SUAMIKU HILANG SELAMA DELAPAN TAHUN DI KAPAL ASING. TAPI SAAT IBU MERTUAKU

Nama Bu Lestari tercetak jelas di halaman terakhir. Aku membacanya berkali-kali, berharap ada kesalahan.

Namun, nomor identitas yang tercantum di bawah tanda tangan itu memang milik ibu mertuaku.

Aku langsung meneleponnya.

Panggilan dijawab setelah dering kelima.

“Bu, siapa yang mengganti penerima uang kiriman Arman?”

Di seberang terdengar suara napas berat.

“Nisa, kamu sudah membuka lokernya?”

“Ibu belum menjawab pertanyaanku.”

Bu Lestari terdiam.

Aku menggenggam map biru semakin erat.

“Selama delapan tahun aku mengira suamiku tidak pernah mengirim kabar. Sekarang aku menemukan bukti bahwa dia terus mengirim uang. Dan Ibu menjadi saksi perubahan penerimanya.”

“Nisa, pulanglah dulu.”

“Tidak. Aku mau tahu semuanya sekarang.”

Bu Lestari mulai menangis.

“Kalau begitu, jangan pulang sebelum kamu memeriksa ponsel itu.”

Aku membeku.

“Ibu tahu apa isinya?”

Namun, sambungan langsung terputus.

Aku menatap ponsel lama di dalam tas. Layarnya retak, bagian belakangnya dipenuhi goresan, tetapi masih terdapat stiker kecil berbentuk jangkar.

Stiker yang sama pernah ditempelkan Raka pada kotak perkakas ayahnya ketika masih kecil.

Aku membawa seluruh barang ke sebuah tempat servis ponsel di dekat terminal.

Teknisi menjelaskan bahwa baterainya sudah rusak. Setelah memastikan perangkat bisa diperiksa tanpa menghapus data, dia mengganti baterainya sementara.

Beberapa menit kemudian, layar menyala.

Ada satu video yang tersimpan dalam folder utama.

Tanggal perekamannya 14 Februari 2024.

Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.

Wajah seorang pria muncul di layar.

Rambutnya lebih panjang.

Pipinya cekung.

Ada garis kerutan di sekitar matanya.

Namun, aku langsung mengenalinya.

Arman.

Suamiku.

“Nisa, kalau kamu melihat video ini, berarti akhirnya kamu menemukan loker A-317.”

Air mataku langsung jatuh.

Dia masih hidup ketika video itu dibuat.

Arman menarik napas panjang.

“Aku tahu kamu pasti membenciku karena menghilang. Tapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui. Tiga bulan setelah kapalku kehilangan kontak, aku sebenarnya berhasil pulang ke Indonesia.”

Aku menghentikan video.

Dadaku terasa seperti dihantam benda berat.

Arman pernah pulang?

Tiga bulan setelah menghilang?

Berarti hampir delapan tahun lalu dia sebenarnya sudah berada di tanah air.

Aku kembali memutar rekaman.

“Waktu itu kapal tempatku bekerja mengalami masalah dengan perusahaan perekrutan. Beberapa awak tidak menerima upah sesuai kontrak. Dokumen kami juga sempat ditahan ketika kapal berpindah pelabuhan.”

Arman menunduk.

“Aku akhirnya bisa kembali melalui bantuan perwakilan Indonesia dan pihak yang menangani kasus kami. Aku langsung pulang ke Pekalongan.”

Aku menahan napas.

“Tapi ketika sampai rumah, Ibu mengatakan kamu sudah pergi.”

Aku membeku.

Dalam video, Arman tampak kesulitan melanjutkan kalimatnya.

“Ibu bilang kamu tidak mau lagi menungguku. Katanya kamu membawa Raka pindah bersama laki-laki lain.”

Aku langsung menangis.

Tidak mungkin.

Selama delapan tahun aku tidak pernah meninggalkan rumah.

Aku bekerja menjahit pesanan seragam sekolah dan berjualan makanan untuk membesarkan Raka.

Aku bahkan menolak beberapa lamaran karena masih berharap Arman pulang.

Arman melanjutkan.

“Aku mencoba menghubungimu. Tapi nomor yang diberikan Ibu tidak aktif. Surat yang kukirim melalui alamat lama juga kembali.”

Aku menutup mulut.

Jadi selama ini bukan hanya aku yang dibohongi.

Arman juga menerima cerita palsu tentang diriku.

Namun, ada sesuatu yang belum kumengerti.

Mengapa dia tidak datang langsung menemuiku?

Dalam video itu, Arman menjawab pertanyaanku seolah mengetahui apa yang sedang kupikirkan.

“Aku tahu seharusnya aku mencari kalian sendiri. Tapi waktu itu aku mengalami cedera serius di kaki setelah bekerja di kapal. Aku tidak bisa berjalan jauh. Aku juga masih menjalani pemulihan dan pengurusan hak upah yang tertahan.”

Dia memejamkan mata.

“Ibu menunjukkan surat yang katanya kamu tanda tangani. Isinya menyatakan kamu tidak mau lagi berhubungan denganku.”

Aku menggeleng sambil menangis.

Aku tidak pernah menandatangani surat seperti itu.

Arman kembali berbicara.

“Aku marah. Aku kecewa. Dan aku melakukan kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku percaya begitu saja tanpa memastikan langsung kepadamu.”

Aku memandangi wajahnya yang tampak jauh lebih tua.

“Namun, aku tidak pernah berhenti memikirkan Raka.”

Dalam video, Arman menjelaskan bahwa dia kemudian bekerja di sebuah bengkel mesin kapal di Semarang.

Setelah kesehatannya membaik, dia kembali bekerja sebagai teknisi untuk perusahaan pelayaran yang lebih kecil.

Sebagian penghasilannya dikirim melalui rekening yang disiapkan Bu Lestari.

“Awalnya aku mengira uang itu akan diberikan kepada Raka ketika dia dewasa,” katanya.

Aku kembali melihat buku tabungan.

Saldo Rp486.750.000.

Jumlah itu ternyata bukan keseluruhan uang kiriman Arman selama delapan tahun.

Map biru menunjukkan bahwa sebagian dana telah digunakan untuk biaya hidup, pendidikan, dan perawatan ibunya, sementara sisanya disimpan dalam rekening yang mencantumkan namaku sebagai penerima manfaat.

Namun, rekening tersebut ternyata belum pernah kuketahui keberadaannya.

Aku segera menghubungi Mira, sepupuku yang bekerja di kantor hukum.

Setelah mendengar penjelasanku, dia meminta agar aku tidak langsung menggunakan atau memindahkan uang apa pun.

“Kita harus memastikan siapa pemilik rekening, bagaimana rekening itu dibuka, dan apakah ada dokumen yang menggunakan identitasmu tanpa persetujuan,” katanya.

Aku mengangguk.

Kemudian aku kembali membuka video.

Bagian terakhir membuatku terdiam.

“Dua tahun lalu, aku akhirnya menemukan alamat sekolah Raka. Aku datang ke Solo untuk menemuinya ketika dia mengikuti kegiatan lomba.”

Aku membeku.

Raka pernah bertemu ayahnya?

Arman melanjutkan.

“Aku melihatnya dari jauh. Dia sudah besar. Aku tidak berani langsung mendekat. Aku takut dia membenciku karena menghilang.”

Air mata mengalir di pipinya.

“Aku kemudian meminta bantuan seseorang agar Raka bisa menerima surat dariku.”

Aku langsung teringat amplop yang diterima Raka dua bulan sebelumnya.

Ternyata anakku mungkin mengetahui sesuatu tentang ayahnya.

Aku segera menelepon rumah.

Raka mengangkat dengan suara cemas.

“Ibu, sudah ketemu?”

“Raka, kamu pernah bertemu Ayah?”

Hening.

Aku menahan napas.

“Raka, jawab Ibu.”

Akhirnya dia berkata pelan.

“Pernah, Bu.”

Aku merasa kedua kakiku melemas.

“Kapan?”

“Dua bulan lalu.”

Aku hampir tidak bisa berbicara.

“Kenapa kamu nggak cerita?”

Raka mulai menangis.

“Ayah bilang dia mau pulang kalau semua urusannya sudah selesai. Dia minta aku jangan bikin Ibu berharap dulu.”

Aku memejamkan mata.

“Raka, Ayahmu sekarang di mana?”

“Aku nggak tahu pasti. Tapi terakhir dia bilang sedang dirawat di Semarang.”

Dadaku langsung terasa dingin.

“Dirawat karena apa?”

“Katanya sakit paru-paru, Bu.”

Aku segera meminta Raka mengirimkan nomor yang pernah digunakan Arman untuk menghubunginya.

Nomor itu ternyata masih aktif.

Aku menelepon.

Dering pertama.

Kedua.

Ketiga.

Akhirnya seseorang menjawab.

“Halo?”

Suara perempuan.

Aku menahan napas.

“Maaf, saya mencari Pak Arman Pradipta.”

Perempuan itu terdiam.

“Hubungan Ibu dengan beliau?”

“Saya istrinya.”

Keheningan panjang terdengar di seberang.

Kemudian perempuan tersebut menjawab pelan.

“Bu, Pak Arman sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Saya perawat yang mendampinginya.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Rumah sakit mana?”

Dia menyebut sebuah rumah sakit di Semarang.

Aku langsung memesan perjalanan ke sana.

Sebelum berangkat, aku menelepon Bu Lestari sekali lagi.

Kali ini dia menjawab.

“Ibu sudah tahu aku menemukan Arman.”

Bu Lestari menangis.

“Nisa, Ibu minta maaf.”

Aku menggenggam ponsel erat-erat.

“Kenapa Ibu berbohong?”

Bu Lestari tidak langsung menjawab.

Kemudian suaranya terdengar sangat lemah.

“Karena Ibu takut kehilangan anak.”

Aku terdiam.

Dia melanjutkan.

“Waktu Arman pulang pertama kali, kondisinya sangat buruk. Dia sering sakit, sulit berjalan, dan mudah marah. Ibu takut kalau dia kembali bekerja ke luar negeri, Ibu akan kehilangan dia lagi.”

Aku menggeleng.

“Lalu kenapa Ibu bilang aku sudah menikah dengan orang lain?”

Bu Lestari menangis semakin keras.

“Ibu pikir kalau Arman kecewa kepadamu, dia akan tinggal bersama Ibu.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Jadi Ibu sengaja memisahkan kami?”

“Iya.”

Aku menutup mata.

Bu Lestari kemudian mengaku bahwa dia juga mengatakan kepadaku Arman masih hilang karena takut aku mencari tahu.

Saat Arman akhirnya memilih bekerja kembali, Bu Lestari tetap menjadi penghubung komunikasi di antara kami.

Dia mengatur uang yang dikirim Arman.

Sebagian digunakan untuk membantu kebutuhan Raka tanpa menyebut sumbernya, sebagian lagi disimpan.

Namun, setiap tahun kebohongan itu semakin sulit dihentikan.

“Aku malu mengakui semuanya,” katanya.

Aku hampir tertawa karena terlalu sakit hati.

“Bu, Ibu mengambil delapan tahun kehidupan kami.”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Raka tumbuh tanpa ayah. Aku tidur sendirian setiap malam sambil menunggu kabar. Arman hidup dengan keyakinan bahwa istrinya meninggalkannya.”

Bu Lestari terisak.

“Maafkan Ibu.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku belum bisa.”

Kemudian aku menutup telepon.

Sore itu, aku tiba di rumah sakit di Semarang.

Seorang perawat mengantarku menuju kamar perawatan.

Di balik pintu kaca, aku melihat seorang pria berbaring dengan selang oksigen.

Tubuhnya kurus.

Rambutnya mulai memutih.

Namun, aku mengenali garis wajahnya.

Arman.

Tanganku gemetar ketika membuka pintu.

Dia sedang tertidur.

Aku mendekat perlahan.

Kemudian duduk di samping tempat tidurnya.

“Mas…”

Kelopak matanya bergerak.

Beberapa detik kemudian dia membuka mata.

Dia menatapku lama.

Seolah tidak percaya.

“Nisa?”

Air mataku langsung jatuh.

“Iya, Mas.”

Arman mencoba bangun.

Aku segera membantunya.

Dia menggenggam tanganku dengan kekuatan yang tersisa.

“Kamu benar-benar datang?”

Aku mengangguk sambil menangis.

“Kenapa kamu nggak pernah mencariku?”

Arman menutup wajah.

“Aku pikir kamu sudah nggak mau melihatku.”

Aku menggeleng.

“Mas, aku menunggumu delapan tahun.”

Dia menangis.

“Aku tahu sekarang.”

Kami duduk berhadapan cukup lama.

Tidak ada kata-kata yang mampu mengembalikan delapan tahun yang hilang.

Namun, untuk pertama kalinya, kami akhirnya bisa saling mendengar tanpa melalui cerita orang lain.

Beberapa hari kemudian, Raka datang bersama Mira.

Begitu melihat ayahnya, anakku berdiri kaku di ambang pintu.

Arman langsung menangis.

“Raka…”

Putraku perlahan mendekat.

“Ayah?”

Arman mengangguk.

Raka memeluknya erat.

Aku menutup mulut sambil menangis melihat mereka.

Anak yang selama ini hanya mengenal ayahnya melalui foto akhirnya bisa memeluknya secara langsung.

Namun, kebahagiaan itu tidak menghapus kenyataan bahwa kami semua telah kehilangan waktu yang tidak mungkin dikembalikan.

Setelah kondisi Arman membaik, kami mulai menata kembali hubungan keluarga.

Mira membantu memeriksa dokumen rekening yang ditemukan di loker.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa buku tabungan tersebut merupakan catatan simpanan yang disiapkan melalui rekening dengan pengaturan khusus, tetapi status kepemilikan dan kewenangan transaksi harus diklarifikasi secara resmi karena terdapat dokumen lama yang mencantumkan namaku tanpa sepengetahuanku.

Kami juga menemukan bahwa sebagian uang yang dikirim Arman memang pernah digunakan Bu Lestari untuk kebutuhan keluarga.

Namun, tidak semua penggunaan dana memiliki catatan yang lengkap.

Aku meminta seluruhnya diperiksa secara terbuka.

Bukan semata-mata karena uang.

Melainkan karena aku tidak ingin ada kebohongan lain yang tersisa.

Suatu malam, setelah Arman mulai pulih, kami duduk bersama di teras rumah sakit.

Dia memandang langit Semarang yang mulai gelap.

“Nis, kamu masih mau pulang bersamaku?”

Aku menatapnya.

“Aku nggak tahu apakah semuanya bisa kembali seperti dulu, Mas.”

Arman mengangguk.

“Aku ngerti.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi aku mau kita mencoba. Pelan-pelan. Tanpa rahasia lagi.”

Dia tersenyum sambil menangis.

Beberapa bulan kemudian, Arman mulai tinggal bersama kami di Pekalongan setelah dokter mengizinkan.

Dia masih harus menjalani kontrol dan rehabilitasi.

Namun, setiap pagi dia duduk di meja makan bersama Raka.

Kadang membantu anak kami mengerjakan PR.

Kadang hanya mendengarkan cerita sekolahnya.

Aku memperhatikan mereka dari dapur.

Delapan tahun lalu, aku mengira kehidupan kami sudah berakhir ketika Arman menghilang di kapal asing.

Ternyata yang membuat kami benar-benar terpisah bukan hanya jarak lautan.

Melainkan kebohongan yang dibangun oleh orang yang paling kami percaya.

Suatu sore, Bu Lestari datang ke rumah.

Dia membawa kue kesukaan Raka.

Aku tidak langsung mempersilakannya masuk.

Dia berdiri di depan pagar dengan mata merah.

“Nisa, Ibu tahu Ibu sudah membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.”

Aku menatapnya.

“Ibu mengambil kesempatan kami untuk menjalani hidup sebagai keluarga.”

Bu Lestari menunduk.

“Ibu tahu.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku nggak akan melarang Ibu bertemu Raka. Tapi mulai sekarang, tidak ada lagi keputusan tentang keluargaku yang boleh diambil tanpa sepengetahuan kami.”

Dia mengangguk sambil menangis.

Aku membuka pagar.

Bukan karena semua luka sudah sembuh.

Melainkan karena aku tidak ingin kemarahan menjadi satu-satunya hal yang diwariskan kepada Raka.

Malam itu, ketika semua orang sudah pulang, aku membuka kembali kotak biskuit tempat kunci A-317 dahulu kusimpan.

Kunci tersebut kini terletak di samping foto keluarga baru kami.

Aku, Arman, dan Raka.

Dalam foto itu, suamiku masih terlihat lelah.

Namun, dia tersenyum.

Raka merangkul bahunya.

Dan aku berdiri di samping mereka.

Aku menatap foto tersebut cukup lama.

Selama delapan tahun, aku mengira kesetiaan berarti terus menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah kembali.

Namun, setelah semua yang terjadi, aku mulai memahami bahwa kesetiaan juga membutuhkan keberanian untuk mencari kebenaran.

Tidak cukup hanya percaya.

Tidak cukup hanya berharap.

Kadang kita harus membuka pintu yang selama ini sengaja dikunci orang lain.

Aku mengambil kunci A-317 dan menggenggamnya.

Benda kecil itu telah membawaku melewati rahasia, air mata, dan penyesalan.

Namun, akhirnya aku menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang ratusan juta rupiah yang tersimpan di dalam loker.

Aku menemukan kembali suamiku.

Raka menemukan ayahnya.

Dan kami bertiga mendapatkan kesempatan untuk memulai hidup yang selama ini dirampas oleh kebohongan.

Aku meletakkan kunci itu kembali ke dalam kotak.

Kemudian mematikan lampu ruang tamu.

Dari kamar sebelah, terdengar suara Raka tertawa karena Arman sedang menceritakan pengalamannya bekerja di kapal.

Aku tersenyum sambil menghapus air mata.

Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, rumah kami tidak lagi dipenuhi kesunyian.

Dan malam itu, ketika mendengar suamiku memanggil namaku dari kamar, aku akhirnya menyadari bahwa kepulangan paling berarti bukan sekadar ketika seseorang kembali melintasi lautan.

Melainkan ketika kebenaran akhirnya membuka jalan bagi sebuah keluarga untuk menemukan satu sama lain lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang