
“Jangan sentuh saya!”
Aku menepis tangan Yudi ketika dia berusaha menyeretku menuju gudang belakang Terminal Tirtonadi.
Rendra menatapku dengan wajah dingin.
“Kalau nggak mau dipaksa, jalan sendiri.”
Aku menarik napas panjang. Mereka masih mengira aku hanyalah Nisa, pedagang nasi ayam yang berani menolak pungutan liar.
Padahal, nama asliku Ratih Pramesti, 36 tahun, Kepala Divisi Audit dan Pengawasan Internal PT Cakra Trans Nusantara, perusahaan transportasi antarkota milik keluargaku yang berkantor pusat di Semarang.
Perusahaan itu didirikan almarhum ayah kandungku, Pramono Santoso, dua puluh lima tahun lalu. Setelah beliau meninggal, sebagian besar saham diwariskan kepadaku dan ibuku, sementara pengelolaan operasional dipercayakan kepada Arman Wibisana, ayah tiriku.
Arman menikahi ibuku dua tahun setelah ayah meninggal. Selama dua belas tahun, dia terlihat seperti pemimpin yang bertanggung jawab.
Namun, aku tidak datang menyamar ke terminal hanya untuk membuktikan adanya pungutan liar.
Tiga bulan sebelumnya, tim audit menemukan selisih pendapatan operasional hampir Rp4,6 miliar dari sejumlah kerja sama pengelolaan kios dan layanan pendukung terminal. Laporan keuangan menunjukkan penurunan pemasukan, padahal jumlah transaksi dan aktivitas pedagang tidak menunjukkan penurunan sebesar itu.
Aku mencurigai adanya manipulasi penerimaan dan penyalahgunaan wewenang.
Karena laporan pengaduan selalu berhenti di tingkat regional, aku memutuskan turun langsung sebagai pedagang nasi bernama Nisa. Tujuanku adalah menemukan siapa yang menarik uang, bagaimana uang itu dikumpulkan, dan kepada siapa hasilnya disetorkan.
Tetapi aku tidak pernah membayangkan nama ayah tiriku akan muncul dalam buku hitam milik Rendra.
“Cepat jalan!” bentak Yudi.
Aku melangkah menuju gudang, sambil diam-diam menekan tombol darurat pada jam tanganku.
Sinyal itu langsung terkirim kepada Damar, kepala tim investigasi internal yang mengetahui penyamaranku.
Kami sudah menyepakati prosedur keamanan sebelum operasi dimulai. Jika aku mengirimkan sinyal darurat, Damar harus menghubungi petugas keamanan resmi dan polisi.
Gudang itu gelap dan berbau kardus lembap.
Yudi mendorong sebuah kursi plastik ke hadapanku.
“Duduk!”
Aku menurut.
Rendra berdiri di dekat pintu.
“Sekarang jawab. Siapa yang memberikan catatan itu?”
Aku menatapnya.
“Kenapa Bapak begitu takut dengan catatan setoran pedagang?”
Wajahnya menegang.
“Kamu nggak perlu tahu.”
“Karena uangnya masuk ke rekening perusahaan besar?”
Rendra langsung terdiam.
Yudi menoleh kepadanya.
“Pak, perempuan ini tahu terlalu banyak.”
Aku memperhatikan reaksi mereka.
Sepertinya Rendra mulai curiga bahwa aku bukan pedagang biasa.
Belum sempat dia bertanya lebih jauh, terdengar keributan dari luar gudang.
“Buka pintunya! Kami dari kepolisian!”
Yudi terlonjak.
Rendra buru-buru meraih tas yang berisi buku hitam.
Namun, pintu sudah terbuka.
Damar masuk bersama dua petugas kepolisian dan seorang perwakilan pengelola terminal.
“Bu Ratih, Ibu tidak apa-apa?”
Wajah Rendra seketika pucat.
“Bu… Ratih?”
Aku berdiri perlahan, lalu melepas kacamata dan maskerku.
“Selamat sore, Pak Rendra. Sepertinya kita perlu melakukan audit khusus.”
Dia mundur selangkah.
“Bu Ratih, saya bisa menjelaskan.”
“Tentu. Tapi sekarang jelaskan kepada petugas kenapa saya dibawa paksa ke gudang setelah menolak pungutan tanpa kuitansi resmi.”
Yudi menatapku dengan mulut terbuka.
“Jadi… Ibu orang kantor pusat?”
Aku tidak menjawab.
Damar menyerahkan tablet kepadaku. Seluruh rekaman yang tersimpan di cloud sudah berhasil diunduh.
Termasuk gambar halaman buku hitam yang memperlihatkan nomor rekening dan nama Arman.
Malam itu, aku kembali ke Semarang bersama tim investigasi.
Di kantor pusat, kami membandingkan nomor rekening tersebut dengan data perbankan perusahaan.
Hasilnya membuatku terdiam.
Nomor itu memang rekening resmi PT Cakra Trans Nusantara.
Namun, rekening tersebut seharusnya hanya digunakan untuk menampung pembayaran dari mitra bisnis tertentu, bukan pungutan langsung kepada pedagang.
Lebih aneh lagi, sebagian besar dana yang masuk segera dipindahkan ke rekening perusahaan bernama PT Mandala Karya Sejahtera.
Aku meminta Damar memeriksa perusahaan tersebut.
Dua jam kemudian, dia masuk ke ruanganku membawa laporan.
“Bu, PT Mandala Karya Sejahtera dimiliki seorang perempuan bernama Mira Wibisana.”
Aku langsung mengangkat kepala.
“Mira?”
“Iya, Bu. Istri pertama Pak Arman.”
Aku membeku.
Selama ini, Arman mengaku sudah bercerai dari Mira sebelum menikahi ibuku.
Namun, dokumen perusahaan menunjukkan bahwa mereka masih memiliki hubungan bisnis aktif.
Yang lebih mengejutkan, Mira juga tercatat sebagai pemegang saham perusahaan pemasok jasa kebersihan dan keamanan yang mendapatkan kontrak dari sejumlah unit usaha kami.
Aku mulai memahami mengapa beberapa kontrak pengadaan selalu memenangkan perusahaan yang sama.
Keesokan paginya, aku memanggil Arman ke ruang rapat.
Dia datang mengenakan jas abu-abu, dengan senyum yang selama bertahun-tahun membuatku merasa aman.
“Ratih, katanya kamu menemukan masalah di Solo?”
Aku meletakkan foto buku hitam di atas meja.
Senyumnya langsung menghilang.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?”
“Dari orang yang mengaku menarik uang atas perintah Bapak.”
Arman menghela napas.
“Rendra terlalu ceroboh.”
Aku menatapnya tajam.
“Jadi Bapak tahu?”
Dia terdiam sesaat.
“Dengar, Ratih. Bisnis sebesar ini nggak bisa dijalankan hanya berdasarkan aturan tertulis. Kadang ada biaya lapangan.”
“Biaya lapangan yang dipungut dengan ancaman?”
“Itu bukan instruksiku.”
“Lalu kenapa hasilnya masuk ke rekening perusahaan dan kemudian dipindahkan ke perusahaan milik Mira?”
Wajah Arman berubah pucat.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di balik sikap tenangnya.
“Siapa yang memberitahumu soal Mira?”
“Aku punya akses audit, Pak. Aku nggak perlu menunggu seseorang memberitahuku.”
Arman duduk perlahan.
“Ada hal-hal yang belum kamu pahami.”
“Kalau begitu, jelaskan sekarang.”
Dia menunduk cukup lama.
Kemudian mengucapkan kalimat yang tidak pernah kuduga.
“Perusahaan ayahmu sebenarnya hampir bangkrut sebelum dia meninggal.”
Aku mengerutkan kening.
“Apa maksud Bapak?”
“Dulu, ayahmu mempunyai utang besar kepada beberapa investor. Aku membantu menyelamatkannya.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Dengan uang hasil pungutan liar?”
Arman menggeleng.
“Awalnya tidak. Aku membangun beberapa perusahaan pendukung untuk menutup kekurangan arus kas. Tapi setelah bertahun-tahun, sistem itu berkembang di luar kendaliku.”
“Dan Bapak tetap menikmati hasilnya?”
Dia tidak menjawab.
Aku mengeluarkan dokumen mutasi rekening.
“Dalam delapan belas bulan terakhir, ada transfer lebih dari Rp6 miliar ke perusahaan milik Mira. Itu bukan sekadar biaya operasional.”
Arman tiba-tiba berdiri.
“Ratih, jangan mengungkit semuanya kalau kamu masih ingin mempertahankan perusahaan ini!”
Aku ikut berdiri.
“Justru karena ingin mempertahankannya, aku harus mengetahui kebenarannya.”
Dia menatapku dengan mata merah.
“Kamu pikir semua yang diwariskan ayahmu bersih?”
Kalimat itu membuat dadaku terasa sakit.
Namun, sebelum aku menjawab, Damar mengetuk pintu.
“Bu Ratih, maaf mengganggu. Ada seseorang yang ingin bertemu.”
“Siapa?”
“Bu Mira Wibisana.”
Arman langsung menoleh.
“Jangan izinkan dia masuk!”
Terlambat.
Seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun sudah berdiri di ambang pintu.
Penampilannya sederhana, tetapi wajahnya terlihat tegas.
Dia membawa sebuah tas kulit tua.
“Sudah cukup, Arman,” katanya.
Arman membeku.
Mira menatapku.
“Ratih, saya datang bukan untuk membela mantan suami saya. Saya datang karena perusahaan yang memakai nama saya telah digunakan untuk transaksi yang tidak pernah saya setujui.”
Aku mempersilakannya duduk.
Mira mengeluarkan beberapa dokumen.
Dia menjelaskan bahwa Arman pernah menggunakan perusahaan miliknya untuk menyediakan jasa pendukung operasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, dia kehilangan kendali atas akses rekening dan administrasi perusahaan tersebut.
“Saya sudah mengajukan keberatan ke bank dan meminta pemeriksaan transaksi. Saya juga membawa dokumen yang mungkin kamu perlukan.”
Aku membuka berkas itu.
Di dalamnya terdapat beberapa surat perjanjian, bukti transfer, dan salinan instruksi pembayaran.
Namun, ada satu dokumen yang membuatku terdiam.
Surat perintah transfer dengan tanda tangan Arman.
Tanggalnya dua minggu setelah ayah kandungku meninggal.
Penerimanya adalah sebuah perusahaan investasi yang ternyata masih berhubungan dengan Arman.
Nominalnya Rp3,2 miliar.
Aku mengangkat wajah.
“Uang apa ini?”
Mira menatap Arman.
“Kamu mau menjelaskan sendiri?”
Arman menunduk.
Aku kembali memeriksa dokumen tersebut.
Di bagian keterangan tertulis pembayaran kewajiban pribadi pemegang saham.
Namun, rekening asalnya adalah rekening operasional perusahaan.
Aku merasakan kemarahan menjalar ke seluruh tubuh.
“Bapak menggunakan uang perusahaan untuk membayar kewajiban pribadi?”
Arman mencoba menjawab.
“Itu pinjaman sementara.”
“Selama dua belas tahun?”
Tidak ada jawaban.
Mira kemudian mengeluarkan sebuah surat lagi.
“Ratih, saya harus memberitahumu sesuatu. Sebelum meninggal, ayahmu pernah meminta saya menyimpan salinan perjanjian ini.”
Aku membukanya.
Ternyata ayah kandungku sudah mencurigai sejumlah transaksi yang dilakukan Arman ketika masih menjadi penasihat keuangan perusahaan.
Dalam surat tersebut, ayah meminta pemeriksaan independen atas beberapa kontrak dan rekening sebelum menyerahkan kendali operasional kepada siapa pun.
Namun, pemeriksaan itu tidak pernah diselesaikan karena ayah meninggal mendadak akibat serangan jantung.
Aku menatap Arman dengan mata berkaca-kaca.
“Jadi selama ini Bapak tahu ayahku mencurigai transaksi tersebut?”
Dia tidak menjawab.
Aku akhirnya memahami satu hal.
Arman tidak sedang berusaha menyelamatkan perusahaan warisan ayahku.
Dia telah memanfaatkan kepercayaan keluarga kami untuk mengendalikan keuangan perusahaan, sementara sebagian transaksi disembunyikan melalui perusahaan lain.
Dalam rapat darurat pemegang saham, aku memaparkan bukti-bukti awal yang telah diverifikasi oleh tim audit.
Atas persetujuan pemegang saham sesuai kewenangan yang berlaku, Arman diberhentikan sementara dari jabatan operasional selama pemeriksaan independen berlangsung.
Kami juga menyerahkan temuan mengenai dugaan penyalahgunaan dana dan pungutan liar kepada aparat penegak hukum.
Rendra dan Yudi diperiksa terkait praktik pungutan di terminal. Sementara itu, auditor eksternal mulai menelusuri transaksi antarrekening dan kontrak pengadaan yang bermasalah.
Aku tidak menganggap semua persoalan selesai hanya karena Arman kehilangan jabatannya.
Masih ada banyak transaksi yang harus diperiksa, uang yang harus ditelusuri, dan tanggung jawab hukum yang harus dibuktikan.
Namun, aku akhirnya mendapatkan hal yang selama ini kucari.
Bukan hanya nama orang yang memerintahkan pungutan liar.
Melainkan jalur uang yang menghubungkan penindasan pedagang kecil dengan penyimpangan di tingkat manajemen.
Dua bulan kemudian, aku kembali ke Terminal Tirtonadi.
Kali ini tanpa penyamaran.
Bu Sri sedang menata botol minuman ketika melihatku datang.
Dia memandangku beberapa detik sebelum akhirnya mengenali wajahku.
“Mbak Nisa?”
Aku tersenyum.
“Nama asli saya Ratih, Bu.”
Bu Sri terkejut.
Aku menjelaskan bahwa pengaduan para pedagang telah menjadi bagian dari pemeriksaan resmi. Untuk pungutan yang terbukti tidak sah dan berada dalam tanggung jawab perusahaan kami, mekanisme pengembalian dana sedang diproses berdasarkan hasil verifikasi.
Aku juga memastikan pengelola terkait tidak boleh menggunakan laporan pengaduan sebagai alasan untuk mengintimidasi pedagang.
Bu Sri menggenggam tanganku.
“Jadi kami boleh melapor kalau ada yang minta uang lagi?”
“Tentu, Bu. Dan sekarang pengaduannya diawasi tim independen, bukan orang-orang yang sebelumnya menerima laporan.”
Air mata mengalir di pipinya.
Aku membantu Bu Sri mengangkat sebuah kardus minuman ke atas meja.
Saat itulah dia mengeluarkan dua bungkus nasi dari balik etalase.
“Ini buat Mbak.”
Aku tertawa kecil.
“Berapa harganya, Bu?”
Bu Sri menggeleng.
“Nggak usah. Dulu waktu dagangan Mbak ditendang, saya cuma bisa diam. Sampai sekarang saya masih merasa bersalah.”
Aku menerima nasi itu.
“Ibu sudah membantu lebih banyak daripada yang Ibu kira. Tanpa catatan dari Ibu, mungkin saya nggak akan menemukan jaringan itu secepat ini.”
Kami duduk sebentar di bangku dekat kios.
Di sekeliling kami, terminal tetap sibuk seperti biasanya. Sopir memanggil penumpang, pedagang menawarkan minuman, dan suara pengumuman keberangkatan terdengar bersahutan.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Para pedagang tidak lagi buru-buru menyembunyikan uang setiap kali melihat petugas berseragam lewat.
Beberapa minggu setelah kunjunganku, Ibu mengajakku berbicara di rumah.
Dia menangis ketika mengetahui sejauh mana Arman diduga menyalahgunakan kepercayaan keluarga kami.
“Ratih, Ibu minta maaf karena dulu terlalu percaya kepadanya.”
Aku memeluknya.
“Ibu nggak perlu meminta maaf atas perbuatan orang lain. Yang penting sekarang kita tahu apa yang harus diperbaiki.”
Ibu kemudian menyerahkan sebuah buku catatan lama milik ayah.
Di halaman pertama terdapat tulisan tangannya.
Perusahaan yang besar bukanlah perusahaan yang paling banyak menghasilkan uang, melainkan perusahaan yang tidak membuat orang kecil kehilangan haknya demi keuntungan orang besar.
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Selama bertahun-tahun, aku mengira tugasku sebagai kepala audit hanyalah memastikan angka dalam laporan keuangan sesuai dengan transaksi.
Sekarang aku memahami bahwa setiap angka memiliki cerita.
Di balik selisih pendapatan ada pedagang yang dipaksa membayar.
Di balik rekening tersembunyi ada keluarga yang kehilangan penghasilan.
Dan di balik laporan yang terlihat rapi, bisa saja terdapat ketidakadilan yang sengaja disembunyikan.
Aku menutup buku catatan ayah dan meletakkannya di meja kerja.
Hari ketika Yudi menendang keranjang nasiku, aku kehilangan puluhan bungkus dagangan.
Namun, justru dari keranjang yang terjungkal itulah aku menemukan jejak penyimpangan yang selama bertahun-tahun tersembunyi di dalam perusahaan keluargaku.
Dan akhirnya aku mengerti mengapa ayah selalu mengatakan bahwa integritas bukan diuji ketika semua orang sedang memperhatikan.
Integritas diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk mengambil hak orang lain dan mengira tidak akan ada yang mengetahuinya.
