“Kamu sebenarnya ingin menikah denganku, atau cuma membutuhkan pernikahan ini untuk mendapatkan kontrak bisnis?”
Pertanyaanku membuat Dimas terdiam di tengah ballroom hotel mewah di Jakarta Selatan.

Lima puluh menit sebelum akad nikah, aku masih mengenakan gaun pengantin putih. Di sampingku berdiri Ayah dan Ibu, dua orang yang baru saja dihina keluarga calon suamiku karena pekerjaan mereka sebagai pedagang sayur.
Sementara itu, di tanganku terdapat dokumen persetujuan biaya tambahan yang menggunakan tanda tanganku tanpa izin.
“Ayu, aku bisa menjelaskan,” kata Dimas akhirnya.
“Kalau begitu, jelaskan sekarang.”
Dimas melirik kedua orang tuanya. Bu Ratna buru-buru mendekat.
“Jangan bikin keributan lagi. Para tamu sudah datang!”
Aku menatap perempuan itu.
“Tadi Ibu enggak keberatan membuat keributan ketika mengusir orang tuaku dari meja kehormatan.”
Wajah Bu Ratna memerah.
Pak Rendra, manajer hotel, berdiri tidak jauh dari kami sambil membawa tablet berisi dokumen pemesanan.
“Bu Ayu,” katanya hati-hati, “kami sudah menahan seluruh permintaan fasilitas tambahan yang belum diverifikasi. Tidak ada biaya baru yang akan dibebankan tanpa persetujuan sah dari Ibu.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Dimas mengusap wajah.
“Yu, sebenarnya Pak Surya sedang mempertimbangkan investasi di perusahaan kami. Aku ingin memanfaatkan kesempatan ini supaya hubungan bisnis kami semakin dekat.”
“Dengan menjadikan pernikahan kita sebagai acara pertemuan investor?”
“Bukan begitu.”
“Lalu kenapa kamu meminta orang yang bahkan tidak kukenal menggantikan Ayah mengantarku ke tempat akad?”
Dimas tidak menjawab.
Aku merasakan tangan Ayah menggenggam tanganku.
“Sudah, Nak. Ayah enggak apa-apa.”
Aku menoleh.
Pria berusia enam puluh tahun itu mengenakan jas hitam sederhana. Di saku dadanya masih tersimpan kertas pidato yang ditulisnya selama dua bulan.
Aku tahu Ayah mengatakan tidak apa-apa hanya karena tidak ingin melihatku terluka.
Namun justru itulah yang membuat hatiku semakin sakit.
“Yah, Ayu mau tanya sesuatu.”
“Apa, Nak?”
“Kalau Ayu menikah hari ini, tapi harus terus melihat Ayah dan Ibu diperlakukan seperti ini, apakah Ayah akan bahagia?”
Ayah terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Enggak, Nak.”
Aku mengangguk perlahan.
Kemudian kembali menatap Dimas.
“Aku enggak akan melanjutkan akad hari ini.”
Dimas membeku.
“Ayu, jangan bercanda!”
“Aku serius.”
Bu Ratna langsung berteriak.
“KAMU MAU MEMPERMALUKAN KELUARGA KAMI DI DEPAN RATUSAN TAMU?”
Aku menatapnya.
“Bu Ratna, selama ini Ibu selalu bilang keluarga kami enggak pantas bersanding dengan keluarga Ibu. Kalau begitu, bukankah keputusan ini justru sesuai keinginan Ibu?”
Perempuan itu langsung kehilangan kata-kata.
Dimas mendekat.
“Ayu, pikirkan bayi kita.”
Aku tanpa sadar menyentuh perutku yang sedang mengandung tiga bulan.
“Aku sedang memikirkannya, Mas.”
Air mataku mulai jatuh.
“Aku enggak mau anak kita tumbuh dengan keyakinan bahwa kakeknya lebih rendah hanya karena berjualan sayur.”
Dimas menunduk.
Aku melanjutkan, “Dan aku enggak mau dia belajar bahwa demi uang, seseorang boleh mempermalukan keluarganya sendiri.”
Untuk pertama kalinya, Dimas tidak membantah.
Aku meminta Pak Rendra mengumpulkan keluarga inti dan panitia acara di ruang pertemuan kecil.
Di sana, aku menjelaskan keputusan menunda akad dan membatalkan rangkaian resepsi yang belum dimulai.
Aku juga meminta agar para tamu diberi penjelasan singkat tanpa membuka persoalan pribadi keluarga.
Pak Rendra menyampaikan bahwa sebagian biaya hotel tidak bisa dikembalikan karena layanan sudah dipersiapkan. Namun pengeluaran yang belum terjadi dapat dihentikan sesuai ketentuan kontrak.
Aku menerima konsekuensinya.
Dimas tampak semakin gelisah.
“Ayu, kamu sadar berapa banyak uang yang akan hilang?”
Aku menatapnya.
“Aku tahu jumlahnya karena aku yang membayarnya.”
Pak Hendra langsung mengangkat wajah.
“Kamu bilang keluargamu yang menanggung seluruh pesta ini?”
Aku mengangguk.
“Benar, Pa.”
Sebenarnya keputusan itu telah kami sepakati sejak awal persiapan.
Ketika menentukan tanggal pernikahan, Dimas mengaku perusahaan keluarganya sedang membutuhkan dana untuk menyelesaikan proyek konstruksi. Dia tidak ingin menarik terlalu banyak uang dari kas operasional.
Aku memahami kondisinya.
Sebagai direktur keuangan di sebuah perusahaan investasi dan pemegang saham minoritas sebuah grup perhotelan, aku memiliki tabungan serta penghasilan sendiri.
Karena itu, aku menawarkan untuk membiayai pesta sesuai anggaran yang mampu kutanggung.
Aku bahkan mengusulkan acara sederhana.
Namun Bu Ratna menolak.
Dia ingin ballroom mewah, dekorasi bunga impor, dan ratusan undangan dari kalangan bisnis.
Dimas meyakinkanku bahwa pesta besar itu akan membuat keluarganya bahagia.
Aku akhirnya setuju, dengan syarat seluruh pembayaran menggunakan anggaran pribadiku dan setiap penambahan biaya harus mendapat persetujuanku.
Sekarang aku baru memahami mengapa pesta itu terus dibuat semakin mewah.
Bu Ratna ingin memamerkan status keluarganya.
Dimas berharap mendapatkan investor.
Sementara aku hanya ingin menikah.
“Jadi selama ini kamu tahu Ayu yang membayar semuanya?” tanya Pak Hendra kepada putranya.
Dimas mengangguk.
“Kenapa kamu enggak bilang kepada Papa dan Mama?”
Dimas menunduk.
“Aku malu, Pa.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Malu karena calon istrimu membayar pesta?”
Dia tidak menjawab.
“Tapi kamu enggak malu membiarkan keluargamu mengatakan bahwa mereka sudah memberiku kehidupan mewah?”
Dimas memejamkan mata.
Bu Ratna terduduk di kursi.
Namun pengakuan berikutnya membuat seluruh ruangan kembali tegang.
Pak Rendra menunjukkan catatan permintaan layanan tambahan.
Di sana tercantum ruang pertemuan eksklusif, konsumsi khusus untuk calon investor, serta permintaan fasilitas presentasi bisnis.
Total nilainya lebih dari dua ratus juta rupiah.
“Aku tidak pernah menyetujui ini,” kataku.
Dimas akhirnya mengaku bahwa staf perusahaannya telah menyiapkan formulir menggunakan salinan tanda tanganku dari dokumen pemesanan sebelumnya.
“Aku pikir kamu pasti setuju,” katanya.
Aku membeku.
“Jadi kamu tahu tanda tanganku dipakai?”
Dimas menunduk.
“Iya.”
“Tanpa bertanya kepadaku?”
“Iya.”
Aku merasa sesuatu dalam diriku benar-benar runtuh.
“Mas, kamu bukan cuma mengabaikan perasaanku. Kamu juga menganggap persetujuanku enggak penting.”
Pak Hendra langsung menegur putranya.
“Dimas, itu sudah keterlaluan.”
Aku meminta salinan dokumen dan riwayat pengajuannya disimpan untuk diperiksa lebih lanjut. Pak Rendra memastikan pengajuan itu belum diproses menjadi tagihan sah.
Namun aku tidak lagi ingin berdebat.
Aku menggandeng Ayah dan Ibu keluar dari ruang pertemuan.
Di dekat pintu ballroom, seorang pria berjas abu-abu tiba-tiba menghampiri kami.
“Maaf, apakah ini keluarga Pak Suyono?”
Ayah mengangkat wajah.
“Iya, saya Suyono.”
Pria itu tersenyum hangat.
“Pak, saya Surya. Dulu saya sering membeli sayur di lapak Bapak waktu masih tinggal di Jakarta Timur.”
Aku terkejut.
Pak Surya.
Pengusaha yang tadi ingin dijadikan pengganti Ayah.
Ayah memperhatikannya beberapa detik.
“Mas Surya yang dulu sering beli bayam buat ibunya?”
Pak Surya tertawa.
“Betul, Pak!”
Kemudian dia menggenggam tangan Ayah.
“Saya enggak menyangka Bapak adalah ayahnya Mbak Ayu.”
Aku menatapnya.
“Bapak kenal Ayah saya?”
Pak Surya mengangguk.
“Dulu waktu usaha saya baru mulai, saya sering pulang larut malam. Ibu saya sakit dan susah makan. Pak Suyono beberapa kali membantu mengantarkan sayur ke rumah meskipun dagangannya sudah hampir habis.”
Ayah tersenyum malu.
“Itu sudah lama sekali, Mas.”
Pak Surya menggeleng.
“Saya enggak lupa, Pak.”
Dimas yang baru keluar dari ruang pertemuan langsung menghampiri kami.
“Pak Surya, kebetulan sekali. Saya ingin menjelaskan soal acara.”
Namun Pak Surya justru menatapnya dengan serius.
“Saya sudah mendengar penjelasan dari panitia bahwa akad ditunda.”
Dimas terlihat gelisah.
“Ini cuma salah paham keluarga.”
Pak Surya menggeleng.
“Saya datang sebagai tamu. Bukan untuk menggantikan ayah kandung mempelai perempuan.”
Wajah Dimas langsung memucat.
Aku terdiam.
Pak Surya melanjutkan, “Saya memang sedang mempertimbangkan kerja sama dengan perusahaan Anda. Tapi saya tidak pernah meminta diperlakukan sebagai bagian dari keluarga demi memperoleh keuntungan bisnis.”
Dimas menunduk.
“Maaf, Pak.”
“Kalau keputusan pribadi saja dibuat tanpa persetujuan orang yang bersangkutan, saya harus lebih berhati-hati sebelum mempercayakan investasi perusahaan.”
Pak Surya kemudian berpamitan dengan sopan.
Dia tidak menjanjikan investasi.
Tidak pula mengambil keputusan hanya karena keributan keluarga.
Namun aku tahu Dimas baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini dianggapnya pasti.
Sore itu, aku pulang ke rumah Ayah dan Ibu di pinggiran Jakarta.
Gaun pengantinku sudah berganti menjadi pakaian sederhana.
Aku duduk di ruang tamu ketika Ayah menghampiri sambil membawa kertas pidatonya.
“Ayu, Ayah mau kasih ini.”
Aku menerimanya.
“Pidato Ayah?”
Dia mengangguk.
“Kalau kamu mau, simpan saja.”
Aku membuka kertas tersebut.
Tulisan tangan Ayah terlihat sedikit miring.
Di bagian pertama tertulis bahwa sejak kecil aku selalu ingin membantu orang lain, bahkan ketika tidak memiliki banyak uang.
Kemudian ada kalimat yang membuat air mataku langsung jatuh.
Ayah tidak bisa memberikan rumah besar atau warisan miliaran rupiah. Tetapi Ayah berharap lelaki yang menikahimu kelak akan menjaga hatimu, bukan karena kamu punya uang, melainkan karena dia menghargai dirimu.
Aku menangis.
Ayah duduk di sampingku.
“Nak, Ayah enggak pernah ingin membuatmu kehilangan Dimas.”
Aku menggeleng.
“Ayah enggak membuat Ayu kehilangan siapa-siapa.”
Aku memeluknya.
“Ayu justru hampir kehilangan diri sendiri karena terus mengalah.”
Beberapa minggu kemudian, Dimas datang ke rumah orang tuaku.
Dia membawa surat permintaan maaf dan salinan dokumen pengakuan utang yang dulu ditandatanganinya.
Tiga tahun sebelumnya, Ayah memang pernah meminjamkan empat ratus juta rupiah ketika usaha Dimas hampir bangkrut.
Sebagian uang sudah dikembalikan.
Sisanya masih tercatat sebagai kewajiban pribadi Dimas.
Kini dia menawarkan jadwal pembayaran tertulis yang dapat diperiksa oleh penasihat hukum.
Aku menghargai langkah tersebut.
Namun ketika Dimas meminta kami melanjutkan rencana pernikahan, aku belum bisa menerimanya.
“Ayu, aku tahu aku salah,” katanya.
Aku mengangguk.
“Aku juga tahu kamu menyesal.”
“Kalau begitu, apa enggak ada kesempatan lagi?”
Aku menatapnya.
“Mas, selama enam tahun kita bersama, aku selalu percaya kamu menghormati keluargaku.”
Air mataku mulai menggenang.
“Ternyata ketika harus memilih antara menghormati Ayah dan mendapatkan kesempatan bisnis, kamu memilih yang kedua.”
Dimas menunduk.
Aku melanjutkan, “Aku enggak bisa langsung percaya lagi hanya karena kamu sudah minta maaf.”
Dia mengangguk pelan.
Kami sepakat membicarakan tanggung jawab terhadap bayi kami secara terpisah dari keputusan untuk menikah.
Dimas tetap memiliki kesempatan menjadi ayah yang hadir dan bertanggung jawab.
Tetapi aku tidak bersedia menjadikan kehamilan sebagai alasan untuk memasuki pernikahan yang belum memiliki dasar saling menghormati.
Beberapa bulan berlalu.
Aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat.
Ayah menangis ketika pertama kali menggendong cucunya.
Ibu berdiri di samping kami sambil tersenyum bahagia.
Dimas datang setelah aku mengizinkannya.
Dia menggendong putri kami dengan tangan gemetar.
“Cantik sekali,” bisiknya.
Aku tersenyum.
“Namanya Kirana.”
Dimas menatapku.
“Kirana?”
Aku mengangguk.
“Artinya cahaya.”
Dia mengusap air matanya.
“Semoga dia tumbuh jadi anak yang bahagia.”
Aku menatap bayi kecil dalam pelukannya.
“Aku juga berharap begitu.”
Setelah kelahiran Kirana, hubungan kami berjalan lebih tenang.
Dimas membantu memenuhi kebutuhan anak, datang sesuai kesepakatan, dan belajar menjadi ayah tanpa menuntutku kembali kepadanya.
Sementara itu, Bu Ratna akhirnya datang meminta maaf langsung kepada Ayah dan Ibu.
Ayah mendengarkannya dengan tenang.
Namun beliau tidak berpura-pura bahwa semua penghinaan telah hilang begitu saja.
“Bu Ratna,” katanya, “saya enggak pernah malu jadi penjual sayur.”
Perempuan itu menunduk.
“Saya tahu saya sudah salah, Pak.”
Ayah tersenyum kecil.
“Kalau suatu hari Ibu melihat pedagang kecil lagi, jangan menilai harga dirinya dari dagangannya.”
Bu Ratna mengangguk sambil menangis.
Setahun kemudian, aku mengajak Kirana mengunjungi pasar tempat Ayah dahulu berjualan.
Ayah sekarang sudah mengurangi jam kerjanya, tetapi sesekali masih membantu teman-teman pedagang.
Ketika kami berjalan melewati deretan lapak sayur, seorang perempuan tua menyapa.
“Pak Suyono! Ini cucunya?”
Ayah langsung tersenyum bangga.
“Iya, Bu. Ini Kirana.”
Perempuan itu memuji wajah putriku.
Kemudian bertanya, “Anaknya siapa?”
Ayah menoleh kepadaku.
“Anaknya Ayu. Putri saya.”
Aku tertawa kecil.
Namun beberapa saat kemudian, Ayah mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.
“Ayu, Ayah masih menyimpan jas waktu pernikahanmu dulu.”
Aku menoleh.
“Buat apa, Yah?”
Ayah tersenyum.
“Bukan karena Ayah ingin kamu kembali menikah dengan Dimas.”
Dia berhenti sebentar.
“Ayah cuma ingin suatu hari, kalau kamu benar-benar menemukan orang yang menghargaimu, Ayah bisa memakai jas itu lagi dan mengantarmu dengan bangga.”
Mataku langsung berkaca-kaca.
Aku memeluk Ayah dengan satu tangan sambil menggendong Kirana.
“Yah, kalau hari itu datang, Ayu mau Ayah baca pidatonya sampai selesai.”
Ayah tertawa sambil mengusap matanya.
“Pasti, Nak.”
Aku menatap wajahnya yang mulai dipenuhi keriput.
Dulu aku mengira pernikahan mewah adalah salah satu bukti bahwa hidupku telah berhasil.
Ballroom besar.
Bunga-bunga indah.
Ratusan tamu.
Dan gaun pengantin yang dirancang khusus.
Namun pada hari ketika semuanya hampir terjadi, aku justru belajar bahwa kemewahan tidak pernah bisa menggantikan penghormatan.
Ayah mungkin hanya seorang penjual sayur.
Tetapi ketika Dimas membutuhkan pertolongan, Ayah tidak pernah merendahkannya.
Ketika keluarganya menghina kami, Ayah tetap berusaha menjaga perasaanku.
Dan ketika aku memutuskan membatalkan pernikahan, Ayah tidak memikirkan uang yang hilang atau malu di hadapan tamu.
Dia hanya ingin memastikan putrinya tidak menjalani hidup dengan hati yang terus terluka.
Akhirnya aku memahami bahwa lelaki yang paling layak berdiri di sampingku pada hari pernikahan bukanlah pengusaha kaya yang bisa membuka peluang bisnis.
Melainkan lelaki sederhana yang sejak aku kecil selalu mengajarkanku arti kasih sayang tanpa syarat.
Dan kalau suatu hari aku benar-benar menikah, tidak akan ada orang lain yang menggandeng tanganku menuju pelaminan.
Hanya Ayah.
Pria yang mungkin tidak memiliki kekayaan sebesar keluarga Dimas, tetapi tidak pernah membuatku merasa bahwa aku harus menjadi orang lain agar pantas dicintai.
