IBU MERTUAKU MENYODORKAN CEK SENILAI RP8 MILIAR AGAR AKU PERGI DARI

“TUJUH PULUH PERSEN SAHAM PERUSAHAAN ITU ATAS NAMAKU? SIAPA YANG MEMALSUKAN DOKUMEN INI?”

Aku menatap layar ponsel sampai mataku terasa perih.

Di sebelah nama Alya Pramesti tercantum nomor identitas yang benar-benar milikku.

Bahkan alamat rumah sebelum menikah juga sesuai.

Aku segera menghubungi kakakku, Intan.

“Mbak, aku butuh bantuan.”

Begitu mendengar suaraku, Intan langsung bertanya, “Galang datang lagi?”

“Bukan cuma Galang. Sepertinya mereka menggunakan identitasku untuk mendirikan perusahaan.”

Dua puluh menit kemudian, Intan tiba bersama suaminya, Bagus, seorang pengacara perusahaan.

Aku memperlihatkan semua dokumen yang kuterima.

Bagus membacanya dengan saksama.

“Alya, foto ini belum cukup membuktikan bahwa kamu pemilik manfaat sebenarnya. Kita harus mendapatkan dokumen resmi dan memeriksa asal-usul datanya.”

“Kalau namaku memang tercatat di sana?”

“Kita ajukan keberatan dan laporkan dugaan pemalsuannya. Tapi jangan menemui Galang sendirian.”

Aku mengangguk.

Bagus kemudian memperhatikan cek Rp8 miliar yang kusimpan dalam amplop plastik.

“Apakah kamu sudah menyetorkannya?”

“Belum.”

“Bagus. Simpan cek asli dan seluruh komunikasi yang berkaitan dengannya.”

Aku menunduk.

“Tapi aku sudah menandatangani surat perpisahan.”

Bagus meminta melihat salinannya.

Setelah membaca beberapa halaman, dia mengerutkan kening.

“Ada klausul yang menyatakan kamu mengakui telah menerima kompensasi Rp8 miliar secara penuh.”

Aku langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Dia menunjuk halaman keempat.

Aku membaca kalimat kecil yang sebelumnya luput dari perhatianku.

Pihak kedua menyatakan telah menerima seluruh pembayaran dan membebaskan pihak pertama dari kewajiban keuangan lebih lanjut.

Dadaku mendadak sesak.

“Tapi ceknya tidak bisa dicairkan!”

“Itulah yang harus kita buktikan. Dan tanda tangan pada kesepakatan pribadi ini tidak otomatis membuat perceraianmu selesai.”

Aku meremas ujung bajuku.

Untuk pertama kalinya aku memahami betapa berbahayanya keputusan yang kuambil di restoran malam itu.

Aku menandatangani dokumen karena ingin segera keluar dari kehidupan Galang.

Ternyata mereka sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih rumit.

Keesokan paginya, kami memeriksa informasi resmi PT Sagara Distribusi Mandiri melalui jalur yang tersedia.

Hasilnya membuatku semakin takut.

Namaku memang tercantum dalam dokumen kepemilikan perusahaan.

Namun, tanda tangan pada berkas pendiriannya terlihat berbeda dari tanda tanganku.

Lebih mencurigakan lagi, alamat korespondensi perusahaan menggunakan sebuah ruko di Bekasi yang pernah disewa Galang untuk gudang sementara.

Aku menatap Bagus.

“Aku bahkan tidak pernah datang ke ruko itu.”

“Kita masukkan dalam kronologi.”

Kami kemudian mengirimkan keberatan resmi kepada pihak-pihak terkait dan meminta pemeriksaan terhadap dokumen yang menggunakan identitasku.

Sore harinya, Rena menelepon.

“Alya, ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

“Apa, Mbak?”

“Tim audit menemukan bahwa Sagara tidak pernah memiliki armada sebanyak yang tercantum dalam kontrak.”

“Aku sudah menduganya.”

“Tapi ada yang lebih aneh. Sebagian pembayaran perusahaan dilakukan setelah laporan pengiriman barang dinyatakan selesai.”

Aku mengerutkan kening.

“Bukankah pembayaran setelah pengiriman itu biasa?”

“Iya, kalau barangnya benar-benar dikirim. Masalahnya, nomor surat jalan mereka tidak cocok dengan catatan gudang.”

Aku langsung terdiam.

Rena melanjutkan.

“Dan tiga laporan penerimaan barang menggunakan persetujuan elektronik atas namamu.”

Jantungku seperti berhenti berdetak.

“Namaku?”

“Iya.”

“Tapi aku sudah tidak bekerja di sana!”

“Itu sebabnya aku menghubungimu.”

Aku menutup mata.

Sekarang semuanya terasa semakin jelas.

Mereka bukan hanya mencantumkanku sebagai pemilik perusahaan pemasok.

Mereka juga membuat seolah-olah aku menyetujui penerimaan barang yang tidak pernah datang.

Malam itu, Galang kembali menelepon.

“Alya, kita harus bicara.”

“Aku sudah tahu soal Sagara.”

Sambungan mendadak sunyi.

Kemudian dia menjawab pelan.

“Dari mana kamu mendapatkan nama itu?”

“Kenapa aku tercatat memiliki tujuh puluh persen perusahaan tersebut?”

Galang menarik napas panjang.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

“Aku tidak bisa lewat telepon.”

Aku tertawa pahit.

“Kalau begitu, jelaskan kepada pengacaraku.”

Galang langsung panik.

“Jangan libatkan orang luar!”

“Orang luar? Kamu dan ibumu sudah menggunakan namaku tanpa izin.”

“Alya, kalau kamu melaporkan semuanya, keluargaku bisa hancur.”

Aku menyentuh perutku.

“Dan kamu tidak pernah berpikir hidupku juga bisa hancur?”

Galang tidak menjawab.

Aku memutuskan panggilan.

Dua hari kemudian, sebuah kejutan datang dari orang yang sama sekali tidak kuduga.

Bu Laksmi menghubungiku.

“Alya, Ibu ingin bertemu.”

Aku menolak.

Namun, dia kemudian mengirimkan sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan Galang sedang menandatangani dokumen bersama seorang pria berkemeja putih.

Aku mengenali pria tersebut.

Pak Surya, notaris yang dahulu membantu pengurusan beberapa kontrak perusahaan.

Di bawah foto terdapat pesan singkat.

“Galang tidak melakukan semuanya sendirian.”

Aku segera memperlihatkannya kepada Bagus.

Kami kemudian mengatur pertemuan di kantornya dengan pendampingan hukum.

Bu Laksmi datang tanpa sopir.

Wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada ketika terakhir kali kami bertemu.

Begitu duduk, dia langsung berkata,

“Ibu tidak tahu kamu sedang hamil.”

Aku menatapnya tajam.

“Kalau Ibu tahu, apakah Ibu tidak akan mengusir saya?”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Jawab pertanyaan saya. Kenapa nama saya digunakan sebagai pemilik Sagara?”

Bu Laksmi mengeluarkan sebuah map.

“Dua tahun lalu, Galang ingin membuka perusahaan pemasok sendiri. Tapi dia tidak ingin nama keluarga Wiratama tercatat karena khawatir terjadi konflik kepentingan.”

“Lalu?”

“Dia meminta bantuan Surya mengurus dokumen menggunakan namamu.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Dan Ibu tahu?”

Bu Laksmi mengangguk.

“Aku tahu setelah perusahaan itu berdiri.”

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Karena Galang mengatakan kamu sudah setuju.”

Aku menatapnya tanpa percaya.

“Lalu cek delapan miliar itu?”

Bu Laksmi mulai menangis.

“Itu rencana Galang.”

Aku membeku.

“Bukan Ibu?”

“Galang yang meminta Ibu menyerahkan cek dan membuatmu menandatangani perjanjian.”

Aku meremas tangan.

“Kenapa?”

Bu Laksmi menunduk.

“Dia mengatakan kalau kamu menerima cek itu, perusahaan bisa mencatatnya sebagai penyelesaian kewajiban kepada pemilik manfaat Sagara.”

Bagus langsung mengangkat kepala.

“Apakah ada dokumen yang mendukung keterangan Ibu?”

Bu Laksmi menyerahkan beberapa salinan percakapan dan rancangan perjanjian.

Di salah satu pesan, Galang menulis bahwa setelah Alya menandatangani seluruh dokumen, mereka bisa menunjukkan bukti pembayaran kompensasi kepada auditor.

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Jadi uang Rp8 miliar bukan sekadar alat untuk mengusirku.

