IMA PULUH HARI SETELAH PEMAKAMAN SUAMIKU

Aku duduk lama di bangku halte yang mulai berkarat.

Matahari sudah hampir tenggelam, tetapi Carlos bahkan tidak sekali pun menoleh ke belakang. Mobilnya menghilang di tikungan, meninggalkan debu tipis yang perlahan turun ke aspal.

Saat itulah aku benar-benar sadar.

Hari itu bukan sekadar hari ketika aku kehilangan seorang suami.

Hari itu juga hari ketika aku kehilangan seorang anak.

Aku mengeluarkan ponsel lamaku. Layarnya sudah retak, tetapi masih bisa digunakan. Ada puluhan foto keluarga di dalamnya. Foto ulang tahun Carlos saat berusia lima tahun. Foto kelulusannya. Foto pernikahannya.

Aku mengusap layar dengan ujung jariku.

Anak kecil yang dulu selalu memeluk kakiku sambil berkata, “Aku akan menjaga Ibu selamanya…”

Ke mana perginya anak itu?

Air mataku akhirnya jatuh.

Namun hanya beberapa menit.

Setelah itu aku menghapus air mata, menarik napas panjang, lalu berdiri.

Kalau hidup masih memberiku napas, berarti aku belum selesai.

Aku menghentikan sebuah angkot yang melintas dan meminta diantar ke terminal kota.

Di sana, aku menyewa kamar kecil di sebuah penginapan tua. Dindingnya lembap. Kasurnya tipis. Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya setelah lima puluh hari, aku bisa berpikir dengan tenang.

Aku membuka buku tabungan yang selama ini kusimpan di balik lapisan dalam tasku.

Saldo terakhir membuatku tersenyum pahit.

Rp… tidak.

Peso.

Sepuluh juta tiga ratus delapan puluh ribu peso.

Tabungan itu berasal dari puluhan tahun bekerja. Aku menjahit pakaian sampai tengah malam. Suamiku menjadi mandor proyek selama lebih dari tiga puluh tahun. Kami tidak pernah membeli mobil mewah. Tidak pernah berlibur ke luar negeri.

Semua kami simpan.

Bukan untuk hidup mewah.

Melainkan agar ketika tua nanti kami tidak menjadi beban siapa pun.

Ironisnya…

Justru karena Carlos mengira kami sudah tidak memiliki apa-apa, ia membuangku begitu saja.

Pagi berikutnya aku pergi ke bank.

Petugas bank tampak terkejut melihat seorang wanita tua datang sendirian membawa buku tabungan yang sudah lusuh.

“Apakah Ibu ingin menarik seluruh dana?”

Aku mengangguk.

“Tapi jumlahnya sangat besar.”

“Aku tahu.”

Petugas itu memintaku masuk ke ruang khusus.

Di sana, aku juga meminta dibuatkan rekening baru yang tidak diketahui siapa pun.

Lalu aku menyewa sebuah apartemen kecil di pusat kota.

Tidak mewah.

Namun bersih, aman, dan cukup nyaman untuk seorang wanita tua sepertiku.

Aku membeli beberapa perabot sederhana, sebuah kursi goyang, rak buku kecil, dan tanaman anggrek yang selalu kusukai.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Aku mulai hidup untuk diriku sendiri.


Sementara itu, di rumah lama kami…

Carlos mulai menyadari sesuatu.

Semua tetangga bertanya.

“Mana ibumu?”

“Ibu sedang tinggal bersama saudara.”

Jawabannya terdengar kaku.

Tetapi satu kebohongan membutuhkan kebohongan lain.

Seminggu kemudian, seorang tetangga melihatku berbelanja di pusat kota.

Mereka langsung menyampaikan kabar itu kepada Carlos.

“Aneh sekali. Ibumu kelihatan sehat. Bahkan naik taksi.”

Carlos mulai bingung.

Bukankah aku seharusnya hidup susah?

Bukankah aku hanya membawa beberapa helai pakaian saat ia menurunkanku?

Malam itu ia membuka semua lemari di rumah.

Ia membongkar kamar tidurku.

Ia mencari-cari sesuatu yang mungkin kutinggalkan.

Tidak ada.

Yang ia temukan hanya sebuah amplop tua.

Di dalamnya ada secarik kertas bertuliskan tangan suamiku.

“Bila kau membaca surat ini hanya karena mencari harta kami… berarti kau sudah kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.”

Carlos membuang surat itu dengan kesal.

“Ayah memang suka membuat teka-teki.”

Ia tidak tahu…

Surat itu sebenarnya hanya bagian pertama.


Beberapa hari kemudian teleponku berdering.

Nomornya tidak kukenal.

“Bu… ini Carlos.”

Aku diam.

“Ibu sekarang tinggal di mana?”

“Kenapa?”

“Aku… aku hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja.”

Aku tersenyum kecil.

Lima puluh hari ia tidak mencariku.

Sekarang ia tiba-tiba peduli.

“Aku baik.”

“Kalau begitu… pulang saja, Bu.”

“Pulang?”

“Iya.”

“Aku sudah tidak punya rumah.”

Carlos terdiam.

“Itu rumah Ayah.”

“Bukan lagi.”

“Rumah itu sekarang atas namamu.”

Suara napasnya mulai berat.

“Ibu… jangan bicara seperti itu.”

“Aku hanya mengatakan kenyataan.”

Lalu aku menutup telepon.

Hari itu, untuk pertama kalinya, aku merasa tidak lagi menjadi wanita tua yang lemah.

Aku belajar bahwa diam kadang jauh lebih kuat daripada berteriak.


Sebulan berlalu.

Suatu sore, aku menerima telepon dari notaris lama keluarga kami.

“Ibu Maria, saya baru menerima surat yang dulu dititipkan almarhum Pak Daniel. Beliau meminta surat ini baru boleh saya serahkan enam bulan setelah beliau meninggal.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

“Apa isinya?”

“Saya rasa… lebih baik Ibu datang sendiri.”

Aku tidak tahu bahwa surat itu akan menjadi awal dari penyesalan terbesar dalam hidup Carlos.

Karena ternyata selama bertahun-tahun, suamiku telah menyiapkan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak pernah mengetahuinya.

Dan rahasia itulah yang akan mengubah nasib seluruh keluarga kami… untuk selamanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang