“Kalung itu sengaja dimasukkan ke dalam koperku.”
Suaraku terdengar pelan, tetapi cukup jelas membuat semua orang di kamar terdiam.

Adrian menatapku dengan wajah keras.
“Nadira, barangnya ditemukan di kopermu. Kamu masih mau menyalahkan orang lain?”
Aku menoleh kepada Kirana.
Dia berdiri di samping Ibu Ratna sambil memegangi dadanya, seolah baru saja mengalami kejadian paling menyakitkan dalam hidupnya.
“Kirana, semalam kamu masuk ke kamarku tanpa mengetuk, bukan?”
Kirana langsung menggeleng.
“Aku cuma mau meminjam gelang, Kak.”
“Dan kamu melihat kopernya sudah terbuka?”
Dia terdiam sepersekian detik.
Aku melanjutkan, “Kamu tahu aku mau pergi pagi ini?”
“Kak Nadira, kenapa menuduhku?”
Air matanya langsung mengalir.
Ibu Ratna buru-buru merangkulnya.
“Sudah, Kirana. Jangan menangis.”
Kemudian beliau menatapku dengan kecewa.
“Nadira, Ibu sudah memberimu segalanya. Kenapa kamu masih mengambil kalung adikmu?”
Aku merasa sesuatu dalam dadaku akhirnya patah.
“Bu, selama ini aku nggak pernah meminta barang mewah. Bahkan gelang yang Ibu berikan sudah kuberikan kepada Kirana.”
“Itu karena kamu kakaknya!”
Aku tersenyum pahit.
“Kalau aku mengambil sesuatu yang bukan milikku, aku pencuri. Tapi kalau Kirana mengambil barang dari kamarku, aku harus mengerti karena dia adikku?”
Ibu Ratna terdiam.
Adrian mengangkat kalung tersebut.
“Kita nggak perlu memperpanjang masalah. Kembalikan kalungnya, lalu minta maaf.”
Aku menggeleng.
“Aku nggak akan meminta maaf untuk sesuatu yang nggak kulakukan.”
Wajah Adrian memerah.
“Kamu mulai berani melawan sekarang?”
Aku menatapnya.
“Bukan melawan, Kak. Aku hanya berhenti mengakui kesalahan yang bukan milikku.”
Tiba-tiba terdengar suara berat dari belakang.
“Ada keributan apa pagi-pagi?”
Ayah Surya berdiri di ambang pintu.
Adrian segera menjelaskan semuanya.
Ayah mendengarkan sambil menatap koperku.
Kemudian beliau bertanya, “Nadira, kamu mau pergi?”
Aku mengangguk.
“Aku mau pulang ke Bekasi. Ibu Sulastri harus melanjutkan pengobatan.”
Ayah menghela napas.
“Kita belum selesai membicarakan masalah kalung ini.”
Aku mengambil ponsel dari meja.
“Kalau begitu, boleh kita periksa rekaman kamera lorong?”
Semua orang terdiam.
Kirana langsung menegang.
“Kamera apa?”
Aku menatapnya.
“Kamera keamanan di depan kamarku. Semalam aku melihat lampu indikatornya masih menyala.”
Adrian mengernyit.
“Memangnya kamera itu mengarah ke dalam kamar?”
“Tidak. Tapi kita bisa melihat siapa yang masuk dan keluar.”
Kirana buru-buru menyela.
“Buat apa? Aku memang masuk ke kamar Kakak. Aku nggak menyangkal!”
Aku mengangguk.
“Bagus. Berarti kita tinggal memeriksa apa yang terjadi setelah kamu keluar.”
Ayah akhirnya memanggil kepala keamanan rumah.
Namanya Pak Yusuf.
Lima belas menit kemudian, kami berkumpul di ruang kerja Ayah.
Rekaman kamera lorong diputar melalui layar komputer.
Pukul sembilan lewat dua belas menit malam, Kirana terlihat masuk ke kamarku.
Dia keluar sekitar tujuh menit kemudian sambil mengenakan gelang pemberianku.
Namun, rekaman berikutnya membuat seluruh ruangan membeku.
Pukul sebelas lewat empat puluh delapan menit, ketika aku sedang mandi di kamar mandi dalam, Kirana kembali membuka pintu kamarku.
Kali ini dia membawa kotak beludru kecil.
Dia masuk sebentar, kemudian keluar tanpa membawa kotak tersebut.
Aku menoleh kepadanya.
“Sekarang kamu mau menjelaskan apa?”
Wajah Kirana langsung pucat.
“Itu… aku cuma mau menyimpan kalungku sementara.”
“Di dalam koperku?”
Kirana menangis.
“Aku takut kalungnya hilang!”
Adrian menatap layar dengan rahang mengeras.
“Kalau begitu, kenapa tadi kamu bilang Nadira mencurinya?”
Kirana tidak menjawab.
Ibu Ratna perlahan melepaskan rangkulannya.
“Kirana?”
Perempuan itu akhirnya menutup wajah.
“Aku cuma takut Kak Nadira pergi!”
Aku membeku.
“Apa hubungannya?”
Kirana mengangkat wajah dengan mata merah.
“Sejak kamu datang, Mama selalu membicarakan anak kandungnya. Papa ingin memberikan saham kepadamu. Semua orang bilang kamu putri Mahendra yang sebenarnya!”
Aku terdiam.
Kirana melanjutkan dengan suara bergetar.
“Aku takut suatu hari kalian nggak membutuhkan aku lagi.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di balik sikapnya yang selama ini angkuh.
Namun, rasa takut bukan alasan untuk menghancurkan barang pemberian ibuku, apalagi menuduhku mencuri.
“Kirana, kamu nggak perlu menyingkirkan aku supaya tetap dicintai,” kataku. “Tapi kamu juga nggak berhak menyakitiku karena takut kehilangan tempatmu.”
Ayah Surya mematikan layar.
Wajahnya tampak sangat lelah.
Kemudian beliau menatapku.
“Nadira, Ayah minta maaf karena sudah mencurigaimu.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Yah.”
Ibu Ratna mendekat.
“Nadira, Ibu juga minta maaf. Ibu terlalu cepat percaya.”
Aku memandang perempuan yang melahirkanku itu.
Hampir setahun aku tinggal di rumahnya.
Hampir setahun pula aku berusaha menjadi putri yang tidak pernah mengecewakan.
Namun, satu tuduhan sudah cukup membuatnya melupakan semua kebaikanku.
“Bu, aku menerima permintaan maaf Ibu. Tapi aku tetap akan pergi.”
Ibu Ratna langsung menggenggam tanganku.
“Jangan, Nak. Ini rumahmu.”
Aku menatapnya lama.
“Rumah seharusnya membuat seseorang merasa aman, Bu.”
Air matanya jatuh.
Aku perlahan melepaskan tangannya.
Kemudian mengambil koper dan berjalan menuju pintu.
Namun, ketika melewati ruang keluarga, Ayah Surya memanggilku.
“Nadira, tunggu.”
Aku berhenti.
Beliau mendekat.
“Ayah ingin tahu sesuatu. Selama ini, kenapa kamu selalu menerima hadiah uang tetapi hampir nggak pernah menggunakan fasilitas yang kami sediakan?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu akhirnya datang.
Pertanyaan yang selama hampir setahun tidak pernah diajukan siapa pun.
Aku menarik napas panjang.
“Karena aku menabung untuk pengobatan Ibu Sulastri.”
Ayah membeku.
“Berapa yang sudah kamu kumpulkan?”
Aku menatapnya.
“Hampir dua miliar rupiah.”
Wajah Ayah berubah.
Adrian yang berdiri di belakangnya langsung menegakkan tubuh.
“Dua miliar?”
Aku mengangguk.
“Semua uang yang kalian berikan kusimpan. Sebagian besar hadiah barang kujual. Aku cuma ingin memastikan biaya pengobatan dan pemulihan Ibu tersedia.”
Ibu Ratna menutup mulut.
“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”
Aku tersenyum sedih.
“Karena setiap kali aku menyebut Ibu Sulastri, kalian selalu mengingatkanku bahwa sekarang aku sudah kembali kepada keluarga kandung.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melanjutkan.
“Tapi perempuan itu yang menggendongku ketika demam. Dia yang menjual perhiasan terakhirnya supaya aku bisa sekolah. Dia yang rela nggak makan enak supaya aku punya uang membeli buku.”
Suaraku mulai bergetar.
“Aku nggak bisa membiarkan dia sakit sendirian hanya karena sekarang aku tinggal di rumah besar.”
Ayah menunduk.
Aku kemudian berjalan keluar.
Kali ini, tidak ada yang menghentikanku.
Ketika taksi yang kupesan tiba di depan gerbang, aku sempat menoleh.
Rumah keluarga Mahendra berdiri megah di bawah cahaya matahari pagi.
Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa berat meninggalkannya.
Aku hanya ingin pulang.
Dua jam kemudian, mobil berhenti di depan rumah kecil kami di Bekasi.
Aroma nasi uduk langsung menyambutku.
Aku melihat Ibu Sulastri duduk di kursi plastik dekat warung.
Tubuhnya terlihat semakin kurus.
Namun, begitu melihatku, wajahnya langsung berseri-seri.
“Nadira!”
Aku berlari menghampirinya.
“Bu!”
Aku memeluknya erat-erat.
Ibu mengusap rambutku.
“Kok pulang mendadak, Nak?”
Aku menangis di bahunya.
“Karena aku kangen.”
Beliau tertawa kecil.
“Anak Ibu memang manja.”
Aku menggeleng sambil menangis.
“Boleh aku manja sebentar, Bu?”
Ibu memelukku semakin erat.
“Boleh, Sayang. Selamanya juga boleh.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, aku tidur di kamar kecilku sendiri.
Tidak ada pendingin ruangan mahal.
Tidak ada kasur impor.
Tidak ada lampu kristal.
Namun, aku tidur dengan perasaan jauh lebih tenang.
Keesokan paginya, aku mengantar Ibu Sulastri ke rumah sakit.
Dokter memeriksa kembali kondisinya dan menjelaskan pilihan tindakan medis yang tersedia.
Kami juga berkonsultasi mengenai pembiayaan, jaminan kesehatan yang dapat digunakan, serta kebutuhan perawatan lanjutan.
Setelah beberapa pemeriksaan tambahan, tim dokter menyusun rencana pengobatan yang sesuai dengan kondisinya.
Aku memastikan seluruh kebutuhan administratif telah dipersiapkan.
Namun, tiga hari sebelum tindakan dijadwalkan, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah kami.
Ayah Surya turun bersama Ibu Ratna dan Adrian.
Aku terkejut.
“Yah?”
Ayah tidak langsung menjawab.
Beliau justru menatap Ibu Sulastri yang sedang duduk di depan warung.
Perempuan sederhana itu berdiri perlahan.
“Selamat siang, Pak.”
Ayah Surya mendekat.
Kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit.
“Bu Sulastri, saya datang untuk meminta maaf.”
Ibu terlihat bingung.
“Maaf untuk apa, Pak?”
Ayah menarik napas panjang.
“Karena selama ini kami membawa Nadira pergi seolah dua puluh dua tahun kehidupan yang Ibu berikan kepadanya bisa begitu saja digantikan.”
Aku langsung menutup mulut.
Air mataku jatuh.
Ayah melanjutkan.
“Kami terlalu sibuk memikirkan anak kandung yang hilang sampai lupa menghargai orang yang membesarkannya.”
Ibu Sulastri tersenyum lembut.
“Nadira memang anak yang baik, Pak.”
Ibu Ratna mulai menangis.
“Bu, terima kasih sudah merawat anak saya.”
Ibu Sulastri menggenggam tangannya.
“Dia juga anak saya, Bu Ratna.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Aku melihat wajah Ibu Ratna berubah.
Namun, kali ini bukan karena marah.
Beliau mengangguk sambil menangis.
“Iya. Nadira anak kita berdua.”
Aku menangis semakin keras.
Untuk pertama kalinya, kedua perempuan yang paling menentukan hidupku berdiri berhadapan tanpa saling berebut tempat di hatiku.
Beberapa hari kemudian, Ibu Sulastri menjalani tindakan medis sesuai rencana.
Aku menunggu di ruang keluarga pasien dengan kedua tangan menggenggam erat.
Ayah Surya duduk di sampingku.
Sementara Ibu Ratna beberapa kali membelikan makanan dan memintaku beristirahat.
Aku tidak tahu apakah semua itu berarti hubungan kami akan langsung membaik.
Namun, untuk pertama kalinya, mereka menunjukkan kepedulian tanpa menuntutku menjadi putri yang sempurna.
Setelah tindakan selesai, dokter menjelaskan bahwa prosedur telah berjalan sesuai rencana, meskipun masa pemulihan tetap membutuhkan pemantauan ketat.
Aku menangis lega.
Ibu Sulastri masih harus menjalani rehabilitasi dan kontrol berkala.
Namun, kami akhirnya memiliki harapan yang lebih jelas.
Beberapa minggu kemudian, Adrian datang menemuiku sendirian.
Dia membawa sebuah kotak kecil.
Aku mengernyit.
“Apa ini, Kak?”
Adrian meletakkannya di meja.
“Jaketmu.”
Aku langsung membeku.
Dia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat jaket katun tua pemberian Ibu Sulastri.
Potongan-potongannya telah dijahit kembali dengan hati-hati.
Beberapa bagian masih terlihat bekas sambungannya.
Namun, bentuknya sudah kembali menyerupai jaket semula.
Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.
“Kak…”
Adrian menunduk.
“Kakak meminta bantuan penjahit yang biasa memperbaiki kain lama. Dia bilang nggak semua bagian bisa dikembalikan seperti semula.”
Aku mengusap kainnya.
Air mataku langsung jatuh.
Adrian melanjutkan dengan suara pelan.
“Kakak minta maaf karena waktu itu cuma menganggapnya sepotong kain.”
Aku menatapnya.
“Kenapa Kakak sampai melakukan ini?”
Dia menarik napas panjang.
“Karena setelah kamu pergi, Kakak baru sadar selama ini kamu selalu merawat orang lain, tapi nggak ada yang benar-benar bertanya siapa yang merawatmu.”
Aku menunduk.
Adrian kemudian menyerahkan sebuah amplop.
Di dalamnya terdapat salinan surat yang ditandatangani Ayah Surya.
Aku membacanya perlahan.
Surat itu menjelaskan bahwa keluarga Mahendra telah menyiapkan dana bantuan untuk biaya perawatan lanjutan Ibu Sulastri, dengan pengelolaan yang akan disepakati bersama tanpa membatasi keputusanku mengenai tempat tinggal.
Aku menatap Adrian.
“Kak, aku nggak mau kembali hanya karena kalian memberi uang.”
Dia mengangguk.
“Kakak tahu.”
“Dan aku nggak ingin Ibu merasa seperti sedang berutang budi.”
“Kami mengerti.”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau begitu, terima kasih. Tapi kita bicarakan semuanya dengan jelas dulu.”
Adrian tersenyum.
“Itu memang yang seharusnya kami lakukan sejak awal.”
Namun, masih ada satu orang yang belum datang menemuiku.
Kirana.
Selama hampir dua bulan setelah aku meninggalkan rumah, dia tidak pernah mengirim pesan.
Aku sebenarnya tidak menunggu permintaan maafnya.
Namun, suatu sore, ketika sedang membantu Ibu Sulastri menyiapkan nasi uduk, sebuah motor berhenti di depan rumah.
Aku menoleh.
Kirana turun dari ojek daring.
Dia mengenakan kaus sederhana dan celana panjang.
Tidak ada tas mewah.
Tidak ada perhiasan mencolok.
Aku terdiam.
“Kirana?”
Dia mengangguk gugup.
“Kak, boleh aku bicara sebentar?”
Aku mempersilakannya duduk.
Kirana menatap warung kecil kami.
Kemudian matanya tertuju kepada Ibu Sulastri yang sedang membungkus nasi.
“Itu ibu yang membesarkan Kakak?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
Kirana menunduk.
“Dia kelihatan baik.”
Aku tersenyum tipis.
“Memang.”
Beberapa saat kami terdiam.
Kemudian Kirana mulai menangis.
“Kak, aku mau minta maaf.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk jaket itu. Untuk tuduhan kalung. Untuk semua hal yang kulakukan karena takut kehilangan Mama dan Papa.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kirana melanjutkan.
“Aku selalu merasa kalau Kakak diterima sepenuhnya, aku akan menjadi orang asing di rumah sendiri.”
Aku menarik napas panjang.
“Kirana, aku juga merasa seperti orang asing di rumah itu.”
Dia mengangkat wajah.
Aku melanjutkan.
“Bedanya, kamu takut kehilangan kehidupan yang sudah kamu kenal. Aku justru kehilangan kehidupan yang kukenal ketika datang ke sana.”
Air matanya semakin deras.
“Aku nggak pernah memikirkan itu.”
Aku mengangguk.
“Aku tahu.”
Kirana mengusap pipinya.
“Aku nggak minta Kakak langsung memaafkan aku. Tapi aku ingin memperbaiki semuanya kalau Kakak bersedia.”
Aku terdiam cukup lama.
Kemudian berkata,
“Kalau kamu sungguh-sungguh ingin berubah, berhentilah memperlakukan orang lain sebagai ancaman hanya karena mereka juga ingin dicintai.”
Kirana mengangguk.
“Iya, Kak.”
Aku tidak langsung memeluknya.
Namun, ketika Ibu Sulastri memanggil kami untuk makan, aku mempersilakan Kirana duduk bersama.
Dia terlihat terkejut.
“Kakak nggak marah aku datang?”
Aku tersenyum kecil.
“Aku masih sakit hati. Tapi kamu boleh makan nasi uduk.”
Untuk pertama kalinya, Kirana tertawa di hadapanku tanpa nada mengejek.
Beberapa bulan kemudian, kesehatan Ibu Sulastri mulai membaik.
Beliau masih perlu kontrol rutin dan menjaga aktivitas.
Aku membantu memperbaiki warung agar pekerjaannya lebih ringan.
Aku juga membeli mesin penggiling bumbu, kursi yang nyaman, serta beberapa perlengkapan dapur baru.
Namun, aku tidak melarangnya memasak.
Karena aku tahu kegiatan tersebut membuatnya bahagia.
Suatu pagi, ketika kami sedang menyiapkan nasi uduk, Ibu tiba-tiba bertanya,
“Nadira, kamu mau tinggal di sini terus?”
Aku tersenyum.
“Kenapa, Bu? Ibu bosan sama aku?”
Beliau tertawa.
“Bukan begitu. Ibu cuma nggak mau kamu merasa harus berhenti mengejar masa depan demi merawat Ibu.”
Aku terdiam.
Ibu melanjutkan.
“Kamu masih muda. Kamu boleh punya pekerjaan, belajar lagi, atau pergi ke mana pun kamu ingin.”
Aku memeluknya.
“Kalau aku pergi, Ibu nggak sedih?”
“Sedih, tentu. Tapi Ibu lebih sedih kalau kamu merasa hidupmu cuma untuk menjaga Ibu.”
Air mataku mulai jatuh.
Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa perempuan yang paling membutuhkan bantuanku justru menjadi orang yang paling tidak ingin mengikat hidupku.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali menyelesaikan kuliah yang sempat tertunda.
Aku juga mulai bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan pemasaran makanan.
Aku ingin membangun masa depan yang tidak bergantung pada hadiah atau pengakuan keluarga Mahendra.
Sementara itu, hubungan kami perlahan membaik.
Ayah Surya sesekali datang mengunjungi warung.
Ibu Ratna mulai sering menelepon Ibu Sulastri untuk menanyakan kesehatannya.
Adrian membantuku mempelajari beberapa hal tentang pengelolaan usaha.
Dan Kirana, setelah beberapa kali datang, mulai belajar membantu membungkus nasi uduk meskipun hasilnya sering berantakan.
Suatu hari, Ibu Ratna mengajakku berbicara.
“Nadira, Ibu ingin bertanya sesuatu.”
Aku menoleh.
“Apa, Bu?”
“Kamu masih menganggap rumah keluarga Mahendra sebagai rumahmu?”
Aku terdiam.
Pertanyaan itu dulu pasti akan membuatku cemas.
Aku mungkin akan buru-buru menjawab iya agar beliau tidak kecewa.
Namun, sekarang aku memilih jujur.
“Aku menganggapnya rumah keluargaku, Bu. Tapi rumah tempat aku tumbuh tetap di sini.”
Ibu Ratna mengangguk perlahan.
“Tidak apa-apa.”
Aku menatapnya.
Beliau tersenyum.
“Sekarang Ibu mengerti bahwa mencintai anak tidak berarti harus memilikinya sendirian.”
Aku menggenggam tangannya.
Untuk pertama kalinya, jawaban itu tidak terasa seperti pengorbanan salah satu pihak.
Melainkan awal dari hubungan yang lebih sehat.
Setahun setelah aku kembali ke Bekasi, warung nasi uduk kami berkembang menjadi usaha kecil dengan tiga pegawai.
Aku mengelola pemasaran dan pembukuan.
Ibu Sulastri tetap mengawasi resep.
Namun, beliau tidak lagi harus berdiri sejak dini hari setiap hari.
Pada hari ulang tahunnya, kami mengadakan makan malam sederhana.
Ayah Surya, Ibu Ratna, Adrian, dan Kirana datang.
Untuk pertama kalinya, kedua keluargaku duduk mengelilingi meja yang sama.
Tidak ada kursi utama.
Tidak ada pembicaraan mengenai anak kandung yang lebih berhak.
Tidak ada yang diminta mengalah demi menjaga suasana.
Kami hanya menikmati makanan dan berbincang seperti keluarga biasa.
Ketika kue ulang tahun dibawa keluar, Ibu Sulastri menangis.
“Dulu Ibu nggak pernah membayangkan bisa melihat kalian semua berkumpul begini.”
Aku menggenggam tangannya.
“Sekarang Ibu nggak perlu membayangkan lagi.”
Ibu Ratna mendekat.
Kemudian memeluk Ibu Sulastri.
“Terima kasih sudah membesarkan Nadira dengan begitu baik.”
Ibu Sulastri tersenyum.
“Terima kasih juga sudah mau mengenalnya bukan cuma sebagai anak yang harus selalu menurut.”
Suasana mendadak hening.
Kemudian Ayah Surya mengangguk.
“Benar. Kami belajar banyak dari semua yang terjadi.”
Aku memandang wajah mereka satu per satu.
Setahun lalu, aku mengira harus memilih antara keluarga kandung dan perempuan yang membesarkanku.
Aku mengira uang dan kasih sayang selalu datang dengan syarat.
Aku bahkan rela menelan begitu banyak penghinaan karena takut kehilangan kesempatan menyelamatkan Ibu Sulastri.
Namun, sekarang aku memahami sesuatu.
Keluarga bukan tempat seseorang harus membuktikan nilainya setiap hari.
Keluarga seharusnya menjadi tempat kita diterima sebagai manusia, lengkap dengan kelebihan, kekurangan, dan masa lalu yang tidak bisa dihapus.
Aku tidak menyesal pernah berusaha mengumpulkan uang untuk pengobatan Ibu.
Namun, aku menyesal terlalu lama menganggap diriku harus membeli perhatian orang lain dengan kepatuhan.
Aku juga belajar bahwa kekayaan bukanlah sesuatu yang buruk.
Uang telah membantu kami memperoleh perawatan yang dibutuhkan.
Uang juga membantu memperbaiki usaha kecil Ibu.
Namun, uang tidak pernah bisa menggantikan rasa hormat.
Tidak bisa mengganti kenangan masa kecil.
Dan tidak bisa membeli kasih sayang yang tulus.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, aku duduk bersama Ibu Sulastri di depan warung.
Angin malam berembus pelan.
Lampu jalan menerangi gang kecil di depan rumah.
Ibu menyandarkan kepala di bahuku.
“Nadira, kamu bahagia sekarang?”
Aku tersenyum.
“Bahagia, Bu.”
“Bukan karena uangnya?”
Aku tertawa kecil.
“Bukan.”
Ibu menoleh.
“Lalu karena apa?”
Aku menggenggam tangannya.
“Karena sekarang aku tahu aku nggak harus menjadi anak yang sempurna untuk dicintai.”
Ibu tersenyum.
Kemudian mengusap rambutku seperti ketika aku masih kecil.
“Dari dulu juga begitu, Nak.”
Aku menutup mata.
Di dalam kamar, jaket tua yang pernah digunting Kirana kini tersimpan rapi di dalam lemari.
Jahitannya tidak lagi sempurna.
Beberapa bagian warnanya berbeda.
Namun, bagiku, jaket tersebut justru menjadi lebih berharga.
Karena setiap bekas sambungan mengingatkanku pada sesuatu yang penting.
Barang yang rusak mungkin bisa diperbaiki.
Hubungan yang terluka mungkin bisa dibangun kembali.
Tetapi semua itu hanya mungkin jika orang-orang yang terlibat bersedia mengakui kesalahan dan benar-benar berubah.
Aku memandang langit malam Bekasi.
Kemudian tersenyum.
Selama dua puluh dua tahun, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa Ibu Sulastri adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki.
Hampir setahun kemudian, aku menemukan keluarga kandung yang ternyata memiliki segala hal yang dulu hanya bisa kulihat dari jauh.
Namun, setelah mengalami begitu banyak hal, aku akhirnya memahami bahwa rumah bukan ditentukan oleh seberapa mahal bangunannya.
Melainkan oleh siapa yang membuat kita merasa aman ketika kembali.
Dan malam itu, ketika Ibu Sulastri menggenggam tanganku sambil mengajakku masuk karena udara mulai dingin, aku tahu satu hal dengan pasti.
Aku tidak lagi menjadi perempuan yang harus memilih antara dua keluarga.
Aku adalah Nadira.
Putri yang lahir dari satu ibu.
Dibesarkan dengan cinta oleh ibu lainnya.
Dan akhirnya belajar bahwa dirinya berhak dicintai tanpa harus mengorbankan harga dirinya sendiri.