Cek tersebut dirancang untuk membuatku terlihat telah menerima bagian dari dana perusahaan.

Dan ketika audit menemukan pembayaran mencurigakan, Galang dapat mengklaim bahwa uang itu diterima oleh pemilik manfaat Sagara.

Aku menatap Bu Laksmi.

“Kenapa Ibu baru mengaku sekarang?”

Dia menangis.

“Karena kemarin Galang mengatakan namamu akan menjadi pihak yang bertanggung jawab jika audit berlanjut.”

Aku terdiam.

“Dia bilang Ibu tidak perlu khawatir karena kamu sudah menandatangani semua dokumen.”

Air mataku langsung jatuh.

Pria yang pernah kujanjikan akan kutemani dalam keadaan susah dan senang ternyata bersedia mengorbankanku untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, pemeriksaan terhadap PT Sagara Distribusi Mandiri semakin berkembang.

Tim audit menemukan dugaan tagihan fiktif dan penggunaan dokumen penerimaan barang yang tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Dokumen pendirian perusahaan serta tanda tangan yang menggunakan namaku juga diperiksa melalui proses hukum.

Galang dan beberapa pihak yang terlibat dimintai keterangan.

Sementara itu, perusahaan keluarga memutuskan menonaktifkan sementara kewenangan Galang dalam pengelolaan keuangan.

Aku tidak merasa puas melihatnya kehilangan jabatan.

Aku hanya ingin memastikan namaku tidak lagi digunakan untuk menutupi perbuatan orang lain.

Namun, kejutan terbesar datang ketika penyidik memeriksa dokumen asli yang diserahkan dari kantor Surya.

Dalam salah satu lampiran terdapat formulir pengenalan pemilik manfaat.

Di bagian bawah, tercantum sebuah alamat email yang digunakan untuk menerima seluruh notifikasi perusahaan.

Alamat itu bukan milikku.

Bukan pula milik Galang.

Melainkan alamat milik seorang staf keuangan bernama Vina.

Aku langsung teringat perempuan tersebut.

Vina pernah bekerja bersama Galang sebagai asisten keuangan.

Beberapa bulan sebelumnya, dia mengundurkan diri secara tiba-tiba.

Ketika dimintai keterangan, Vina akhirnya menjelaskan bahwa Galang memintanya mengurus sebagian besar administrasi Sagara menggunakan dokumen identitasku.

Namun, dia juga menyerahkan bukti bahwa sejumlah instruksi pembayaran berasal langsung dari Galang.

Dokumen tersebut membantu memperjelas siapa yang sebenarnya mengendalikan transaksi perusahaan.

Aku menangis ketika mendengar perkembangan itu.

Untuk pertama kalinya sejak cek Rp8 miliar diserahkan kepadaku, aku merasa kebenaran mulai terlihat.

Beberapa bulan kemudian, aku menjalani proses perceraian melalui pengadilan.

Kesepakatan yang kutandatangani di restoran diperiksa kembali karena terdapat persoalan mengenai pembayaran yang tidak pernah benar-benar diterima dan dugaan penggunaan dokumen untuk tujuan lain.

Aku tidak meminta uang miliaran rupiah.

Aku hanya ingin hakku ditentukan secara sah dan kehidupan anakku kelak tidak dibayangi kebohongan.

Galang beberapa kali meminta bertemu.

Awalnya aku menolak.

Namun, ketika kandunganku memasuki bulan ketujuh, aku akhirnya menyetujuinya di kantor pengacara.

Dia datang dengan wajah lelah.

“Alya, aku dengar bayi kita sehat.”

Aku menatapnya.

“Dokter bilang perkembangannya baik.”

Galang menunduk.

“Aku ingin menjadi ayah yang baik.”

Aku menghela napas.

“Menjadi ayah yang baik tidak dimulai dengan menyembunyikan utang dan memalsukan dokumen atas nama ibu anakmu.”

Air matanya jatuh.

“Aku tahu.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Galang, aku tidak akan menghalangimu menjalankan tanggung jawab sebagai ayah sesuai ketentuan yang berlaku. Tapi aku tidak bisa kembali menjadi istrimu.”

Dia menangis.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku mengangguk.

“Semoga penyesalanmu membuatmu berhenti mengorbankan orang lain.”

Kami berpisah tanpa pelukan.

Tanpa janji untuk kembali bersama.

Hanya dengan kesadaran bahwa tidak semua hubungan bisa diperbaiki setelah kepercayaan dihancurkan.

Dua bulan kemudian, putriku lahir.

Aku memberinya nama Kirana.

Ketika pertama kali menggendongnya, aku menangis begitu keras sampai Intan ikut menangis di sampingku.

“Kenapa, Alya?”

Aku menatap wajah kecil yang tertidur dalam pelukanku.

“Karena akhirnya aku tidak takut lagi.”

Intan tersenyum.

“Kamu sudah melewati banyak hal.”

Aku mengangguk.

Namun, sebelum pulang dari rumah sakit, aku menerima sebuah amplop dari Bu Laksmi.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan.

Alya, Ibu tidak meminta kamu kembali kepada Galang.

Ibu hanya ingin meminta maaf karena pernah menganggap uang bisa menggantikan harga diri dan kehidupan seseorang.

Ibu telah menyerahkan seluruh dokumen yang Ibu miliki kepada pihak yang berwenang.

Semoga Kirana tumbuh dalam keluarga yang mengajarinya kejujuran, bukan ketakutan.

Aku membaca surat itu cukup lama.

Kemudian melipatnya kembali.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa benar-benar memaafkan Bu Laksmi.

Namun, setidaknya dia akhirnya memilih mengatakan kebenaran.

Setahun setelah pertemuan di restoran Jakarta Selatan, aku kembali melewati tempat tersebut bersama Intan.

Kami baru saja selesai mengurus beberapa keperluan Kirana.

Dari jendela mobil, aku melihat gedung restoran tempat Bu Laksmi pernah menyerahkan cek Rp8 miliar.

Aku terdiam.

Intan menoleh.

“Kamu ingat tempat itu?”

Aku tersenyum kecil.

“Bagaimana mungkin lupa?”

“Masih sakit kalau mengingatnya?”

Aku menatap Kirana yang tertidur di kursi bayi.

“Masih. Tapi sekarang rasanya berbeda.”

Intan tidak bertanya lagi.

Aku melanjutkan.

“Dulu aku merasa dibuang karena dianggap tidak sebanding dengan uang delapan miliar.”

Aku mengusap pipi Kirana perlahan.

“Sekarang aku tahu, bukan aku yang tidak berharga. Mereka saja yang mengira semua hal bisa diselesaikan dengan uang.”

Intan tersenyum.

Kami melanjutkan perjalanan.

Sore itu, langit Jakarta mulai berubah jingga.

Aku teringat bagaimana satu cek yang tidak bisa dicairkan justru membawaku menemukan transaksi mencurigakan senilai puluhan miliar rupiah.

Aku teringat bagaimana nama dan tanda tanganku digunakan untuk membuatku tampak sebagai pemilik perusahaan yang bahkan tidak pernah kukenal.

Dan aku teringat malam ketika Galang berdiri di depan apartemen, memaksaku mencairkan cek yang sebenarnya tidak memiliki dana yang bisa kuterima.

Namun, semua itu kini menjadi bagian dari masa lalu yang tidak lagi mengendalikan hidupku.

Aku mungkin tidak mendapatkan Rp8 miliar yang dijanjikan.

Aku juga kehilangan pernikahan yang pernah kupercaya akan bertahan selamanya.

Tetapi aku berhasil mempertahankan sesuatu yang jauh lebih penting.

Hak untuk menentukan hidupku sendiri.

Nama baik yang tidak boleh digunakan sebagai alat menutupi kejahatan.

Dan masa depan seorang anak perempuan yang tidak harus tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta dapat dibeli menggunakan cek.

Aku memandang Kirana sekali lagi.

Kemudian berbisik,

“Nak, Mama tidak bisa menjanjikan hidupmu selalu mudah.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

“Tapi Mama akan mengajarkan bahwa harga dirimu tidak pernah ditentukan oleh angka yang dituliskan seseorang di atas selembar kertas.”

Karena pada akhirnya, cek Rp8 miliar yang pernah digunakan untuk menyuruhku menghilang justru menjadi alasan aku menemukan keberanian untuk mempertahankan kebenaran.

Dan aku belajar bahwa ada sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada uang sebanyak apa pun.

Kebebasan untuk hidup tanpa harus menjual kejujuran dan harga diri sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang