Silvi menggenggam erat foto-foto itu. Air matanya menetes satu per satu membasahi kertas mengilap yang kini terasa seperti pisau yang mengiris harga dirinya.
“Kalau memang aku bersalah, kenapa foto-foto ini cuma potongan-potongan?” tanyanya lirih. “Kenapa nggak sekalian ditunjukkan semua?”
“Masih berani ngelawan?” bentak Mama. “Malu-maluin keluarga kami!”
Mas Gama membuang napas panjang.
“Cukup, Ma.”
Lelaki itu tidak lagi menatap wajah istrinya. Pandangannya kosong.
“Sil, aku sudah percaya sama kamu selama ini. Tapi bukti-bukti terlalu jelas.”
“Bukti yang mana?” suara Silvi mulai meninggi. “Foto makan siang? Foto aku turun dari mobil Pak Suseno?

Itu semua urusan kerja!”
“Kerja?” Mama mencibir. “Kerja sampai masuk hotel?”
Silvi langsung menoleh.
“Itu bukan hotel buat selingkuh!”
“Terus?”
“Itu Hotel Arjuna tempat seminar distributor. Seluruh karyawan ikut. Ada hampir lima puluh orang.”
Ruangan mendadak sunyi.
Namun hanya beberapa detik.
Mama kembali tertawa sinis.
“Pandai sekali cari alasan.”
Silvi menatap suaminya penuh harap.
“Mas… kamu tahu aku. Selama menikah aku berangkat pagi, pulang sore. Semua gajiku kuberikan buat rumah ini. Aku bahkan berhenti kuliah demi membantu ekonomi kita. Apa selama tiga setengah tahun itu kamu nggak pernah mengenal siapa aku?”
Rahang Gama mengeras.
“Aku kenal kamu.”
“Lalu kenapa lebih percaya foto daripada istrimu sendiri?”
Tidak ada jawaban.
Yang terdengar hanya suara napas berat lelaki itu.
Beberapa saat kemudian, Mama membuka tas tangannya.
“Nggak usah banyak drama.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat.
“Dari orang yang mengirim ini.”
Silvi membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat belasan foto lagi.
Ada dirinya sedang keluar dari lobi hotel.
Ada dirinya duduk di kursi penumpang mobil Pak Suseno.
Ada foto ketika Pak Suseno memayunginya saat hujan.
Semua tampak sangat meyakinkan.
Namun Silvi langsung sadar sesuatu.
Ia membalik salah satu foto.
“Mas…”
“Apa lagi?”
“Lihat bayangan jam dinding ini.”
Gama mengernyit.
“Kenapa?”
“Di foto pertama tertulis pukul dua siang.”
Silvi mengambil foto kedua.
“Yang ini katanya diambil lima menit kemudian.”
Ia menunjuk bayangan matahari.
“Tapi posisi mataharinya berbeda jauh.”
Mama langsung menyambar foto itu.
“Kamu jangan mengalihkan pembicaraan!”
Silvi belum selesai.
Ia mengambil foto lain.
“Ini juga aneh.”
“Apanya?”
“Di foto ini aku pakai tas hitam.”
Ia mengambil foto berikutnya.
“Lima menit setelahnya tasnya berubah jadi cokelat.”
Gama mulai memperhatikan.
Silvi menarik napas panjang.
“Aku cuma punya satu tas kerja.”
Ruangan kembali sunyi.
Mama tampak gugup sesaat, tetapi buru-buru berkata,
“Itu cuma karena sudut pengambilan gambar!”
Silvi menggeleng.
“Bukan.”
Ia mengangkat foto paling terakhir.
“Ini yang paling lucu.”
Semua melihat ke arahnya.
“Di foto ini tertulis tanggal 14 Februari.”
“Lalu?”
“Tanggal 14 Februari aku nggak masuk kerja.”
“Kenapa?”
Karena hari itu…
Silvi membuka galeri ponselnya.
Untung ponselnya belum sempat dirampas.
Ia membuka foto-foto lama.
“Ini.”
Foto menunjukkan dirinya sedang berada di rumah sakit.
Di samping ranjang pasien terdapat Mas Gama yang masih memakai seragam kantor.
Wajahnya pucat karena baru menjalani operasi usus buntu.
Silvi memperbesar tanggal otomatis pada foto.
14 Februari.
“Seharian aku nemenin kamu di rumah sakit.”
Ia menatap suaminya dengan mata sembab.
“Kamu bahkan nggak bisa jalan waktu itu.”
Napas Gama seolah berhenti.
Ia mengambil foto itu dari tangan istrinya.
Benar.
Tanggalnya sama.
Jamnya bahkan menunjukkan pukul 13.47.
Sementara foto tuduhan perselingkuhan menunjukkan Silvi sedang masuk hotel pada pukul 14.10.
Padahal rumah sakit dan hotel itu berjarak hampir dua jam perjalanan.
Mustahil.
Sangat mustahil.
Wajah Gama mulai berubah.
“Ma…”
Mama buru-buru menyela.
“Itu pasti editan!”
Silvi tertawa pelan.
Tawa yang justru membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
“Kalau ini editan…”
Ia membuka aplikasi Google Photos.
Semua foto tersimpan otomatis di cloud lengkap dengan lokasi GPS.
“Lokasiku hari itu ada di Rumah Sakit Harapan Sehat.”
Ia menyerahkan ponselnya kepada Gama.
Lelaki itu memeriksanya sendiri.
Tangannya mulai gemetar.
Bukti lokasi.
Waktu.
Semuanya cocok.
Tidak mungkin dipalsukan dalam waktu singkat.
“Ini…”
Gama menoleh perlahan ke arah ibunya.
“Ma… siapa yang kasih foto-foto itu?”
Mama tampak kehilangan ketenangannya untuk pertama kali.
“Itu… itu…”
“SIAPA?”
Bentakan Gama membuat Mama terkejut.
Dengan suara lirih, akhirnya wanita itu menjawab,
“Yang mengantar… seorang perempuan.”
“Siapa namanya?”
Mama menelan ludah.
“Dia bilang… namanya Rina.”
Silvi langsung membeku.
Rina.
Nama itu membuat seluruh tubuhnya dingin.
Rina bukan orang asing.
Rina adalah mantan kekasih Mas Gama yang dulu ditolak mentah-mentah oleh keluarga karena dianggap terlalu ambisius.
Dan yang lebih mengejutkan lagi…
Sudah hampir enam bulan, Rina bekerja sebagai sekretaris pribadi di perusahaan keluarga Gama.
Seketika semua potongan teka-teki mulai tersusun.
Foto-foto itu.
Fitnah itu.
Perceraian yang terjadi begitu cepat.
Semuanya terasa terlalu rapi.
Silvi memandang suaminya dengan mata penuh luka.
“Mas…”
Suaranya nyaris tak terdengar.
“Kalau hari ini kamu nggak memeriksa sedikit saja bukti itu…”
“…kamu sudah menghancurkan rumah tangga kita karena jebakan seseorang.”
Sementara itu, di luar rumah mewah keluarga Gama, seorang wanita yang duduk di balik kemudi mobil hitam tersenyum tipis sambil melihat layar ponselnya.
Di sana muncul sebuah pesan singkat yang baru saja terkirim kepada seseorang.
“Tahap pertama berhasil. Sekarang Silvi sudah diusir. Tinggal pastikan Gama benar-benar membencinya… lalu perusahaan itu akan jatuh ke tangan kita.”
