Mata wanita itu membelalak begitu melihat liontin yang tergantung di leher Doña Victoria.
Tangannya yang kurus gemetar.
Air matanya langsung mengalir.
“Kalung itu…”
Suaranya serak, hampir tidak terdengar.
“…aku mengenalnya.”
Doña Victoria merasakan dadanya berdegup semakin keras.
“Siapa namamu?” tanyanya perlahan.
Wanita itu menelan ludah.
“Lina.”
Nama yang sama sekali asing.
Namun sorot matanya tidak sedang berbohong.

Ethan segera duduk di samping ibunya.
“Ibu… ini tante baik yang kasih kita makanan.”
Doña Victoria masih menatap liontin yang dikenakan Lina.
Benar.
Di leher wanita itu tergantung liontin yang hampir identik.
Matahari.
Bintang.
Hanya saja warnanya sudah kusam karena usia.
Victoria perlahan mengeluarkan liontinnya.
Kedua liontin itu nyaris sama persis.
Lina menangis semakin keras.
“Aku… aku sudah menunggu hari ini selama bertahun-tahun.”
Victoria langsung membeku.
“Apa maksudmu?”
Lina memejamkan mata.
Enam belas tahun yang lalu…
Ia masih bekerja sebagai perawat magang di sebuah rumah sakit kecil.
Malam itu terjadi kekacauan.
Seorang bayi baru saja dilahirkan.
Ibu bayi mengalami pendarahan hebat.
Rumah sakit sibuk.
Dokter keluar masuk ruang operasi.
Lina ditugaskan menjaga bayi itu beberapa menit.
Namun sebelum ia sempat memindahkan bayi ke ruang bayi…
Seorang pria datang.
Mengaku sebagai anggota keluarga.
Membawa surat.
Membawa izin.
Dan mengatakan bayi itu harus segera dipindahkan.
“Aku percaya…”
Suara Lina bergetar.
“Aku menyerahkan bayi itu.”
Beberapa jam kemudian…
Rumah sakit gempar.
Bayi itu dinyatakan meninggal.
Semua orang mengatakan telah terjadi komplikasi.
Lina tidak pernah melihat jasad bayi itu.
Tidak pernah.
Ia hanya percaya pada laporan dokter senior.
Namun dua hari kemudian…
Saat hendak pulang…
Ia melihat pria yang sama.
Sedang membawa seorang bayi hidup.
Bayi yang dibungkus selimut yang sama.
Lina mengejarnya.
Pria itu melarikan diri.
Sejak saat itu…
Lina tahu ada sesuatu yang salah.
Tetapi ia hanyalah perawat magang.
Tak seorang pun percaya padanya.
Bahkan ia dipecat.
Victoria mulai kehilangan keseimbangan.
“Siapa pria itu?”
Lina menggeleng.
“Aku tidak tahu namanya.”
“Tapi…”
“Aku tidak pernah lupa wajahnya.”
Victoria mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka album foto lama.
Foto-foto keluarga.
Foto ulang tahun.
Foto-foto sebelum semuanya berubah.
Lalu berhenti pada satu foto.
“Kau pernah melihat pria ini?”
Lina melihat layar.
Tubuhnya langsung kaku.
Tangannya menutup mulut.
“Itu dia…”
“Itu orangnya…”
Victoria hampir menjatuhkan telepon.
Foto itu adalah adiknya sendiri.
Eduardo Villarama.
Orang yang selama enam belas tahun menjadi tangan kanan perusahaan.
Orang yang menemani Victoria melewati masa berkabung.
Orang yang mengatakan…
“Bayimu sudah meninggal.”
Malam itu juga.
Victoria tidak pulang ke mansion.
Ia langsung menemui kepala keamanan pribadinya.
“Saya ingin semua arsip rumah sakit enam belas tahun lalu.”
“Semua.”
“Tanpa kecuali.”
“Saya juga ingin seluruh transaksi Eduardo diperiksa.”
“Tidak boleh ada yang tahu.”
Empat hari kemudian…
Laporan pertama datang.
Ada sesuatu yang aneh.
Pada malam bayi Victoria dinyatakan meninggal…
Rekaman CCTV rumah sakit hilang selama empat puluh dua menit.
Seluruh file digital terhapus.
Dokumen asli terbakar dalam kebakaran misterius tiga bulan setelah kejadian.
Tetapi…
Ada satu bukti yang lolos.
Seorang petugas administrasi tua ternyata menyimpan salinan buku kelahiran.
Di sana tertulis jelas.
Bayi laki-laki.
Lahir sehat.
Berat 3,2 kilogram.
Skor Apgar sempurna.
Tidak ada catatan kematian.
Victoria merasa seluruh tubuhnya mati rasa.
Berarti…
Anaknya memang tidak pernah meninggal.
Penyelidikan berlanjut.
Tim keamanan akhirnya menemukan transaksi mencurigakan.
Enam belas tahun lalu…
Eduardo menerima transfer dalam jumlah fantastis.
Pengirimnya menggunakan perusahaan cangkang.
Namun setelah ditelusuri…
Uangnya berasal dari seorang konglomerat yang saat itu tidak memiliki anak.
Pasangan kaya raya.
Putus asa ingin memiliki pewaris.
Mereka membayar miliaran peso.
Untuk membeli seorang bayi.
Bayi itu adalah putra Victoria.
Tetapi…
Takdir ternyata memiliki rencana lain.
Mobil yang membawa bayi menuju bandara mengalami kecelakaan.
Pengemudi panik.
Takut tertangkap.
Ia meninggalkan bayi itu di depan sebuah gereja.
Bayi tersebut kemudian ditemukan seorang pemulung.
Wanita itu membesarkannya.
Namanya Maria.
Ibu kandung Ethan.
Bukan ibu biologis.
Tetapi ibu yang mengorbankan seluruh hidupnya.
Maria bekerja memulung.
Mengumpulkan botol plastik.
Tidur di bawah atap bocor.
Kelaparan.
Sakit.
Namun tidak pernah sekalipun meninggalkan anak itu.
Sebelum meninggal karena demam tinggi…
Ia menyerahkan liontin kepada Lina.
“Kalau suatu hari ada orang mencari matahari dan bintang…”
“Tolong berikan ini.”
Sayangnya…
Maria meninggal sebelum sempat menemukan keluarga Ethan.
Dan karena kemiskinan…
Ethan akhirnya hidup sendirian di jalanan.
Victoria menangis sejadi-jadinya.
Selama enam belas tahun…
Ia mencari kebahagiaan lewat perusahaan.
Padahal anaknya hidup.
Tidak jauh darinya.
Tidur di trotoar.
Mengais makanan dari tempat sampah.
Sementara ia menghadiri pesta para miliarder.
Mengangkat gelas sampanye.
Menerima penghargaan.
Tanpa tahu…
Darah dagingnya sedang kelaparan.
Hari berikutnya.
Eduardo dipanggil ke mansion.
Ia datang seperti biasa.
Santai.
Percaya diri.
Sampai Victoria melemparkan dua liontin ke atas meja.
“Aku hanya ingin satu jawaban.”
“Di mana anakku selama enam belas tahun?”
Wajah Eduardo langsung pucat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia tidak mampu berkata apa-apa.
Keheningan itu menjadi pengakuan yang paling jujur.
Dan saat itulah…
Kerajaan keluarga Villarama mulai runtuh, bukan karena pesaing bisnis, melainkan karena pengkhianatan yang selama enam belas tahun bersembunyi di balik nama keluarga sendiri.
