
“RENDRA KUSUMA PERNAH MENCOBA MEMBAWAKU PERGI? KENAPA IBU TIDAK PERNAH MENCERITAKANNYA?”
Aku menatap Bu Siska, kemudian beralih kepada Ibu yang berdiri mematung di belakang meja laundry.
Bu Tatik mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Karena Ibu takut kamu akan mencarinya.”
“Siapa sebenarnya dia, Bu?”
Ibu tidak menjawab.
Bu Siska perlahan mengambil sebuah foto dari kotak plastik.
Foto itu memperlihatkan seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun sedang menggendong anak perempuan kecil di depan rumah besar.
Anak perempuan itu adalah aku.
Aku mengenali gaun kuning yang kukenakan. Foto dengan pakaian yang sama masih tersimpan dalam album masa kecilku.
“Pria itu Rendra,” kata Bu Siska.
Aku menatap wajahnya.
“Kenapa dia menggendongku?”
Ibu akhirnya duduk.
“Karena dia ayah kandungmu.”
Dunia seolah berhenti bergerak.
Aku memandang Ibu tanpa berkedip.
“Ayah kandung?”
Dia mengangguk sambil menangis.
“Selama ini Ibu bilang ayahmu meninggal ketika kamu kecil. Itu tidak benar.”
Aku mundur selangkah.
Selama dua puluh enam tahun, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa ayahku sudah meninggal.
Sekarang Ibu mengatakan pria yang menawarkan beasiswa kepadaku adalah ayah kandungku sendiri.
“Kenapa Ibu berbohong?”
Bu Tatik menutup wajah.
“Karena setelah kami berpisah, dia terus berusaha mengambilmu.”
Aku kembali membaca laporan kepolisian.
“Jadi kejadian tujuh belas tahun lalu itu benar?”
Ibu mengangguk.
“Rendra datang ke sekolahmu bersama dua orang. Dia mengatakan akan mengajakmu pergi membeli hadiah. Padahal, Ibu sudah melarangnya menjemputmu tanpa pemberitahuan.”
Bu Siska melanjutkan.
“Waktu itu aku masih menjadi guru muda di sekolahmu. Aku melihat Alina menangis ketika diminta masuk ke mobil.”
Ingatan samar tiba-tiba muncul di kepalaku.
Sebuah mobil hitam.
Seorang pria yang memanggil namaku.
Dan tangan seseorang yang menggenggam pergelangan tanganku terlalu erat.
Aku merinding.
“Apa yang terjadi setelah itu?”
“Ibu datang bersama kepala sekolah,” jawab Bu Siska. “Kamu tidak jadi dibawa pergi. Setelah kejadian tersebut, ibumu membuat laporan.”
Aku menatap Ibu.
“Tapi kenapa Ayah ingin membawaku?”
Bu Tatik menghela napas panjang.
“Karena keluarga Rendra menganggap kamu harus dibesarkan di lingkungan mereka. Mereka tidak menerima keputusan Ibu untuk berpisah.”
“Kenapa Ibu meninggalkannya?”
Ibu menunduk.
“Karena hidup bersama Rendra membuat Ibu kehilangan kebebasan. Dia mengatur siapa yang boleh Ibu temui, pekerjaan apa yang boleh Ibu lakukan, bahkan kapan Ibu boleh pulang mengunjungi orang tua.”
Aku terdiam.
Namun, masih ada pertanyaan yang menggangguku.
“Lalu kenapa dia mengirim beasiswa sembilan tahun lalu?”
Bu Siska mengambil amplop kedua.
“Karena dia berhasil mengetahui sekolahmu.”
Di dalamnya terdapat beberapa surat dari Yayasan Cakrawala.
Ternyata program beasiswa yang kuterima memang diajukan secara khusus oleh Rendra.
Namun, ada satu dokumen lain yang belum pernah kulihat.
Sebuah rancangan perjanjian pendampingan pendidikan.
Aku mulai membacanya.
Beasiswa penuh.
Asrama.
Biaya hidup.
Semua terdengar sangat baik.
Sampai mataku berhenti pada ketentuan tambahan.
Penerima beasiswa diwajibkan tinggal di fasilitas yang ditentukan yayasan dan mengikuti program pembinaan langsung oleh ketua pembina.
Aku mengerutkan kening.
“Artinya aku harus tinggal di tempat yang dipilih Rendra?”
Bu Siska mengangguk.
“Itu yang membuat ibumu khawatir.”
Aku menatap Ibu.
“Tapi kenapa Ibu tidak menjelaskan semuanya? Kenapa justru mengatakan aku tidak cukup pintar untuk kuliah?”
Air mata Ibu jatuh semakin deras.
“Karena Ibu panik, Alina. Ibu takut kalau kamu tahu siapa dia, kamu akan memilih pergi bersamanya.”
Aku menggeleng perlahan.
“Jadi Ibu memilih menghancurkan kepercayaan diriku?”
Ibu menangis.
“Ibu salah.”
Aku berdiri tanpa mengatakan apa-apa.
Selama sembilan tahun, kalimat Ibu tentang anak tukang laundry terus menghantuiku.
Aku bekerja sampai kelelahan karena ingin membuktikan bahwa aku mampu.
Ternyata seluruh perjuangan itu berawal dari ketakutan yang tidak pernah dijelaskan kepadaku.
Malam itu, aku menginap di hotel kecil dekat pusat kota Malang.
Aku membutuhkan waktu untuk berpikir.
Keesokan paginya, aku menghubungi seorang pengacara bernama Pak Damar.
Aku meminta bantuan memeriksa laporan lama dan status hubungan hukum antara Ibu, Rendra, dan diriku.
Beberapa hari kemudian, kami mendapatkan salinan putusan pengadilan lama.
Ternyata setelah perceraian, pengasuhanku memang berada pada Ibu.
Rendra memiliki hak untuk membangun hubungan denganku melalui pengaturan yang berlaku, tetapi tidak berhak membawaku pergi secara sepihak.
Aku menatap dokumen itu lama sekali.
“Jadi selama ini Ibu memang memiliki alasan untuk takut?”
Pak Damar mengangguk.
“Ketakutannya memiliki dasar. Tetapi tindakan membakar surat beasiswa dan membatalkan kesempatan pendidikanmu tetap merupakan keputusan yang harus dia pertanggungjawabkan secara pribadi.”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku mampu melihat dua kenyataan sekaligus.
Ibu pernah melindungiku.
Namun, Ibu juga pernah menyakitiku.
Keduanya benar.
Seminggu kemudian, aku menerima sebuah surel dari Yayasan Cakrawala.
Pengirimnya adalah sekretaris pribadi Rendra Kusuma.
Isinya singkat.
Bapak Rendra mengetahui bahwa Ibu Alina sedang meninjau dokumen beasiswa lama. Beliau ingin bertemu untuk menjelaskan beberapa hal.
Aku membaca pesan itu berulang kali.
Kemudian menyetujuinya dengan syarat pertemuan dilakukan di kantor Pak Damar.
Rendra datang mengenakan kemeja putih dan jas abu-abu.
Rambutnya sudah banyak beruban.
Namun, wajahnya masih sama seperti pria dalam foto lama.
Begitu melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.
“Alina.”
Aku tidak menjawab.
Dia duduk di hadapanku.
“Kamu sudah besar.”
Aku menatapnya dingin.
“Saya berusia dua puluh enam tahun. Tentu saja saya sudah besar.”
Rendra menunduk.
“Ayah tahu kamu marah.”
“Jangan panggil diri Anda Ayah dulu.”
Dia langsung terdiam.
Aku kemudian mengajukan pertanyaan yang selama bertahun-tahun tidak pernah bisa kutanyakan.
“Kenapa Anda mencoba membawa saya pergi ketika saya masih kecil?”
Rendra menarik napas panjang.
“Karena waktu itu aku tidak menerima bahwa ibumu memiliki hak menentukan tempat tinggalmu.”
Aku menatapnya.
“Jadi laporan Ibu benar?”
Dia mengangguk.
“Aku tidak berhasil mengendalikan kemarahanku setelah perceraian.”
Aku merasa dadaku sesak.
“Dan beasiswa itu?”
Rendra menunduk lagi.
“Aku ingin kamu datang ke Surabaya supaya kita bisa dekat.”
“Tanpa menjelaskan bahwa Anda ayah kandung saya?”
“Aku takut kamu menolak.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi Anda dan Ibu melakukan kesalahan yang sama.”
Rendra mengangkat wajah.
“Kalian berdua membuat keputusan besar tentang hidup saya tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya saya inginkan.”
Tidak ada yang menjawab.
Aku melanjutkan.
“Saya kehilangan beasiswa. Saya harus bekerja malam hari untuk membayar kuliah. Saya hampir putus sekolah karena tidak mampu membayar biaya semester.”
Air mata Rendra jatuh.
“Aku tidak tahu kamu mengalami semuanya.”
“Karena Anda tidak pernah bertanya langsung kepada saya.”
Dia menutup wajah.
Aku kemudian mengeluarkan satu dokumen yang ditemukan Pak Damar.
Dokumen itu menunjukkan bahwa setelah pembatalan beasiswa, Yayasan Cakrawala masih mengalokasikan dana pendidikan atas namaku selama beberapa tahun.
Aku menatap Rendra.
“Uang itu digunakan untuk apa?”
Dia terlihat terkejut.
“Apa maksudmu?”
Pak Damar menyerahkan salinan laporan keuangan yayasan.
Dalam catatan tersebut, dana pendidikan atas namaku tercatat sudah dicairkan secara bertahap.
Namun, aku tidak pernah menerima satu rupiah pun.
Rendra membaca dokumen itu dengan wajah semakin pucat.
“Ini tidak mungkin.”
Aku menatapnya.
“Siapa yang mengurus pencairannya?”
Dia tidak menjawab.
Kemudian mengambil ponsel dan menghubungi bagian keuangan yayasan.
Beberapa menit kemudian, wajahnya berubah drastis.
Ternyata dana tersebut dicairkan berdasarkan laporan bahwa biaya pendidikan dan tempat tinggalku tetap dibiayai melalui program khusus.
Nama penerima administratifnya adalah seorang pengelola yayasan bernama Hendra Kusuma.
Adik kandung Rendra.
Aku membeku.
Selama bertahun-tahun, dana pendidikan yang seharusnya mendukung masa depanku ternyata tercatat telah digunakan, padahal aku membiayai seluruh kuliah sendiri.
Rendra langsung meminta pemeriksaan independen.
Beberapa minggu kemudian, audit menemukan sejumlah pencairan yang tidak memiliki bukti penggunaan sesuai laporan.
Sebagian dana dialihkan melalui rekening operasional yang dikelola Hendra.
Pemeriksaan tersebut kemudian dilanjutkan melalui prosedur resmi untuk menentukan pertanggungjawaban pihak yang terlibat.
Namun, kabar paling mengejutkan justru datang dari Ibu.
Ketika aku kembali ke laundry, Bu Tatik sedang duduk bersama Bu Siska.
Di atas meja terdapat sebuah buku tabungan lama.
Ibu menyerahkannya kepadaku.
“Ini tabungan yang Ibu kumpulkan selama sembilan tahun.”
Aku membukanya.
Saldo terakhir menunjukkan Rp126 juta.
Aku mengangkat wajah.
“Untuk apa, Bu?”
Ibu menangis.
“Ibu ingin suatu hari bisa membantumu membuka kantor arsitek sendiri.”
Aku terdiam.
“Kalau Ibu memang ingin aku berhasil, kenapa dulu Ibu melarangku kuliah?”
Bu Tatik mengusap air matanya.
“Karena dulu Ibu terlalu takut kehilanganmu. Setelah kamu pergi, Ibu baru menyadari bahwa cara Ibu mempertahankanmu justru membuatmu menjauh.”
Aku menatap perempuan yang telah membesarkanku seorang diri.
Tubuhnya kini kurus.
Tangannya kasar akibat puluhan tahun mencuci dan menyetrika pakaian.
Namun, aku tidak langsung memeluknya.
Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
“Ibu,” kataku perlahan, “aku tidak membutuhkan uang ini untuk memaafkan Ibu.”
Dia mengangguk.
“Ibu tahu.”
“Aku hanya ingin Ibu berhenti menyembunyikan kebenaran dariku.”
Bu Tatik menangis.
“Mulai sekarang Ibu akan belajar.”
Beberapa bulan kemudian, aku membantu Ibu menata ulang usaha laundry.
Bukan dengan mengambil seluruh tabungannya.
Melainkan dengan menggunakan kemampuanku sebagai arsitek untuk merancang ruang kerja yang lebih aman, terang, dan nyaman.
Aku juga membantu mencari pengelola baru agar Ibu tidak perlu bekerja terlalu berat.
Hubunganku dengan Rendra berjalan lebih lambat.
Aku bersedia bertemu sesekali, tetapi tidak langsung menerimanya sebagai bagian dekat dalam kehidupanku.
Aku ingin mengenalnya sebagai manusia, bukan sebagai ayah yang harus otomatis kumaafkan.
Sementara itu, pemeriksaan dana Yayasan Cakrawala terus berlangsung.
Aku tidak ingin menerima uang yang belum jelas asal-usul atau haknya.
Aku hanya ingin seluruh pihak bertanggung jawab atas keputusan yang pernah dibuat menggunakan namaku.
Setahun kemudian, aku membuka studio arsitektur kecil di Surabaya.
Pada hari peresmian, Bu Siska datang membawa bunga.
Ibu datang mengenakan kebaya sederhana.
Rendra juga hadir, tetapi duduk di barisan belakang sesuai permintaanku.
Aku berdiri di depan pintu studio sambil memandangi papan nama yang baru dipasang.
ALINA STUDIO ARSITEKTUR.
Air mataku langsung jatuh.
Dulu, aku pernah berdiri di depan rumah sambil membawa ransel dan uang Rp780.000.
Aku tidak tahu apakah bisa bertahan hidup di Surabaya.
Sekarang aku berdiri di depan kantor kecil yang kubangun melalui pekerjaan dan perjuanganku sendiri.
Bu Tatik menghampiriku.
“Nak, Ibu bangga sekali.”
Aku tersenyum.
“Terima kasih, Bu.”
Dia mengeluarkan sebuah amplop dari tas.
Aku langsung mengerutkan kening.
“Ini apa lagi?”
Ibu tersenyum sedih.
“Bukan uang.”
Aku membukanya.
Di dalamnya terdapat selembar kertas yang sudah menguning.
Sudutnya hangus.
Tulisan di bagian atasnya hampir tidak terlihat.
Namun, aku masih mengenali logo Yayasan Cakrawala.
Surat beasiswaku.
Atau setidaknya, bagian kecil yang tersisa darinya.
Aku menatap Ibu dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu masih menyimpannya?”
Dia mengangguk.
“Sembilan tahun lalu, setelah kamu pergi dari rumah, Ibu mengambil sisa kertas itu dari ember.”
Aku menutup mulut.
“Ibu menyimpannya karena ingin meminta maaf. Tapi setiap kali bertemu kamu, Ibu selalu takut membuka luka lama.”
Air mataku mengalir.
Aku memegang potongan surat tersebut dengan hati-hati.
Dulu aku mengira kertas itu telah berubah menjadi abu seluruhnya.
Ternyata sebagian masih bertahan.
Seperti mimpiku.
Seperti diriku.
Aku menatap Ibu.
“Aku belum bisa melupakan semuanya.”
Bu Tatik mengangguk.
“Ibu tidak meminta kamu melupakan.”
Aku menarik napas panjang.
“Tapi aku ingin kita mulai belajar bicara jujur.”
Ibu memelukku sambil menangis.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku membalas pelukannya tanpa merasa harus menyembunyikan kesedihan.
Sore itu, setelah seluruh tamu pulang, aku meletakkan sisa surat beasiswa tersebut ke dalam bingkai kaca kecil.
Kemudian menggantungnya di ruang kerjaku.
Bukan untuk mengingat penghinaan Ibu.
Melainkan untuk mengingat betapa panjang perjalanan yang telah kulewati.
Aku mungkin kehilangan kesempatan kuliah dengan beasiswa penuh.
Aku juga kehilangan sembilan tahun yang seharusnya bisa kugunakan untuk mengenal kebenaran tentang keluargaku.
Namun, aku tidak kehilangan kemampuan untuk membangun masa depan.
Aku memandang papan nama studionya sekali lagi.
Dulu, dua orang dewasa berusaha menentukan hidupku karena mereka sama-sama takut kehilangan kendali.
Sekarang aku memahami bahwa cinta tanpa kejujuran bisa berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan.
Dan perlindungan yang dilakukan dengan menghancurkan mimpi seseorang bukanlah perlindungan yang benar.
Aku mengusap bingkai surat beasiswa itu perlahan.
Kemudian tersenyum.
Karena akhirnya aku menyadari bahwa masa depanku tidak pernah bergantung pada apakah Ibu mengizinkan, Rendra membiayai, atau orang lain menganggapku pantas.
Masa depan itu dibangun dari keberanianku untuk tetap berjalan, bahkan ketika orang-orang yang paling dekat denganku pernah mencoba menghentikan langkahku.
Dan potongan surat yang hampir hangus itu kini menjadi pengingat bahwa sebuah mimpi mungkin bisa dibakar di atas kertas.
Tetapi selama pemiliknya tidak menyerah, mimpi itu tidak akan pernah benar-benar menjadi abu.
