HANCUR HATI KARENA PACAR 4 TAHUN MENIKAH DENGAN WANITA LAIN, AKU NEKAT MENIKAH

Damar menarik napas panjang sebelum membuka map itu. Aku sempat berpikir isinya mungkin surat utang, kartu BPJS, atau dokumen yang menunjukkan bahwa ia sebenarnya punya masalah besar. Tanganku bahkan mulai dingin saat menerima map tersebut.

Namun ketika kubuka, aku langsung membeku.

Di dalamnya ada sertifikat tanah.

Bukan satu.

Ada tiga sertifikat.

Di bawahnya tersusun beberapa lembar dokumen kepemilikan ruko, laporan rekening investasi, dan sebuah kartu nama bertuliskan:

Damar Prasetyo – Direktur Utama PT Prasetya Konstruksi Nusantara.

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Ini… milik siapa?”

Damar tersenyum tipis.

“Namaku memang ada di situ.”

Aku tertawa kecil karena mengira ia sedang bercanda.

“Mas, jangan bercanda di malam seperti ini.”

“Aku tidak bercanda.”

Suasana kamar langsung sunyi.

Aku membuka satu demi satu dokumen itu. Semuanya asli. Ada stempel notaris, cap bank, bahkan laporan audit perusahaan. Aku tidak mengerti istilah-istilah bisnis, tetapi aku cukup tahu bahwa perusahaan itu memiliki nilai miliaran rupiah.

“Kalau… kalau Mas direktur perusahaan, kenapa bilang tukang bangunan?”

Damar mengusap tengkuknya.

“Karena memang aku tukang bangunan.”

Aku mengernyit.

“Aku mulai dari bawah. Sampai hari ini aku masih turun ke proyek. Aku ikut mengaduk semen kalau perlu. Karyawan memanggilku Pak Direktur, tapi para mandor tetap memanggilku Damar.”

Aku masih sulit mempercayainya.

Ia melanjutkan dengan suara tenang.

“Ayahku dulu hanya buruh bangunan. Beliau meninggal karena kecelakaan kerja. Waktu itu aku berjanji, kalau suatu hari punya perusahaan sendiri, aku tidak akan lupa bagaimana rasanya bekerja di bawah matahari.”

Aku diam.

Selama tiga bulan mengenalnya, aku memang sering melihat telapak tangannya kasar, kukunya penuh bekas semen, bajunya selalu sederhana.

Aku kira itu karena ia benar-benar buruh harian.

Ternyata…

Ia memilih hidup seperti itu.

“Aku sengaja tidak pernah menunjukkan semua ini.”

“Kenapa?”

Damar menatapku cukup lama.

“Karena aku pernah dikhianati.”

Kalimat itu membuatku menoleh.

“Tunangan pertamaku meninggalkanku setelah tahu aku mengalami kebangkrutan sementara. Padahal saat itu aset perusahaan hanya sedang dibekukan karena sengketa proyek.”

“Tiga bulan kemudian, saat perusahaan pulih, dia datang lagi.”

“Lalu?”

“Aku menolak.”

Ia tersenyum pahit.

“Sejak itu aku ingin mencari perempuan yang menerima Damar si tukang bangunan, bukan Damar si pemilik perusahaan.”

Dadaku terasa sesak.

Tiba-tiba aku sadar…

Bukankah aku juga melakukan hal yang sama?

Aku tidak menikahinya karena cinta.

Aku menikahinya demi mengobati luka.

Air mataku mulai jatuh.

“Mas…”

“Aku juga harus jujur.”

Ia mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Aku terkejut.

“Tahu?”

“Aku tahu kamu belum benar-benar mencintaiku.”

Aku menggigit bibir.

“Aku tahu kamu masih terluka karena mantanmu.”

“Tapi aku percaya luka bisa sembuh.”

“Tidak harus hari ini.”

“Tidak harus bulan depan.”

“Aku bisa menunggu.”

Kalimat sederhana itu justru menghancurkan benteng yang selama ini kubangun.

Mantan kekasihku yang bergelar tinggi tak pernah sekalipun berusaha memahami perasaanku.

Sementara lelaki yang selama ini kupandang sebelah mata justru memberiku ruang untuk pulih.

Malam itu kami tidak membicarakan harta lagi.

Kami hanya berbincang sampai dini hari.

Tentang masa kecilnya.

Tentang ayahnya yang meninggal di proyek.

Tentang ibunya yang masih tinggal di desa.

Tentang impiannya membangun rumah layak bagi para buruh yang sudah puluhan tahun mengabdi.

Semakin lama aku mendengar ceritanya, semakin malu aku pada diriku sendiri.

Selama ini aku sibuk menilai orang dari pakaian, kendaraan, dan pekerjaan.

Padahal karakter seseorang jauh lebih mahal daripada semua itu.


Dua minggu setelah menikah, Damar mengajakku ke kantor pusat perusahaannya.

Gedungnya menjulang dua belas lantai.

Aku kembali mengira kami salah alamat.

Namun begitu mobil berhenti, seluruh petugas keamanan langsung memberi hormat.

“Selamat pagi, Pak Damar.”

“Selamat pagi, Bu.”

Aku refleks menoleh ke belakang.

Kupikir mereka menyapa orang lain.

Ternyata mereka sedang menyapaku.

Lift khusus terbuka.

Begitu pintunya terbuka di lantai direksi, puluhan orang sudah berdiri rapi.

“Selamat atas pernikahan Bapak dan Ibu.”

Aku hampir tidak bisa bernapas.

Semua terasa seperti mimpi.

Saat rapat selesai, Damar mengajakku turun ke proyek pembangunan apartemen.

Yang membuatku terkejut, begitu mengenakan helm proyek, ia langsung membantu para pekerja mengangkat besi dan mengecek adukan beton.

Tak ada gaya seorang direktur.

Para buruh tertawa bersamanya.

Mereka memanggilnya “Pak Dam”, bukan “Bos”.

Seorang pekerja tua menghampiriku sambil tersenyum.

“Ibu pasti bingung ya?”

Aku mengangguk.

“Bapak memang begitu.”

“Kalau ada pekerja sakit, beliau yang mengantar ke rumah sakit.”

“Kalau ada anak buruh masuk kuliah, beliau diam-diam yang membayar.”

“Kalau proyek untung besar, kami semua dapat bonus.”

Air mataku kembali menggenang.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa memilih orang yang benar.

Bukan karena kekayaannya.

Melainkan karena hatinya.


Takdir rupanya belum selesai mengujiku.

Sekitar tiga bulan kemudian, aku menerima undangan pernikahan.

Pengirimnya adalah…

Mantan tunanganku.

Ia akan menikahi perempuan yang dulu menjadi selingkuhannya.

Di bagian bawah kartu itu tertulis tulisan tangan:

“Semoga kamu juga sudah menemukan kebahagiaanmu.”

Aku menatap kartu itu lama.

Lalu tersenyum.

Kali ini, aku benar-benar bisa menjawab dalam hati.

“Ya. Aku sudah menemukannya.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang