“Kenapa?”

“Karena Mama bilang kamu ingin pembayaran dialihkan untuk membantu ibumu.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Dan kamu langsung percaya?”

Arif menunduk.

“Aku pikir kamu sudah membicarakannya dengan Mama.”

“Mas, kalau aku ingin memberi uang kepada ibuku, kenapa aku harus mengalihkan pembayaran pinjaman lewat rekening yang bahkan tidak kukenal?”

Dia tidak menjawab.

Aku menahan air mata.

“Tiga tahun menikah, kamu enggak merasa perlu bertanya langsung kepadaku sebelum menyetujui perubahan rekening atas namaku?”

Arif mengusap wajahnya.

“Aku salah, Din.”

Namun pengakuan itu belum menjelaskan ke mana uangnya pergi.

Melalui pemeriksaan awal bersama pihak bank dan penasihat hukum, kami mengetahui bahwa rekening tujuan memang menggunakan nama Sulastri.

Tetapi pemiliknya bukan ibuku.

Rekening itu tercatat atas nama Sulastri Hartono, seorang perempuan yang tinggal di Cimahi.

Nama yang sama.

Orang yang berbeda.

Aku mengernyit.

“Siapa Sulastri Hartono?”

Arif menggeleng.

“Aku enggak kenal.”

Pak Rudi menunjukkan dokumen lain.

“Berdasarkan berkas yang diterima perusahaan, pemilik rekening tersebut pernah memberikan kuasa terbatas kepada Bu Ratna untuk mengurus beberapa transaksi. Keabsahan dan cakupannya sedang kami verifikasi.”

Aku membeku.

Jadi Bu Ratna bukan sekadar mengetahui rekening itu.

Dia mungkin ikut mengaturnya.

Sore harinya, aku kembali menemui ibu mertuaku bersama Arif.

Bu Ratna duduk di ruang tamu dengan wajah tegang.

Ketika melihat salinan dokumen di tanganku, dia langsung menghela napas.

“Kalian mau menginterogasi Mama sekarang?”

Aku duduk di hadapannya.

“Saya cuma ingin tahu siapa Sulastri Hartono.”

Bu Ratna terdiam.

Arif menatap ibunya.

“Ma, jawab Dinda.”

Perempuan itu meremas ujung bajunya.

“Dia teman lama Mama.”

“Kenapa rekeningnya digunakan untuk menerima pembayaran milik Dinda?”

Bu Ratna mulai menangis.

“Karena waktu itu Mama sedang terdesak.”

Aku menahan napas.

“Terdesak apa, Bu?”

Dia menunduk cukup lama.

Kemudian akhirnya mengaku.

Dua tahun sebelumnya, Bu Ratna diam-diam meminjam uang dari seorang kenalan untuk menutup kerugian investasi properti pribadinya.

Awalnya dia mengira keuntungan proyek tersebut cukup untuk melunasi pinjaman.

Namun pengembang mengalami masalah.

Dana yang ditanamkan tidak dapat segera ditarik.

Sementara bunga dan kewajiban pembayaran terus bertambah.

“Kenapa Mama enggak bilang sama aku?” tanya Arif.

Bu Ratna menangis.

“Karena Mama malu. Semua orang menganggap Mama berhasil mengelola harta peninggalan Papa. Mama takut kamu tahu kalau sebagian uang Mama habis karena keputusan sendiri.”

Aku menatapnya.

“Jadi uang pengembalian pinjamanku dipakai melunasi utang Ibu?”

Bu Ratna mengangguk perlahan.

“Sebagian besar.”

“Dan Ibu menggunakan nama ibuku supaya terlihat seperti aku sendiri yang mengalihkan uang itu?”

Dia tidak menjawab.

Aku merasakan air mata mengalir.

“Bu Ratna, Ibu tahu ibuku berjualan sayur sejak subuh untuk mendapatkan uang beberapa ratus ribu sehari.”

Bu Ratna menunduk.

“Tapi Ibu tega menggunakan nama beliau untuk menerima ratusan juta rupiah yang bukan haknya.”

“Dinda, Mama akan menggantinya.”

Aku menggeleng.

“Masalahnya bukan hanya uang.”

Suaraku mulai bergetar.

“Kemarin Ibu menendang keranjang sayur ibuku. Ibu melempar uang ke wajahnya, seolah beliau orang yang selalu meminta bantuan keluarga Ibu.”

Aku mengusap air mata.

“Padahal diam-diam Ibu sendiri menggunakan uang yang seharusnya dikembalikan kepadaku.”

Bu Ratna menutup wajah.

“Aku salah.”

Arif duduk tanpa bergerak.

Aku menatap suamiku.

“Mas, ada satu hal yang juga harus kita bicarakan.”

Dia mengangkat wajah.

“Apa?”

“Kenapa kamu bilang perusahaan belum sanggup membayar pinjamanku, padahal kamu sendiri menyetujui pembayaran itu?”

Arif terdiam lama.

Kemudian berkata pelan, “Karena Mama meminta aku enggak membahasnya dulu denganmu.”

Aku membeku.

“Kamu tahu aku belum menerima uangnya?”

“Aku tahu pembayaran dialihkan, tapi aku percaya itu sesuai keinginanmu.”

“Setelah berbulan-bulan aku bilang belum menerima apa-apa, kamu tetap enggak memeriksanya?”

Arif menunduk.

“Iya.”

Saat itulah aku benar-benar memahami persoalannya.

Bu Ratna mungkin mengatur pengalihan uang.

Namun Arif membiarkan semuanya terjadi karena lebih memilih mempercayai ibunya daripada memastikan hak istrinya.

Aku tidak langsung mengajukan perceraian.

Tetapi aku mengatakan bahwa kami perlu tinggal terpisah sementara.

Aku juga meminta penasihat hukum menyiapkan langkah penyelesaian atas pembayaran yang dialihkan tanpa persetujuanku, termasuk pemeriksaan keaslian dokumen dan tanggung jawab pihak-pihak terkait.

Bu Ratna akhirnya menyetujui rencana pengembalian dana melalui kesepakatan tertulis yang disusun dan diperiksa secara hukum.

Dia menjual salah satu aset pribadinya untuk memenuhi sebagian kewajiban.

Sisa pembayaran diatur secara bertahap.

Aku tidak menganggap persoalan selesai hanya karena uang mulai dikembalikan.

Namun setidaknya, semuanya kini dicatat dengan jelas.

Beberapa minggu kemudian, aku kembali ke Pasar Cibiru.

Ibu masih berjualan seperti biasa.

Aku sempat memintanya berhenti bekerja.

Namun dia hanya tertawa.

“Nak, Ibu jualan bukan cuma karena butuh uang. Ibu senang ketemu orang-orang pasar.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu, aku bantu Ibu hari ini.”

Kami menata bayam dan sawi bersama.

Menjelang siang, sebuah mobil berhenti di depan pasar.

Bu Ratna turun.

Aku langsung menegakkan tubuh.

Ibu Sulastri juga terlihat terkejut.

Namun kali ini, ibu mertuaku tidak mengenakan perhiasan mencolok.

Dia berjalan mendekat membawa sebuah keranjang bambu baru.

“Bu Sulastri,” katanya pelan, “saya ingin meminta maaf.”

Ibuku terdiam.

Bu Ratna meletakkan keranjang itu di depan lapak.

“Saya sudah mempermalukan Ibu di depan banyak orang. Saya tidak punya alasan untuk membenarkan perbuatan saya.”

Ibu Sulastri menghela napas.

“Bu Ratna, saya memang orang sederhana. Tapi saya juga punya harga diri.”

Air mata Bu Ratna langsung jatuh.

“Saya tahu.”

Ibu menatapnya.

“Waktu Ibu menendang sayuran saya, yang paling menyakitkan bukan kerugiannya. Tapi karena Ibu membuat saya merasa pekerjaan yang selama ini menghidupi anak saya adalah sesuatu yang memalukan.”

Bu Ratna menunduk.

“Saya benar-benar menyesal.”

Ibuku tidak langsung memaafkannya.

Namun dia menerima keranjang baru itu dan berkata, “Semoga setelah ini Ibu enggak memperlakukan pedagang lain seperti saya.”

Bu Ratna mengangguk sambil menangis.

Aku memperhatikan mereka dengan perasaan campur aduk.

Aku tahu permintaan maaf tidak otomatis menghapus kesalahan.

Namun melihat ibu mertuaku akhirnya berani mengakui perbuatannya di tempat yang sama, aku merasa ada sesuatu yang mulai berubah.

Beberapa bulan kemudian, Arif datang menemuiku.

Dia membawa laporan keuangan perusahaan dan bukti pembayaran terbaru.

“Aku sudah meminta audit internal atas seluruh perubahan rekening penerima pembayaran,” katanya.

Aku menerima dokumen tersebut.

“Aku juga sudah mengubah prosedur persetujuan supaya perubahan data kreditur harus dikonfirmasi langsung kepada pihak yang bersangkutan.”

Aku mengangguk.

“Itu memang seharusnya dilakukan sejak awal.”

Arif menatapku.

“Din, aku ingin memperbaiki hubungan kita.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan, “Aku sadar selama ini selalu memintamu memahami Mama, tapi jarang benar-benar mendengarkanmu.”

Aku menatapnya lama.

“Aku belum tahu apakah kita bisa kembali seperti dulu, Mas.”

Arif mengangguk.

“Aku mengerti.”

“Kalau kamu ingin memperbaiki semuanya, jangan cuma berjanji. Tunjukkan melalui tindakan.”

Dia mengangguk lagi.

“Aku akan berusaha.”

Aku tidak memberikan jawaban tentang masa depan pernikahan kami hari itu.

Karena kepercayaan yang rusak tidak bisa pulih hanya melalui satu percakapan.

Namun kejutan terbesar justru datang ketika aku sedang membantu Ibu membereskan lapak pada suatu sore.

Ibu mengeluarkan sebuah buku tabungan lama dari tas kainnya.

“Dinda, Ibu mau menunjukkan sesuatu.”

Aku mengerutkan kening.

“Apa, Bu?”

Dia membuka halaman pertama.

Di sana terdapat catatan setoran kecil yang dilakukan selama bertahun-tahun.

Lima puluh ribu.

Seratus ribu.

Kadang dua ratus ribu rupiah.

Aku menatapnya bingung.

“Ini tabungan Ibu?”

Ibu mengangguk.

“Sejak kamu menikah, Ibu masih menyisihkan sedikit uang dari hasil jualan.”

Aku tersenyum.

“Buat apa?”

Ibu menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Dulu Ibu takut kalau suatu hari kamu mengalami kesulitan, Ibu enggak punya apa-apa untuk membantumu.”

Aku membeku.

“Bu…”

Dia menggenggam tanganku.

“Jumlahnya memang enggak sebesar uang yang hilang itu. Tapi kalau kamu perlu memulai lagi, Ibu punya sedikit simpanan.”

Air mataku langsung jatuh.

Selama ini, Bu Ratna sering membanggakan rumah besar, mobil mahal, dan perhiasannya.

Namun ibuku yang setiap hari berjualan sayur justru diam-diam menabung untuk memastikan putrinya tidak pernah benar-benar sendirian.

Aku memeluk Ibu erat-erat.

“Bu, Dinda enggak butuh uang Ibu.”

Dia tertawa kecil.

“Ibu tahu. Tapi Ibu ingin kamu tahu bahwa apa pun yang terjadi, kamu selalu punya tempat pulang.”

Aku menangis di bahunya.

Dan untuk pertama kalinya setelah semua masalah itu, aku merasa benar-benar tenang.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Kekayaan seseorang tidak selalu terlihat dari rumah yang ditinggali, mobil yang dikendarai, atau pakaian yang dikenakan.

Kadang kekayaan terbesar justru dimiliki seorang ibu yang bangun sebelum subuh, memetik sayur dari kebun kecil, lalu menyisihkan beberapa lembar uang demi masa depan anaknya.

Hari ketika ibu mertuaku menendang keranjang sayur itu memang membuat hidupku berubah.

Namun bukan karena aku berhasil membongkar rahasia uang ratusan juta.

Melainkan karena aku akhirnya berani mempertahankan harga diri ibuku sekaligus memperjuangkan hakku sendiri.

Dan sejak saat itu, aku tidak lagi membiarkan siapa pun menyebut pekerjaan ibuku sebagai sesuatu yang memalukan.

Karena dari tangan kasar seorang penjual sayurlah, aku belajar bahwa martabat tidak pernah bisa dibeli dengan uang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang