HAMIL DELAPAN BULAN, AKU DIUSIR SUAMI DAN MERTUA KARENA DIANGGAP

“SIAPA YANG MEMBERI IZIN MENGGUNAKAN NAMAKU UNTUK MENJAMIN UTANG PERUSAHAANMU, ADRIAN?”

Suaraku menggema di ruang rapat lantai dua puluh tujuh gedung Danudirja Group, Jakarta.

Di hadapanku, Adrian Mahendra duduk dengan wajah pucat. Di sebelahnya, Clarissa Soebroto menggenggam tas mahalnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Aku meletakkan sebuah dokumen di atas meja.

Namaku tercetak jelas di halaman pertama.

Maya Danudirja.

Di bawahnya terdapat keterangan bahwa aku telah memberikan persetujuan sebagai penjamin pribadi atas sebagian kewajiban Mahendra Konstruksi dalam proyek properti senilai Rp320 miliar.

Padahal aku tidak pernah mengetahui perjanjian itu.

Apalagi menandatanganinya.

“Mas, jawab aku.”

Adrian mengusap wajah.

“Maya, kamu harus memahami situasinya.”

Aku tertawa pahit.

“Situasi apa? Kamu mengusirku ketika hamil delapan bulan, lalu sekarang namaku muncul sebagai penjamin utang perusahaanmu?”

Clarissa langsung menoleh kepada Adrian.

“Kamu bilang seluruh dokumen proyek sudah beres!”

Adrian menggeram.

“Clarissa, jangan ikut campur dulu!”

Aku mengangkat tangan.

“Tidak perlu bertengkar. Kita semua akan mendengarkan hasil pemeriksaan.”

Di sampingku, Pak Damar, penasihat hukum keluarga, membuka berkas tambahan.

“Berdasarkan pemeriksaan awal, kami menemukan tanda tangan yang diklaim sebagai milik Ibu Maya. Namun terdapat ketidaksesuaian dengan dokumen pembanding. Keasliannya perlu diperiksa lebih lanjut.”

Aku menatap Adrian.

“Dari mana kamu mendapatkan tanda tanganku?”

Dia tidak menjawab.

Pak Damar melanjutkan.

“Kami juga menemukan alamat surat elektronik yang digunakan untuk mengirimkan persetujuan tersebut. Alamat itu bukan akun resmi Ibu Maya.”

Clarissa mulai terlihat panik.

“Jadi ada kemungkinan dokumen ini palsu?”

“Benar. Karena itu, kami sudah menyarankan agar proses investasi ditangguhkan sampai pemeriksaan selesai.”

Adrian tiba-tiba berdiri.

“Kalian sengaja ingin menghancurkan perusahaanku!”

Aku menatapnya tanpa gentar.

“Tidak, Mas. Kamu sendiri yang harus menjelaskan mengapa dokumen perusahaanmu tidak sesuai dengan kenyataan.”

Dia membeku.

Namun kejutan berikutnya datang ketika Pak Damar menunjukkan salinan riwayat pengiriman dokumen.

Alamat surat elektronik tersebut ternyata terdaftar menggunakan nomor telepon kantor pribadi Adrian.

Clarissa langsung melepaskan tasnya.

“Adrian, kamu yang mengirimnya?”

Suamiku terdiam.

Lalu perlahan duduk kembali.

“Aku cuma ingin mempercepat proses pendanaan.”

Aku merasa dadaku sesak.

“Dengan menggunakan identitasku tanpa izin?”

Adrian menunduk.

“Aku pikir tidak akan menjadi masalah karena kamu memang bagian dari keluarga Danudirja.”

Aku hampir tidak percaya mendengar jawabannya.

“Jadi selama ini kamu menganggap nama keluargaku bisa kamu manfaatkan tanpa persetujuanku?”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Ketika kamu mengira aku miskin, kamu menganggapku benalu. Tetapi diam-diam kamu menggunakan namaku untuk meyakinkan investor bahwa perusahaanmu punya dukungan finansial besar.”

Adrian menutup wajahnya.

Untuk pertama kalinya, dia tidak memiliki alasan yang bisa menyelamatkannya.

Namun persoalan itu ternyata lebih rumit daripada sekadar tanda tangan yang diduga dipalsukan.

Pak Damar membuka laporan berikutnya.

“Selain dokumen penjaminan, kami menemukan pembayaran senilai Rp18 miliar yang dicatat sebagai biaya konsultasi teknis dan pengadaan komponen khusus.”

Aku mengerutkan kening.

“Komponen apa?”

“Dalam dokumen pendukung, sebagian transaksi dikaitkan dengan sebuah perusahaan restorasi dan perdagangan barang koleksi.”

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Nama perusahaannya?”

Pak Damar menunjukkan layar.

Dan saat itulah aku membeku.

Atelier Maheswari.

Nama studio restorasi jam antik yang pernah kurencanakan untuk kubuka sebelum menikah.

Studio itu memang sudah memiliki badan usaha dan rekening bisnis sendiri, tetapi selama tiga tahun terakhir aku hanya menggunakannya untuk menerima proyek khusus.

Aku tidak pernah menerima kontrak dari Mahendra Konstruksi.

“Ini tidak mungkin.”

Aku menatap Pak Damar.

“Studio saya tidak pernah bekerja sama dengan perusahaan Adrian.”

Dia mengangguk.

“Itulah yang membuat transaksi ini mencurigakan.”

Aku meraih dokumen tersebut.

Di sana terdapat tiga faktur dengan logo studionya.

Namun nomor rekening tujuan pembayaran bukan rekening usahaku.

Aku menatap Adrian.

“Kamu menggunakan nama bisnis restorasi jam milikku?”

Adrian menggeleng cepat.

“Bukan aku!”

Clarissa langsung menyela.

“Kalau bukan kamu, siapa yang mengurus keuangan perusahaanmu?”

Adrian terdiam.

Beberapa detik kemudian, dia menyebut sebuah nama.

“Bima.”

Aku mengerutkan kening.

“Bima siapa?”

“Bima Prakoso. Direktur keuanganku.”

Aku pernah bertemu pria itu beberapa kali.

Dia selalu terlihat sopan dan profesional.

Namun sekarang, namanya muncul sebagai pihak yang menyiapkan transaksi bernilai miliaran rupiah.

Pak Damar segera meminta pemeriksaan tambahan.

Sementara itu, aku memutuskan meninggalkan ruang rapat.

Usia kehamilanku sudah memasuki minggu-minggu terakhir. Dokter telah mengingatkan agar aku tidak membiarkan tekanan emosional mengganggu kesehatanku.

Ayah menungguku di ruang kerja pribadinya.

Begitu melihatku, beliau langsung berdiri.

“Maya, bagaimana?”

Aku menggeleng.

“Lebih buruk daripada yang kita kira, Yah.”

Ayah mempersilahkanku duduk.

Aku menjelaskan semuanya.

Tentang tanda tangan yang diduga dipalsukan.

Tentang rekening perusahaan yang menggunakan nama studio restorasi milikku.

Dan tentang Adrian yang ternyata mengetahui penggunaan identitasku dalam pengajuan pembiayaan.

Ayah mendengarkan tanpa memotong.

Ketika aku selesai, beliau menarik napas panjang.

“Nak, Ayah ingin kamu mengingat sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Menjadi keluarga tidak berarti seseorang boleh menggunakan nama dan hartamu tanpa izin.”

Air mataku langsung jatuh.

“Aku tahu, Yah.”

Ayah menggenggam tanganku.

“Sekarang fokus pada kesehatanmu dan bayi. Urusan dokumen biarkan ditangani tim yang berwenang.”

Aku mengangguk.

Namun tiga hari kemudian, sebuah telepon membuatku kembali terkejut.

Pak Damar mengatakan bahwa Bima Prakoso bersedia memberikan keterangan.

Kami mengatur pertemuan resmi di kantor pengacara.

Bima datang dengan wajah lelah.

Dia meletakkan sebuah flashdisk dan beberapa salinan dokumen di atas meja.

“Saya tahu ada transaksi yang tidak benar,” katanya pelan.

Aku menatapnya.

“Kenapa baru sekarang bicara?”

Bima menunduk.

“Karena awalnya saya mengira semuanya hanya pengaturan sementara untuk memenuhi persyaratan investor.”

Pak Damar bertanya.

“Siapa yang memberikan instruksi?”

Bima menghela napas panjang.

“Pak Adrian.”

Aku memejamkan mata.

Bima melanjutkan.

“Namun bukan beliau satu-satunya yang mengetahui transaksi tersebut.”

Jantungku berdebar.

“Siapa lagi?”

Bima mengangkat wajah.

“Clarissa.”

Aku membeku.

“Clarissa Soebroto?”

Dia mengangguk.

“Tiga faktur atas nama Atelier Maheswari disiapkan setelah pertemuan antara Pak Adrian, Bu Clarissa, dan tim keuangan.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Untuk apa?”

Bima menunjukkan sebuah percakapan kerja.

Di dalamnya terdapat instruksi untuk mencatat pembayaran konsultasi melalui rekening pihak ketiga yang kemudian diketahui memiliki hubungan dengan perusahaan milik salah satu rekan Clarissa.

Aku menelan ludah.

Jadi perempuan yang selama ini dianggap Adrian sebagai jalan menuju kesuksesan justru turut terlibat dalam transaksi yang sedang diperiksa.

Namun ada sesuatu yang lebih mengejutkan.

Bima menunjukkan pesan dari Clarissa kepada Adrian.

“Pastikan Maya tidak mengetahui dokumen ini sebelum urusan perpisahan kalian selesai.”

Tanganku gemetar.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Jadi mereka sudah merencanakan semuanya ketika aku masih tinggal bersama Adrian.

Mereka tidak hanya ingin mengakhiri rumah tanggaku.

Mereka juga ingin memastikan aku tidak mengetahui bahwa namaku digunakan untuk mendukung rencana pendanaan mereka.

Aku merasa mual.

Pak Damar segera menghentikan pertemuan dan memintaku beristirahat.

Malam itu, ketika sedang duduk di kamar rumah Ayah, aku menerima pesan dari Adrian.

“Maya, aku ingin memperbaiki semuanya. Kita masih bisa menjadi keluarga.”

Aku menatap layar cukup lama.

Kemudian membalas.

“Mas, keluarga bukan tempat seseorang menyembunyikan kebohongan dan memanfaatkan kepercayaan. Kalau kamu ingin memperbaiki kesalahanmu, mulailah dengan mengatakan kebenaran kepada pihak yang memeriksa.”

Setelah itu, aku mematikan ponsel.

Dua minggu kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan melalui proses persalinan yang ditangani tim medis di Jakarta.

Ketika mendengar tangis pertamanya, seluruh rasa sakit yang selama ini kutahan seolah berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Harapan.

Aku menatap wajah mungilnya.

Pipinya kemerahan.

Tangannya menggenggam jariku.

Aku menangis sambil tersenyum.

“Selamat datang, Sayang.”

Ayah berdiri di samping tempat tidur dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu mau memberi nama siapa, Nak?”

Aku mengusap kepala bayiku.

“Arunika.”

Ayah tersenyum.

“Artinya cahaya pagi?”

Aku mengangguk.

“Karena dia datang ketika aku akhirnya berani memulai hidup baru.”

Beberapa hari kemudian, Adrian menghubungi pengacaraku untuk meminta kesempatan mengetahui keadaan anaknya.

Aku tidak melarangnya memenuhi tanggung jawab sebagai ayah.

Namun aku meminta agar semua pengaturan dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan, kebutuhan, dan kesejahteraan Arunika.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap transaksi Mahendra Konstruksi terus berjalan.

Sejumlah dokumen yang menggunakan identitasku diserahkan untuk pemeriksaan keaslian.

Pihak perusahaan juga harus menjelaskan pembayaran yang tidak sesuai dengan dasar transaksi.

Proses tersebut membuat rencana pendanaan besar Adrian tertunda.

Hubungannya dengan Clarissa memburuk setelah keterlibatan masing-masing mulai dipersoalkan.

Namun aku tidak mengikuti setiap kabar mengenai mereka.

Aku memiliki hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan.

Putriku.

Tiga bulan setelah Arunika lahir, aku akhirnya membuka kembali studio restorasi yang pernah kutinggalkan.

Aku menyewa sebuah bangunan kecil di kawasan Menteng.

Di dalamnya terdapat meja kerja panjang, lampu pembesar, peralatan presisi, dan lemari kaca untuk menyimpan jam-jam antik.

Aku juga menerima dua peserta magang yang ingin mempelajari teknik restorasi mekanik.

Pada hari pertama studio dibuka, Ayah datang membawa sebuah kotak kayu.

“Ini untukmu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat sebuah jam saku tua milik almarhum kakekku.

Jarumnya berhenti pada pukul enam lewat dua belas menit.

Aku menatap Ayah.

“Jam ini sudah lama rusak, kan?”

Ayah mengangguk.

“Sejak sebelum kamu menikah.”

Aku tersenyum.

“Kenapa Ayah baru memberikannya sekarang?”

Beliau menatapku hangat.

“Karena dulu Ayah takut kamu terlalu sibuk memperbaiki kehidupan orang lain sampai lupa pada impianmu sendiri.”

Air mataku langsung menggenang.

Aku memeluknya.

Beberapa minggu kemudian, jam saku itu berhasil kuperbaiki.

Setiap roda gigi kubersihkan.

Pegas yang rusak kuganti.

Dan ketika jarumnya kembali bergerak, aku merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan.

Sore itu, aku duduk di ruang kerja sambil memandangi jam tersebut.

Di sampingku, Arunika tertidur dalam kereta bayinya.

Aku tersenyum.

Dulu, Adrian selalu mengatakan bahwa pekerjaanku hanya membuang waktu.

Dia tidak pernah memahami mengapa aku begitu mencintai benda-benda tua yang sudah rusak.

Namun sekarang aku mengerti.

Aku menyukai restorasi bukan karena ingin mengembalikan masa lalu.

Melainkan karena aku percaya bahwa sesuatu yang pernah berhenti masih bisa memiliki kesempatan untuk berjalan kembali.

Tetapi ada satu perbedaan penting antara jam rusak dan hubungan manusia.

Jam dapat diperbaiki dengan komponen yang tepat.

Sedangkan kepercayaan tidak bisa dipulihkan hanya dengan permintaan maaf.

Beberapa bulan kemudian, proses perceraian dan penyelesaian hak-hak terkait berlangsung melalui jalur hukum yang berlaku. Dokumen bisnis yang bermasalah tetap ditangani secara terpisah.

Aku tidak pernah meminta Ayah menggunakan pengaruhnya untuk menjatuhkan Adrian.

Aku hanya ingin namaku dibersihkan dari transaksi yang tidak pernah kusetujui dan memastikan hak anakku terlindungi.

Suatu sore, ketika sedang menutup studio, Pak Hadi datang menghampiriku.

“Non Maya, ada seseorang menitipkan surat.”

Aku menerima amplop tersebut.

Pengirimnya Adrian.

Di dalamnya terdapat sebuah foto jam tangan antik yang dahulu kuberikan kepadanya.

Di belakang foto, dia menulis.

“Maya, jam ini masih berdetak. Tapi sekarang aku sadar, akulah yang merusak sesuatu yang jauh lebih berharga daripada jam mana pun.”

Aku menatap tulisan itu lama.

Kemudian memasukkannya kembali ke amplop.

Aku tidak membalas.

Bukan karena aku membencinya.

Melainkan karena aku telah memahami bahwa tidak semua hal yang rusak harus kembali menjadi bagian dari hidup kita.

Aku berjalan menuju kereta bayi Arunika.

Putriku membuka mata dan tersenyum kecil.

Aku mengangkatnya dengan hati-hati.

Di luar jendela, cahaya matahari sore menyinari jalanan Menteng.

Aku memeluk Arunika erat.

“Sayang, Ibu pernah berpikir bahwa kehilangan seseorang berarti kehilangan seluruh masa depan.”

Aku mengecup keningnya.

“Tapi ternyata, kadang kita harus berani melepaskan sesuatu yang menyakitkan agar bisa menemukan kehidupan yang lebih baik.”

Arunika menggenggam jariku.

Aku tersenyum.

Di atas meja kerja, jam saku tua milik kakek terus berdetak.

Detik demi detik.

Seolah mengingatkanku bahwa waktu tidak pernah berhenti hanya karena seseorang memilih meninggalkan kita.

Dan kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah ketika orang yang pernah merendahkan kita akhirnya menyesal.

Melainkan ketika kita tidak lagi membutuhkan penyesalan mereka untuk merasa berharga.

Karena hari itu, aku akhirnya memiliki sesuatu yang selama ini hampir hilang.

Bukan kekayaan.

Bukan kedudukan.

Bukan pula pengakuan dari keluarga Mahendra.

Melainkan kebebasan untuk menjadi diriku sendiri.

Seorang ibu.

Seorang perempuan yang bekerja dengan keahliannya.

Dan seseorang yang tidak lagi takut memulai kehidupan dari awal.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang