Kotak putih itu berada di tanganku.
Tidak besar.
Tidak dihias pita mewah seperti hadiah-hadiah lain.
Namun justru kotak itulah yang akan mengakhiri semua sandiwara selama sepuluh tahun.
Semua mata tertuju kepadaku.
Rafael menyeringai.
“Silakan. Bukalah. Jangan bilang istri mandulku akhirnya belajar memberi hadiah.”
Terdengar tawa kecil di antara para tamu.

Aku mengangkat mikrofon.
“Sebelum hadiahnya dibuka, aku ingin mengucapkan selamat kepada Rafael dan Clara.”
Clara tersenyum puas.
“Tidak mudah menjadi perempuan ketiga,” lanjutku tenang. “Jadi aku kagum karena Clara berhasil mendapatkan tempat di rumah ini.”
Beberapa tamu mulai saling berpandangan.
Mereka merasa ada sesuatu yang tidak biasa.
Rafael mengerutkan dahi.
“Sudah, jangan banyak bicara.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Perlahan aku membuka kotak itu.
Bukan gelang emas.
Bukan cek bernilai ratusan juta.
Melainkan sebuah map cokelat dengan logo sebuah laboratorium genetika terkenal.
Aku mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Hasil tes DNA.”
Ruangan mendadak sunyi.
Rafael tertawa keras.
“DNA? Untuk apa?”
“Untuk memastikan siapa ayah dari bayi yang sedang dikandung Clara.”
Suasana langsung membeku.
Senyum Clara perlahan menghilang.
Ny. Ratna berdiri dari kursinya.
“Apa maksudmu?”
Aku menatap Rafael.
“Beberapa bulan yang lalu, saat Clara mulai tinggal di rumah ini, aku menemukan beberapa helai rambutnya di kamar tamu.”
“Jadi?”
“Aku juga menyimpan sikat rambut Rafael.”
Rafael mulai kehilangan senyum.
“Itu cukup untuk dilakukan pemeriksaan pendahuluan.”
Seorang tamu berbisik,
“Dia sudah melakukan tes sejak lama?”
Aku mengangguk.
“Tapi hasil awal belum cukup kuat.”
Aku membuka halaman berikutnya.
“Karena itu aku meminta bantuan dokter kandungan yang menangani Clara.”
Clara langsung pucat.
“Kamu… kamu tidak mungkin…”
“Aku tidak menyuruh siapa pun melanggar hukum.”
Aku tersenyum tipis.
“Clara sendiri yang menandatangani formulir pemeriksaan tambahan karena mengira itu bagian dari pemeriksaan kehamilan.”
Semua orang mulai ribut.
Rafael merampas map itu.
Tangannya gemetar ketika membaca kalimat yang dicetak tebal.
Probability of paternity: 0%.
Wajahnya langsung memutih.
“Tidak mungkin!”
“Tidak mungkin!”
Ia membolak-balik semua halaman.
“Ini palsu!”
Aku mengeluarkan amplop kedua.
“Kalau menurutmu palsu, laboratoriumnya juga hadir hari ini.”
Seorang pria berjas yang sejak tadi duduk di barisan belakang berdiri.
Ia memperlihatkan kartu identitasnya.
“Saya dokter konsultan genetika dari laboratorium.”
“Kami telah melakukan verifikasi ulang sebanyak dua kali.”
“Hasilnya tetap sama.”
“Bapak Rafael Santoso bukan ayah biologis bayi tersebut.”
Ruangan langsung meledak.
“Astaga…”
“Jadi bayi itu bukan anak Rafael?”
“Wah…”
Ny. Ratna hampir terjatuh.
Ia menatap Clara dengan mata merah.
“Ini bohong, kan?”
Clara mundur beberapa langkah.
Air matanya mulai jatuh.
“Aku…”
Rafael mengguncang bahunya.
“Jawab!”
“Siapa ayahnya?”
Clara menangis histeris.
“Aku… aku tidak sengaja…”
PLAK!
Tamparan Rafael menggema di seluruh ruangan.
“Katakan!”
Clara menutup wajahnya.
“Aku memang bertemu seseorang…”
“Bukan cuma Rafael…”
“Aku juga…”
Ia tidak sanggup melanjutkan.
Semua tamu sudah mengerti.
Rafael ternyata bukan satu-satunya pria dalam hidup Clara.
Ny. Ratna menjerit.
“Kamu menipu keluarga kami!”
Clara menangis semakin keras.
“Aku benar-benar mengira bayinya anak Rafael!”
Rafael tertawa seperti orang kehilangan akal.
“Jadi selama ini…”
“Aku mengusir istriku…”
“Menghina Alyssa…”
“Mengadakan pesta…”
“…untuk anak laki-laki lain?”
Beberapa rekan bisnisnya mulai diam-diam mengambil ponsel.
Ada yang merekam.
Ada yang mengirim pesan.
Dalam hitungan menit, reputasi keluarga Santoso runtuh di depan mata.
Namun aku belum selesai.
Aku mengambil map ketiga.
“Masih ada satu hadiah lagi.”
Rafael menatapku dengan napas memburu.
“Apa lagi?”
Aku mengeluarkan hasil pemeriksaan rumah sakit.
Sepuluh tahun lalu.
Dokumen itu kusimpan rapat-rapat.
“Dulu aku selalu percaya bahwa akulah penyebab kami tidak memiliki anak.”
Aku mengangkat hasil pemeriksaan.
“Tapi tiga bulan yang lalu aku menemukan sesuatu.”
Aku menatap seluruh tamu.
“Rafael pernah menjalani pemeriksaan kesuburan secara diam-diam.”
“Ternyata…”
“…yang mengalami infertilitas berat bukan aku.”
Semua orang terdiam.
Aku membacakan kalimat terakhir dalam laporan itu.
“Jumlah sel sperma hampir nol.”
Ny. Ratna langsung membeku.
“Tidak…”
“Itu tidak mungkin.”
Aku tersenyum pahit.
“Selama sepuluh tahun aku dihina sebagai perempuan mandul.”
“Padahal yang sebenarnya tidak bisa memiliki anak…”
Aku menatap Rafael tepat di matanya.
“…adalah suamiku sendiri.”
Rafael terduduk lemas.
Wajahnya kehilangan seluruh warna.
Ia akhirnya mengingat sesuatu.
Beberapa tahun lalu memang pernah ada pemeriksaan kesehatan perusahaan.
Dokter pernah memintanya kontrol kembali.
Namun karena malu, ia menyembunyikan hasilnya.
Diam-diam ia justru menyalahkan istrinya.
Kini semua kebohongan itu terbongkar.
Satu per satu tamu meninggalkan pesta.
Beberapa rekan bisnis Rafael bahkan menolak berjabat tangan.
Salah seorang berkata pelan,
“Kalau kepada istrinya sendiri dia bisa berbohong selama sepuluh tahun, bagaimana kami bisa percaya bekerja sama dengannya?”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan apa pun.
Aku mengambil tas kecilku.
Di dalamnya sudah tersimpan paspor, rekening baru, dan surat gugatan cerai yang sudah kutandatangani sejak seminggu sebelumnya.
Aku berjalan menuju pintu.
“Alyssa…”
Suara Rafael terdengar lirih.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun…
ia memanggil namaku tanpa amarah.
“Tolong… jangan pergi.”
Aku berhenti sejenak.
Tanpa menoleh.
“Aku memang menyiapkan baby shower ini.”
“Tapi sebenarnya…”
“…yang sedang kita rayakan bukan kelahiran anakmu.”
Aku tersenyum tipis.
“Melainkan kelahiran kembali hidupku.”
Lalu aku melangkah keluar dari rumah itu.
Di belakangku masih terdengar suara tangisan Clara, jeritan Ny. Ratna, dan Rafael yang terduduk di atas panggung yang kini dipenuhi balon-balon biru dan merah muda.
Dekorasi pesta itu masih tampak indah.
Namun keluarga Santoso…
telah hancur sebelum bayi itu sempat lahir.
