
Aku baru menyadari bahwa Nadia benar-benar akan meninggalkanku ketika melihat lemari pakaiannya hampir kosong.
Hari itu Jumat malam, tiga hari setelah dia meletakkan surat cerai di bawah cangkir kopiku. Aku pulang lebih awal dengan membawa buket bunga mawar dan makanan dari restoran favoritnya. Kupikir kami bisa makan bersama, berbicara baik-baik, lalu melupakan percakapan mengerikan pada Selasa pagi itu.
Namun, begitu memasuki kamar, aku menemukan dua koper besar di dekat pintu.
Nadia sedang melipat pakaian terakhirnya.
“Kamu benar-benar mau pergi?” tanyaku.
Dia menoleh sebentar.
“Senin, seperti yang sudah kubilang.”
Aku meletakkan bunga di atas meja.
“Nad, sebelas tahun bukan waktu yang sebentar.”
“Aku tahu, Mas.”
“Terus kenapa kamu bisa semudah ini menyerah?”
Tangannya berhenti bergerak.
“Menurutmu aku mudah menyerah?”
Aku tidak menjawab.
Nadia membuka laci dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna biru.
“Dulu aku pernah mencatat semua hal yang ingin kubicarakan denganmu. Tentang kita, tentang Bima, tentang apa yang kurasakan.”
Dia menyerahkan buku itu kepadaku.
Halaman pertama bertanggal hampir tiga tahun lalu.
Aku membacanya perlahan.
Hari ini Arga membatalkan makan malam ulang tahun pernikahan kami. Katanya ada pekerjaan mendadak. Aku sudah memasak makanan kesukaannya. Bima menunggu sampai tertidur.
Halaman berikutnya mencatat kejadian lain.
Arga lupa datang ke pertunjukan sekolah Bima. Aku bilang kepada Bima bahwa Ayah sedang bekerja, padahal aku melihat foto Arga bersama Laras di media sosial temannya.
Dadaku mendadak sesak.
Aku terus membalik halaman.
Ada puluhan catatan tentang ulang tahun yang terlupakan, janji yang dibatalkan, dan malam ketika Nadia harus membawa Bima ke rumah sakit sendirian karena aku sedang menginap bersama Laras di Bandung.
Di halaman terakhir hanya terdapat satu kalimat.
Aku sudah berhenti menunggu seseorang yang selalu punya waktu untuk orang lain, tetapi tidak pernah punya waktu untuk kami.
Aku menutup buku itu.
“Kenapa kamu nggak pernah menunjukkan ini?”
Nadia tersenyum tipis.
“Aku sudah mengatakannya berkali-kali, Mas. Kamu cuma nggak pernah benar-benar mendengarkan.”
Aku ingin membela diri, tetapi ingatanku justru menghadirkan semua alasan yang pernah kugunakan untuk mengabaikannya.
Sibuk.
Lelah.
Besok saja.
Jangan berlebihan.
Untuk pertama kalinya, kata-kata itu terdengar begitu kejam.
Malam itu aku tidur di kamar tamu. Sekitar pukul sebelas, ponselku berdering.
Laras.
“Mas, kamu kenapa? Dari kemarin susah dihubungi.”
“Aku lagi ada masalah.”
“Masalah apa?”
“Nadia minta cerai.”
Laras terdiam beberapa detik.
Kemudian suaranya berubah cerah.
“Berarti akhirnya kita bisa bersama?”
Aku membeku.
“Apa?”
“Selama ini kan kamu bilang hubungan kalian sudah hambar. Kalau Nadia sendiri yang minta cerai, bukannya itu bagus?”
Aku menatap dinding kamar.
Tiga tahun aku menganggap Laras sebagai perempuan yang paling memahamiku. Namun, ketika pernikahanku berada di ambang kehancuran, hal pertama yang dipikirkannya justru kesempatan untuk mengambil tempat Nadia.
“Aku belum mau bercerai, Ras.”
“Kenapa? Kamu masih cinta sama dia?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku ingin menjawab iya. Namun, tiba-tiba aku sadar bahwa aku bahkan tidak mengetahui makanan kesukaan Nadia sekarang, siapa sahabat terdekatnya, atau apa yang membuatnya bahagia belakangan ini.
“Aku harus menyelesaikan masalah keluargaku dulu.”
Laras mendengus.
“Jadi aku harus menunggu lagi?”
Aku menutup telepon tanpa menjawab.
Keesokan paginya, aku mencoba melakukan sesuatu yang selama ini hampir tidak pernah kulakukan.
Aku menyiapkan sarapan untuk Bima.
Namun, nasi goreng buatanku terlalu asin. Telur yang kugoreng gosong, dan susu yang kusiapkan ternyata sudah melewati tanggal kedaluwarsa.
Bima menatap piringnya dengan wajah bingung.
“Ayah, biasanya Ibu bikinnya enak.”
Aku tertawa canggung.
“Besok Ayah coba lagi.”
Bima mengangguk.
Kemudian dia bertanya dengan suara kecil.
“Ayah, Ibu benar-benar mau pindah?”
Aku meletakkan spatula.
“Iya, Nak.”
“Karena Ayah?”
Aku tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Bima menunduk.
“Kemarin Bima bilang mau tinggal sama Ayah karena boleh main gim. Tapi kalau Ibu pergi, siapa yang nemenin Bima belajar?”
Aku berjongkok di hadapannya.
“Ayah bisa belajar nemenin kamu.”
Bima menatapku lama.
“Tapi Ayah bakal pulang, kan?”
Pertanyaan sederhana itu menusuk dadaku.
Aku memeluk putraku.
“Iya, Nak. Ayah akan berusaha.”
Namun, ketika memeluknya, aku sadar bahwa janji tidak lagi cukup. Selama bertahun-tahun, aku sudah terlalu sering berjanji tanpa menepatinya.
Hari Senin akhirnya tiba.
Nadia mengenakan pakaian sederhana dan memasukkan koper ke bagasi mobil. Dia sudah membicarakan rencana tempat tinggal sementara Bima dengan bantuan konselor keluarga. Putra kami akan tinggal bersamaku untuk sementara, sesuai pengaturan yang masih akan kami evaluasi bersama.
Sebelum pergi, Nadia memeluk Bima cukup lama.
“Ibu tetap jemput kamu setiap Rabu dan Jumat, ya.”
Bima mengangguk sambil menangis.
Aku berdiri beberapa langkah dari mereka, merasa lebih tidak berdaya daripada sebelumnya.
Ketika Nadia hendak masuk mobil, aku memberanikan diri bertanya.
“Nad, sebenarnya siapa orang yang kamu sukai itu?”
Dia berhenti.
“Kenapa kamu ingin tahu?”
“Karena aku ingin tahu siapa laki-laki yang membuatmu berani meninggalkan semuanya.”
Nadia menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca.
“Kalau kamu benar-benar ingin tahu, datanglah ke tempat ini besok.”
Dia mengirimkan sebuah alamat ke ponselku.
Sebuah pusat pendampingan perempuan di Jakarta Selatan.
Aku mengerutkan kening.
“Dia bekerja di sana?”
Nadia tidak menjawab.
Dia hanya masuk mobil dan pergi.
Sepanjang malam, aku tidak bisa tidur.
Pikiranku dipenuhi bayangan tentang laki-laki lain. Mungkin seorang pengusaha kaya. Mungkin rekan kerjanya. Mungkin seseorang yang lebih muda dan lebih perhatian daripada aku.
Keesokan sorenya, aku mendatangi alamat tersebut.
Bangunannya sederhana, tetapi bersih. Di ruang tunggu terdapat beberapa perempuan yang sedang berbicara dengan konselor.
Seorang resepsionis mengantarku ke ruang pertemuan.
Di sana Nadia sudah menunggu.
Namun, tidak ada laki-laki lain.
Hanya seorang perempuan paruh baya yang memperkenalkan diri sebagai Bu Sinta, pendamping keluarga.
Aku duduk dengan bingung.
“Mana orangnya, Nad?”
Nadia menarik napas panjang.
“Masih ingat waktu aku bilang bertemu seseorang yang membuatku merasa nyaman?”
Aku mengangguk.
“Orang itu bukan laki-laki lain.”
Aku membeku.
“Lalu siapa?”
Nadia membuka tas dan mengeluarkan sebuah foto lama.
Foto dirinya sebelum kami menikah.
Dia sedang berdiri di depan sebuah panggung kecil sambil memegang penghargaan desain. Wajahnya bersinar penuh kebanggaan.
“Aku bertemu lagi dengan diriku sendiri, Mas.”
Aku menatapnya tanpa mengerti.
Nadia melanjutkan.
“Selama bertahun-tahun, aku sibuk menjadi istrimu, menjadi ibu Bima, mengurus rumah, dan memastikan hidupmu berjalan nyaman. Aku sampai lupa bahwa dulu aku punya mimpi sendiri.”
Air matanya mulai menggenang.
“Enam bulan lalu, aku datang ke sini karena merasa kehilangan arah. Aku nggak tahu kenapa setiap bangun pagi rasanya begitu berat.”
Bu Sinta menjelaskan bahwa Nadia mengikuti sesi pendampingan dan perlahan mulai membangun kembali kemandiriannya.
“Aku mulai menerima proyek desain lagi. Aku bertemu teman-teman lama. Aku belajar menikmati waktu tanpa terus menunggu pesanmu.”
Aku menunduk.
“Kenapa kamu bilang menyukai seseorang?”
“Karena aku ingin melihat reaksimu ketika mendengar bahwa aku juga punya kehidupan di luar dirimu.”
Nadia mengusap air matanya.
“Dan kamu malah merasa lega, Mas. Kamu bahkan menawarkan agar kita masing-masing bebas menemui orang lain, asalkan rumah tangga kita tetap terlihat utuh.”
Aku tidak mampu menyangkalnya.
“Di situlah aku tahu keputusanku sudah benar,” lanjutnya.
Aku memandangi foto lama itu.
Dulu, perempuan dalam foto tersebut adalah seseorang yang sangat kucintai. Dia memiliki ambisi, keberanian, dan tawa yang begitu lepas.
Aku pernah berjanji akan mendukung semua mimpinya.
Namun, setelah menikah, aku perlahan menganggap mimpinya tidak sepenting pekerjaanku.
“Nad, aku masih bisa berubah.”
“Aku berharap begitu, Mas.”
Aku mengangkat wajah dengan penuh harapan.
Namun, kalimat berikutnya menghancurkannya.
“Tapi perubahanmu tidak harus dibayar dengan aku kembali menjadi istrimu.”
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa tersulit dalam hidupku.
Aku mengakhiri hubungan dengan Laras. Dia marah dan menuduhku hanya memanfaatkannya. Aku tidak membantah, karena memang selama ini aku telah bersikap egois kepada dua perempuan sekaligus.
Proses perceraian kami berjalan. Pengaturan pengasuhan Bima akhirnya disepakati dengan mempertimbangkan kebutuhan sekolah, kedekatannya dengan kedua orang tua, dan kemampuanku menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Aku belajar memasak, menghadiri pertemuan sekolah, dan mengingat jadwal pemeriksaan kesehatan anakku.
Tidak semuanya berjalan lancar.
Pernah suatu malam Bima menangis karena merindukan ibunya. Aku hampir menelepon Nadia dan memintanya pulang.
Namun, aku akhirnya duduk menemani putraku sampai dia tertidur.
Aku mulai memahami betapa banyak pekerjaan yang dulu dilakukan Nadia tanpa pernah kuanggap berarti.
Setahun setelah perceraian, aku menghadiri sebuah pameran desain di Jakarta.
Di salah satu sudut ruangan, kulihat nama Nadia Kusumawardani terpampang pada papan penghargaan.
Dia memenangkan penghargaan untuk proyek desain ruang belajar komunitas.
Aku melihatnya berdiri di atas panggung, tersenyum dengan mata berbinar.
Persis seperti perempuan dalam foto lama itu.
Setelah acara selesai, aku menghampirinya.
“Selamat, Nad.”
Dia tersenyum.
“Terima kasih, Mas.”
“Kamu kelihatan bahagia.”
“Aku memang bahagia.”
Aku menelan ludah.
“Maaf karena dulu aku nggak pernah menghargai semua yang kamu lakukan.”
Nadia memandangku dengan lembut.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Aku tersenyum sedih.
“Tapi kamu nggak akan kembali, ya?”
Dia menggeleng pelan.
“Nggak, Mas.”
Anehnya, kali ini aku bisa menerima jawabannya.
Sebelum berpisah, Nadia mengatakan bahwa Bima sangat senang karena aku selalu datang ke pertandingan sepak bolanya.
Aku tertawa kecil.
“Dia sekarang malah suka menyuruhku latihan jadi penjaga gawang.”
Kami tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, percakapan kami terasa ringan tanpa kebohongan.
Dalam perjalanan pulang, aku teringat pagi ketika Nadia meletakkan surat cerai di bawah cangkir kopiku.
Dulu aku mengira dia meninggalkanku karena sudah mencintai seseorang yang lebih baik.
Sekarang aku memahami bahwa orang itu adalah dirinya sendiri, perempuan yang selama bertahun-tahun telah kuabaikan hingga hampir kehilangan jati dirinya.
Aku pernah memiliki istri yang selalu bertanya kapan aku pulang.
Aku menganggap pertanyaannya sebagai gangguan.
Lalu suatu hari dia berhenti bertanya.
Dan ketika akhirnya aku belajar pulang tepat waktu, dia sudah menemukan rumah yang sesungguhnya di dalam dirinya sendiri.
Aku kehilangan Nadia bukan pada hari dia pergi membawa koper.
Aku kehilangannya sedikit demi sedikit, setiap kali aku memilih tidak mendengarkan.
Dan penyesalan terbesarku bukan karena dia tidak mau kembali.
Melainkan karena aku baru belajar menjadi lelaki yang bertanggung jawab setelah perempuan yang paling lama mempercayaiku tidak lagi ingin menjadi istriku.
