
“Selamat siang, dengan bagian kredit korporasi. Ada yang bisa kami bantu?”
Aku berusaha mengatur napas.
“Nama saya Maya Triana. Saya baru menerima email mengenai pengajuan tambahan agunan kredit PT Alcantara Pratama Mandiri. Saya ingin memastikan apakah apartemen atas nama saya benar-benar dicantumkan dalam pengajuan tersebut.”
Petugas bernama Diah memintaku melakukan verifikasi identitas.
Setelah beberapa menit, suaranya terdengar lebih serius.
“Benar, Bu Maya. Apartemen Ibu tercantum sebagai usulan agunan tambahan. Namun, kami belum menerima persetujuan resmi dari pemilik aset.”
Aku memejamkan mata.
“Apakah pihak perusahaan mengatakan saya sudah menyetujuinya?”
Diah terdiam sebentar.
“Dalam dokumen awal disebutkan bahwa Ibu merupakan calon istri salah satu pengurus perusahaan dan akan menandatangani persetujuan setelah menikah.”
Tanganku langsung mengepal.
“Saya tidak pernah menyetujui itu. Bahkan pernikahan kami belum berlangsung.”
“Baik, Bu. Kami akan mencatat keberatan Ibu dan menghentikan proses penilaian aset tersebut sampai persoalannya jelas.”
Aku segera meminta konfirmasi tertulis.
Setelah telepon ditutup, aku langsung menghubungi Bella.
“Bel, mereka benar-benar mau memakai apartemenku untuk menjamin utang perusahaan.”
Bella menarik napas panjang.
“May, kamu harus datang ke kantorku sekarang. Ada sesuatu yang perlu kita periksa sebelum mereka melakukan langkah lain.”
Satu jam kemudian, aku sudah duduk di hadapannya.
Bella membaca seluruh dokumen dengan teliti. Dia kemudian membuka laporan keuangan PT Alcantara Pratama Mandiri yang sebelumnya pernah diberikan Rendy kepadaku ketika aku membantunya mengatur arus kas.
Wajah Bella berubah.
“May, kamu tahu perusahaan Rendy punya tunggakan sebesar Rp2,8 miliar?”
Aku membeku.
“Apa?”
“Ini laporan kewajiban yang jatuh tempo. Ada pinjaman usaha, tagihan pemasok, dan beberapa pembayaran yang sudah terlambat.”
Aku menatap angka-angka tersebut.
Selama ini, Rendy selalu mengatakan bisnis keluarganya sedang berkembang.
Dia bahkan pernah membicarakan rencana membuka cabang baru setelah kami menikah.
“Kenapa dia nggak pernah cerita?”
Bella menggeleng.
“Yang lebih penting, kenapa mereka membeli rumah baru ketika perusahaan sedang menghadapi masalah sebesar ini?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Rumah di Sentul seharga ratusan juta.
Utang perusahaan hampir tiga miliar.
Dan apartemenku yang hendak dijadikan jaminan.
Tiba-tiba semuanya terasa saling berhubungan.
Aku teringat bagaimana Bu Rosmawati berkali-kali mendesakku mempercepat pernikahan.
Beliau pernah mengatakan bahwa menunda akad hanya akan mendatangkan masalah.
Sekarang aku mulai curiga bahwa yang mereka takutkan bukan keterlambatan pernikahan.
Melainkan keterlambatan mendapatkan akses terhadap asetku.
“Bel, aku mau membatalkan pernikahan.”
Bella menatapku.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Aku nggak mau menikah dengan orang yang memperlakukanku seperti jalan keluar dari masalah keuangannya.”
Bella kemudian membantuku menyiapkan pemberitahuan tertulis mengenai pembatalan rencana pernikahan, keberatan atas penggunaan dokumen pribadiku, serta permintaan pengembalian dana yang dipindahkan tanpa persetujuanku.
Kami juga menghubungi bank pengelola rekening bersama untuk meminta penelusuran transaksi dan pembatasan akses sesuai prosedur.
Namun, sebelum semuanya selesai, Rendy datang ke kantorku.
Dia muncul sekitar pukul lima sore dengan wajah merah dan langkah tergesa-gesa.
“Maya!”
Aku yang sedang berbicara dengan resepsionis langsung menoleh.
“Mas, ada apa?”
Rendy mendekat.
“Kamu menghubungi bank soal apartemen?”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Iya.”
“Kenapa kamu melakukan itu tanpa bicara denganku?”
Aku hampir tertawa.
“Mas serius bertanya begitu?”
Dia terdiam.
“Kamu memasukkan apartemenku sebagai jaminan utang tanpa izinku, lalu marah karena aku menghubungi bank?”
Rendy mengusap wajah.
“May, itu cuma rencana.”
“Rencana yang menggunakan sertifikat apartemenku?”
“Aku belum menandatangani apa-apa atas namamu!”
Aku menarik napas panjang.
“Kalau begitu, kenapa dokumen pribadiku sudah ada dalam pengajuan kredit?”
Rendy mengalihkan pandangan.
Aku menunggu.
Akhirnya dia menjawab pelan.
“Mama yang menyarankan.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Mama kamu?”
“Perusahaan sedang kesulitan. Kalau restrukturisasi gagal, beberapa aset keluarga bisa disita.”
Aku membeku.
“Jadi kalian berharap apartemenku menyelamatkan perusahaan?”
Rendy tidak menjawab.
Aku melanjutkan.
“Dan uang Rp420 juta itu?”
Dia menunduk.
“Rumah di Sentul memang untuk Mama dan Nadia.”
Aku merasakan sesuatu dalam dadaku runtuh.
Selama tiga tahun, aku membayangkan pernikahan kami akan menjadi awal sebuah keluarga kecil yang dibangun dengan kejujuran.
Namun, lelaki di hadapanku justru mengakui bahwa tabungan pernikahan kami digunakan untuk membeli rumah bagi keluarganya tanpa pernah meminta persetujuanku.
“Kenapa nggak bilang dari awal, Ren?”
Dia menarik napas.
“Aku takut kamu menolak.”
Aku mengangguk perlahan.
“Jadi kamu tahu aku mungkin nggak setuju, tapi tetap melakukannya?”
Rendy terdiam.
Aku menatapnya lama.
“Hubungan kita selesai.”
Wajahnya langsung berubah.
“Maya, jangan bercanda.”
“Aku serius.”
Dia mencoba menggenggam tanganku.
“Sayang, kita sudah menyiapkan semuanya. Undangan sudah disebar. Gedung sudah dibayar.”
Aku menarik tanganku.
“Uang dan pesta bisa dibicarakan. Tapi aku nggak bisa menikah dengan orang yang sudah merencanakan penggunaan hartaku tanpa persetujuanku.”
Rendy mulai meninggikan suara.
“Kamu mau mempermalukan keluargaku?”
Aku menatapnya tenang.
“Ren, kamu lebih takut keluargamu malu daripada kehilangan kepercayaanku.”
Dia membeku.
Aku melanjutkan.
“Dan itu cukup menjelaskan siapa yang selalu kamu utamakan.”
Malam itu, aku kembali ke rumah orang tuaku.
Ayah sedang duduk di ruang tamu ketika aku masuk.
Beliau langsung berdiri.
“May, bagaimana?”
Aku mencoba tersenyum.
“Yah, Maya batal menikah.”
Ayah terdiam.
Kemudian menghampiriku dan memelukku.
“Nggak apa-apa, Nak.”
Air mataku langsung jatuh.
“Tapi semua undangan sudah disebar, Yah.”
Ayah mengusap rambutku.
“Undangan bisa dibatalkan. Masa depanmu nggak boleh dipertaruhkan cuma karena kita takut omongan orang.”
Aku menangis dalam pelukannya.
Keesokan harinya, Bella menerima panggilan dari bagian legal perusahaan pengembang rumah di Sentul.
Mereka mengonfirmasi bahwa proses pemesanan masih ditahan karena terdapat sengketa mengenai sumber dana pembayaran.
Namun, informasi berikutnya membuatku benar-benar terkejut.
Ternyata Rendy telah meminta agar rumah tersebut didaftarkan atas nama Nadia, adiknya, setelah proses pembayaran selesai.
Aku menatap Bella.
“Jadi bukan cuma namaku nggak dicantumkan sebagai penghuni?”
Bella mengangguk.
“Benar. Rendy bahkan berencana menempatkan hak kepemilikan rumah atas nama Nadia.”
Aku menutup mata.
Rumah itu dibeli menggunakan dana pernikahan kami.
Sebagian besar uangnya berasal dari tabunganku.
Namun, jika rencana tersebut berjalan, seluruh manfaat kepemilikannya justru akan diberikan kepada adik Rendy.
Aku semakin yakin bahwa keputusan membatalkan pernikahan adalah langkah yang tepat.
Beberapa hari berikutnya berlangsung melelahkan.
Bu Rosmawati berkali-kali menelepon orang tuaku.
Beliau mengatakan aku terlalu perhitungan.
Beliau juga menuduhku sengaja menghancurkan masa depan Rendy.
Namun, Ayah selalu menjawab dengan tenang.
“Bu, anak saya tidak pernah menolak membantu keluarga. Tapi bantuan tidak boleh diambil tanpa persetujuan.”
Suatu sore, Nadia sendiri datang ke rumah kami.
Dia membawa tas kecil dan wajahnya terlihat pucat.
“Mbak Maya, aku mau bicara.”
Aku mempersilakannya duduk.
Nadia tampak gugup.
“Aku tahu Mbak marah.”
Aku tidak menjawab.
“Tapi ada sesuatu yang harus Mbak tahu.”
Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dari tas.
“Rumah di Sentul itu sebenarnya bukan ide Mas Rendy.”
Aku mengernyit.
“Maksudmu?”
Nadia menarik napas panjang.
“Mama yang mengatur semuanya.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Nadia menunduk.
“Karena Mama sudah membuat kesepakatan dengan seseorang.”
Jantungku langsung berdegup kencang.
“Kesepakatan apa?”
Nadia menyerahkan salinan perjanjian pinjaman pribadi.
Di sana tercantum nama Bu Rosmawati sebagai peminjam.
Jumlahnya Rp600 juta.
Pemberi pinjaman adalah seorang pengusaha bernama Haryanto.
Aku membaca dokumen tersebut dengan bingung.
Nadia menjelaskan bahwa ibunya meminjam uang untuk menutup sejumlah kewajiban lama perusahaan.
Namun, setelah pinjaman jatuh tempo, Haryanto meminta jaminan tambahan.
“Rumah Sentul itu rencananya akan dipakai untuk mendapatkan pembiayaan baru, Mbak.”
Aku membeku.
“Jadi rumah itu bukan benar-benar disiapkan untuk tempat tinggal kalian?”
Nadia menggeleng.
“Mama bilang kalau rumah sudah tercatat atas namaku, kami bisa mencoba mengajukan pinjaman dengan jaminan rumah tersebut.”
Aku menatap dokumen itu lama sekali.
Kini semuanya semakin jelas.
Uang pernikahanku digunakan untuk membeli aset baru.
Aset itu hendak dipakai mencari pembiayaan tambahan.
Sementara apartemenku disiapkan sebagai jaminan lain untuk restrukturisasi utang perusahaan.
Aku memandang Nadia.
“Kamu tahu sejak awal?”
Air matanya langsung jatuh.
“Aku tahu soal rumah. Tapi aku baru tahu uangnya berasal dari rekening bersama kalian setelah Mbak menghubungi pengembang.”
Aku menghela napas panjang.
“Kenapa sekarang kamu datang?”
Nadia menunduk.
“Karena Mama menyuruhku menandatangani dokumen pinjaman. Aku takut kalau semuanya gagal, utangnya justru menjadi tanggung jawabku.”
Aku menatap perempuan itu.
Selama ini, aku menganggap Nadia ikut menikmati semua rencana keluarganya.
Namun, sekarang aku melihat bahwa dia juga mulai memahami risiko yang sedang dihadapinya.
Aku menyarankannya meminta nasihat hukum secara independen sebelum menandatangani dokumen apa pun.
Seminggu kemudian, melalui komunikasi resmi antara para penasihat hukum dan pihak pengembang, disepakati bahwa pemesanan rumah di Sentul akan dibatalkan.
Pengembang melakukan perhitungan biaya pembatalan sesuai ketentuan kontrak, sementara penyelesaian dana yang tersisa dilakukan melalui prosedur yang disetujui pihak terkait.
Rendy akhirnya mengakui secara tertulis bahwa dana tersebut dipindahkan dari rekening bersama tanpa persetujuanku.
Dia juga menyetujui pengembalian bagian uang milikku.
Namun, Bu Rosmawati tidak menerima keputusan itu dengan mudah.
Beliau datang ke kantor Bella sambil membawa Rendy.
Begitu melihatku, beliau langsung berkata,
“Maya, kamu puas sekarang? Keluarga kami hampir bangkrut gara-gara kamu!”
Aku menatapnya tenang.
“Bu, masalah keuangan perusahaan sudah ada sebelum saya membatalkan pernikahan.”
Beliau terdiam.
Aku melanjutkan.
“Saya tidak menciptakan utang keluarga Ibu. Saya hanya menolak menggunakan harta pribadi saya untuk menanggungnya tanpa persetujuan.”
Bu Rosmawati menunjukku.
“Kamu nggak tahu arti keluarga!”
Aku menarik napas panjang.
“Justru karena saya menghormati keluarga, saya selalu berusaha membantu ketika Ibu membutuhkan.”
Aku menatapnya.
“Tapi keluarga tidak berarti seseorang boleh mengambil uang orang lain lalu menuntut orang itu diam.”
Rendy segera meminta ibunya berhenti berbicara.
Untuk pertama kalinya, dia tidak membiarkannya terus menyalahkanku.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Beberapa bulan kemudian, sebagian besar dana milikku berhasil dikembalikan setelah penyelesaian transaksi rumah dan pembayaran tambahan dari Rendy sesuai kesepakatan.
Pengajuan agunan atas apartemenku juga dihentikan. Bank mengonfirmasi bahwa tidak ada pengikatan jaminan atas aset tersebut.
Aku mulai menata kembali kehidupanku.
Aku tetap bekerja.
Tetap tinggal di apartemen Serpong yang kubeli dengan hasil jerih payahku sendiri.
Dan perlahan belajar menerima bahwa tidak semua hubungan yang berlangsung lama harus berakhir dengan pernikahan.
Suatu sore, ketika sedang membersihkan lemari, aku menemukan sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat cincin pertunangan dari Rendy.
Aku menatapnya cukup lama.
Dulu, cincin itu membuatku merasa begitu bahagia.
Aku pernah membayangkan berjalan menuju pelaminan dengan gaun putih, lalu mengucapkan janji untuk menghabiskan hidup bersama lelaki yang kucintai.
Namun, sekarang aku mengerti bahwa pernikahan bukan sekadar tentang dua orang yang saling menyukai.
Pernikahan juga membutuhkan kejujuran dalam urusan uang, tanggung jawab, dan batasan terhadap keluarga besar.
Aku menutup kotak itu.
Kemudian menyimpannya bersama barang-barang yang akan dikembalikan kepada Rendy melalui perantara.
Beberapa minggu kemudian, Rendy mengirim pesan.
“May, aku dengar kamu sudah kembali tinggal di apartemen.”
Aku membalas singkat.
“Iya.”
“Aku senang kamu baik-baik saja.”
Aku tidak langsung menjawab.
Kemudian pesan berikutnya muncul.
“Aku benar-benar menyesal. Aku seharusnya jujur dari awal.”
Aku membaca kalimat tersebut tanpa air mata.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa perlu menanyakan mengapa dia melakukan semua itu.
Aku sudah mengetahui jawabannya.
Dia terlalu ingin menyenangkan keluarganya sampai rela mengorbankan kepercayaan perempuan yang hendak dinikahinya.
Aku mengetik balasan.
“Aku berharap kamu belajar bahwa membantu keluarga tidak berarti boleh mengorbankan hak orang lain.”
Rendy membalas beberapa menit kemudian.
“Aku tahu.”
Aku menatap layar.
Kemudian menulis satu kalimat terakhir.
“Semoga suatu hari kamu mampu membangun hubungan tanpa harus menyembunyikan keadaan sebenarnya.”
Setelah itu, aku mengakhiri percakapan.
Setahun kemudian, aku mengajak Ayah dan Ibu makan malam di sebuah restoran sederhana di Jakarta Timur.
Kami duduk di meja dekat jendela.
Ayah memesan sop iga.
Ibu memilih ikan bakar.
Sementara aku memesan makanan favoritku sejak kecil.
Di tengah makan, Ibu tiba-tiba menggenggam tanganku.
“May, kamu pernah menyesal membatalkan pernikahan itu?”
Aku terdiam sebentar.
Kemudian menggeleng.
“Nggak, Bu.”
“Padahal kamu sudah menyiapkan semuanya.”
Aku tersenyum.
“Justru karena aku sudah menyiapkan banyak hal, aku bersyukur mengetahui kebenarannya sebelum terlambat.”
Ayah mengangguk pelan.
Aku melanjutkan.
“Kalau aku menikah hanya karena takut kehilangan uang pesta atau takut orang-orang membicarakanku, mungkin sekarang aku sudah kehilangan jauh lebih banyak.”
Ibu tersenyum.
“Yang penting kamu bahagia.”
Aku menggenggam tangannya kembali.
“Iya, Bu. Sekarang aku jauh lebih tenang.”
Malam itu, ketika pulang ke apartemen, aku berdiri di depan jendela ruang tamu.
Lampu-lampu kota Tangerang Selatan terlihat berkilauan.
Aku memandang ruangan yang selama ini kubangun dengan kerja kerasku sendiri.
Dulu, aku pernah mengira apartemen itu hanya sebuah aset.
Tempat tinggal yang bisa kujual suatu hari jika membutuhkan rumah lebih besar.
Namun, setelah semua yang terjadi, aku memahami bahwa apartemen tersebut melambangkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Kemandirian.
Keamanan.
Dan hak untuk menentukan masa depanku sendiri.
Uang Rp420 juta pernah hampir menghancurkan seluruh rencana pernikahanku.
Namun, kehilangan kepercayaan kepada Rendy justru menyelamatkanku dari keputusan yang mungkin akan kusesali seumur hidup.
Aku pernah mengira cinta berarti bersedia berbagi segalanya.
Sekarang aku memahami bahwa berbagi hanya memiliki makna ketika dilakukan dengan kesadaran dan persetujuan.
Tidak seorang pun berhak menggunakan kata keluarga sebagai alasan untuk mengambil sesuatu yang bukan miliknya.
Aku menutup tirai jendela.
Kemudian berjalan menuju kamar.
Di meja kecil dekat tempat tidur, terdapat sebuah foto Ayah dan Ibu yang tersenyum ketika kami makan malam bersama.
Aku mengambilnya dan tersenyum.
Dulu, aku hampir menyerahkan seluruh masa depanku kepada seseorang yang tidak mampu menjaga kepercayaanku.
Namun, hari ini aku sudah mendapatkan kembali kendali atas hidupku.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa benar-benar siap melangkah menuju masa depan.
Bukan sebagai calon istri seseorang.
Bukan sebagai penyelamat keuangan keluarga orang lain.
Melainkan sebagai Maya Triana, perempuan yang akhirnya memahami bahwa cinta sejati tidak pernah membutuhkan pengorbanan harga diri sebagai syaratnya.
