
“Dimas sudah membatalkan pernikahannya dengan perempuan lain demi menungguku?”
Aku mengulang kalimat itu dengan suara nyaris berbisik.
Tidak seorang pun menjawab.
Gilang menatap lantai, sementara Livia melipat kedua tangannya di depan dada. Dimas berdiri mematung dengan ponsel yang masih digenggamnya.
“Siapa perempuan itu?” tanyaku.
Dimas menarik napas panjang.
“Livia.”
Aku langsung menoleh.
Perempuan itu tidak terlihat terkejut. Sebaliknya, dia tersenyum pahit.
“Sekarang kamu mengerti kenapa namaku ada di undangan itu?”
Aku merasa kepalaku berputar.
“Jadi kalian benar-benar pernah bertunangan?”
“Tidak,” jawab Livia. “Kami hampir dijodohkan oleh keluarga. Tapi Dimas membatalkannya sebelum ada pertunangan resmi.”
“Lalu kenapa sekarang namamu digunakan lagi?”
Livia menatap Gilang.
“Itu pertanyaan yang seharusnya dijawab kakakmu.”
Gilang mengusap wajahnya dengan kesal.
“Karena aku cuma ingin Sekar pulang dan menghadapi perasaannya sendiri!”
Aku tertawa getir.
“Kakak menggunakan pernikahan orang lain untuk memancingku pulang?”
“Kamu selalu menghindari Dimas. Setiap kali dia mencoba mendekat, kamu pergi.”
“Karena aku tidak pernah meminta kalian mengatur hidupku!”
Suaraku membuat beberapa pegawai di dekat ruang rapat menoleh.
Dimas akhirnya mendekat.
“Sekar, kita bicara di tempat lain.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu tahu tentang rencana ini?”
Dia menggeleng.
“Aku tahu Gilang ingin mempertemukan kita. Tapi aku tidak tahu dia menggunakan undangan pernikahan.”
“Lalu kenapa kamu mengirim foto undangan dengan namaku?”
Dimas terdiam.
Livia menjawab lebih dulu.
“Karena kemarin dia menemukan pesanan undangan kedua di kantor percetakan. Ketika melihat namamu tercetak di sana, dia langsung meminta seluruh proses dihentikan.”
Aku menatap Dimas.
“Jadi kamu mengirimnya untuk memperingatkanku?”
“Iya. Aku tidak ingin kamu datang ke Bandung lalu dipermalukan oleh rencana keluargamu sendiri.”
Aku tiba-tiba merasa sangat lelah.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak menjelaskan semuanya lewat telepon?”
Dimas menunduk.
“Karena aku baru mengetahui sebagian ceritanya. Dan aku takut kalau bicara sembarangan, hubunganmu dengan keluarga akan semakin rusak.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Mulai sekarang, tidak ada lagi yang mengambil keputusan atas namaku.”
Kemudian aku berbalik meninggalkan kantor.
Dimas tidak mengejar.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dadaku terasa semakin sesak.
Sore harinya, aku kembali ke rumah orang tuaku.
Ayah sedang duduk di ruang tengah. Ketika melihatku, dia langsung mematikan televisi.
“Sekar, Ayah ingin menjelaskan.”
“Ayah sudah tahu semuanya?”
Ayah mengangguk perlahan.
Aku duduk di hadapannya.
“Berapa banyak uang yang sebenarnya Dimas keluarkan untuk keluarga kita?”
Ayah terdiam.
“Ayah, jawab.”
“Sekitar Rp480 juta.”
Aku hampir tidak percaya.
“Empat ratus delapan puluh juta?”
Ayah menjelaskan bahwa dua tahun sebelumnya, ketika menjalani operasi jantung, biaya pengobatan dan rehabilitasinya jauh lebih besar daripada perkiraan.
Sebagian ditanggung asuransi, tetapi masih ada biaya yang harus dibayar sendiri.
Gilang saat itu baru mengalami kerugian usaha.
Ibu sudah menjual sebagian tabungan emas keluarga.
Dan aku sedang sibuk membangun karier di Surabaya.
“Kenapa tidak bilang kepadaku?”
“Karena kamu baru saja mendapatkan pekerjaan tetap, Nak. Ayah tidak ingin kamu mengorbankan masa depanmu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Jadi lebih baik menerima uang dari Dimas tanpa memberitahuku?”
Ayah menunduk.
“Dia yang menawarkan bantuan.”
“Dan sekarang kalian merasa aku harus menikah dengannya sebagai balasan?”
“Tidak, Sekar!”
Ayah langsung mengangkat wajah.
“Ayah tidak pernah ingin menjual kebahagiaanmu. Tapi Ayah tahu Dimas menyayangimu. Ayah pikir kalian hanya membutuhkan kesempatan untuk bicara.”
“Kesempatan tidak harus dibuat dengan kebohongan.”
Ayah terdiam cukup lama.
Kemudian dia mengangguk.
“Kamu benar. Ayah salah.”
Malam itu, aku mengurung diri di kamar lamaku.
Aku membuka kembali percakapan dengan Dimas selama beberapa tahun terakhir.
Ada pesan ketika aku diterima bekerja.
Ada foto makanan yang dikirimnya saat aku sakit.
Ada ucapan ulang tahun yang selalu datang tepat pukul dua belas malam.
Dan ada satu pesan dari enam bulan lalu yang belum pernah kubalas.
“Sekar, aku ingin mengatakan sesuatu tanpa melibatkan keluargamu. Kalau kamu bersedia, kita bertemu berdua saja.”
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Saat itu aku mengabaikannya karena mengira Dimas hanya ingin membicarakan perjodohan.
Sekarang aku mulai menyadari bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk melindungi diri dari sesuatu yang bahkan belum pernah benar-benar terjadi.
Namun, kesadaran itu belum cukup untuk membuatku memaafkan semua kebohongan.
Keesokan paginya, Livia menghubungiku.
Dia mengajakku bertemu di sebuah kafe kecil di Jalan Braga.
Aku sempat ragu, tetapi akhirnya datang.
Livia sudah menunggu di dekat jendela.
“Terima kasih sudah mau datang,” katanya.
Aku duduk di hadapannya.
“Apa lagi yang belum kuketahui?”
Livia tersenyum tipis.
“Kamu memang langsung pada intinya, ya?”
“Aku sudah terlalu banyak menerima kejutan.”
Dia mengangguk.
“Kalau begitu, aku akan jujur. Aku tidak pernah mencintai Dimas.”
Aku mengernyit.
“Lalu kenapa keluargamu ingin kalian menikah?”
“Karena ayah kami berteman sejak lama. Mereka berpikir kami cocok. Padahal, waktu itu aku sudah menjalin hubungan dengan seseorang.”
“Dimas tahu?”
“Tahu. Justru dia yang membantuku menjelaskan kepada keluarga.”
Aku terdiam.
“Jadi kalian berdua sama-sama menolak perjodohan?”
“Iya. Tapi keluarga kami telanjur memesan gedung untuk acara pertunangan yang direncanakan berkembang menjadi pernikahan.”
Livia mengeluarkan ponselnya.
“Setelah pembatalan, beberapa pembayaran tidak bisa dikembalikan. Gilang kemudian mengusulkan memanfaatkan tanggal yang sama untuk membuat kejutan bagi kalian.”
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
“Ini semakin tidak masuk akal.”
“Aku juga bilang begitu,” jawab Livia.
Kami akhirnya tertawa kecil.
Namun, Livia segera kembali serius.
“Ada satu hal yang perlu kamu tahu. Dimas tidak pernah meminta keluargamu mengembalikan uang pengobatan ayahmu. Tapi dia juga tidak pernah meminta kamu menjadi istrinya sebagai imbalan.”
Aku menghela napas.
“Kalau begitu, kenapa dia selalu membantuku?”
“Karena dia mencintaimu. Sesederhana itu.”
Aku menatap jalanan Bandung yang ramai di luar jendela.
“Tapi cinta tidak seharusnya membuat seseorang menyembunyikan hal sebesar itu.”
“Benar,” jawab Livia. “Dan kamu berhak marah.”
Sebelum berpisah, Livia menyerahkan sebuah amplop.
“Ini bukan dari Dimas. Aku menemukannya ketika membantu mengosongkan arsip acara lama.”
Di dalamnya terdapat salinan surat yang ditulis Dimas kepada keluarganya setahun sebelumnya.
Isinya singkat.
Dia menyatakan tidak ingin dijodohkan dengan siapa pun karena masih memiliki perasaan kepada seseorang.
Namun, ada satu kalimat yang membuat mataku berkaca-kaca.
“Aku tidak ingin Sekar memilihku karena merasa berutang. Kalau suatu hari dia mencintaiku, aku ingin itu menjadi keputusan yang sepenuhnya bebas.”
Aku membaca kalimat tersebut berkali-kali.
Sore itu, aku menghubungi Dimas.
“Kita perlu bicara.”
Dia langsung membalas.
“Kapan pun kamu siap.”
Kami bertemu di taman dekat Gedung Sate.
Dimas datang mengenakan kemeja putih sederhana. Wajahnya terlihat lelah.
Aku tidak ingin berputar-putar.
“Kenapa kamu membayar biaya pengobatan Ayah tanpa memberitahuku?”
Dia terdiam sejenak.
“Karena waktu itu ayahmu membutuhkan pertolongan segera.”
“Kamu bisa memberitahuku setelahnya.”
“Aku tahu. Seharusnya aku melakukannya.”
Aku menatapnya.
“Apakah kamu pernah berharap aku menikah denganmu sebagai balasan?”
Dimas menggeleng.
“Tidak pernah.”
“Lalu kenapa kamu membiarkan Gilang merencanakan semua ini?”
“Aku terlalu lama berharap keluargamu bisa membuat kita dekat. Aku tidak menyadari bahwa dengan diam, aku justru membiarkan mereka melewati batas.”
Aku menghela napas.
“Dimas, aku tidak ingin menjadi hadiah atas semua kebaikanmu.”
“Aku juga tidak ingin kamu menjadi hadiah, Sekar.”
Dia menatapku dengan mata memerah.
“Aku hanya ingin kamu tahu bahwa sejak pertama kali kita bertemu, aku menyukaimu. Tapi kalau perasaanmu berbeda, aku akan menerimanya.”
Untuk beberapa saat, kami hanya duduk diam.
Kemudian aku bertanya sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikiranku.
“Kalau aku tidak pulang ke Bandung, apa yang akan terjadi dengan acara pernikahan itu?”
Dimas tersenyum getir.
“Tidak akan ada pernikahan. Aku sudah meminta gedung menghentikan seluruh persiapan.”
“Jadi semua uangnya hangus?”
“Sebagian. Tapi lebih baik kehilangan uang daripada membiarkanmu merasa terjebak.”
Aku menunduk.
Selama ini, aku selalu menganggap Dimas terlalu sempurna.
Aku takut suatu hari harus membalas semua perhatiannya dengan perasaan yang tidak kumiliki.
Namun, kini aku melihatnya sebagai manusia biasa.
Seseorang yang bisa mencintai, melakukan kesalahan, merasa takut, dan akhirnya memilih berkata jujur.
“Aku belum bisa menjawab perasaanmu sekarang,” kataku.
Dimas mengangguk.
“Aku mengerti.”
“Tapi aku ingin mengenalmu tanpa campur tangan keluarga.”
Untuk pertama kalinya hari itu, dia tersenyum.
“Kalau begitu, boleh aku mengajakmu makan malam minggu depan?”
Aku tertawa kecil.
“Boleh. Tapi kali ini jangan memesan gedung pernikahan dulu.”
Dimas ikut tertawa.
Tiga bulan kemudian, hubungan kami berkembang perlahan.
Kami mulai berkencan seperti pasangan biasa.
Pergi makan bakso.
Berjalan-jalan di taman.
Bertengkar kecil karena Dimas selalu datang terlalu cepat saat menjemputku.
Dan belajar membicarakan hal-hal yang tidak nyaman tanpa melibatkan keluarga.
Aku juga mulai mengembalikan sebagian biaya pengobatan Ayah kepada Dimas melalui kesepakatan tertulis yang kami buat bersama.
Bukan karena dia menuntutnya.
Melainkan karena aku ingin persoalan keuangan keluarga kami benar-benar terpisah dari hubungan pribadi.
Suatu malam, ketika kami sedang makan di sebuah restoran sederhana di Surabaya, Dimas mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Aku langsung membelalak.
“Dimas!”
Dia tertawa.
“Tenang. Ini bukan cincin.”
Aku membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat gantungan kunci berbentuk rumah kecil.
“Apa ini?”
“Hadiah karena kamu baru saja menyelesaikan cicilan apartemenmu.”
Aku tertawa lega.
Namun, di balik gantungan kunci itu terdapat tulisan kecil.
Tidak ada keputusan besar tanpa persetujuan Sekar.
Aku menatapnya sambil tersenyum.
“Kamu masih ingat?”
“Seumur hidup.”
Setahun kemudian, Dimas benar-benar melamarku.
Tidak ada gedung mewah.
Tidak ada ratusan tamu.
Tidak ada undangan yang dicetak tanpa sepengetahuanku.
Dia hanya datang ke rumah orang tuaku bersama keluarganya, setelah terlebih dahulu menanyakan apakah aku bersedia.
Dan kali ini, aku menjawab iya.
Namun, kejutan terakhir datang ketika kami mulai menyiapkan undangan pernikahan.
Aku meminta melihat desainnya sebelum dicetak.
Di meja percetakan, aku menemukan dua contoh undangan.
Salah satunya menggunakan desain krem yang sangat kukenal.
Desain undangan palsu yang setahun sebelumnya membuatku pulang ke Bandung dengan penuh kemarahan.
Aku menatap Dimas.
“Kamu masih menyimpannya?”
Dia tersenyum malu.
“Sebagai pengingat bahwa niat baik tidak membenarkan cara yang salah.”
Aku mengambil contoh undangan itu.
Kemudian merobeknya menjadi dua.
Dimas terkejut.
“Sekar?”
Aku tersenyum.
“Kita tidak perlu mengulang cerita yang dimulai dengan kebohongan.”
Aku mengambil kertas kosong dan mulai menuliskan nama kami.
Dimas Adikara dan Sekar Ayuningtyas.
Kali ini bukan karena rencana keluarga.
Bukan karena utang budi.
Bukan karena seseorang memutuskan bahwa kami harus bersama.
Melainkan karena kami berdua memilihnya.
Saat itulah aku menyadari sesuatu.
Setahun sebelumnya, aku mengirim Rp7 juta sebagai hadiah pernikahan seorang pria yang kukira akan menikahi perempuan lain.
Uang itu dikembalikan bersama undangan yang mencantumkan namaku.
Aku mengira hidupku sedang dipermainkan.
Ternyata kejadian tersebut memaksaku melihat kenyataan yang selama ini kuhindari.
Bahwa cinta tidak bisa dipaksakan oleh keluarga, dibeli dengan pengorbanan, ataupun dibuktikan dengan besarnya uang yang diberikan.
Cinta hanya memiliki arti ketika dua orang yang bebas menentukan hidupnya memilih untuk berjalan bersama.
Dan kali ini, ketika namaku tercetak pada undangan pernikahan, aku tidak lagi merasa takut.
Karena untuk pertama kalinya, aku sendiri yang meminta namaku dituliskan di sana.
