“Halo?”
Suara itu tenang, berat, dan penuh wibawa.
Seluruh ruang sidang mendadak hening.
Jiro memejamkan mata. Ia mengenali suara itu dalam sekejap.
“Pak…”
Hakim langsung mengerutkan dahi.
“Siapa yang sedang berbicara?” tanyanya.
Di ujung telepon terdengar helaan napas panjang.
“Saya Komisaris Besar Polisi Arman Wijaya.”
Beberapa polisi yang berjaga saling berpandangan. Nama itu bukan nama sembarangan. Arman adalah salah satu perwira senior yang dikenal bersih dan tegas. Banyak dari mereka pernah bertugas di bawah komandonya.
“Kenapa nomor ini berada di tangan Anda?” tanya hakim.
“Saya akan menjelaskan, Yang Mulia. Tapi izinkan saya berbicara dengan anak itu terlebih dahulu.”
Hakim mengangguk.
Jiro menggenggam gagang telepon semakin erat.

“Pak… ibu saya di mana?”
Tak ada jawaban selama beberapa detik.
Detik-detik itu terasa lebih menyakitkan daripada vonis yang baru saja dijatuhkan.
Akhirnya Arman berkata pelan,
“Ibumu tidak bisa mengangkat telepon lagi, Jiro.”
Air mata Jiro langsung jatuh.
“Beliau sudah meninggal… tiga minggu yang lalu.”
Ruangan seolah kehilangan udara.
Jiro terdiam.
Ia bahkan tidak sanggup menangis.
Bibirnya hanya bergetar tanpa suara.
“Sebelum meninggal,” lanjut Arman, “ibumu menitipkan telepon ini kepadaku. Ia berkata… kalau suatu hari anaknya menelepon, jangan pernah biarkan panggilannya tidak dijawab.”
Tangis mulai terdengar dari bangku pengunjung.
Bahkan beberapa anggota keluarga korban yang sejak awal memandang Jiro dengan penuh kebencian ikut menundukkan kepala.
Jiro akhirnya berlutut.
“Ibu… maafkan aku…”
Suaranya pecah.
“Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal….”
Hakim membiarkan suasana itu berlangsung beberapa menit.
Lalu ia berkata,
“Komisaris Arman, apakah ada sesuatu yang ingin Anda sampaikan kepada pengadilan?”
“Ya, Yang Mulia.”
Suara Arman berubah lebih serius.
“Ada sebuah fakta yang selama ini saya simpan karena bukan bagian dari pembuktian pidana.”
Semua orang kembali menegakkan badan.
“Silakan.”
“Saya mengenal ibu Jiro selama hampir dua puluh tahun.”
Ruangan kembali riuh.
“Beliau setiap bulan datang ke kantor saya. Bukan untuk meminta anaknya dibebaskan.”
Arman berhenti sebentar.
“Beliau selalu berkata… ‘Kalau anak saya memang bersalah, jangan pernah kurangi hukumannya. Saya hanya ingin dia suatu hari benar-benar menjadi manusia.’”
Semua mata kini tertuju kepada Jiro.
Ia menangis semakin keras.
“Tetapi,” lanjut Arman, “ada satu hal yang tidak pernah diketahui siapa pun.”
Hakim mulai memperhatikan dengan saksama.
“Selama Jiro berada di tahanan menunggu persidangan, ibunya diam-diam menjual rumah satu-satunya.”
Beberapa orang terkejut.
“Bukan untuk membayar pengacara.”
“Lalu untuk apa?” tanya hakim.
“Untuk membayar seluruh biaya sekolah dua anak korban yang ditinggalkan ayahnya.”
Ruangan langsung sunyi.
Bahkan keluarga korban tampak tidak percaya.
Salah seorang perempuan yang duduk di barisan depan berdiri.
“Itu… benar?”
Arman mengangguk.
“Semua biaya sekolah selama tiga tahun terakhir berasal dari ibu Jiro. Tetapi beliau meminta identitasnya dirahasiakan.”
Perempuan itu menutup mulutnya sambil menangis.
“Kenapa…?”
“Karena beliau berkata… dosa anak tidak boleh diwariskan kepada cucu-cucu orang lain.”
Hakim perlahan melepas kacamatanya.
Selama puluhan tahun memimpin persidangan, baru kali itu ia melihat seorang ibu memikul beban sebesar itu sendirian.
Jiro memukul lantai dengan kedua tangannya yang diborgol.
“Aku tidak tahu…”
“Aku benar-benar tidak tahu….”
Arman berkata pelan,
“Ada satu pesan terakhir darinya.”
“Tolong bacakan….”
“Beliau berkata…
‘Jiro, Ibu tidak pernah membesarkanmu supaya menjadi orang sempurna. Ibu hanya berharap, walaupun seluruh dunia berhenti memaafkanmu, jangan pernah berhenti memperbaiki dirimu. Jalani hukumanmu dengan jujur. Jangan hidup sebagai penjahat. Hiduplah sebagai manusia yang sedang menebus kesalahan.’”
Tangisan memenuhi ruang sidang.
Tak ada lagi bisikan.
Tak ada lagi kemarahan.
Yang tersisa hanyalah kesunyian yang berat.
Vonis tetap tidak berubah.
Penjara seumur hidup.
Tidak ada banding.
Namun sebelum petugas membawa Jiro keluar, perempuan yang sejak tadi menangis itu tiba-tiba berdiri.
Ia adalah istri korban.
Semua orang menoleh.
Perempuan itu berjalan perlahan mendekati Jiro.
Petugas sempat mencoba menghalangi.
Namun ia menggeleng.
“Aku hanya ingin mengatakan satu hal.”
Jiro menundukkan kepala.
“Aku tidak pantas meminta maaf….”
Perempuan itu menghapus air matanya.
“Tidak.”
“Aku tidak datang untuk memaafkanmu.”
Jiro mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
“Tapi aku ingin kau tahu… ibumu adalah perempuan paling luar biasa yang pernah kutemui.”
Jiro kembali menangis.
“Karena pengorbanannya, anak-anakku tetap bisa sekolah. Aku tidak akan pernah melupakan itu.”
Ia mengeluarkan sebuah amplop tua dari tasnya.
“Ini surat yang dititipkan ibumu kepadaku seminggu sebelum beliau meninggal.”
Jiro menerimanya dengan tangan gemetar.
Di bagian depan amplop hanya ada satu kalimat sederhana.
“Buka saat kamu benar-benar menyadari bahwa hukuman terberat bukanlah penjara, melainkan hidup dengan penyesalan yang tidak bisa diulang.”
