SUAMIKU SUDAH TUJUH BULAN DINYATAKAN MENINGGAL DUNIA, TETAPI AKU

“EMPAT EMBRIO ITU MASIH DISIMPAN, ATAU SALAH SATUNYA SUDAH KALIAN GUNAKAN?”

Suaraku terdengar begitu pelan, tetapi Rendra langsung menunduk.

Bu Sinta berdiri di samping meja dengan wajah pucat. Sementara Pak Haris, notaris yang sejak tadi bersiap meninggalkan ruangan, menghentikan langkahnya.

“Jawab, Rendra!”

Suamiku menarik napas panjang.

“Nadia, aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.”

Aku tertawa pahit.

“Tujuh bulan aku menangisi kematianmu. Sekarang kamu berdiri di depanku dan mengatakan tidak bermaksud menyakitiku?”

Rendra meremas map cokelat di tangannya.

“Perempuan yang kamu lihat di klinik itu bernama Melisa.”

“Aku tidak bertanya namanya.”

Dia menelan ludah.

“Dia sedang mengandung anakku.”

Dadaku seperti dihantam batu besar.

Aku mundur hingga punggungku menyentuh dinding.

“Anakmu?”

Rendra mengangguk.

“Tapi kandungannya bukan berasal dari embrio kita.”

Aku memandang hasil laboratorium di tanganku.

“Kalau begitu, kenapa dokumen embrio kita ada di sini?”

Bu Sinta tiba-tiba menyela.

“Karena semuanya harus diselesaikan sebelum perusahaan menerima pencairan investasi berikutnya.”

Aku langsung menoleh.

“Apa hubungan embrio dengan perusahaan?”

Rendra memejamkan mata.

“Ma, cukup.”

Namun, Bu Sinta justru semakin panik.

“Kalau Nadia tidak menandatangani pengalihan saham, semua rencana kita bisa gagal!”

Aku akhirnya memahami bahwa dua persoalan itu sengaja dipertemukan dalam satu ruang.

Mereka bukan sedang membicarakan keluarga.

Mereka sedang menggunakan ketakutanku mengenai calon anak untuk menekan keputusan keuanganku.

Aku mengambil ponsel dan menelepon Farhan.

“Farhan, aku menemukan Rendra.”

Dia terdiam beberapa detik.

“Nadia, kamu aman?”

“Aku di rumah ibunya. Rendra masih hidup.”

“Jangan tanda tangani apa pun. Keluar dari sana kalau bisa.”

Aku menatap suamiku.

“Aku pergi sekarang.”

Rendra bergerak hendak menghalangi pintu, tetapi Pak Haris segera berdiri di sampingnya.

“Pak Rendra, sebaiknya jangan menghalangi Ibu Nadia.”

Aku berjalan keluar dengan kedua kaki gemetar.

Di dalam taksi, tangis yang kutahan akhirnya pecah.

Aku tidak menangis karena Rendra memiliki perempuan lain.

Aku menangis karena menyadari bahwa selama tujuh bulan, semua orang yang seharusnya menjadi keluargaku membiarkanku hidup dalam kebohongan.

Keesokan paginya, Farhan mengantarku menemui pengacara bernama Bu Ratna.

Kami menyerahkan foto Rendra, dokumen pengalihan saham, surat kematian, dan hasil laboratorium yang sempat kufoto.

Bu Ratna memeriksa semuanya dengan serius.

“Nadia, kita perlu memisahkan beberapa persoalan. Pertama, identitas dan status kematian Rendra. Kedua, kepemilikan saham. Ketiga, penggunaan data serta materi reproduksi kalian.”

Aku mengangguk.

“Apakah mereka bisa mengambil embrio itu tanpa persetujuanku?”

“Belum tentu. Kita harus mendapatkan konfirmasi langsung dari klinik mengenai status penyimpanan dan seluruh formulir persetujuan.”

Aku segera menghubungi Aruna Reproductive Center.

Melalui prosedur verifikasi identitas dan pendampingan hukum, aku mengajukan permintaan resmi untuk mengetahui status embrio yang tercatat atas namaku.

Dua hari kemudian, klinik mengundangku menghadiri pertemuan dengan bagian medis dan kepatuhan.

Tanganku berkeringat ketika memasuki ruang konsultasi.

Seorang dokter perempuan bernama dr. Karin menyambutku.

“Bu Nadia, kami sudah memeriksa catatan penyimpanan.”

Aku menahan napas.

“Apakah embrio saya masih ada?”

Dokter itu mengangguk.

“Keempat embrio yang tercatat pada data Ibu masih berada dalam penyimpanan. Berdasarkan pemeriksaan awal kami, tidak ada embrio tersebut yang dipindahkan untuk prosedur kehamilan.”

Aku langsung menutup wajah.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, aku bisa bernapas lega.

“Tapi kenapa Rendra membawa dokumen saya?”

Dr. Karin menjelaskan bahwa seseorang pernah mengajukan permintaan perubahan data kontak dan peninjauan perjanjian penyimpanan.

Permintaan tersebut menggunakan salinan identitasku.

Namun, prosesnya belum diselesaikan karena diperlukan verifikasi tambahan.

“Siapa yang mengajukan?”

“Kami sedang memeriksa asal dokumennya. Yang pasti, kami sudah mencatat keberatan Ibu dan membatasi perubahan apa pun sampai status persetujuan jelas.”

Aku mengangguk sambil menangis.

Namun, sebelum meninggalkan klinik, aku melihat Melisa duduk di ruang tunggu.

Perempuan hamil itu langsung berdiri ketika mengenaliku.

“Bu Nadia?”

Aku terdiam.

Dia menghampiriku dengan wajah tegang.

“Saya ingin bicara.”

Awalnya aku ingin menghindar.

Namun, Melisa tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat langkahku berhenti.

“Saya baru tahu minggu lalu bahwa Rendra pernah dinyatakan meninggal.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Melisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

“Dia memperkenalkan diri sebagai Reza Pramana. Katanya dia duda.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Dan kamu percaya?”

“Dia menunjukkan identitas. Saya tidak punya alasan untuk mencurigainya.”

Aku memperhatikan wajahnya.

Melisa terlihat benar-benar ketakutan.

“Bagaimana kamu tahu nama aslinya?”

“Seorang perempuan menghubungi saya dan mengirimkan foto berita kecelakaan kapal.”

“Siapa perempuan itu?”

Melisa menggeleng.

“Nomornya tidak dikenal.”

Aku menarik napas panjang.

“Apakah kamu tahu soal embrio yang disimpan di klinik?”

“Tidak. Saya datang ke sini untuk pemeriksaan kehamilan karena memiliki masalah kesehatan. Rendra yang menyarankan klinik ini.”

Aku mulai memahami bahwa Melisa mungkin bukan bagian dari rencana mereka.

Dia juga telah dibohongi.

Namun, aku belum siap mempercayai siapa pun.

Sore itu, sebuah pesan masuk dari Rendra.

“Nadia, tolong jangan melaporkan semuanya. Aku akan mengembalikan sahammu.”

Aku membalas singkat.

“Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki kesalahan, berhenti bersembunyi.”

Beberapa menit kemudian, dia menelepon.

Aku mengangkatnya dengan pengeras suara sementara Farhan duduk di sampingku.

“Nadia, aku harus menjelaskan kenapa kecelakaan itu terjadi.”

Aku terdiam.

Rendra mulai bercerita.

Tujuh bulan sebelumnya, dia memang menaiki kapal cepat menuju Karimunjawa untuk menemui calon rekan bisnis.

Namun, sebelum kapal mengalami kebakaran, dia menerima kabar bahwa penyelidikan internal perusahaan mulai menemukan transaksi bermasalah.

“Aku takut semua orang akan menyalahkanku,” katanya.

“Jadi kamu memilih berpura-pura meninggal?”

“Aku selamat setelah terpisah dari rombongan ketika keadaan kacau. Saat tahu keluarga menganggapku meninggal, aku tidak segera meluruskan kabar itu.”

Aku mengepalkan tangan.

“Kamu membiarkan aku menguburkan peti tanpa mengetahui siapa yang ada di dalamnya?”

Rendra terdiam.

“Aku tidak mengurus identifikasinya. Mama yang menangani semuanya.”

“Dan kamu tidak pernah mencari tahu?”

Tidak ada jawaban.

Aku memutuskan panggilan.

Keterangan Rendra justru menambah pertanyaan baru.

Jika dia selamat, bagaimana hasil identifikasi forensik bisa menyatakan dirinya meninggal?

Dan siapa sebenarnya orang yang jenazahnya dikuburkan dengan namanya?

Bu Ratna kemudian membantu melaporkan temuan tersebut kepada pihak berwenang.

Pemeriksaan terhadap administrasi kematian dan proses identifikasi lama pun dimulai.

Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan awal mengungkap bahwa identifikasi korban kecelakaan ternyata bermasalah.

Sejumlah barang pribadi Rendra ditemukan bersama korban yang tidak dapat langsung dikenali.

Dalam proses administrasi berikutnya, identitas korban diduga ditetapkan berdasarkan dokumen pendukung yang tidak memadai.

Bu Sinta kemudian mengurus surat kematian menggunakan berkas tersebut.

Namun, penyelidikan menemukan adanya ketidaksesuaian pada beberapa dokumen yang diajukan keluarga.

Aku hampir tidak mampu berkata-kata ketika mengetahui kenyataan itu.

Orang yang kukuburkan ternyata bukan suamiku.

Identitas korban sebenarnya masih harus dipastikan melalui pemeriksaan lanjutan.

Sementara itu, pemeriksaan keuangan perusahaan menemukan fakta lain.

PT Sagara Medika Nusantara memang menerima investasi Rp18,6 miliar.

Namun, sebagian dana tersebut dialihkan melalui beberapa perusahaan rekanan dengan transaksi yang belum memiliki bukti penggunaan yang jelas.

Rendra dan kakaknya memiliki kewenangan atas beberapa transaksi tersebut.

Bu Sinta berusaha memperoleh kepemilikan sahamku agar keluarga mereka dapat memperkuat pengendalian atas perusahaan sebelum pemeriksaan investor selesai.

Farhan menjelaskan semuanya kepadaku.

“Kalau kamu menandatangani pengalihan itu, saham delapan belas persen milikmu bisa berpindah ke Bu Sinta dengan harga yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan.”

Aku menatap dokumen lama.

“Jadi mereka ingin mengambil sahammu sekaligus membuatmu berhenti bertanya,” lanjut Farhan.

Aku terdiam.

Selama ini aku mengira diriku hanyalah istri yang ditinggalkan.

Ternyata namaku sudah bertahun-tahun tercatat sebagai pemilik sebagian perusahaan yang kini sedang diperiksa.

Namun, aku tidak ingin menggunakan saham itu untuk membalas dendam.

Aku hanya ingin hakku dilindungi dan seluruh transaksi diperiksa secara jujur.

Beberapa bulan kemudian, Rendra akhirnya datang memberikan keterangan resmi.

Dia tidak lagi bisa menggunakan identitas Reza Pramana untuk menghindari masa lalunya.

Pemeriksaan terhadap dugaan penggunaan dokumen tidak benar, transaksi keuangan, dan persoalan status kematian terus berjalan.

Bu Sinta juga harus menjelaskan perannya dalam pengurusan surat kematian serta dokumen perusahaan.

Aku tidak mengetahui kapan semua proses tersebut akan selesai.

Namun, untuk pertama kalinya, aku tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya seorang diri.

Melisa juga memilih menjauh dari Rendra setelah mengetahui kebohongannya.

Suatu sore, dia menghubungiku.

“Nadia, saya ingin meminta maaf.”

Aku terdiam.

“Kamu tidak perlu meminta maaf atas sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

Melisa menangis.

“Saya cuma ingin anak saya lahir tanpa harus hidup dalam kebohongan.”

Aku menatap langit dari jendela kamar kosku.

“Aku juga pernah menginginkan keluarga yang jujur.”

Kami terdiam cukup lama.

Kemudian Melisa berkata pelan.

“Semoga suatu hari nanti kita bisa benar-benar tenang.”

Aku mengangguk meskipun dia tidak melihatnya.

Setengah tahun setelah menemukan Rendra di klinik, aku akhirnya kembali mengunjungi rumah lama kami.

Rumah tersebut masih tercatat dalam dokumen kepemilikan yang sedang diperiksa.

Aku datang bersama pendamping hukum untuk mengambil beberapa barang pribadiku.

Di kamar tidur, aku menemukan sebuah kotak kayu kecil yang dahulu kami gunakan untuk menyimpan foto pernikahan.

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat foto kami ketika pertama kali pindah ke rumah itu.

Rendra tersenyum sambil memegang kunci.

Aku berdiri di sampingnya dengan wajah penuh harapan.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan Rendra.

Untuk Nadia, semoga rumah ini menjadi tempat kita selalu pulang.

Aku menatap tulisan itu cukup lama.

Dulu aku mempercayainya.

Aku mengira rumah tangga dibangun melalui janji yang diucapkan di depan keluarga.

Sekarang aku memahami bahwa janji tidak berarti apa-apa jika seseorang tidak memiliki keberanian untuk mempertahankannya ketika keadaan menjadi sulit.

Aku memasukkan foto tersebut ke dalam kotak.

Kemudian mengambil satu benda lain dari laci.

Hasil pemeriksaan fertilitas lama.

Dokumen yang mencatat empat embrio yang masih tersimpan.

Aku duduk di tepi tempat tidur sambil memandangnya.

Bertahun-tahun lalu, aku dan Rendra menjalani program fertilitas karena sangat ingin memiliki anak.

Kami melewati pemeriksaan panjang, suntikan hormon, dan berbagai kegagalan yang membuatku hampir menyerah.

Aku masih ingat bagaimana kami menangis ketika dokter mengatakan akhirnya terdapat empat embrio yang bisa disimpan.

Saat itu, aku mengira semuanya merupakan awal dari masa depan keluarga kecil kami.

Namun, sekarang masa depan tersebut tidak lagi terlihat seperti dahulu.

Aku menghubungi dr. Karin untuk membicarakan pilihan yang tersedia mengenai penyimpanan embrio sesuai persetujuan medis dan ketentuan yang berlaku.

Aku tidak ingin mengambil keputusan besar ketika emosiku belum pulih.

Untuk pertama kalinya, aku memilih memberi diriku waktu.

Beberapa minggu kemudian, aku pindah ke apartemen kecil dekat tempat kerja.

Aku mulai menata ulang kehidupanku.

Pekerjaanku di apotek tetap kulanjutkan.

Aku kembali mengikuti pelatihan farmasi yang sempat kutinggalkan setelah kecelakaan Rendra.

Aku juga mulai berani bertemu teman-teman lama.

Suatu sore, Farhan datang membawa kabar terbaru mengenai pemeriksaan perusahaan.

“Nadia, ada perkembangan baik.”

Aku menoleh.

“Apa?”

“Dokumen pengalihan sahammu tidak pernah selesai diproses. Kepemilikanmu masih tercatat.”

Aku mengembuskan napas lega.

Farhan tersenyum.

“Sekarang kamu bisa menentukan langkah selanjutnya melalui penasihat hukum dan keuangan tanpa tekanan dari keluarga Rendra.”

Aku mengangguk.

Namun, sebelum pulang, Farhan menyerahkan sebuah amplop.

“Ada satu dokumen lain yang mungkin ingin kamu lihat.”

Aku membukanya.

Di dalamnya terdapat salinan surat lama dari ayah Rendra yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Surat tersebut dibuat ketika PT Sagara Medika Nusantara pertama kali didirikan.

Aku membaca tulisan di bagian akhir.

Nadia diberikan saham bukan karena statusnya sebagai istri Rendra, melainkan karena kontribusinya dalam membantu membangun sistem administrasi dan pengadaan perusahaan sejak awal.

Aku langsung terdiam.

Selama ini aku mengira namaku hanya dicantumkan sebagai formalitas.

Ternyata ayah mertua laki-lakiku dahulu mengakui pekerjaanku sebagai kontribusi nyata.

Air mataku jatuh.

Aku teringat malam-malam ketika masih membantu Rendra membuat daftar pemasok, memeriksa biaya operasional, dan menyusun dokumen awal perusahaan.

Aku tidak pernah meminta imbalan.

Aku hanya ingin usaha suamiku berhasil.

Namun, seseorang ternyata melihat nilai dari seluruh pekerjaanku.

Aku melipat surat itu dengan hati-hati.

Malam harinya, aku duduk di balkon apartemen sambil memandangi lampu kota.

Di tanganku terdapat foto lama Rendra.

Aku tidak lagi menangis ketika melihat wajahnya.

Yang kurasakan hanya kesedihan karena menyadari betapa mudahnya seseorang mengorbankan kepercayaan orang lain demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Aku mengingat hari ketika melihatnya memasuki klinik fertilitas bersama Melisa.

Saat itu aku merasa seluruh hidupku kembali runtuh.

Namun, ternyata pertemuan tersebut justru membawaku menemukan kebenaran mengenai kematian palsu, saham perusahaan, dan hak atas embrio yang selama ini tidak kuketahui statusnya.

Aku perlahan meletakkan foto Rendra di atas meja.

Kemudian menyentuh hasil pemeriksaan medis yang masih kusimpan.

Aku belum tahu keputusan apa yang akan kuambil mengenai masa depan reproduksiku.

Aku juga belum tahu apakah suatu hari nanti aku akan kembali membangun keluarga dengan orang lain.

Namun, sekarang aku memahami satu hal.

Menjadi istri bukan berarti menyerahkan seluruh hak dan kehidupan kepada suami.

Dan mencintai seseorang tidak berarti harus membiarkan dirinya menentukan masa depan kita melalui kebohongan.

Aku menatap langit malam.

Tujuh bulan lalu, aku mengira telah kehilangan suamiku karena kematian.

Sekarang aku tahu bahwa yang sebenarnya hilang adalah kepercayaan.

Namun, bersama hilangnya kepercayaan itu, aku justru menemukan sesuatu yang selama ini hampir kulupakan.

Hak untuk menentukan hidupku sendiri.

Aku tersenyum kecil.

Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masa depanku tidak lagi bergantung pada apakah Rendra memilih kembali atau pergi.

Masa depan itu kini berada di tanganku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang