Aku menatap Arga tanpa berkedip.

“Kak, jelaskan kenapa nama Kakak tercantum sebagai ketua yayasan yang baru berdiri tiga bulan lalu, tapi Kakak menyebutnya yayasan Papa.”
Arga menutup pintu ruanganku perlahan.
“Dira, jangan percaya semua yang kamu lihat di komputer.”
“Kalau begitu, aku harus percaya apa? Omongan Kakak?”
Dia mendekat, tetapi aku segera menggeser laptop menjauh.
Di layar ponselku, panggilan video dengan Ibu masih berlangsung. Gambarnya gelap, tetapi suara langkah kaki dan percakapan terdengar samar.
“Kezia sedang bersama Mama,” kataku.
Wajah Arga langsung berubah.
“Mama? Maksudmu?”
“Bu Sari yang bekerja di rumah Kakak itu Mama kita.”
Arga terhuyung mundur.
“Apa?”
“Dan calon istri Kakak baru saja menendangnya. Sekarang Bima mengunci Mama di dapur.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan yang tidak bisa disembunyikan kakakku.
Dia langsung mengambil ponsel.
Namun, sebelum sempat menelepon, aku mencengkeram lengannya.
“Jawab dulu. Kakak terlibat dalam pencurian uang perusahaan?”
Arga menatapku lama.
“Aku nggak mencuri uang itu.”
“Lalu kenapa nama Kakak ada di dokumen yayasan?”
“Karena aku diminta menandatanganinya.”
“Siapa yang meminta?”
Arga menelan ludah.
“Kezia.”
Aku hampir tertawa mendengarnya.
“Seorang CEO menandatangani dokumen yayasan tanpa tahu isinya?”
“Aku tahu kedengarannya bodoh.”
“Bukan bodoh, Kak. Ini bisa jadi tindak pidana.”
Arga menunduk.
Tiga bulan lalu, Kezia mengusulkan pendirian yayasan sosial untuk mengenang Papa. Dia mengatakan yayasan itu akan membiayai pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Arga menyetujuinya.
Namun, Kezia meminta agar pengelolaan administrasi diserahkan kepada Bima, yang menurutnya berpengalaman mengurus legalitas.
“Aku cuma menandatangani akta pendirian dan beberapa dokumen pembukaan rekening,” kata Arga.
“Termasuk surat kuasa transaksi?”
Arga membisu.
Aku langsung memahami jawabannya.
Saat itulah terdengar suara benturan keras dari ponselku.
Aku mengangkatnya.
“Bu! Ibu dengar aku?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara Kezia.
“Kalau perempuan tua itu sampai bicara, semuanya berantakan!”
Aku segera menghubungi petugas keamanan rumah Arga melalui telepon kantor, lalu meminta Pak Rudi menghubungi polisi. Rekaman ancaman dan tindakan kekerasan terhadap Ibu sudah kusimpan.
Arga mengambil kunci mobil.
“Aku ke rumah sekarang.”
“Aku ikut.”
Sepanjang perjalanan, aku menghubungi bank perusahaan untuk meminta penghentian sementara transaksi Rp8,9 miliar dan pemeriksaan seluruh transaksi terkait.
Untungnya, transaksi tersebut masih menunggu persetujuan terakhir dariku sebagai CFO.
Namun, sebelas transaksi sebelumnya sudah terlanjur diproses.
Total Rp21,6 miliar.
Uang sebanyak itu tidak mungkin hilang tanpa meninggalkan jejak.
Ketika kami tiba di rumah, dua petugas keamanan sudah berdiri di depan pintu dapur.
Bima tidak terlihat.
Kezia duduk di sofa sambil menangis.
Sementara Ibu berada di kursi makan, ditemani petugas keamanan perempuan. Lengannya memar dan kakinya kesakitan.
Aku langsung memeluknya.
“Bu, kita ke rumah sakit.”
Ibu mengangguk, kemudian menunjuk Kezia.
“Jangan biarkan dia pergi sebelum semuanya dijelaskan.”
Kezia mendongak.
“Arga, sayang, perempuan itu menyamar! Dia masuk rumah kita untuk mencuri!”
Arga menatapnya dingin.
“Dia ibuku.”
Wajah Kezia memucat.
“Apa?”
“Perempuan yang kamu tendang itu ibuku.”
Kezia berdiri tergesa-gesa.
“Arga, aku nggak tahu! Dia nggak pernah bilang!”
“Kalau dia benar-benar pekerja laundry, kamu merasa boleh memperlakukannya seperti itu?”
Kezia terdiam.
Aku meletakkan foto dokumen yayasan di atas meja.
“Kamu juga mau menjelaskan soal uang Rp21,6 miliar?”
Air mata Kezia mendadak berhenti.
“Aku nggak mengerti.”
“Jangan berbohong. Bima terlihat di rumah ini tadi pagi. Dia juga menyetujui sebelas vendor fiktif.”
Kezia menoleh ke arah pintu.
Aku mengenali gerakannya.
Dia sedang mencari kesempatan melarikan diri.
Namun, Ibu tiba-tiba berkata pelan.
“Dira, tanyakan tentang Pak Surya.”
Aku menatapnya.
“Siapa Pak Surya?”
Kezia langsung membeku.
Ibu mengeluarkan secarik kertas dari saku dasternya.
“Semalam, Ibu mendengar Bima menelepon seseorang. Dia menyebut nama Surya berulang kali.”
Arga mengerutkan kening.
“Surya siapa?”
Ibu memandangnya.
“Surya Mahendra.”
Arga langsung kehilangan warna wajah.
Aku semakin bingung.
Nama itu tidak asing.
Surya Mahendra adalah mantan direktur operasional perusahaan kami. Dia mengundurkan diri setelah Papa meninggal dunia.
Seingatku, Surya kemudian meninggal akibat kecelakaan mobil lima tahun lalu.
“Kenapa orang yang sudah meninggal dibicarakan dalam transaksi perusahaan?” tanyaku.
Tidak seorang pun menjawab.
Tiba-tiba, Kezia tertawa kecil.
“Kalian benar-benar nggak tahu apa-apa.”
Arga mendekatinya.
“Maksudmu?”
Kezia menggeleng.
“Sudahlah. Kalian sudah terlambat.”
Pada saat bersamaan, ponsel Kezia berdering.
Nama peneleponnya terlihat jelas.
Bima.
Aku meminta Kezia mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.
Dia menolak.
Namun, Arga yang selama ini selalu membelanya akhirnya berbicara tegas.
“Kalau kamu masih ingin menjelaskan apa pun kepadaku, angkat telepon itu.”
Dengan tangan gemetar, Kezia menurut.
Suara Bima langsung terdengar.
“Kez, aku sudah dapat aksesnya. Tapi ada masalah. Rekening tujuan diblokir.”
Kezia memejamkan mata.
Bima melanjutkan.
“Surya bilang kalau transfer terakhir gagal, kita harus pindahkan semua dokumen malam ini.”
Aku dan Arga saling berpandangan.
“Surya masih hidup?” tanyaku keras.
Telepon langsung terputus.
Kezia terduduk lemas.
Beberapa menit kemudian, polisi tiba. Aku menyerahkan rekaman, dokumen transaksi, dan informasi mengenai Bima. Kezia dibawa untuk dimintai keterangan terkait dugaan tindak kekerasan serta penyalahgunaan dana perusahaan.
Ibu kami bawa ke rumah sakit terlebih dahulu. Dokter memastikan tidak ada patah tulang, tetapi Ibu membutuhkan perawatan untuk memar dan cedera jaringan lunak.
Malam itu, ketika Arga sedang menunggu hasil pemeriksaan, Ibu memanggilku mendekat.
“Dira, ada sesuatu yang belum Ibu ceritakan.”
Aku duduk di samping tempat tidurnya.
“Tentang Surya?”
Ibu mengangguk.
“Lima tahun lalu, Ibu pernah menerima surat dari seseorang yang mengaku melihat Surya di Singapura.”
“Kenapa Ibu nggak bilang?”
“Karena Ibu pikir itu penipuan. Sertifikat kematian Surya sudah diterbitkan. Keluarganya juga sudah mengadakan pemakaman.”
Aku terdiam.
“Namun, tiga bulan lalu, Ibu melihat foto laki-laki yang sangat mirip Surya di ponsel Kezia.”
Itulah alasan sebenarnya Ibu mulai mencurigai calon menantunya.
Bukan semata-mata karena sikap Kezia yang terasa dibuat-buat.
Ibu pernah melihat Kezia menghapus sebuah foto ketika Arga masuk ruangan. Sebelum foto itu menghilang, Ibu sempat mengenali wajah Surya.
Keesokan harinya, aku menghubungi pengacara perusahaan dan meminta pemeriksaan forensik digital atas sistem pembayaran.
Hasil awalnya mengejutkan.
Token lama milik Papa ternyata tidak digunakan dalam bentuk perangkat fisik.
Seseorang telah memakai kredensial cadangan yang tersimpan dalam sistem pemulihan lama. Akses tersebut seharusnya sudah dicabut setelah Papa meninggal, tetapi tidak pernah benar-benar dinonaktifkan.
Yang lebih mengerikan, aktivitas pertama kredensial itu muncul enam bulan lalu.
Tepat ketika Bima mulai menyetujui vendor baru.
Pak Rudi menemukan bahwa seluruh pembayaran mengalir melalui beberapa perusahaan perantara sebelum mencapai rekening yang dikendalikan pihak penerima akhir.
Salah satu rekening perantara pernah digunakan untuk membayar sewa apartemen di kawasan Pakuwon Indah, Surabaya.
Nama penyewanya adalah seorang pria bernama Adrian Wijaya.
Aku hampir mengabaikan nama itu.
Sampai Pak Rudi menunjukkan foto identitas yang digunakan untuk mendaftar.
Wajahnya berbeda karena rambut dan janggutnya, tetapi bentuk mata serta bekas luka di dekat alis kiri sangat kukenal.
Itu Surya Mahendra.
Pria yang kami kira sudah meninggal.
Aku segera menyerahkan informasi tersebut kepada penyidik.
Dua hari kemudian, polisi menemukan Bima bersembunyi di sebuah penginapan di Malang. Dari pemeriksaan awal, penyidik memperoleh petunjuk mengenai keberadaan Adrian alias Surya.
Namun, ketika petugas mendatangi apartemennya, tempat itu sudah kosong.
Di dalamnya hanya ditemukan beberapa dokumen bekas dan sebuah foto lama.
Foto itu memperlihatkan Papa, Surya, dan seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
Perempuan tersebut bukan Mama.
Di belakang foto tertulis tanggal tujuh tahun lalu.
Aku menunjukkan foto itu kepada Ibu.
Tangannya langsung gemetar.
“Bu, siapa perempuan ini?”
Ibu memandang foto tersebut lama sekali.
“Namanya Laras.”
“Siapa dia?”
Ibu menghela napas berat.
“Dulu dia bekerja sebagai sekretaris Papa.”
Aku merasa ada sesuatu yang lebih besar daripada pencurian uang perusahaan.
“Kenapa dia menggendong bayi bersama Papa?”
Ibu menutup mata.
“Karena bayi itu anak Papa.”
Dunia seolah berhenti.
Aku menatap Ibu dengan mulut terbuka.
“Papa punya anak lain?”
Ibu mengangguk perlahan.
“Papa mengakuinya sebelum meninggal. Tapi Ibu meminta hubungan itu tidak diumumkan karena kalian masih terlalu muda.”
Aku tidak tahu harus marah kepada siapa.
Papa sudah meninggal.
Ibu menyimpan rahasia selama bertahun-tahun.
Dan sekarang, uang perusahaan dicuri oleh orang-orang yang berkaitan dengan masa lalu keluarga kami.
“Anaknya sekarang di mana?”
Ibu menggeleng.
“Ibu nggak tahu. Setelah Papa meninggal, Laras pindah. Kami kehilangan kontak.”
Malam itu, aku memandangi foto tersebut berjam-jam.
Aku memperbesar wajah bayi yang digendong Laras.
Kemudian memperhatikan tahun pengambilan foto.
Jika bayi itu masih hidup, usianya sekarang sekitar tujuh tahun.
Aku teringat sesuatu yang pernah dikatakan Kezia saat pertama kali datang ke rumah kami.
Dia bercerita bahwa ayah kandungnya meninggal ketika dirinya kecil, sementara ibunya membesarkannya sendirian.
Namun, Kezia sudah berusia dua puluh delapan tahun.
Berarti dia jelas bukan bayi dalam foto itu.
Lalu mengapa Surya menggunakan Kezia untuk mendekati Arga?
Jawabannya datang dari sebuah dokumen yang ditemukan penyidik ketika menelusuri berkas milik Bima.
Dokumen itu berupa salinan perjanjian lama antara Papa dan Surya.
Di dalamnya tertulis bahwa Surya pernah memegang tanggung jawab atas pengelolaan dana investasi pribadi Papa senilai Rp21,6 miliar.
Nilainya persis sama dengan total transaksi vendor mencurigakan.
Aku membaca perjanjian tersebut berulang kali.
Ada satu klausul penting.
Jika dana tersebut terbukti berasal dari kepentingan pribadi, bukan operasional perusahaan, maka kewajiban pengembaliannya harus diselesaikan melalui harta pribadi para pihak sesuai perjanjian.
Surya rupanya sedang berusaha mengambil uang perusahaan untuk mengganti dana pribadi yang dahulu dipercayakan kepadanya.
Namun, ada pertanyaan yang belum terjawab.
Kenapa dia menunggu tujuh tahun?
Dan apa hubungannya dengan Kezia?
Tiga hari kemudian, penyidik memanggil kami.
Kezia akhirnya mengakui bahwa Surya adalah ayah tirinya.
Dia mengenalnya sejak remaja.
Surya yang merencanakan perkenalannya dengan Arga dalam sebuah acara amal.
Kezia diminta mendekati kakakku, memenangkan kepercayaannya, lalu membujuknya mendirikan yayasan.
Bima bertugas membuat vendor fiktif dan mengatur pembayaran.
Sementara Surya mengendalikan rekening penampung dari balik layar.
“Kezia tahu semuanya?” tanyaku.
Penyidik mengangguk.
“Dia mengakui sebagian perannya. Namun, kami masih memeriksa keterangannya dan menelusuri aliran dana.”
Aku merasa mual.
Arga, yang duduk di sebelahku, hanya menatap lantai.
Pernikahan yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan akhirnya dibatalkan.
Namun, penyelidikan belum selesai.
Dari keterangan Bima, polisi memperoleh alamat sebuah rumah di Batu yang pernah digunakan Surya untuk bertemu para perantara.
Di sanalah penyidik menemukan dokumen paling mengejutkan.
Sebuah surat wasiat lama milik Papa.
Aku dipanggil bersama Arga dan Ibu untuk memeriksa salinannya.
Surat tersebut menyebutkan bahwa Papa pernah mengalokasikan dana pribadi melalui perjanjian khusus untuk menjamin masa depan seorang anak perempuan bernama Naila.
Aku menahan napas.
“Naila itu anak Papa?”
Ibu mengangguk sambil menangis.
Namun, penyidik kemudian menjelaskan bahwa surat itu belum cukup untuk menentukan hak kepemilikan dana ataupun membenarkan transaksi perusahaan yang dilakukan Surya.
Aku mengerti.
Apa pun konflik masa lalu mereka, uang perusahaan tidak boleh digunakan sesuka hati.
Beberapa minggu kemudian, Surya berhasil ditemukan dan ditangkap ketika berusaha berpindah tempat persembunyian.
Dalam pemeriksaan, dia mengakui telah merekayasa kematiannya dengan bantuan sejumlah pihak, menggunakan identitas baru, dan membangun jaringan perusahaan perantara.
Namun, dia terus bersikeras bahwa uang Rp21,6 miliar tersebut merupakan dana yang dahulu dijanjikan Papa untuk Naila.
Aku menemuinya sekali, didampingi pengacara dan penyidik.
“Kalau memang uang itu untuk Naila, kenapa kamu harus mencurinya?”
Surya tersenyum pahit.
“Karena keluargamu menutup semua jalan.”
“Kalau kamu punya bukti, kamu bisa menuntut secara hukum.”
Dia menunduk.
“Aku tahu.”
“Jadi, kenapa melakukan semua ini?”
Surya terdiam lama sebelum menjawab.
“Karena aku juga mengambil sebagian uang itu dulu. Aku takut kalau semuanya dibuka, kesalahanku ketahuan.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat alasan sebenarnya.
Bukan semata-mata memperjuangkan hak seorang anak.
Surya ingin menutup kesalahannya sendiri dengan uang yang dicuri dari perusahaan kami.
Enam bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.
Perusahaan menjalani audit independen. Sejumlah rekening yang berkaitan dengan transaksi mencurigakan dibekukan melalui proses hukum, dan sebagian dana berhasil diamankan untuk kemungkinan pemulihan kerugian.
Kasus Kezia, Bima, dan Surya terus diproses sesuai keterlibatan masing-masing.
Arga mengundurkan diri sementara dari jabatan CEO sampai pemeriksaan tata kelola selesai.
Aku mengambil alih tanggung jawab operasional bersama jajaran direksi.
Namun, perubahan terbesar justru terjadi di rumah.
Ibu akhirnya menceritakan seluruh kebenaran tentang Papa dan Laras.
Kami mencari Naila melalui jalur hukum yang sesuai.
Ketika akhirnya bertemu, anak perempuan itu ternyata tinggal bersama ibunya di sebuah rumah sederhana di Yogyakarta.
Laras tidak pernah mengetahui rencana Surya.
Dia juga tidak pernah meminta uang perusahaan kami.
Yang dia inginkan hanya agar Naila bisa bersekolah dengan tenang.
Saat pertama kali bertemu, Naila datang bersama ibunya. Dia membawa buku gambar dan memperhatikan kami dengan rasa ingin tahu.
Aku tidak langsung memeluknya.
Aku hanya berjongkok dan memperkenalkan diri.
“Halo, Naila. Aku Dira.”
Anak itu tersenyum malu.
“Kata Mama, Kak Dira keluargaku.”
Aku menoleh kepada Laras.
Perempuan itu mengangguk sambil menangis.
Aku kembali memandang Naila.
“Iya, Sayang. Kita keluarga.”
Di perjalanan pulang, Arga duduk diam di sebelahku.
Kemudian dia berkata pelan.
“Aku hampir menikahi perempuan yang ingin menghancurkan keluarga kita.”
Aku menggeleng.
“Bukan cuma Kezia yang hampir menghancurkan keluarga ini, Kak.”
Arga menatapku.
“Rahasia, keserakahan, dan kebiasaan kita mempercayai seseorang tanpa memeriksa tindakannya juga ikut membuat semuanya terjadi.”
Dia mengangguk.
Beberapa bulan kemudian, Ibu kembali mengunjungi kantor.
Kali ini bukan dengan rambut palsu, masker, atau seragam laundry.
Dia datang sebagai komisaris utama.
Dalam rapat pertama setelah pemulihan tata kelola perusahaan, Ibu mengusulkan pembentukan mekanisme perlindungan pekerja, jalur pelaporan kekerasan, dan audit berkala atas seluruh kewenangan pembayaran.
Ketika seorang direktur bertanya mengapa perlindungan pekerja menjadi prioritas, Ibu menjawab dengan tenang.
“Karena saya pernah menjadi orang yang dianggap tidak punya harga diri hanya karena memakai seragam pekerja laundry.”
Ruangan langsung hening.
Ibu melanjutkan.
“Saya bisa membuka identitas dan kembali menjadi komisaris. Tapi jutaan pekerja lain tidak punya kemewahan itu.”
Aku menatap perempuan yang selama ini kukenal sebagai sosok paling tegas dalam keluarga.
Hari itu, aku melihat sisi lain dari keberaniannya.
Bukan keberanian menyamar untuk membongkar penipuan.
Melainkan keberanian mengakui bahwa kekuasaan sering membuat seseorang lupa menghormati orang lain.
Setelah rapat selesai, Ibu menghampiriku.
“Dira, kamu masih marah karena Ibu menyembunyikan Naila?”
Aku terdiam sejenak.
“Masih ada yang sulit kuterima, Bu. Tapi aku ingin kita berhenti menyembunyikan kebenaran.”
Ibu menggenggam tanganku.
“Ibu juga.”
Aku tersenyum tipis.
Dulu, aku mengira musuh terbesar keluarga kami adalah perempuan yang akan menikahi kakakku.
Ternyata, ancaman sebenarnya jauh lebih rumit.
Ada kebohongan yang diwariskan, kepercayaan yang disalahgunakan, dan keserakahan yang bersembunyi di balik nama orang yang sudah meninggal.
Namun, dari semua yang terjadi, satu hal paling membekas dalam ingatanku.
Kezia tidak tahu bahwa petugas laundry yang ditendangnya adalah seorang komisaris kaya raya.
Dan justru di situlah dia memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.
Sebab, karakter seseorang tidak terlihat dari caranya memperlakukan orang yang bisa memberinya keuntungan, melainkan dari caranya menghormati mereka yang dianggap tidak memiliki kekuasaan apa pun.
