ISTRIKU MENGAKU SEDANG LEMBUR, TAPI MALAM ITU AKU

“Adrian pernah menggelapkan uang perusahaan Ayah sebesar tiga miliar rupiah.”

Kalimat Pak Hendra membuatku membeku di tengah restoran.

Rania langsung mengangkat wajah. Air matanya berhenti seolah seseorang baru saja menekan tombol.

“Ayah, jangan bahas itu di sini!”

Pak Hendra menatap putrinya dengan mata merah.

“Kenapa? Karena kamu takut suamimu tahu siapa laki-laki yang selama ini kamu temui diam-diam?”

Adrian berdiri kaku di samping meja. Wajahnya pucat, tetapi dia masih berusaha tersenyum.

“Itu cuma kesalahpahaman bisnis, Pak.”

“Kesalahpahaman?” Pak Hendra tertawa getir. “Kamu memindahkan uang perusahaan ke rekening yang tidak pernah disetujui direksi, lalu menghilang selama delapan bulan!”

Aku menatap Adrian.

Perlahan, aku mulai mengingat wajahnya.

Dua tahun lalu, ketika pertama kali berkunjung ke kantor lama Pak Hendra, aku pernah melihat foto seorang pria berkemeja hitam di meja administrasi. Saat itu Pak Hendra mengatakan bahwa pria tersebut telah diberhentikan karena masalah keuangan.

Ternyata dialah orangnya.

“Rania,” panggilku.

Istriku menoleh dengan wajah basah.

“Kamu tahu masa lalu Adrian?”

Dia tidak menjawab.

“Jawab aku.”

Rania menggigit bibir.

“Aku tahu sebagian.”

Dadaku terasa semakin sakit.

“Dan kamu tetap menjalin hubungan dengannya?”

“Mas, awalnya bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Aku menatap dua piring makanan di meja, kemudian cincin pernikahan yang masih melingkar di jarinya.

“Lalu seperti apa?”

Rania menarik napas gemetar.

“Aku bertemu Adrian lagi enam bulan lalu. Dia bilang sedang membangun usaha baru. Awalnya kami cuma membicarakan pekerjaan.”

Adrian buru-buru menyela.

“Rania, kamu nggak perlu menjelaskan semuanya!”

Pak Hendra langsung menatapnya.

“Kamu diam!”

Beberapa pengunjung mulai memperhatikan. Aku merasa wajahku panas, tetapi aku tidak ingin membuat keributan lebih besar.

“Yah, kita bicara di tempat lain.”

Pak Hendra mengangguk.

Kami pindah ke ruang privat yang disediakan manajer restoran. Rania berjalan dengan kepala tertunduk, sementara Adrian mengikuti dari belakang.

Begitu pintu ditutup, aku langsung duduk.

“Aku cuma ingin satu hal,” kataku. “Kebenaran.”

Rania menangis lagi.

“Aku memang punya hubungan dengan Adrian, Mas.”

Aku memejamkan mata.

Meskipun sudah menyaksikan semuanya, mendengar pengakuan itu tetap terasa seperti pisau yang ditancapkan perlahan ke dada.

“Sejak kapan?”

“Empat bulan.”

Aku menunduk.

Empat bulan.

Selama empat bulan, aku memasak makan malam untuknya, menjemputnya dari kantor, dan menanyakan apakah pekerjaannya terlalu melelahkan.

Selama empat bulan pula dia menggunakan alasan lembur untuk menemui lelaki lain.

“Kenapa, Ran?”

Dia tidak langsung menjawab.

Akhirnya, dengan suara lirih, dia berkata, “Aku merasa hidup kita nggak berkembang.”

Aku mengangkat wajah.

“Maksudmu?”

“Kita masih mencicil rumah. Mobil kita juga biasa saja. Teman-temanku sudah sering liburan ke luar negeri.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Jadi kamu berselingkuh karena aku nggak cukup kaya?”

Rania menangis.

“Aku nggak bilang begitu.”

“Tapi itu yang kamu rasakan.”

Dia terdiam.

Adrian tiba-tiba berbicara.

“Dimas, kamu harus memahami bahwa Rania punya kebutuhan yang mungkin nggak bisa kamu penuhi.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dan menurutmu, kamu bisa?”

Adrian mengangkat dagu.

“Aku punya bisnis sendiri sekarang.”

Pak Hendra tertawa pendek.

“Bisnis yang mana, Adrian? Perusahaan yang alamat kantornya bahkan tidak bisa ditemukan?”

Wajah Adrian berubah.

Aku mulai merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada perselingkuhan ini.

Pak Hendra mengeluarkan ponselnya.

“Rania, tiga minggu lalu kamu meminta Ayah meminjamkan uang dua ratus juta rupiah untuk investasi. Uang itu sebenarnya untuk Adrian?”

Rania membeku.

Aku langsung menoleh.

“Investasi apa?”

Pak Hendra memperlihatkan percakapan mereka.

Rania pernah mengatakan bahwa kantor tempatnya bekerja membuka kesempatan investasi dengan keuntungan tinggi.

Dia meminta ayahnya membantu karena tidak ingin melewatkan peluang tersebut.

Namun, Pak Hendra menolak setelah tidak memperoleh penjelasan yang memadai.

“Rania,” tanyaku pelan, “kamu juga menggunakan uang kita?”

Istriku menunduk.

Aku merasakan firasat buruk.

“Berapa?”

Tidak ada jawaban.

“Rania, berapa uang yang kamu berikan kepada Adrian?”

“Seratus delapan puluh juta.”

Aku membeku.

Jumlah itu hampir sama dengan seluruh tabungan yang kami kumpulkan selama tiga tahun menikah.

“Dari rekening mana?”

Rania menangis semakin keras.

“Rekening bersama kita.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursiku bergeser.

“Itu tabungan untuk melunasi rumah!”

“Aku mau mengembalikannya, Mas!”

“Dengan cara apa?”

Rania tidak menjawab.

Aku menatap Adrian.

“Di mana uangnya?”

Dia menghela napas.

“Sedang diputar dalam bisnis.”

“Bisnis apa?”

“Proyek pengadaan.”

“Kontraknya ada?”

Adrian terdiam.

Pak Hendra kemudian mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

“Dimas, Ayah sebenarnya sudah curiga sejak Rania meminta uang. Setelah itu Ayah meminta seorang kenalan memeriksa informasi perusahaan Adrian yang tersedia secara resmi.”

Beliau memperlihatkan beberapa catatan.

Perusahaan yang disebut Adrian ternyata baru didirikan beberapa bulan sebelumnya. Belum ada bukti kontrak pengadaan sebesar yang dijanjikannya.

Adrian langsung membantah.

“Proyeknya masih dalam tahap negosiasi!”

Aku menatapnya.

“Kalau begitu, tunjukkan bukti penggunaan uang kami.”

Dia tidak mampu menjawab.

Saat itulah Rania mulai memahami sesuatu.

“Adrian, kamu bilang uang itu sudah menghasilkan keuntungan.”

Adrian mengusap wajah.

“Memang, tapi belum bisa dicairkan.”

“Katamu minggu depan kita bisa mengambil semuanya!”

“Rania, jangan sekarang!”

Pak Hendra menatap putrinya dengan sedih.

“Jadi kamu bukan cuma mengkhianati suamimu. Kamu juga menyerahkan tabungan keluarga kepada orang yang pernah menyalahgunakan kepercayaan Ayah.”

Rania menutup wajahnya.

Aku mengambil ponsel dan membuka aplikasi perbankan.

Saldo rekening bersama kami tinggal beberapa juta rupiah.

Tanganku gemetar.

Selama ini, aku selalu bangga karena kami bisa menabung meskipun hidup sederhana.

Setiap bulan aku menyisihkan sebagian gaji. Aku menolak membeli barang yang tidak diperlukan. Bahkan ketika sepatu kerjaku rusak, aku menunggu sampai mendapat bonus sebelum menggantinya.

Dan sekarang semuanya hampir habis.

Aku menatap Rania.

“Kenapa kamu nggak bicara dulu denganku?”

Dia terisak.

“Karena aku tahu kamu pasti melarang.”

“Karena aku akan meminta kamu memeriksa risikonya, Ran. Bukan karena aku ingin menghalangi impianmu.”

Rania tidak menjawab.

Aku mengembuskan napas panjang.

“Aku mau pulang.”

Dia langsung berdiri.

“Mas, tunggu!”

Aku berhenti di depan pintu.

“Kita bicara besok setelah aku bisa berpikir lebih tenang.”

“Mas, aku masih sayang kamu!”

Aku menoleh.

“Kalau begitu, kenapa selama empat bulan kamu memilih membohongiku?”

Rania terdiam.

Aku keluar tanpa menunggu jawaban.

Malam itu, Pak Hendra mengantarku pulang.

Sepanjang perjalanan, beliau tidak banyak bicara.

Ketika mobil berhenti di depan rumahku, beliau akhirnya berkata, “Dimas, Ayah minta maaf.”

Aku menggeleng.

“Yah, yang melakukan semua itu bukan Ayah.”

“Tapi Rania anak Ayah.”

Aku menatapnya.

“Dan Ayah tetap orang yang selalu memperlakukanku dengan baik.”

Mata Pak Hendra berkaca-kaca.

“Jangan merasa harus mempertahankan pernikahan hanya karena hubungan kita, Nak. Keputusan tetap ada di tanganmu.”

Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya malam itu, air mataku benar-benar jatuh.

Keesokan paginya, aku menghubungi bank untuk memastikan keamanan rekening serta meminta informasi mengenai transaksi yang telah terjadi.

Aku juga menyimpan bukti transfer dan percakapan yang diberikan Rania.

Kemudian aku berkonsultasi dengan penasihat hukum mengenai pilihan yang tersedia untuk menangani persoalan keuangan dan rumah tanggaku.

Aku tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan kemarahan.

Namun, aku juga tidak ingin kembali membiarkan seseorang menggunakan kepercayaanku tanpa pertanggungjawaban.

Tiga hari kemudian, Rania datang ke rumah bersama Pak Hendra.

Wajahnya terlihat lelah.

Dia membawa sebuah map berisi salinan transfer dan percakapan dengan Adrian.

“Mas, aku sudah meminta Adrian mengembalikan uangnya.”

Aku menatapnya.

“Dia bilang apa?”

“Dia terus menunda.”

Pak Hendra kemudian menjelaskan bahwa pihaknya telah meminta bantuan hukum untuk menelusuri transaksi yang berkaitan dengan Adrian.

Aku mengangguk.

“Bagus kalau begitu.”

Rania duduk di hadapanku.

“Mas, aku tahu aku salah.”

Aku diam.

“Aku terlalu sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. Aku merasa semua yang kita punya masih kurang.”

Air matanya mulai jatuh.

“Padahal selama ini kamu nggak pernah membiarkan aku kekurangan kebutuhan.”

Aku menatap perempuan yang pernah menjadi pusat hidupku.

“Rania, masalahnya bukan hanya uang.”

Dia mengangguk.

“Aku tahu.”

“Kamu mengkhianati kepercayaanku. Kamu berbohong setiap malam. Bahkan ketika aku sedang makan bersama ayahmu, kamu masih mengirimkan foto palsu.”

Rania menunduk.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku sudah memikirkan semuanya. Aku ingin kita berpisah.”

Rania langsung menangis.

“Mas, jangan…”

Aku menggeleng.

“Aku nggak mengambil keputusan ini untuk menghukummu. Aku hanya nggak bisa melanjutkan pernikahan ketika kepercayaanku sudah hancur.”

Pak Hendra menunduk.

Rania memegang tanganku.

“Kalau aku berubah?”

Aku perlahan melepaskan genggamannya.

“Aku berharap kamu berubah. Tapi perubahan itu harus kamu lakukan untuk dirimu sendiri, bukan supaya aku melupakan semuanya.”

Beberapa bulan berikutnya, proses perceraian kami berjalan.

Kami membicarakan pembagian tanggung jawab keuangan dan penyelesaian urusan rumah melalui pendampingan hukum.

Aku tidak menganggap seluruh kerugian otomatis menjadi tanggung jawab satu pihak tanpa pemeriksaan.

Namun, Rania akhirnya mengakui bahwa dia telah memindahkan dana dari rekening bersama tanpa persetujuanku.

Sementara itu, penelusuran terhadap Adrian menemukan bahwa dia juga menerima dana dari beberapa orang lain dengan janji keuntungan investasi yang belum dapat dibuktikan.

Sejumlah pihak kemudian membuat laporan resmi.

Penyelidikan berjalan berdasarkan dokumen transaksi dan keterangan yang tersedia.

Aku tidak mengetahui bagaimana seluruh proses tersebut akan berakhir.

Namun, setidaknya ada upaya untuk mencari pertanggungjawaban secara benar.

Suatu sore, Pak Hendra datang menemuiku.

Beliau membawa dua bungkus bakso dari warung langganan kami.

“Dim, makan dulu.”

Aku tertawa kecil.

“Yah, saya sudah bukan menantu Ayah.”

Pak Hendra meletakkan bakso di meja.

“Memangnya cuma menantu yang boleh Ayah traktir bakso?”

Aku terdiam.

Beliau duduk.

“Kamu tahu, Dimas? Dulu Ayah pernah mengira tugas seorang bapak selesai setelah anaknya menikah.”

Aku menatapnya.

“Ternyata tidak.”

Beliau menarik napas panjang.

“Anak yang sudah dewasa tetap harus belajar bertanggung jawab atas pilihannya. Dan sebagai orang tua, Ayah nggak boleh menutup mata hanya karena kesalahannya dilakukan anak sendiri.”

Aku mengangguk perlahan.

Pak Hendra kemudian berkata dengan suara lebih pelan, “Rania sedang mengikuti konseling. Dia juga mulai bekerja kembali dengan lebih teratur.”

Aku tersenyum tipis.

“Semoga dia benar-benar membaik, Yah.”

Beliau mengangguk.

“Ayah juga berharap begitu.”

Setahun kemudian, hidupku mulai menemukan keseimbangan baru.

Aku tetap bekerja di perusahaan logistik yang sama.

Aku juga mulai mengambil kursus manajemen operasional untuk meningkatkan kemampuan.

Rumah sederhana yang dulu kami beli akhirnya dapat kuselesaikan urusannya melalui kesepakatan yang sah.

Aku mulai menata ulang ruang keluarga.

Mengganti beberapa perabot.

Menanam pohon kecil di halaman depan.

Dan belajar menikmati makan malam sendirian tanpa merasa seluruh hidupku telah gagal.

Suatu malam, ketika sedang merapikan laci, aku menemukan foto pernikahan kami.

Rania tersenyum bahagia mengenakan kebaya putih.

Aku berdiri di sampingnya sambil memegang tangannya.

Di belakang kami, Pak Hendra tersenyum bangga.

Aku memandangi foto itu cukup lama.

Dulu, aku mengira pernikahan yang baik berarti dua orang tidak pernah saling mengecewakan.

Sekarang aku tahu bahwa manusia bisa membuat kesalahan.

Namun, ada perbedaan besar antara kesalahan yang diakui dengan kebohongan yang terus dipertahankan.

Aku tidak membenci Rania.

Aku juga tidak berharap hidupnya hancur.

Aku hanya tidak ingin kembali berada dalam hubungan yang membuatku terus mempertanyakan apakah setiap perkataan pasanganku adalah kebenaran.

Beberapa hari kemudian, aku menerima pesan dari Rania.

“Mas, aku cuma mau bilang proses pengembalian sebagian uang sudah mulai berjalan melalui kesepakatan yang sedang ditangani. Aku juga ingin minta maaf sekali lagi. Kamu sudah menjadi suami yang baik, tapi aku terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya nggak pernah membuatku bahagia.”

Aku membaca pesan itu dengan tenang.

Kemudian membalas singkat.

“Terima kasih sudah memberi kabar. Semoga kamu bisa membangun kehidupan yang lebih baik.”

Tidak ada pembicaraan tentang kembali bersama.

Tidak ada janji untuk mencoba sekali lagi.

Aku hanya merasa sebuah bagian dari hidupku akhirnya benar-benar selesai.

Beberapa minggu kemudian, Pak Hendra mengajakku makan di restoran yang sama.

Aku sempat ragu.

“Yah, restoran itu…”

Beliau tertawa kecil.

“Justru karena itu Ayah mengajakmu.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Karena Ayah nggak mau setiap kali kamu melihat tempat itu, kamu cuma mengingat pengkhianatan.”

Aku terdiam.

Akhirnya, aku setuju.

Malam itu, kami duduk di meja dekat jendela.

Tempat yang sama seperti setahun sebelumnya.

Pak Hendra memesan gurame bakar, tumis kangkung, tahu goreng, dan dua gelas teh hangat.

Ketika makanan datang, beliau mengambilkan sepotong ikan untukku.

“Nih, Dim. Coba. Masih enak nggak?”

Aku mencicipinya.

Kemudian tersenyum.

“Masih enak, Yah.”

Pak Hendra tertawa puas.

“Tuh, kan! Ayah memang nggak pernah salah memilih tempat makan.”

Aku ikut tertawa.

Untuk beberapa saat, suasana terasa seperti dulu.

Namun, kali ini tidak ada kebohongan yang sedang menunggu di balik sekat kayu.

Tidak ada panggilan telepon palsu.

Tidak ada seseorang yang diam-diam menggenggam tangan orang lain.

Hanya dua lelaki yang pernah menjadi keluarga, duduk bersama sambil menikmati makan malam sederhana.

Pak Hendra kemudian mengangkat gelas tehnya.

“Dimas, Ayah mau bilang sesuatu.”

Aku menoleh.

“Apa, Yah?”

“Ayah bangga sama kamu.”

Aku terdiam.

“Bukan karena kamu berhasil melewati perceraian. Tapi karena kamu tetap memperlakukan orang lain dengan hormat meskipun pernah disakiti.”

Mataku mulai berkaca-kaca.

Aku tersenyum.

“Terima kasih, Yah.”

Beliau menepuk bahuku.

“Jangan berhenti membangun hidupmu.”

Aku mengangguk.

Malam itu, ketika meninggalkan restoran, aku berhenti sebentar di dekat lorong yang dulu menjadi tempat aku memergoki Rania bersama Adrian.

Aku memandangnya tanpa rasa marah.

Ada kesedihan kecil yang masih tersisa.

Namun, kesedihan itu tidak lagi menguasai seluruh pikiranku.

Aku akhirnya memahami bahwa sebuah pengkhianatan tidak selalu menghancurkan hidup seseorang.

Terkadang, pengkhianatan justru membuka mata kita terhadap kenyataan yang terlalu lama tidak ingin kita lihat.

Aku pernah mengira menjadi suami yang baik berarti selalu memahami, selalu percaya, dan selalu memberi kesempatan.

Sekarang aku tahu bahwa kepercayaan juga membutuhkan tanggung jawab.

Cinta tanpa kejujuran akan membuat seseorang terus hidup dalam keraguan.

Dan mempertahankan hubungan yang tidak lagi memiliki rasa hormat bukanlah bukti kesetiaan.

Aku berjalan menuju tempat parkir.

Pak Hendra sudah menunggu di dekat mobil.

“Ayo, Dim! Jangan bengong. Besok Ayah mau ngajak kamu nonton bola!”

Aku tertawa.

“Siap, Yah.”

Kami masuk ke mobil dan meninggalkan restoran.

Di luar, lampu-lampu Bekasi berkilau di atas jalanan yang mulai lengang.

Aku memandang kota dari balik jendela.

Setahun lalu, aku meninggalkan tempat yang sama dengan hati hancur.

Malam ini, aku pulang dengan perasaan jauh lebih ringan.

Bukan karena semua luka telah hilang.

Melainkan karena aku sudah berhenti membiarkan luka itu menentukan masa depanku.

Dan ketika Pak Hendra kembali bercerita tentang pertandingan sepak bola yang ingin kami tonton, aku tersenyum sambil mendengarkan.

Ternyata, meskipun pernikahanku dengan Rania telah berakhir, aku tidak kehilangan seluruh keluarga yang pernah kutemukan melalui hubungan itu.

Aku masih memiliki seseorang yang menghargai kejujuran, tanggung jawab, dan kasih sayang.

Seseorang yang tetap memanggilku anak meskipun tidak lagi terikat hubungan sebagai mertua dan menantu.

Dan mungkin, itulah kejutan paling besar dari malam ketika aku memergoki istriku bersama pria lain.

Aku kehilangan kepercayaan kepada seseorang yang pernah kucintai.

Namun, aku justru menemukan bahwa hubungan keluarga yang tulus tidak selalu berakhir ketika sebuah pernikahan selesai.

Karena pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang hubungan darah atau surat pernikahan.

Keluarga juga tentang siapa yang tetap memperlakukan kita dengan hormat, bahkan ketika kehidupan tidak lagi berjalan sesuai rencana.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang