Baskara tak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Ia hanya mengangguk pelan.
Bumi segera mengepalkan tangan mungilnya.
Tok…
Tok…
Tok…
Tiga ketukan kecil mendarat tepat di dada kiri Baskara.
Persis seperti yang dulu dilakukan Naya setiap kali melihatnya pulang larut malam dengan wajah kusut karena tekanan bisnis.

“Kalau di sini sudah tenang…” suara Naya seakan hidup kembali di telinganya, “…kepala juga ikut tenang.”
Dunia Baskara runtuh.
Air mata yang selama lima tahun ia tahan akhirnya pecah tanpa sisa.
Ia memeluk Bumi erat-erat.
Bocah itu sempat kaget, tetapi kemudian hanya diam.
“Om… jangan nangis…”
Baskara menggigit bibirnya sendiri hingga terasa asin oleh darah.
Dalam hati ia berteriak.
Naya… kalau benar kamu masih hidup… di mana kamu?
Sementara itu…
Di sebuah rumah reyot di pinggiran kota.
Kanaya sedang mengangkat ember berisi pakaian basah menuju halaman belakang.
Lengan kirinya penuh memar kebiruan.
Sudut bibirnya masih pecah akibat tamparan semalam.
Belum sempat ia menjemur pakaian, suara bentakan menggelegar dari dalam rumah.
“NAYA!”
Pria bertubuh tambun keluar sambil membawa botol minuman.
Namanya Darto.
Suaminya selama empat tahun terakhir.
“Anakmu mana?”
Kanaya langsung menoleh.
“Bumi belum pulang?”
Darto menatapnya tajam.
“Kamu tanya aku?”
Kanaya mendadak pucat.
Biasanya, sepulang sekolah Bumi langsung berlari pulang.
Tak pernah terlambat lebih dari lima belas menit.
Jam di dinding sudah menunjukkan hampir pukul enam sore.
Perasaan buruk mulai merambat di dadanya.
“Aku cari dulu.”
Baru beberapa langkah menuju pintu, Darto menarik rambutnya kasar hingga Kanaya jatuh terduduk.
“Kamu pikir bisa kabur?”
“Aku cuma mau cari Bumi!”
“Biarkan saja.”
Suara Darto dingin.
“Kalau dia hilang, malah bagus.”
Jantung Kanaya berhenti berdetak sesaat.
“Apa?”
“Mulut anak itu makin besar.”
Darto meneguk minuman kerasnya.
“Kemarin dia berani bilang ke tetangga kalau aku suka mukul kamu.”
Kanaya memandang pria itu tak percaya.
“Itu anakmu juga.”
“Anakku?”
Darto tertawa keras.
“Tidak pernah.”
Kalimat itu meluncur begitu saja.
Namun cukup membuat Kanaya membeku.
Darto menyeringai.
“Aku sudah bilang berkali-kali.”
“Kalau bukan karena kamu datang membawa perut buncit waktu itu, mana mungkin aku mau menikahimu?”
Kanaya langsung berdiri.
“Tutup mulutmu!”
PLAK!
Tamparan keras membuat tubuhnya kembali terjatuh.
“Berani melawan?”
Darto mencengkeram dagunya.
“Aku sudah menanggung anak haram orang lain bertahun-tahun.”
“Tahu diri sedikit.”
Kanaya menangis tanpa suara.
Kalimat itu selalu menusuknya.
Karena…
Ia sendiri tak pernah yakin siapa ayah kandung Bumi.
Lima tahun lalu…
Ledakan pesawat.
Api.
Asap.
Jeritan.
Potongan-potongan ingatan yang selalu muncul setiap malam.
Kanaya hanya mengingat dirinya terbangun di sebuah klinik kecil di pelosok.
Seluruh tubuhnya penuh luka.
Ia kehilangan ingatan.
Tak tahu siapa dirinya.
Tak tahu dari mana asalnya.
Yang ia tahu…
Saat sadar, perutnya sudah hamil beberapa minggu.
Seorang perempuan tua bernama Bu Sulastri menemukannya di pinggir sungai dan merawatnya.
“Namamu siapa?”
Kanaya hanya mampu menggeleng.
Di lehernya hanya tergantung liontin kecil bertuliskan huruf K.
Sejak saat itu perempuan tua itu memanggilnya…
Kay.
Beberapa bulan kemudian…
Bu Sulastri jatuh sakit.
Biaya pengobatan menumpuk.
Darto datang menawarkan bantuan.
Sebagai gantinya…
Ia meminta Kanaya menikah dengannya.
Tanpa identitas.
Tanpa keluarga.
Tanpa masa lalu.
Kanaya tidak punya pilihan.
Sejak itulah neraka dimulai.
Di sisi lain kota…
Mobil Baskara melaju menuju kantor pusat Grup Baskara.
Begitu turun dari mobil, seluruh direksi yang sedang menunggu langsung berdiri.
“Pak, rapat akuisisi sudah siap.”
“Batal.”
“Tapi nilai proyeknya hampir dua triliun.”
“Batal.”
Nada Baskara dingin.
“Ada pekerjaan yang jauh lebih penting.”
Ia menoleh kepada kepala keamanan pribadinya.
“Raka.”
“Siap, Pak.”
“Kerahkan semua orang.”
“Seluruh jaringan?”
“Ya.”
“Temukan seorang perempuan.”
Raka mengangguk sambil membuka tablet.
“Nama?”
Baskara terdiam beberapa detik.
Lalu berkata perlahan.
“Mungkin Kanaya.”
“Mungkin Naya.”
“Mungkin Kay.”
Raka mengernyit.
“Foto terbaru?”
Baskara menggeleng.
“Tidak ada.”
“Hanya ini.”
Ia mengeluarkan gelang perak edelweis dari sakunya.
“Perempuan itu pernah memakai gelang pasangannya.”
“Lima tahun lalu.”
Raka tampak bingung.
“Pak… Indonesia berisi lebih dari dua ratus delapan puluh juta penduduk.”
Baskara menatap lurus.
“Kalau perlu…”
“…cari satu per satu.”
Di saat yang sama…
Di dalam mobil mewah itu.
Bumi tertidur pulas di kursi belakang sambil memeluk boneka kain lusuh miliknya.
Boneka itu hampir robek.
Namun Baskara baru menyadari sesuatu.
Di bagian leher boneka terdapat sebuah kantong kecil yang dijahit rapi.
Seolah sengaja disembunyikan.
Baskara membukanya perlahan.
Di dalamnya…
ada selembar foto kecil yang sudah kusam.
Foto seorang wanita muda yang sedang tersenyum sambil memeluk bayi yang baru lahir.
Separuh wajah wanita itu rusak dimakan air.
Namun separuh lainnya…
cukup membuat tangan Baskara bergetar hebat.
“Itu…”
Suara Baskara tercekat.
“Itu benar-benar Naya…”
Lalu matanya membesar saat melihat tulisan tangan di balik foto.
Tulisan itu hanya terdiri dari satu kalimat.
“Kalau suatu hari Bumi bertemu pria bernama Baskara… jangan pernah bilang bahwa dia ayahmu. Biarkan dia hidup bahagia tanpa kita.”
