SAYA ADA DI BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA TERMINAL 3 UNTUK MENGANTAR SAHABAT SAYA

Bima membeku.

Wajahnya yang semula penuh senyum langsung pucat.

Tangannya yang masih melingkari pinggang Trina perlahan terlepas.

“C… Celine?”

Aku berdiri tepat di depan mereka.

Masker masih menutupi separuh wajahku.

Topi masih menutupi rambutku.

Namun suaraku…

Tak mungkin salah.

Trina buru-buru menjauh.

“Celine… kamu… bukannya lagi rapat di Surabaya?” suara Bima bergetar.

Aku tersenyum tipis.

“Lucu.”

“Aku juga mau bertanya.”

“Bukannya kamu bilang sedang seminar di Bali?”

Suasana mendadak sunyi.

Orang-orang di ruang tunggu mulai melirik ke arah kami.

Bima mencoba tertawa.

“Kamu salah paham.”

“Oh ya?”

Aku menoleh kepada Trina.

“Seminar perusahaan sekarang diadakan di Terminal Keberangkatan Internasional?”

Trina menelan ludah.

“Bukan begitu….”

Aku mengangkat tangan.

“Tenang.”

“Aku tidak datang untuk berdebat.”

Aku justru mengeluarkan ponsel.

Lalu memperlihatkan layar chat.

“Itu…”

Bima langsung mengenali nama kontak itu.

Pak Adrian – Private Banker.

Pesan terakhir bertuliskan:

“Semua instruksi Ibu Celine sudah dijalankan pukul 09.10 WIB. Rekening bersama telah dibekukan sementara sesuai permintaan pemegang saham utama. Seluruh transaksi bernilai besar ditahan untuk verifikasi biometrik.”

Mata Bima membelalak.

“Apa… apa maksudnya?”

Aku menghela napas pelan.

“Tiga hari lalu.”

“Ada notifikasi transfer yang gagal masuk ke dashboard keuanganku.”

“Aku merasa aneh.”

“Jadi aku mulai menyelidiki.”

Aku menatap lurus matanya.

“Aku membaca seluruh log transaksi.”

“Sampai akhirnya aku menemukan seseorang mencoba memindahkan lima puluh miliar rupiah.”

Kulihat wajah Bima kehilangan warna.

“Tidak mungkin…”

“Mungkin.”

“Aku pemegang otorisasi utama.”

“Semua transaksi di atas lima miliar selalu mengirimkan salinan log ke server audit perusahaan.”

Bima berkeringat.

“Tapi… aku memakai token….”

Aku mengangguk.

“Ya.”

“Token yang sengaja kubiarkan aktif.”

Ia menatapku kebingungan.

“Maksudmu?”

Aku tersenyum.

“Aku ingin tahu…”

“…seberapa jauh suamiku berani mencuri.”


Trina mulai gelisah.

“Bima… ayo kita pergi.”

Mereka berdiri.

Baru dua langkah—

Empat pria berseragam menghampiri.

“Selamat siang.”

“Kami dari Kepolisian Bandara.”

“Apakah Saudara Bima Prasetyo?”

Jantung Bima seperti berhenti.

“Iya…”

“Kami mohon kerja samanya.”

“Kami perlu memeriksa identitas Anda.”

Bima langsung menunjukku.

“Istri saya ini salah paham!”

Aku bahkan tidak menoleh.

Seorang pria lain datang.

Jas hitam.

Pin emas kecil di dada.

Pak Adrian.

Private banker keluargaku.

Ia menghampiriku.

“Selamat siang, Bu Celine.”

“Sesuai instruksi Ibu, seluruh rekening tujuan telah kami tandai.”

“Kami juga sudah berkoordinasi dengan unit anti pencucian uang.”

Wajah Trina berubah pucat.

“Bima…”

“Apa ini?”

Bima panik.

“Diam!”

Namun semuanya sudah terlambat.

Pak Adrian membuka tablet.

“Percobaan transfer pertama.”

“Rp20 miliar.”

“Gagal.”

“Percobaan kedua.”

“Rp15 miliar.”

“Ditahan.”

“Percobaan ketiga.”

“Rp15 miliar.”

“Dialihkan ke rekening escrow investigasi.”

Bima menatap layar itu seperti melihat vonis mati.

“Itu…”

“Itu uang kami.”

Aku tersenyum.

“Bukan.”

“Itu uangku.”

“Sebelum menikah.”

“Aku hanya memasukkan sebagian ke rekening gabungan untuk kebutuhan rumah tangga.”

“Lima puluh miliar itu berasal dari dividen perusahaan yang seluruh sahamnya atas namaku.”

Semua orang yang mendengar mulai berbisik.

“Astaga…”

“Suaminya sendiri?”

“Besar sekali.”


Trina mencoba kabur.

Namun seorang polisi wanita menghentikannya.

“Maaf, Bu.”

“Kami juga perlu meminta keterangan Anda.”

“Aku tidak melakukan apa-apa!”

Polisi itu mengangkat map bening.

“Nama Anda tercantum sebagai penerima manfaat rekening perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman.”

Tubuh Trina gemetar.

“A… aku….”

Aku memandangnya tenang.

“Selama ini kamu pikir aku tidak tahu?”

“Waktu Bima mengenalkanmu dua tahun lalu…”

“…aku langsung melakukan background checking.”

Ia membeku.

“Kamu pernah bekerja di tiga perusahaan.”

“Di ketiganya…”

“…selalu ada kasus penggelapan dana.”

Air mata Trina mulai turun.

“Kali ini kamu memilih target yang salah.”


Bima mendekat.

“Celine…”

“Dengar aku.”

“Aku bisa jelaskan.”

Aku menatap pria yang selama tujuh tahun kupanggil suami itu.

“Silakan.”

Ia langsung berlutut.

Semua orang terdiam.

“Aku salah.”

“Aku khilaf.”

“Aku cuma…”

“…terpengaruh.”

Trina langsung menoleh.

“Apa?!”

“Kamu bilang semua ini idemu!”

Bima panik.

“Diam!”

“Kamu juga yang memintaku!”

Mereka mulai saling menyalahkan.

Aku memperhatikan tanpa ekspresi.

Dulu…

Aku mungkin akan menangis.

Hari ini?

Tidak lagi.


Seorang petugas imigrasi datang tergesa-gesa.

“Maaf.”

“Paspor atas nama Bima Prasetyo dan Trina Maheswari telah dinyatakan masuk daftar penundaan keberangkatan.”

“Boarding pass keduanya tidak lagi berlaku.”

Bima menatap kosong.

“Penerbangan kami….”

“Dibatalkan.”


Aku mengeluarkan satu map lagi.

Map putih.

“Apa itu?” tanya Bima lirih.

“Surat gugatan cerai.”

“Sudah didaftarkan kemarin.”

Matanya membesar.

“Kemarin?”

Aku mengangguk.

“Tiga hari lalu aku tahu kamu mencuri.”

“Dua hari lalu aku menceraikanmu.”

“Hari ini…”

“…aku hanya datang menyaksikan kamu gagal kabur.”


Bima menangis.

Benar-benar menangis.

“Celine…”

“Aku mohon.”

“Aku mencintaimu.”

Aku tertawa pelan.

“Cinta?”

“Orang yang mencintai tidak merencanakan membuat istrinya bangkrut.”

“Orang yang mencintai tidak memindahkan uang lima puluh miliar sambil tertawa.”

Aku melepas cincin pernikahan.

Kutaruh di telapak tangannya.

“Mulai hari ini.”

“Kamu bebas.”

“Tapi ingat.”

“Kebebasanmu dimulai dari ruang pemeriksaan polisi.”


Saat aku berbalik meninggalkan mereka, ponselku berbunyi.

Direktur Keuangan perusahaan mengirim pesan singkat.

“Bu, sesuai instruksi, seluruh hak akses digital Pak Bima sebagai komisaris independen sudah dicabut. Seluruh saham nominee juga telah kembali ke holding.”

Aku membalas satu kata.

“Bagus.”

Di belakangku terdengar suara borgol menutup.

Klik.

Suara yang sangat kecil.

Namun cukup untuk menandai berakhirnya sebuah pengkhianatan yang telah direncanakan dengan begitu rapi.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun…

Aku benar-benar merasa merdeka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang