Aling Bebang menarik napas panjang. Wajahnya tampak lelah, seolah sudah terlalu lama memendam sesuatu yang seharusnya diungkapkan bertahun-tahun lalu.
“Aku sudah menunggu hari ini,” katanya lirih. “Aku hanya berharap kalian masih sempat bertemu ibumu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Maksud Bibi?”
Wanita tua itu duduk di bangku kayu yang sudah retak.

“Semua uang yang kalian kirim… tidak pernah benar-benar sampai ke tangan Aling Flor.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Aku merasa darah di tubuhku berhenti mengalir.
“Tidak mungkin,” gumamku. “Setiap bulan kami kirim lewat Paman Rudy. Dia selalu mengirim foto. Bahkan dia bilang Ibu sudah punya rumah baru.”
Aling Bebang menggeleng pelan.
“Foto itu bukan rumah ibumu.”
Miggy langsung berdiri.
“Kalau begitu rumah siapa?”
“Rumah Rudy.”
Seketika semua potongan kenangan mulai tersusun.
Foto ruang tamu mewah.
Foto dapur lengkap.
Foto televisi layar besar.
Foto pesta ulang tahun.
Setiap kali kami bertanya, Rudy selalu berkata, “Ibumu malu difoto. Tapi lihat saja rumahnya sekarang.”
Kami mempercayainya.
Karena dia saudara kandung ibu kami.
Karena siapa yang tega menipu kakaknya sendiri?
Ternyata… Rudy.
“Ibumu bahkan tidak punya telepon lagi,” lanjut Aling Bebang.
“Apa?”
“Rudy bilang telepon itu rusak. Padahal dia menjualnya.”
Mela mulai menangis.
“Kenapa Ibu tidak memberi tahu kami?”
Ibuku menatap kami dengan mata yang mulai berkaca.
“Aku… tidak tahu nomor kalian lagi.”
Dadaku seperti dihantam batu.
Rudy pernah mengatakan bahwa ibu sering lupa memakai ponsel karena sudah tua.
Kami percaya.
Padahal…
Dia sengaja memutus semua jalan agar ibu tidak bisa menghubungi kami.
“Awalnya Rudy memang membawa uang,” kata Aling Bebang.
“Berapa?”
“Hanya beberapa ribu peso.”
“Lalu sisanya?”
“Dia bilang uang itu dipakai membangun rumah untuk ibumu.”
Aku mengepalkan tangan.
Rumah?
Rumah yang mana?
Yang berdiri di hadapanku hanyalah gubuk yang bocor di sana-sini.
Kalau hujan turun, lantainya berubah menjadi lumpur.
Kalau angin datang, dinding bambunya bergoyang.
“Aku pernah memaksa Rudy,” ujar Aling Bebang.
“Aku bilang, ‘Kasihan kakakmu. Anak-anaknya bekerja mati-matian di luar negeri.'”
“Tahu apa jawabnya?”
Kami semua diam.
“‘Mereka tidak akan pernah pulang. Mereka percaya apa saja yang kukatakan.'”
Miggy membanting kursi hingga patah.
“Kurang ajar!”
Ibuku buru-buru memegang lengan Miggy.
“Jangan… jangan buat keributan.”
“Ibu masih membelanya?”
“Ia tetap adikku.”
Jawaban itu membuat kami bertiga semakin hancur.
Bahkan setelah diperlakukan seperti itu, ibu masih mencoba melindunginya.
Malam itu kami tidak tidur.
Kami membersihkan gubuk.
Membelikan kasur baru.
Makanan.
Obat-obatan.
Dokter dipanggil ke rumah.
Saat dokter selesai memeriksa, wajahnya berubah serius.
“Kalau kalian datang satu atau dua bulan lebih lambat…”
Ia berhenti berbicara.
Aku memaksanya melanjutkan.
“…kemungkinan ibu kalian tidak akan bertahan.”
Mela langsung memeluk ibu sambil menangis sejadi-jadinya.
Aku hanya mampu menunduk.
Selama lima tahun kami bekerja tanpa mengenal siang dan malam.
Lembur.
Tidak pulang saat Lebaran.
Tidak menikmati liburan.
Semua demi satu tujuan.
Supaya ibu hidup nyaman.
Namun ternyata…
Ibu hampir meninggal karena kelaparan.
Keesokan paginya, seluruh tetangga berdatangan.
Mereka membawa makanan.
Ada yang membawa telur.
Ada yang membawa sayur.
Ada yang membawa beras.
“Ampunilah kami,” kata seorang bapak tua.
“Kami hanya mampu membantu sebisanya.”
Aku menggeleng.
“Bukan kalian yang harus minta maaf.”
Seorang ibu kemudian berkata,
“Kalau bukan karena warga sini, ibumu sudah lama tidak makan.”
Aku memandang wajah mereka satu per satu.
Orang-orang miskin.
Tetapi hati mereka jauh lebih kaya daripada orang yang telah merampas jutaan peso milik ibu kami.
Sore harinya kami mendatangi rumah Rudy.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Rumah dua lantai.
Mobil SUV baru.
Pagar besi otomatis.
Pendingin ruangan di setiap ruangan.
Televisi raksasa.
Kolam renang kecil di belakang.
Semua itu…
Dibangun dari uang yang seharusnya menjadi kehidupan ibu kami.
Rudy membuka pintu sambil tersenyum.
“Wah! Anak-anak pulang! Masuk dulu!”
Tamparan Miggy mendarat lebih cepat daripada sapaan itu.
Rudy terjatuh.
“Apa-apaan ini!”
Aku melemparkan foto gubuk ibu ke wajahnya.
“Kenapa?”
Ia terdiam.
“Jawab!”
Beberapa detik kemudian, ia malah tertawa kecil.
“Kalian toh sudah kaya.”
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.
“Kalian kirim uang begitu banyak. Sedikit kuambil, memang kenapa?”
“Sedikit?” bentak Mela.
“Hampir tiga juta peso!”
Rudy mengangkat bahu.
“Daripada uang itu menganggur.”
Saat itulah aku sadar.
Di hadapan kami bukan lagi paman yang kami kenal.
Melainkan seseorang yang telah kehilangan hati nuraninya.
Aku mengeluarkan map cokelat dari dalam tas.
“Ini apa?” tanyanya.
“Selama enam bulan terakhir, kami sebenarnya sudah mulai curiga.”
Wajah Rudy berubah.
“Aku menyewa penyelidik.”
“Kami memiliki semua bukti.”
“Rekening.”
“Transfer.”
“Sertifikat rumah.”
“Bukti pembelian mobil.”
“Semuanya.”
Untuk pertama kalinya, senyum Rudy menghilang.
Dan saat mobil polisi berhenti tepat di depan gerbang rumahnya, wajahnya berubah pucat seperti tidak pernah melihat hari esok.
