AKU MENYAMAR JADI PENGASUH DI RUMAH AYAHKU SENDIRI, LALU ADIK IPARKU

Aku menatap nama Nita Puspasari pada buku tabungan itu berkali-kali.

Selama ini aku mengira Nita hanya menggunakan uang yang kukirim kepada Arman. Namun, mengapa dia justru mentransfer Rp7,5 juta setiap bulan ke rekening Bapak?

“Jelaskan ini, Nita.”

Adik iparku langsung kehilangan warna wajahnya.

Arman berusaha merebut buku tabungan tersebut, tetapi aku segera menjauhkannya.

“Jangan sentuh!”

Pria berkemeja putih yang sejak tadi membawa bantalan tinta perlahan menutup mapnya.

“Pak Arman, sebaiknya proses penandatanganan ditunda sampai semuanya jelas.”

Arman menoleh dengan marah.

“Pak Doni, urusan keluarga saya bukan urusan Bapak!”

Pria itu menggeleng.

“Saya hanya diminta membawa rancangan dokumen untuk diperiksa. Tanpa persetujuan pemilik yang sah, proses ini tidak bisa dilanjutkan.”

Dia membereskan barang-barangnya dan meninggalkan ruang tamu.

Aku kembali menatap Nita.

“Setiap bulan aku mengirim Rp18 juta untuk pengobatan Bapak. Tapi sekarang kamu malah menyetor Rp7,5 juta ke rekeningnya. Uang siapa itu?”

Nita mulai menangis.

“Itu uang Bapak sendiri, Mbak.”

Aku terdiam.

“Maksudmu?”

Arman langsung membentak istrinya.

“Nita, diam!”

Namun, Nita justru menatapnya dengan mata merah.

“Cukup, Mas! Aku sudah capek menutupi semuanya!”

Dia mengambil sebuah map dari lemari televisi, lalu meletakkannya di hadapanku.

Di dalamnya terdapat perjanjian sewa sebuah ruko di kawasan Pasar Gede, Solo.

Pemilik bangunan tercantum atas nama Hadi Santoso.

Ayahku.

Nilai sewa bulanannya Rp7.500.000.

Aku langsung menegakkan tubuh.

“Bapak punya ruko?”

Bu Yati mengangguk.

“Ruko peninggalan almarhumah ibumu. Sudah disewakan bertahun-tahun.”

Aku memandang buku tabungan tersebut.

Jadi, setiap bulan Bapak sebenarnya memiliki penghasilan sendiri dari sewa ruko.

Namun, aku tidak pernah diberi tahu.

Nita mengusap air matanya.

“Penyewa membayar ke rekeningku karena Arman yang mengurus kontraknya. Setiap bulan aku memindahkan uang itu ke rekening Bapak.”

Aku mengerutkan kening.

“Lalu kenapa kalian masih meminta Rp18 juta dariku?”

Nita tidak menjawab.

Aku menoleh kepada Arman.

“Man, ke mana uang yang kukirim selama ini?”

Dia mengusap wajah.

“Dipakai untuk kebutuhan rumah.”

“Kebutuhan rumah yang mana? Bapak tidur di gudang belakang. Terapi hanya empat kali dalam tiga bulan. Obatnya bahkan banyak yang belum diminum!”

Arman membanting kunci mobilnya ke meja.

“Mbak nggak tahu susahnya mengurus orang sakit setiap hari!”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Karena itulah aku mengirim uang supaya kalian bisa membayar tenaga profesional dan memenuhi kebutuhan Bapak!”

Bu Yati tiba-tiba menyela.

“Laras, ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”

Aku menoleh.

“Bapak sebenarnya pernah meminta uang sewa ruko itu digunakan untuk membayar fisioterapi tambahan.”

Aku langsung menatap Ayah.

Dia mengangguk lemah.

“Bapak… minta… terapi.”

Suaranya terputus-putus.

Air mataku langsung jatuh.

Selama ini aku mengira kondisi Bapak memburuk karena penyakitnya.

Ternyata sebagian perawatan yang seharusnya diterimanya tidak pernah diberikan secara rutin.

Aku mendekat dan berjongkok di depan kursi rodanya.

“Pak, kenapa nggak pernah bilang ke Laras?”

Bapak menggenggam tanganku.

“Arman… bilang… kamu susah.”

Dadaku terasa sesak.

“Apa maksudnya?”

“Kerja… berat. Jangan… tambah beban.”

Aku menutup mulut.

Jadi selama ini Arman membuat Bapak percaya bahwa aku sedang mengalami kesulitan keuangan di Singapura.

Sementara kepadaku, dia mengatakan biaya perawatan Bapak terus meningkat.

Kami berdua dibohongi agar tidak saling bertanya.

Aku berdiri perlahan.

“Arman, sekarang jelaskan semuanya.”

Untuk pertama kalinya, adikku tidak membentak.

Dia hanya duduk dengan wajah tertunduk.

“Aku punya utang, Mbak.”

“Utang apa?”

“Usaha kontraktor yang kurintis dua tahun lalu gagal. Aku masih harus membayar beberapa pemasok.”

Aku menghela napas panjang.

“Berapa?”

Arman terdiam.

Nita menjawab dengan suara gemetar.

“Hampir Rp900 juta.”

Aku membeku.

“Dan cicilan vila yang kudengar kemarin?”

Nita menangis semakin keras.

“Bukan vila untuk liburan, Mbak. Arman membeli tanah dan bangunan kecil di Tawangmangu untuk dijadikan penginapan. Dia pikir bisnisnya bisa berkembang.”

Aku menatap adikku.

“Jadi uang pengobatan Bapak kamu gunakan membangun penginapan?”

Arman menunduk.

“Sebagian.”

Aku hampir kehilangan kendali.

“Sebagian berapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku segera membuka riwayat transfer di ponsel.

Selama enam bulan terakhir saja, aku sudah mengirim Rp108 juta.

Jika dihitung sejak Arman mulai meminta biaya perawatan bulanan hampir tiga tahun lalu, jumlahnya telah mencapai lebih dari Rp600 juta.

Belum termasuk Rp146 juta untuk renovasi kamar Bapak.

Aku menatap dinding ruangan belakang yang catnya mengelupas.

“Uang renovasi juga kamu pakai?”

Arman menutup wajah.

“Iya.”

Aku merasa air mataku jatuh semakin deras.

“Man, itu uang untuk membuat Bapak nyaman setelah stroke!”

“Aku pikir bisa mengembalikannya sebelum Mbak pulang!”

Aku menggeleng.

“Bapak bukan rekening darurat yang bisa kamu pinjam kapan saja!”

Ruangan mendadak sunyi.

Bapak menatap Arman dengan wajah sedih.

“Man… kenapa?”

Adikku langsung menangis.

“Maaf, Pak.”

Namun, aku tidak ingin permintaan maaf menghentikan semuanya.

Aku menghubungi seorang teman lama bernama Ratri yang bekerja sebagai pengacara di Solo.

Setelah mendengar penjelasanku, dia menyarankan agar dokumen keuangan dan urusan kepemilikan rumah diperiksa secara resmi.

Kami juga harus memastikan kondisi kesehatan Bapak sebelum membuat keputusan apa pun.

Siang itu, aku membawa Bapak ke rumah sakit bersama Bu Yati.

Dokter memeriksa tekanan darah, kondisi otot, dan kemampuan geraknya.

Menurut hasil evaluasi awal, Bapak memang masih mengalami gangguan akibat stroke.

Namun, dokter juga menemukan bahwa program rehabilitasinya tidak berjalan sesuai jadwal yang dianjurkan.

“Dengan terapi yang teratur, masih ada kemampuan yang bisa dilatih,” jelas dokter. “Kita perlu menyusun program berdasarkan kondisi beliau sekarang.”

Aku mengangguk sambil menggenggam tangan Bapak.

“Mulai sekarang saya yang akan memastikan jadwalnya, Dok.”

Bapak menatapku.

“Laras… pulang?”

Aku tersenyum sambil menangis.

“Iya, Pak. Laras sudah pulang.”

Malam harinya, aku kembali ke rumah bersama Ratri.

Arman dan Nita menunggu di ruang tamu.

Aku langsung meletakkan salinan dokumen rumah di atas meja.

“Sekarang kita bahas surat kuasa menjual ini.”

Ratri memeriksa berkas yang sudah kami peroleh secara sah.

Ternyata rumah tersebut masih tercatat atas nama Bapak.

Meskipun rumah itu dibeli bersama almarhumah Ibu, pembagian hak dan dokumen kepemilikannya tetap perlu diperiksa sebelum transaksi apa pun dilakukan.

Arman tidak bisa begitu saja menjualnya tanpa dasar kewenangan dan persetujuan yang sah.

Namun, ada sesuatu yang lebih mencurigakan.

Dalam rancangan surat kuasa, calon pembeli rumah tercatat sebagai sebuah perusahaan properti kecil.

Nama direkturnya adalah Hendra Saputra.

Aku mengenal nama itu.

Hendra merupakan teman bisnis Arman.

Ratri kemudian menunjukkan hasil penelusuran dokumen perusahaan.

Hendra dan Arman memiliki hubungan usaha dalam proyek penginapan Tawangmangu.

Aku langsung menatap adikku.

“Kamu mau menjual rumah Bapak kepada rekan bisnismu sendiri?”

Arman terdiam.

“Dengan harga Rp2,15 miliar, padahal perkiraan nilai pasarnya hampir Rp4 miliar?”

Dia menunduk.

Ratri menjelaskan bahwa nilai transaksi yang terlalu rendah belum tentu merupakan pelanggaran, tetapi hubungan para pihak dan keadaan persetujuan Bapak harus diperiksa dengan sangat hati-hati.

Aku mengambil napas panjang.

“Man, sebenarnya kamu mau melakukan apa dengan rumah ini?”

Akhirnya dia menjawab.

“Hendra menawarkan membeli rumah supaya utang usahaku bisa dilunasi. Setelah itu, katanya Bapak boleh tetap tinggal selama beberapa tahun.”

Aku hampir tertawa.

“Jadi kamu menukar rumah Bapak dengan janji lisan?”

Arman mulai menangis.

“Aku sudah kehabisan cara, Mbak.”

Aku menatapnya dengan kecewa.

“Seharusnya kamu datang kepadaku dan mengakui bahwa usahamu gagal. Bukan mengambil uang pengobatan Bapak lalu berusaha menjual rumahnya.”

Nita kemudian mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya.

“Mas Arman, aku nggak mau bohong lagi.”

Dia menyerahkan buku catatan pengeluaran rumah tangga.

Aku membukanya.

Di sana terdapat pencatatan uang yang diterima dari Arman setiap bulan.

Jumlahnya hanya sekitar Rp3 juta sampai Rp4 juta untuk kebutuhan seluruh rumah, termasuk keperluan Bapak.

Nita mengaku bahwa Arman memegang langsung rekening penerima transfer dariku.

Dia tidak memiliki akses untuk mengetahui berapa jumlah uang yang sebenarnya kukirim.

Namun, ketika aku bertanya mengapa Bapak diberikan makanan sisa, Nita menunduk.

“Itu kesalahanku, Mbak. Aku marah karena merasa semua beban rumah ada padaku. Tapi aku malah melampiaskannya kepada Bapak.”

Aku menatapnya lama.

“Bapak tidak pernah meminta tinggal di rumah kalian dengan kondisi seperti ini.”

Nita mengangguk sambil menangis.

“Aku tahu.”

“Aku bisa memahami seseorang kelelahan merawat anggota keluarga yang sakit. Tapi mempermalukan Bapak dan mengabaikan kebutuhannya bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.”

Dia tidak membantah.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Nita mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan orang lain.

Namun, aku masih ingin mengetahui alasan dia rutin memindahkan uang sewa ruko ke rekening Bapak.

“Kenapa kamu nggak menggunakan uang itu juga?” tanyaku.

Nita mengusap mata.

“Karena itu permintaan Bapak sendiri.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Bapak pernah bilang uang dari ruko harus tetap disimpan untuk Laras.”

Aku langsung menoleh kepada Ayah.

Bapak yang duduk di sampingku tersenyum lemah.

“Buat… Laras.”

Dadaku terasa hangat.

Aku menggeleng.

“Pak, Laras nggak butuh uang itu. Itu uang Bapak.”

Namun, Bu Yati tiba-tiba berkata.

“Laras, dulu Bapak pernah menceritakan alasan sebenarnya.”

Aku menoleh.

“Alasan apa?”

Bu Yati mengambil sebuah amplop dari tasnya.

“Bapak menitipkan ini dua bulan lalu. Katanya diberikan setelah kamu pulang.”

Aku membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan Bapak.

Tulisan itu tidak serapi dulu.

Beberapa huruf tampak bergetar.

Namun, aku masih mengenalinya.

Laras, Bapak tahu kamu selalu mengirim uang untuk biaya pengobatan. Bapak juga tahu kamu bekerja keras di negeri orang.

Aku mulai menangis.

Surat itu melanjutkan.

Bapak tidak ingin semua hasil kerja kerasmu habis hanya karena kamu merasa wajib membalas jasa orang tua. Kalau suatu hari Bapak tidak ada, gunakan tabungan ini untuk memulai hidup yang kamu inginkan.

Aku menutup mulut.

Bapak ternyata mengetahui bahwa aku mengirim uang.

Namun, dia tidak mengetahui jumlah sebenarnya.

Dia hanya mengira aku sedang membantu semampuku.

Karena itulah dia meminta uang sewa ruko tetap disimpan, bukan digunakan untuk keperluan usaha Arman.

Aku memeluk Bapak.

“Pak, Laras nggak butuh warisan. Laras cuma mau Bapak sehat.”

Bapak mengusap rambutku dengan tangan gemetar.

“Anak… Bapak.”

Malam itu, aku mengambil keputusan.

Bapak tidak akan lagi tinggal di kamar sempit belakang rumah.

Aku menyewa sebuah rumah satu lantai yang lebih mudah diakses kursi roda, tidak jauh dari fasilitas rehabilitasi.

Aku juga mengatur pendampingan harian oleh tenaga yang berpengalaman.

Namun, semua pembayaran dilakukan langsung melalui rekening dan tagihan yang bisa kuperiksa.

Tidak ada lagi uang pengobatan yang dititipkan tanpa rincian.

Sementara itu, Ratri membantu kami memeriksa transaksi yang diduga menggunakan dana perawatan Bapak.

Arman akhirnya menyerahkan catatan rekening dan dokumen usahanya.

Dari pencocokan awal, ditemukan bahwa sejumlah transfer dariku memang dialihkan ke pembayaran utang, biaya kendaraan, dan proyek penginapan.

Kami kemudian menuntut pertanggungjawaban dan pengembalian dana melalui proses yang sesuai.

Rancangan penjualan rumah juga tidak dilanjutkan.

Beberapa minggu kemudian, Arman datang ke rumah baru Bapak.

Dia berdiri di depan pintu sambil membawa buah.

Aku mempersilakannya masuk.

Bapak sedang menjalani latihan gerak ringan bersama terapis.

Melihat ayahnya berusaha mengangkat tangan, Arman langsung menangis.

“Pak…”

Bapak menoleh.

Arman mendekat dan berlutut di depannya.

“Maafkan Arman.”

Bapak menatapnya lama.

“Jangan… bohong… lagi.”

Arman mengangguk sambil menangis.

Aku memperhatikan mereka dari dekat.

Aku tidak tahu apakah suatu hari hubungan kami akan kembali seperti dulu.

Namun, aku tidak akan membiarkan rasa kasihan menghapus kebutuhan akan pertanggungjawaban.

Beberapa bulan berlalu.

Bapak mulai menunjukkan kemajuan kecil.

Dia dapat duduk lebih stabil.

Bicaranya menjadi lebih jelas.

Dan sesekali dia mampu berdiri dengan bantuan terapis.

Suatu Minggu pagi, aku membuatkan secangkir teh melati.

Aromanya memenuhi ruang tamu kecil.

Bapak tersenyum begitu melihat cangkir tersebut.

“Teh… melati.”

Aku tertawa sambil menghapus air mata.

“Masih ingat, Pak?”

Dia mengangguk.

“Dulu… kamu… bikin.”

Aku duduk di sampingnya.

“Iya. Setiap Minggu sebelum Laras berangkat sekolah.”

Bapak menggenggam tanganku.

Kemudian dia berkata pelan.

“Dulu… Bapak… tunggu kamu pulang.”

Aku terdiam.

“Tapi… kamu… kerja jauh.”

Air mataku jatuh.

“Laras pikir dengan mengirim uang, Bapak bisa hidup nyaman.”

Bapak menggeleng lemah.

“Bapak… cuma… mau… ketemu.”

Aku memeluknya erat.

Selama dua belas tahun, aku mengukur baktiku melalui jumlah uang yang bisa kukirim.

Aku percaya bahwa bekerja jauh dari rumah merupakan pengorbanan yang harus kulakukan untuk memberikan kehidupan lebih baik kepada keluarga.

Namun, ketika pulang, aku justru menemukan ayahku makan makanan sisa dan tidur di ruangan sempit.

Aku menyadari bahwa uang memang penting untuk pengobatan.

Tetapi uang saja tidak cukup jika orang yang menerimanya tidak jujur.

Keesokan harinya, aku menerima laporan akhir dari Ratri mengenai perhitungan dana keluarga.

Setelah memisahkan pembayaran perawatan yang benar-benar terjadi, pengeluaran rumah tangga, serta dana yang dialihkan untuk usaha Arman, terlihat bahwa kerugian yang perlu dipertanggungjawabkan mencapai ratusan juta rupiah.

Sementara itu, seluruh setoran Rp7,5 juta per bulan dari Nita ternyata berasal dari pembayaran sewa ruko milik Bapak.

Uang itu tidak berasal dari dana Rp18 juta yang kukirim.

Dana sewa tersebut disimpan terpisah sesuai permintaan Bapak.

Sekarang aku akhirnya memahami seluruh perbedaannya.

Rp18 juta per bulan adalah uang yang kukirim kepada Arman untuk pengobatan dan kebutuhan Bapak.

Sebagian digunakan sesuai tujuan, tetapi banyak yang dialihkan tanpa persetujuanku.

Sedangkan Rp7,5 juta per bulan adalah penghasilan mandiri Bapak dari sewa ruko, yang diterima Nita melalui penyewa lalu diteruskan ke rekening tabungan Bapak.

Kedua aliran uang itu tidak pernah seharusnya dicampuradukkan.

Namun, Arman memanfaatkan ketidaktahuanku tentang kondisi keuangan keluarga untuk menyembunyikan penggunaan dana yang sebenarnya.

Aku menutup laporan tersebut.

Kemudian memandang Bapak yang sedang tertidur di kursi dekat jendela.

Untuk pertama kalinya sejak pulang dari Singapura, aku tidak lagi merasa hanya menjadi seseorang yang mengirim uang dari kejauhan.

Aku kembali menjadi anak perempuan yang duduk di samping ayahnya.

Beberapa hari kemudian, aku bertanya kepada Bapak apakah dia ingin rumah lamanya dijual setelah semua persoalan selesai.

Dia menggeleng.

Kemudian berkata dengan suara pelan.

“Rumah… itu… buat pulang.”

Aku tersenyum.

“Iya, Pak. Rumah itu tetap ada.”

Bapak menatapku.

“Bukan… rumahnya.”

Aku mengerutkan kening.

“Maksud Bapak?”

Dia menggenggam tanganku.

“Kamu… yang… pulang.”

Aku terdiam.

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Selama ini aku mengira Bapak membutuhkan rumah yang lebih bagus, makanan yang lebih mahal, dan fasilitas terbaik.

Semua itu memang penting untuk kesehatannya.

Namun, ternyata ada sesuatu yang lebih sederhana dan jauh lebih berharga.

Kehadiran.

Aku mencium punggung tangannya.

“Laras sudah pulang, Pak.”

Bapak tersenyum.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa tidak perlu lagi membuktikan kasih sayangku dengan angka di bukti transfer.

Karena uang yang kukirim bisa diselewengkan.

Janji orang lain bisa dilanggar.

Bahkan rumah keluarga hampir saja berpindah tangan.

Tetapi waktu yang sekarang kuhabiskan bersama Bapak adalah sesuatu yang tidak akan kubiarkan dirampas lagi.

Aku menatap cangkir teh melati di meja.

Aromanya masih hangat.

Sama seperti dulu, ketika aku masih kecil dan belum mengenal sulitnya hidup jauh dari keluarga.

Kini aku mengerti bahwa menjadi anak yang berbakti bukan hanya tentang seberapa banyak uang yang mampu diberikan.

Melainkan juga keberanian untuk memastikan orang tua benar-benar dirawat dengan layak, dihormati, dan tidak dibiarkan sendirian ketika mereka paling membutuhkan kita.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang