“SEMBILAN BUS ITU BELUM ADA? PADAHAL EMPAT RATUS DUA PULUH KARYAWAN BERANGKAT

EMPAT JAM LAGI!”
Aku langsung menelepon nomor yang mengirimkan foto tersebut.
Panggilan dijawab oleh seorang laki-laki dengan suara berat.
“Bu Naya?”
“Siapa Anda?”
“Nama saya Anton. Saya sopir bus pariwisata di Sidoarjo.”
“Dari mana Bapak mendapatkan nomor saya?”
“Dari Mbak Ratih, vendor yang pesanannya dibatalkan kantor Ibu.”
Aku terdiam.
Anton kemudian menjelaskan bahwa sekitar pukul sembilan malam, seseorang menghubunginya untuk mencari bus yang bisa disewa mendadak.
Orang itu menawarkan bayaran Rp1,7 juta untuk perjalanan Surabaya menuju Batu.
“Siapa yang menghubungi Bapak?”
“Rizky Aditama.”
Jantungku langsung berdegup kencang.
Nama itu muncul lagi.
“Bus dalam foto tadi milik Bapak?”
“Bukan. Itu bus yang ditawarkan Rizky kepada saya supaya saya mau ikut mengantar rombongan. Katanya kendaraan itu tinggal dibawa besok pagi.”
“Apakah bus itu masih beroperasi?”
Anton menarik napas.
“Setahu saya, bus itu sudah lama tidak dipakai perjalanan jauh. Kondisinya perlu diperiksa dulu. Saya tidak berani membawanya tanpa pemeriksaan.”
Aku menatap foto kendaraan tersebut.
“Terima kasih sudah memberi tahu saya, Pak.”
“Saya cuma takut terjadi sesuatu, Bu. Empat ratus orang itu bukan jumlah sedikit.”
Setelah panggilan berakhir, aku segera menghubungi Pak Rendra.
Kali ini dia mengangkat telepon.
“Naya, ini sudah malam. Ada apa?”
“Pak, vendor baru belum menyediakan sembilan bus yang dijanjikan.”
“Dimas bilang semuanya siap.”
“Saya baru berbicara dengan sopir yang diminta mencari kendaraan malam ini. Saya punya foto dan kontaknya.”
Pak Rendra terdiam.
Kemudian dia bertanya, “Kamu yakin informasi ini benar?”
“Belum semuanya terverifikasi. Justru karena itu saya meminta keberangkatan ditunda sampai pemeriksaan selesai.”
Aku mendengar Pak Rendra menarik napas panjang.
“Baik. Saya ke kantor sekarang.”
Pukul 23.40, kami berkumpul di ruang rapat bersama bagian operasional, keuangan, dan keamanan.
Dimas datang dengan wajah kesal.
“Kenapa semua orang panik hanya karena foto bus tua?”
Aku meletakkan ponsel di meja.
“Pak Dimas, sebutkan nomor polisi sembilan bus yang akan datang besok.”
Dia terdiam sesaat.
“Datanya ada pada vendor.”
“Kalau begitu, hubungi vendornya sekarang.”
Dimas mengeluarkan ponsel.
Panggilan pertama tidak dijawab.
Panggilan kedua juga tidak.
Pak Rendra mulai terlihat tegang.
“Dimas, kamu mengatakan seluruh armada sudah dipastikan tersedia.”
“Memang sudah, Pak.”
“Lalu kenapa kontak vendor tidak bisa dihubungi?”
Dimas tidak menjawab.
Aku kemudian menyerahkan surat penawaran yang sebelumnya digunakan dalam rapat.
“Pak, saya juga menemukan perbedaan identitas perusahaan pada dokumen ini.”
Sari dari bagian keuangan langsung membuka laptop.
Setelah memeriksa dokumen registrasi, dia mengangkat wajah.
“Pak Rendra, rekening pembayaran vendor baru ternyata menggunakan nama badan usaha yang berbeda dari surat penawaran.”
Dimas buru-buru menyela.
“Itu perusahaan rekanan mereka!”
“Kalau begitu, mana perjanjian kerja samanya?” tanyaku.
Dimas mulai berkeringat.
“Dokumennya menyusul.”
Pak Rendra memukul meja.
“Tidak ada pembayaran dan tidak ada keberangkatan sebelum seluruh kendaraan diperiksa!”
Untuk pertama kalinya sejak rapat pagi, Dimas benar-benar kehilangan kata-kata.
Namun, masalah belum selesai.
Pukul 01.15, tiga bus tiba di halaman perusahaan.
Bukan sembilan.
Hanya tiga.
Ketika petugas keamanan memeriksa kendaraan, ditemukan beberapa ketidaksesuaian dengan spesifikasi kontrak.
Salah satu bus memiliki ban yang sudah sangat aus.
Bus kedua tidak dapat menunjukkan bukti pemeriksaan kendaraan yang masih berlaku.
Sementara bus ketiga hanya membawa satu sopir, padahal perusahaan mensyaratkan dua sopir untuk perjalanan tersebut.
Pak Rendra langsung menghentikan proses penerimaan armada.
Dimas terlihat semakin panik.
“Pak, ini cuma unit awal. Sisanya sedang menuju sini.”
Aku menatapnya.
“Kalau unit awal saja tidak sesuai, bagaimana kita bisa mempercayai enam kendaraan lainnya?”
Tiba-tiba seorang sopir menghampiri kami.
“Maaf, Pak. Saya sebenarnya ingin bertanya. Siapa yang akan membayar ongkos kami?”
Pak Rendra mengerutkan kening.
“Bukankah kalian disewa PT Lintas Jaya Wisata?”
Sopir itu menggeleng.
“Kami dihubungi orang bernama Rizky. Katanya perusahaan farmasi ini akan membayar langsung setelah perjalanan selesai.”
Dimas langsung menunduk.
Aku merasa seluruh kepingan masalah akhirnya tersusun.
Vendor murah itu bahkan belum memiliki armada yang siap.
Mereka hanya mencari kendaraan dari berbagai tempat setelah mendapatkan pesanan.
Dan demi mendapatkan kontrak tersebut, Dimas telah menuduhku memanipulasi biaya.
Pukul dua dini hari, Pak Rendra memutuskan menunda keberangkatan.
Panitia segera menghubungi seluruh peserta untuk menjelaskan bahwa perjalanan ditunda karena armada belum memenuhi persyaratan keselamatan.
Sebagian karyawan kecewa.
Namun, setelah mengetahui kondisinya, mereka memahami keputusan tersebut.
Aku menghubungi Ratih, vendor lama kami.
“Maaf mengganggu malam-malam, Mbak.”
Ratih terdengar mengantuk.
“Bu Naya? Ada apa?”
“Apakah masih ada armada yang tersedia untuk jadwal pengganti?”
Ratih terdiam.
“Sebagian unit sudah disewa pelanggan lain. Tapi saya bisa membantu mencari jadwal baru dengan spesifikasi yang sama.”
Aku mengembuskan napas lega.
“Terima kasih, Mbak.”
Keesokan harinya, perusahaan mengadakan pemeriksaan internal.
Dimas diminta menyerahkan seluruh komunikasi dengan PT Lintas Jaya Wisata.
Awalnya dia mengatakan semua transaksi dilakukan secara profesional.
Namun, ketika tim audit memeriksa hubungan antara Rizky dan perusahaan tersebut, sebuah fakta mengejutkan muncul.
PT Lintas Jaya Wisata ternyata baru didaftarkan sebagai badan usaha beberapa bulan sebelumnya.
Perusahaan itu tidak memiliki sembilan bus sendiri.
Kendaraan yang mereka tawarkan berasal dari beberapa pemilik berbeda, tanpa kontrak penyediaan yang sudah disepakati untuk perjalanan kami.
Yang lebih mencurigakan, Rizky pernah bekerja bersama Dimas di perusahaan sebelumnya.
Aku memandang dokumen tersebut dengan perasaan tidak percaya.
“Jadi mereka sudah saling mengenal?”
Pak Rendra mengangguk.
“Bukan hanya mengenal. Kami menemukan beberapa transaksi pribadi antara mereka.”
Sari kemudian menunjukkan hasil pemeriksaan rekening pembayaran vendor.
Ada satu transfer sebesar Rp12 juta yang dilakukan Rizky kepada Dimas dua minggu sebelum rapat.
Dimas mengatakan uang itu merupakan pengembalian pinjaman pribadi.
Namun, dia tidak dapat langsung menunjukkan bukti pinjaman tersebut.
Pemeriksaan kemudian dilanjutkan untuk memastikan apakah uang itu berkaitan dengan pemilihan vendor.
Aku tidak ingin membuat tuduhan sebelum seluruh bukti diperiksa.
Namun, aku akhirnya memahami mengapa Dimas begitu bersemangat mengganti perusahaan transportasi.
Kemungkinan besar, ada kepentingan pribadi yang tidak pernah diungkapkannya.
Beberapa hari kemudian, tim audit menemukan bukti tambahan.
Dalam percakapan yang diserahkan Rizky, terdapat pesan dari Dimas.
“Yang penting harga penawaran terlihat jauh lebih murah. Begitu vendor lama dibatalkan, mereka tidak punya pilihan selain menggunakan kita.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Darahku terasa mendidih.
Jadi, sejak awal Dimas memang merencanakan agar perusahaan tidak memiliki alternatif lain.
Namun, masih ada pesan lain yang jauh lebih mengejutkan.
Rizky menulis, “Kalau bus pengganti tidak memenuhi standar, bagaimana?”
Dimas menjawab, “Perjalanan cuma beberapa jam. Naya terlalu berlebihan soal keselamatan.”
Aku meletakkan dokumen itu.
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa marah.
Bukan karena reputasiku dihancurkan.
Melainkan karena seseorang bersedia mempertaruhkan keselamatan ratusan orang demi mendapatkan keuntungan.
Pak Rendra menatapku dengan wajah penuh penyesalan.
“Naya, saya ingin meminta maaf.”
Aku tidak menjawab.
“Seharusnya saya tidak langsung meragukan penilaianmu hanya karena ada tawaran yang lebih murah.”
Aku menarik napas panjang.
“Pak, saya tidak keberatan kalau perusahaan ingin melakukan efisiensi. Tapi efisiensi harus didasarkan pada perbandingan layanan yang benar.”
Pak Rendra mengangguk.
“Saya mengerti sekarang.”
Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan internal menyimpulkan bahwa Dimas telah melanggar prosedur pengadaan vendor dan tidak mengungkapkan hubungan pribadinya dengan pihak yang direkomendasikan.
Perusahaan mengambil tindakan disiplin sesuai ketentuan yang berlaku.
Temuan mengenai kemungkinan penyalahgunaan kewenangan juga diserahkan kepada bagian hukum untuk ditindaklanjuti.
Sementara itu, Rizky dan pihak pengelola vendor diminta memberikan klarifikasi mengenai dokumen penawaran serta identitas perusahaan yang digunakan.
Aku tidak mengikuti seluruh proses tersebut.
Aku hanya ingin memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Perusahaan kemudian memperbarui prosedur pengadaan transportasi.
Setiap vendor wajib menyerahkan daftar kendaraan, identitas sopir, dokumen kelayakan, bukti asuransi, dan kontrak yang dapat diverifikasi sebelum keputusan pemesanan dibuat.
Perubahan vendor mendadak juga harus melalui pemeriksaan bersama bagian operasional, keuangan, dan keselamatan kerja.
Sebulan setelah kejadian itu, pelatihan tahunan akhirnya dilaksanakan.
Kali ini kami menggunakan sembilan bus dari penyedia yang sudah melalui pemeriksaan lengkap.
Pukul lima pagi, seluruh kendaraan berjajar rapi di halaman perusahaan.
Aku berdiri bersama tim panitia sambil memeriksa daftar peserta.
Ratih datang menghampiriku.
“Bu Naya, semua bus sudah diperiksa. Sopir dan pengemudi cadangan juga siap.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Mbak.”
Ratih tersenyum.
“Sebenarnya saya ingin bertanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kenapa Ibu begitu teliti soal bus? Sampai memeriksa setiap dokumen sendiri?”
Aku terdiam sebentar.
Kemudian menjawab pelan.
“Karena delapan tahun lalu, adik laki-laki saya pernah mengalami kecelakaan bus ketika mengikuti perjalanan sekolah.”
Wajah Ratih langsung berubah.
“Ya Tuhan. Bagaimana keadaannya?”
Aku menunduk.
“Dia selamat, tapi salah seorang temannya meninggal.”
Aku menarik napas panjang.
“Sejak itu saya belajar bahwa pemeriksaan keselamatan yang terlihat merepotkan bisa menjadi perbedaan antara perjalanan biasa dan tragedi.”
Ratih terdiam.
Aku tersenyum kecil.
“Makanya saya tidak pernah menganggap transportasi hanya sebagai urusan harga.”
Dia mengangguk perlahan.
“Sekarang saya mengerti.”
Pukul 05.30, rombongan akhirnya berangkat menuju Batu.
Aku duduk di bus pertama bersama beberapa panitia.
Ketika kendaraan mulai bergerak, aku melihat para karyawan tertawa dan berbincang dengan santai.
Sebagian mendengarkan musik.
Sebagian menikmati sarapan yang telah disediakan.
Tidak ada yang mengetahui betapa dekatnya perjalanan ini dengan keputusan yang bisa membahayakan mereka.
Namun, aku merasa lega.
Di tengah perjalanan, Pak Rendra mengirimkan pesan.
“Naya, terima kasih karena tetap mempertahankan standar keselamatan meskipun kami sempat meragukanmu.”
Aku membaca pesan itu.
Kemudian membalas singkat.
“Terima kasih, Pak. Semoga setelah ini kita selalu memeriksa kualitas sebelum membandingkan harga.”
Beberapa jam kemudian, rombongan tiba di Batu dengan selamat.
Ketika seluruh peserta turun dari bus, aku berdiri di dekat pintu sambil menghitung jumlah karyawan.
Satu per satu.
Sampai semuanya lengkap.
Dito, staf panitia yang membantu pembagian peserta, menghampiriku.
“Mbak Naya, masih menghitung?”
Aku tersenyum.
“Sudah selesai.”
“Lengkap?”
“Lengkap. Empat ratus dua puluh orang.”
Dia tertawa.
“Mbak memang paling teliti.”
Aku ikut tertawa kecil.
Namun, dalam hati, aku teringat foto bus tua yang dikirim Anton malam itu.
Foto yang awalnya terlihat seperti pesan biasa ternyata menjadi petunjuk penting untuk menghentikan keputusan berbahaya.
Aku juga teringat bagaimana Dimas menggunakan angka murah untuk membuat seluruh ruang rapat mencurigaiku.
Saat itu, aku hampir merasa bahwa tujuh tahun bekerja jujur tidak berarti apa-apa.
Namun, kejadian ini mengajarkanku sesuatu.
Integritas tidak selalu membuat seseorang langsung dipercaya.
Kadang-kadang, orang yang mempertahankan standar justru dianggap menghambat pekerjaan.
Tetapi ketika keselamatan banyak orang dipertaruhkan, keberanian mengatakan tidak jauh lebih penting daripada mendapatkan pujian.
Sore harinya, ketika seluruh peserta sudah memasuki ruang pelatihan, aku duduk sendirian di teras hotel.
Udara Batu terasa sejuk.
Gunung-gunung terlihat samar di kejauhan.
Aku membuka ponsel dan melihat kembali foto bus tua yang disimpan dalam galeri.
Kemudian aku mengirimkan pesan kepada Anton.
“Pak, terima kasih sudah berani memberi tahu kondisi sebenarnya.”
Beberapa menit kemudian, dia membalas.
“Sama-sama, Bu. Saya cuma tidak mau ada orang celaka karena bus yang tidak layak.”
Aku tersenyum.
Ternyata bukan jabatan tinggi atau kekuasaan yang menyelamatkan perjalanan kami.
Melainkan keberanian seorang sopir untuk mengatakan kebenaran dan kesediaan beberapa orang untuk mendengarkannya.
Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.
Kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang pelatihan.
Karena sekarang aku semakin yakin bahwa harga paling murah tidak selalu berarti penghematan.
Terkadang, biaya terbesar justru muncul ketika seseorang menganggap keselamatan manusia sebagai sesuatu yang bisa ditawar.
