Om, tolongin nenek saya, Om. Nenek pingsan di jalan, terus dibuang sama ayah di tong sampah

Tangan Baskara membeku.

Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. Suara kendaraan di jalan raya, rintik air yang masih menetes dari atap seng, bahkan isak tangis Bumi seperti menghilang.

“N… Nenek?”

Bibirnya bergetar.

Tidak.

Bukan nenek.

“Ma…”

Suara itu pecah begitu saja.

Wanita tua di pelukannya adalah perempuan yang selama lima tahun terakhir dinyatakan hilang tanpa jejak.

Saraswati.

Ibu kandungnya.

Wajah yang selama ini hanya bisa ia lihat lewat foto lama kini berada tepat di hadapannya, tetapi dalam keadaan yang begitu mengenaskan hingga nyaris tak bisa dikenali.

“Ya Tuhan…”

Baskara memeluk tubuh kurus itu semakin erat.

“Ibu… ini Baskara… Bu…”

Kelopak mata wanita tua itu bergerak pelan.

Bibirnya yang pecah-pecah berusaha membuka.

“…Ka…”

Suara itu begitu lirih.

“…Baska…”

Air mata Baskara langsung jatuh.

Lima tahun.

Selama lima tahun ia menyewa detektif terbaik.

Menghabiskan miliaran rupiah.

Menyebarkan pengumuman ke berbagai kota.

Tidak ada hasil.

Dan malam ini…

Ibunya ditemukan di dalam tong sampah.


“Mobil sekarang!”

Suara Baskara menggelegar.

Seluruh pengawal berlari.

“Siapkan dokter terbaik! Tutup IGD VIP! Tidak boleh ada yang menghalangi!”

“Baik, Pak!”

Baskara mengangkat tubuh ibunya sendiri.

Tidak peduli jas Armani seharga puluhan juta kini penuh darah, lumpur, dan sampah.

Bumi ikut berlari di sampingnya sambil terisak.

“Nenek… jangan tinggalin Bumi…”

Saat hendak masuk ke mobil, Baskara menoleh.

“Kamu ikut.”

Bumi menggeleng panik.

“Ayah nanti marah…”

“Mulai detik ini,” suara Baskara dingin, “tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhmu.”


Rumah Sakit Mandala Internasional.

Seluruh rumah sakit mendadak gempar.

Direktur utama sendiri turun ke lobi.

“Pak Baskara!”

“Selamatkan ibu saya.”

Direktur tercengang.

“Ibu…?”

Baskara hanya menunjuk perempuan renta yang tubuhnya penuh luka.

“Tidak peduli berapa biayanya.”

“Lakukan sekarang.”

Lima dokter spesialis langsung masuk ke ruang tindakan.

Baskara berdiri di luar.

Tangannya penuh darah.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, pria yang dikenal sebagai CEO paling dingin di Jakarta itu tidak mampu berdiri tegak.

Ia terduduk di lantai koridor.

Menutupi wajahnya.

Menangis.


Dua jam kemudian.

Dokter keluar.

“Kondisinya kritis.”

“Ada benturan keras di kepala.”

“Tulang rusuk retak.”

“Gizi buruk berat.”

“Dan…”

Dokter berhenti.

“Sepertinya beliau sudah mengalami penyiksaan dalam waktu yang cukup lama.”

Mata Baskara berubah merah.

“Disiksa?”

“Iya.”

“Ada bekas luka lama.”

“Luka bakar.”

“Bekas ikatan di pergelangan tangan.”

“Bahkan beberapa tulang yang pernah patah tidak pernah mendapatkan penanganan.”

Setiap kalimat dokter seperti menghantam dada Baskara.

Siapa…

Siapa yang tega melakukan semua ini kepada ibunya?


Di ruang tunggu.

Bumi duduk memeluk lututnya.

Perutnya berbunyi pelan.

Baskara mendekat.

“Kamu belum makan?”

Bumi menggeleng.

“Nenek bilang uangnya buat beli obat.”

“Kalau Bumi lapar, minum air putih saja.”

Kalimat sederhana itu membuat Baskara tercekat.

Ia memanggil asistennya.

“Lima menit.”

“Saya mau semua makanan terbaik ada di sini.”

Lima menit kemudian, meja penuh makanan.

Ayam.

Sup.

Susu.

Buah.

Roti.

Namun…

Bumi hanya mengambil satu roti kecil.

Sisanya ia bungkus memakai tisu.

Baskara memperhatikan.

“Kenapa tidak dimakan?”

“Buat Nenek.”

“Nanti kalau Nenek bangun pasti lapar.”

Air mata Baskara kembali jatuh.

Anak sekecil ini…

Masih memikirkan orang lain.


“Di mana orang tuamu?”

Pertanyaan itu membuat Bumi menunduk.

“Ayah kerja.”

“Kerja apa?”

“Kadang narik.”

“Kadang judi.”

“Kalau kalah…”

Suara Bumi mengecil.

“…Ayah mukul Nenek.”

Baskara mengepalkan tangan.

“Terus Ibu?”

Bumi diam cukup lama.

Lalu menjawab pelan.

“Ibu sudah meninggal.”

“Kata Ayah karena capek hidup sama kami.”

Kalimat itu menusuk hati Baskara.

“Namanya siapa?”

“Ibu?”

“Iya.”

“Naya.”

Jantung Baskara berhenti berdetak.

“…Apa?”

“Ibu Bumi namanya Naya.”

Dunia seperti runtuh dalam satu detik.

Baskara mematung.

Napasnya memburu.

Tangannya perlahan gemetar.

“Nama lengkap ibumu?”

“Naya Larasati.”

Nama itu…

Adalah nama istrinya.

Istri yang lima tahun lalu dinyatakan meninggal dalam kecelakaan pesawat.

Tidak mungkin.

Mustahil.

Baskara menatap wajah Bumi sekali lagi.

Kini bukan hanya matanya.

Cara anak itu tersenyum kecil.

Lekuk hidungnya.

Bentuk dagunya.

Semuanya…

Begitu mirip dirinya sendiri.

Sebuah firasat mengerikan mulai memenuhi pikirannya.

Ia mengeluarkan ponsel.

Membuka foto terakhir bersama Naya.

Lalu membandingkannya dengan wajah Bumi.

Tangannya semakin gemetar.

Pengawal yang berdiri di belakang bahkan ikut terdiam.

Kemiripan itu…

Terlalu jelas untuk disebut kebetulan.

Saat itulah ponsel Baskara berdering.

Nama yang muncul di layar membuat sorot matanya langsung berubah dingin.

Arga.

Kepala divisi keamanan keluarganya.

Begitu telepon diangkat, suara Arga terdengar tergesa-gesa.

“Pak… kami baru menemukan sesuatu dari arsip kecelakaan pesawat lima tahun lalu.”

“Apa?”

“Data DNA korban… ternyata ada satu jenazah yang identitasnya tertukar.”

Baskara berdiri perlahan.

Jantungnya berdetak semakin keras.

“Dan yang lebih mengejutkan lagi…”

Arga menarik napas panjang.

“Kami menemukan rekaman CCTV lama dari rumah sakit pada malam kecelakaan. Di rekaman itu terlihat jelas… istri Bapak sebenarnya masih hidup saat dibawa keluar dari ambulans.”

Baskara membelalakkan mata.

“Mustahil…”

“Belum selesai, Pak.”

“Sepuluh menit setelah ambulans tiba…”

“…ada seseorang yang membawa Nyonya Naya keluar melalui pintu belakang rumah sakit.”

“Orang itu memakai seragam petugas medis.”

“Tapi setelah wajahnya kami perjelas…”

Suara Arga berubah pelan.

“…dia ternyata adalah orang yang selama lima tahun terakhir paling Bapak percayai.”

Baskara menggenggam ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Siapa?”

Beberapa detik hanya terdengar suara napas.

Lalu Arga mengucapkan satu nama.

Nama yang membuat seluruh tubuh Baskara membeku.

Nama calon ayah mertuanya… yang selama ini mendorongnya menikah lagi demi kepentingan bisnis.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang