Tirai tipis bergoyang pelan diterpa angin malam. Aku menahan napas, jantungku berdetak begitu keras hingga kupikir semua orang di dalam rumah bisa mendengarnya.
Lampu kamar Duy masih menyala redup.
Perawat Tuyet masuk sambil membawa baskom berisi air hangat. Semua tampak normal.
Ia menyeka wajah Duy, mengganti infus, memeriksa tekanan darah.
Lalu…
Ia menoleh ke arah pintu, memastikan tidak ada siapa pun.
Perlahan, ia membungkuk mendekati telinga suamiku.
“Aku tahu kau bisa mendengarku.”
Tubuhku membeku.
“Aku sudah menunggu enam tahun. Berhentilah berpura-pura.”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Tidak mungkin…
Tuyet kemudian meraih tangan Duy dan menggenggamnya erat.
“Aku sudah melakukan semua yang kau minta. Istrimu masih percaya kau benar-benar koma.”

Air mataku langsung mengalir.
Apa maksudnya?
Duy…
Berpura-pura?
Belum sempat pikiranku bekerja, jari telunjuk Duy bergerak sangat pelan.
Sangat kecil.
Tetapi aku melihatnya dengan jelas.
Tanganku refleks menutup mulut agar tidak menjerit.
Selama enam tahun…
Selama enam tahun aku memandikannya, menyuapinya, memijat tubuhnya, menjual mobilku, menggadaikan perhiasan ibuku, bahkan menolak semua lamaran pekerjaan di luar kota demi merawatnya.
Dan sekarang…
Jarinya bergerak.
Tuyet tersenyum tipis.
“Aku tahu. Kau masih kuat.”
Ia membuka laci meja samping tempat tidur.
Dari sana ia mengeluarkan sebuah ponsel hitam kecil.
Bukan milik Duy.
Ia menekan beberapa tombol, lalu meletakkannya di telinga Duy.
Beberapa detik kemudian terdengar suara seorang pria.
“Bagaimana kondisinya?”
Tuyet menjawab pelan.
“Masih aman. Istrinya belum curiga.”
Dadaku sesak.
Pria itu kembali berkata,
“Bagus. Sedikit lagi semua aset sudah selesai dipindahkan.”
Aset?
Aku langsung teringat beberapa bulan terakhir.
Notaris berkali-kali menghubungiku.
Bank terus meminta tanda tangan.
Pengacara keluarga mengatakan semua itu hanya prosedur biasa agar biaya pengobatan Duy lebih mudah dibayarkan.
Karena terlalu fokus merawat suami, aku bahkan tidak pernah membaca seluruh isi dokumen.
Tanganku mulai gemetar.
Kalau mereka membicarakan aset…
Berarti semua ini bukan sekadar kebohongan.
Ini rencana yang sudah disusun bertahun-tahun.
Tuyet mematikan telepon.
Lalu ia melakukan sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri.
Ia membuka lemari pakaian.
Dari dalam, ia mengeluarkan pakaian pria yang tadi kutemukan.
Celana dalam asing itu.
Ia memasukkannya ke kantong plastik.
“Besok kubuang. Hampir ketahuan.”
Aku langsung mengerti.
Barang itu bukan milik pria lain.
Itu milik Duy sendiri.
Berarti…
Selama ini ia benar-benar bangun dari tempat tidur ketika aku tidak ada.
Aku hampir menerobos masuk.
Namun suara lain menghentikanku.
Duy.
Dengan suara serak yang sangat pelan.
“…Air…”
Aku membeku.
Enam tahun.
Enam tahun tidak pernah mengucapkan satu kata pun.
Kini ia berbicara.
Tuyet segera menyodorkan gelas.
Duy membuka mata perlahan.
Tatapannya tajam.
Sadar sepenuhnya.
Tidak ada sedikit pun kebingungan seperti orang yang baru sadar dari koma panjang.
Ia meminum air, lalu duduk perlahan di tepi ranjang.
Kedua kakinya memang lemah, tetapi jelas masih bisa menopang tubuhnya.
Aku hampir pingsan.
Pria yang selama enam tahun kuanggap tak mampu bergerak…
Kini berdiri.
Ia melangkah beberapa langkah kecil.
“Berapa lama lagi?” tanya Duy.
“Sekitar dua minggu. Setelah semua saham dan rumah resmi berpindah ke perusahaan cangkang, kita bisa pergi.”
“Bagaimana dengan Lien?” tanyanya, menyebut namaku.
Tuyet tersenyum dingin.
“Dia terlalu percaya padamu. Bahkan kalau nanti kau benar-benar menghilang, semua orang akan mengira kondisimu memburuk.”
Duy menghela napas.
“Dia memang wanita baik.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pisau.
Wanita baik?
Aku kehilangan masa mudaku demi dirinya.
Namun baginya aku hanya pion yang mudah dibohongi.
Tuyet tertawa pelan.
“Kadang aku hampir kasihan.”
Duy menjawab tanpa ekspresi.
“Jangan. Kalau bukan karena dia, kita tidak mungkin bisa mempertahankan semua kekayaan keluarga sampai sekarang.”
Kakiku lemas.
Ternyata selama enam tahun aku bukan istri yang dicintai.
Aku hanyalah penjaga harta mereka.
Aku mundur perlahan dari jendela tanpa menimbulkan suara.
Di halaman belakang, udara malam terasa begitu dingin.
Air mata terus mengalir.
Tetapi di balik tangisan itu, sesuatu berubah.
Aku tidak akan masuk dan membongkar semuanya malam ini.
Tidak.
Kalau mereka sanggup berpura-pura selama enam tahun…
Aku akan berpura-pura sedikit lebih lama.
Karena mulai detik ini, permainan itu bukan lagi milik mereka.
Aku akan membuat mereka percaya bahwa aku masih istri bodoh yang tidak tahu apa-apa.
Lalu, pada saat yang tepat…
Mereka akan kehilangan semua yang selama ini mereka rencanakan untuk rebut dariku.
