
Alya menutup kotak hadiah di tangannya perlahan.
Di dalam kotak itu hanya ada sebuah jam tangan mewah edisi terbatas yang telah ia pesan khusus untuk Rian. Hadiah yang tadinya ingin ia berikan sebelum akad kini terasa seperti benda asing.
Ia kembali ke bridal suite dengan langkah tenang, meski dadanya seperti diremas.
Namun sebelum masuk, ia membuka ponselnya.
Tangannya gemetar ketika menekan tombol rekam suara.
Beberapa menit sebelumnya, tanpa sengaja ia sudah merekam sebagian percakapan dari balik pintu.
Suara Rian terdengar jelas.
“Begitu nikah selesai, semua saham keluarga Pratama bakal jadi lebih gampang diakses. Alya itu terlalu percaya.”
Lalu suara Nadia menyusul sambil tertawa kecil.
“Yang penting dia tanda tangan perjanjian setelah resepsi. Dia bahkan nggak bakal baca isinya.”
Rian kembali tertawa.
“Enam bulan cukup. Setelah aset berpindah, aku ceraikan dia. Setengah hidupnya habis buat aku.”
Alya memejamkan mata.
Bukan hanya pengkhianatan cinta.
Ini penipuan yang sudah direncanakan.
Di ruang rias, ibunya, Ratna Pratama, langsung menyadari ada yang berbeda.
“Wajahmu pucat, Sayang. Kamu sakit?”
Alya tersenyum kecil.
“Aku baik-baik saja, Bu.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih menyimpan semuanya.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia ingin semua orang melihat wajah asli Rian.
Di depan ribuan tamu.
Alya menghubungi seseorang.
“Halo, Pak Arman?”
“Ya, Nona Alya.”
Pak Arman adalah kepala divisi hukum Grup Pratama.
“Saya butuh bantuan sekarang juga.”
“Ada masalah?”
“Sangat besar.”
Sepuluh menit kemudian, Pak Arman sudah tiba melalui pintu belakang hotel bersama dua staf hukum.
Alya memperdengarkan rekaman itu.
Ruangan mendadak sunyi.
Pak Arman menghela napas panjang.
“Kalau ini benar, mereka berniat melakukan penipuan terhadap keluarga.”
Alya mengangguk.
“Saya tidak ingin membatalkan pernikahan.”
Semua orang memandangnya heran.
“Maksud Anda?”
“Saya ingin mereka mengira semuanya berjalan sesuai rencana.”
“Lalu?”
“Biarkan mereka masuk ke panggung.”
Pak Arman perlahan tersenyum.
“Saya mengerti.”
Sementara itu di ruang pengantin pria, Rian sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi.
Ia sibuk bercermin.
“Hari ini hidup kita berubah.”
Nadia menyeringai.
“Selamat datang menjadi milyarder.”
Mereka tertawa.
Tak ada sedikit pun rasa bersalah.
Gedung Grand Mahardika dipenuhi lebih dari seribu tamu.
Pengusaha.
Menteri.
Selebritas.
Direksi perusahaan.
Media.
Semua hadir untuk menyaksikan pernikahan pewaris tunggal Grup Pratama.
Lampu-lampu kristal berkilauan.
Alunan musik orkestra memenuhi ruangan.
Ketika pintu utama terbuka, semua tamu berdiri.
Alya berjalan memasuki aula mengenakan gaun putih yang anggun.
Semua orang terpukau.
Tak seorang pun tahu badai sedang menunggu di ujung altar.
Rian tersenyum lebar.
Dalam pikirannya hanya ada satu hal.
Uang.
Prosesi berjalan sempurna.
Pendeta mulai membacakan janji pernikahan.
“Apakah Saudara Rian bersedia…”
“Aku bersedia.”
“Apakah Saudari Alya…”
Semua mata tertuju kepada Alya.
Ia tersenyum.
“Sebelum saya menjawab…”
Ruangan menjadi hening.
“Saya ingin memperlihatkan sesuatu.”
MC terlihat bingung.
Pendeta ikut terdiam.
Rian mulai gelisah.
“Alya… ini bukan waktunya.”
Alya menoleh ke arah operator audiovisual.
“Layar, tolong dinyalakan.”
Layar LED raksasa setinggi enam meter perlahan menyala.
Rian mendadak pucat.
“Alya… kamu mau apa?”
Ia tidak menjawab.
Sebuah rekaman audio mulai diputar.
Suara Rian memenuhi seluruh ballroom.
“Begitu nikah selesai, semua saham keluarga Pratama bakal jadi lebih gampang diakses…”
Semua tamu membeku.
Beberapa detik kemudian terdengar suara Nadia.
“Yang penting dia tanda tangan perjanjiannya.”
Suara tawa mereka menggema di seluruh ruangan.
Tak seorang pun berbicara.
Seorang tamu menjatuhkan gelasnya.
Pecahannya terdengar sangat jelas.
Wajah Rian berubah putih.
“Itu… itu editan!”
Namun rekaman belum selesai.
“Enam bulan cukup. Setelah aset berpindah, aku ceraikan dia.”
Kini seluruh aula dipenuhi suara gaduh.
“Ya Tuhan…”
“Serius dia bilang begitu?”
“Kurang ajar!”
Para wartawan yang diundang untuk meliput pesta langsung mengangkat kamera.
Flash menyala bertubi-tubi.
Nadia mundur beberapa langkah.
Tangannya gemetar.
“Alya… dengarkan aku…”
“Tidak.”
Suara Alya tetap tenang.
“Selama ini aku mengira aku sedang menikahi seseorang yang mencintaiku.”
Ia menatap langsung ke mata Rian.
“Ternyata yang kau cintai hanyalah nama belakangku.”
Rian mencoba meraih tangannya.
“Alya, aku bisa jelaskan.”
Ia menepis tangan itu.
“Jangan sentuh aku.”
Seluruh ballroom sunyi.
Lalu Pak Arman maju membawa sebuah map merah.
“Nona Alya.”
Ia menyerahkan map itu.
Alya membuka halaman pertama.
“Rian Saputra.”
“Ini adalah dokumen yang sejak semula ingin kau paksa aku tandatangani setelah resepsi.”
Rian mulai berkeringat.
“Bagaimana kau…”
“Tapi sayangnya…”
Alya mengangkat dokumen lain.
“Dokumen itu sudah kami ganti.”
Rian membelalak.
“Apa?”
Pak Arman menjelaskan dengan suara lantang.
“Dokumen yang Saudara lihat sekarang adalah surat pengakuan bahwa Anda tidak memiliki hak apa pun atas seluruh aset keluarga Pratama, baik sekarang maupun di masa depan.”
Seluruh tamu langsung bertepuk tangan.
Rian kehilangan keseimbangan.
Ia menoleh ke kanan dan kiri.
Tidak ada lagi yang membelanya.
Bahkan Nadia perlahan menjauh, takut ikut terseret.
Saat itulah dua petugas keamanan hotel berjalan mendekat.
“Maaf, Pak.”
“Anda diminta meninggalkan area acara.”
Rian menggeleng panik.
“Tidak! Ini pesta pernikahanku!”
Alya mengoreksinya dengan tenang.
“Bukan.”
“Hari ini adalah hari ketika semua orang akhirnya melihat siapa dirimu sebenarnya.”
Rian yang sejak tadi berusaha mempertahankan harga dirinya akhirnya tak sanggup lagi.
Di depan ribuan tamu, kamera media, para pebisnis, dan keluarga besar Pratama, ia jatuh berlutut.
“Alya… kumohon…”
“Maafkan aku.”
“Berikan aku satu kesempatan.”
Air mata mulai mengalir di wajahnya.
Namun ekspresi Alya tak berubah sedikit pun.
Ia menatap pria yang dulu begitu ia cintai, lalu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh ruangan bergemuruh.
“Kesempatan itu sudah kuberikan sejak pertama kali aku mempercayaimu.”
“Dan kau memilih mengkhianatinya.”
Tanpa menoleh lagi, Alya melepaskan cincin pertunangannya, meletakkannya di atas altar, lalu berjalan meninggalkan ballroom dengan kepala tegak.
Di belakangnya, tepuk tangan para tamu menggema memenuhi ruangan.
Bagi semua orang, hari itu bukanlah kisah tentang pernikahan yang gagal.
Melainkan tentang seorang wanita yang memilih mempertahankan harga dirinya daripada hidup bersama seorang pria yang hanya melihatnya sebagai jalan menuju kekayaan.
Namun Alya belum tahu bahwa pengkhianatan Rian ternyata hanyalah lapisan paling luar dari sebuah konspirasi yang jauh lebih besar—konspirasi yang melibatkan orang-orang kepercayaan di dalam Grup Pratama sendiri. Dan beberapa jam setelah pesta itu berakhir, sebuah panggilan misterius akan mengungkap bahwa seseorang telah lama mengincar seluruh kerajaan bisnis keluarganya.
